Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 105 ( Dia Juga Berharga Bagiku )


__ADS_3

Rey terkejut saat datang dan tamunya malah berlarian mengejar gadis cantik yang menangis menabraknya di pintu masuk.


Mencoba mencegat Malik tapi tidak dapat jawaban apa yang sedang terjadi sebenarnya.


Rey memutuskan untuk menaruh barang belanjaannya ke dapur sebelum mencari tau lebih lanjut.


"Kalian tau apa yang sedang terjadi?" Bertanya pada pelayan yang sedang menjaga di resepsionis setelah merapihkan beberapa bahan makanan yang harus di simpan dalam freezer.


"Tidak Pak, kami hanya tau Bos Malik datang dengan Mas Jofan dan Mbak Ayu dan yang lainnya. Tapi tidak tau kejadian di dalam." Rey hanya mengangguk mendengarkan cerita karyawannya.


"Apa masih ada Ayu di dalam? Atau ada yang lain lagi?" Berdiri tegak mengkhawatirkan keadaan Ayu karena semua orang terlihat keluar ruangan.


"Tadi Mbak Ayu keluar bersama dua temannya Pak." Rey semakin tidak tegang. Bisa-bisa mereka membiarkan Ayu hanya bersama teman nya, yang sudah Rey pastikan mereka adalah Sandra dan Melani.


"Kemana mereka pergi?" Pikiran Rey sudah semakin kalut.


"Dia ke arah....maaf Pak saya tidak ingat." Rey segera keluar mencari keberadaan Ayu.


Semua orang mengejar gadis yang entah siapa dia dan tidak ada yang menjaga Ayu.


Rey berkeliling tanpa tau arah, dia melangkah kemanapun langkah kakinya membawanya.


Rey berjalan gontai memikirkan hal buruk yang bisa saja terjadi. Nafasnya mulai berat karena menahan emosi. Cukup jauh Rey berjalan mencari keberadaan Ayu. Sampai dia melihat tiga gadis remaja yang berjalan jauh di depannya.


Terlihat tiga gadis yang sedang bergandengan tangan nampak dari belakang.


Yang satu pasti Ayu, dia mengenakan hijabnya sehingga mudah sekali di kenali.


Rey menghembuskan kasar nafasnya, melepaskan sesak yang menyarang di dadanya karena rasa khawatir.


"Hey anak-anak nakal!" Teriak Rey lantang membuat ketiga gadis di depannya berbalik secara serempak.


"Kak Rey." Masih dengan suara yang kompak.


Rey menjentikkan jari-jari nya agar ketiga gadis itu mendekat padanya. Kakinya sudah terasa lemas untuk berjalan.


"Kak kami sedang mencari Kak Nikita." Suara Sandra. Setelah sampai di depan Rey.


"Tidak, sudah banyak yang mencarinya. Kalian bahkan tidak tau kan jika di luar ini berbahaya." Rey mendorong tubuh mereka kembali ke arah restaurant.


Mereka bertiga hanya bisa menuruti perintah Kak Rey. Jika dia marah sama menakutkannya dengan Jofan. Mereka saudara sedarah setanah air yang bahkan sikap dan sifatnya sangat mirip.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Rey sudah duduk di hadapan Ayu.


"Sebenarnya....." Ayu meremas jemarinya. Dia takut Kak Rey marah jika tau yang sebenarnya terjadi.


"Jangan berbelit-belit. Ayu tau kan Kak Rey tidak suka!" Ayu hanya menunduk.


Ayu bingung harus bagaimana. Mengatakannya sama saja dengan menyulut api lain setelah memadamkan api yang sudah berkobar sebelumnya.


"Ceritakan saja Yu. Kan Kak Malik juga sudah selesaikan semua masalahnya." Rey semakin bingung, menebak apa yang sebenarnya terjadi malah membuatnya pusing sendiri.


"Rey...." Suara Malik menyelamatkan Ayu.


Nikita saat ini sudah lebih tenang kelihatannya. Dia sudah tidak menangis seperti saat dia pergi tadi. Meskipun matanya masih merah.

__ADS_1


"Kalian semua, berempat, lari mengejar gadis ini dan tidak ada yang menjaga mereka!." Geram Rey pada mereka semua.


"Benar, apa kalian baik-baik saja." Malik menatap Ayu dengan penuh penyesalan. Pikirannya kalut dan lupa dengan keberadaan Ayu di sana.


"Jangan mengulanginya Malik, dia juga berharga bagiku." Malik lagi-lagi kecolongan dan berbuat teledor.


"Ayo kita pulang, sudah malam juga sekarang, kalian harus istirahat." Ajak Malik pada semua sahabat-sahabat Ayu.


"Al, kau naik taksi saja antar Nikita pulang, aku akan mengantar Sandra Dan Melani." Malik menggandeng Ayu agar pulang bersamanya.


Malik tidak mau Jofan memisahkan dirinya dengan Ayu seperti tadi. Malik tidak rela, baginya Ayu adalah segalanya.


Adam menarik tangan Jofan memintanya menemui Rey yang terlihat sangat emosional. Harus ada yang menjelaskan bagaimana situasi yang sebenarnya.


"Rey, apa kita bisa bicara?" Adam sedikit ragu sebenarnya. Tapi hanya dia yang bisa membantu Malik di sini. Jofan sendiri terlihat marah dengan perbuatan Malik.


"Iya, masuklah." Rey mempersilahkan Adam masuk ke ruangannya.


"Kita sudah lama tidak bertemu. Terakhir di pernikahan Malik, benar?" Basa basi agar tidak tegang.


"Benar, kita memang tidak akrab dan sekarang ada di lingkaran kehidupan yang tidak pernah aku sangka." Tersenyum kecut.


"Aku sebenarnya saat ini ingin sekali memahami bagaimana perasaan kamu Rey." Adam tau bagaimana Rey mencoba menerima Ayu.


"Jangan memahami ku, aku hanya ingin Malik menyelesaikan apa yang sudah dia mulai. Jangan berbuat semaunya." Nada bicara mulai tinggi.


"Tenang Rey, gadis ini hanya masa lalu. Malik bahkan tidak pernah mencintainya. Aku yang membuat Malik melakukan hal gila dengan memacarinya. Kami pikir tidak aka ada cinta yang tumbuh karena hanya sebentar." Adam menyesali perbuatannya.


"Ckckck.....lihat sekarang. Siapa orang yang paling kalian rugikan? Bilang pada Malik aku tidak akan memaafkan perbuatannya. Dia harus menjaga Ayu seperti janjinya." Rey begitu sedih melihat kejadian ini.


"Aku akan pastikan itu Rey, dan kita tidak perlu khawatir karena Malik sangat menyayangi Ayu. Dia sendiri bingung dengan kemunculan Nikita yang medadak. Kedua orang tuanya bahkan marah pada Malik." Malik harus dapat dukungan, pikir Adam. Masalah ini tidak sepenuhnya adalah kesalahan Malik


"Dia pantas mendapatkannya. Dia memang bersalah!" Rey sedikit senang mendengar Malik menerima ganjarannya.


"Tapi lihat Ayu, dia bahkan bisa bersikap dewasa saat seperti ini. Berbeda dengan kita yang emosional dan menyalakan Malik begitu saja." Rey membenarkan ucapan Adam.


Ayu bahkan tidak berani menceritakan kejadian tadi padanya. Dia pasti takut aku akan bergulat dengan Malik. Rey semakin kagum dengan kedewasaan Ayu.


"Kita harus tenang Rey, kita harus membantu Malik menyelesaikan masalah ini." Adam mencoba membujuk agar Rey lebih tenang dan percaya pada Malik.


"Baiklah, tapi jika Malik tidak segera menyelesaikan masalahnya, jangan salahkan aku jika aku membawa Ayu kembali padaku." Gertak Rey karena merasa Ayu selalu saja dalam masalah karena perbuatan Malik.


"Aku akan pastikan itu tidak terjadi." Adam menyudahi pembicaraannya.


Sepertinya Rey sudah mulia bisa berpikir jernih dan tidak lagi menyalahkan Malik karena kemunculan Nikita.


***


"Sandra dan Melani, terimakasih sudah menjaga Ayu." Ucap Malik dengan tatapan fokus pada jalanan yang sedang di lewati.


"Iya Kak, kami akan selalu saling menjaga. Jangan khawatir." Sandra membalas dengan kata yang sopan. Mengingat siapa Malik sebenarnya selain dia adalah suami dari sahabatnya.


"Kalian apa bisa menjaga Ayu jika aku ijinkan pergi Camping?" Malik masih merasa berat melepaskan Ayu belakangan ini.


"Kami juga takut Kak, kalau terjadi yang tidak di inginkan bagaimana?" Ucapan Sandra mematahkan semangat Ayu.

__ADS_1


"Maka itu, Kaka sendiri jadi bingung. Pekerjaan saat ini sedang tidak bisa dikendalikan orang lain." Mengulas senyum menatap Ayu yang terlihat kecewa.


"Sebaiknya Kaka pikirkan baik-baik, kami juga takut kalau orang yang menyerang Ayu akan datang saat kami camping jika Ayu ikut." Melani tidak kalah khawatir.


Sahabat-sahabat Ayu tau yang terjadi pada Ayu belakangan ini, Jofan meminta agar Sandra dan Melani ikut menjaga Ayu. Hanya saja nama dan siapa yang mengganggu Ayu masih belum jelas karena Ayu tidak mau menceritakannya.


Setelah mengantar Sandra dan Melani Malik segera pulang, hari ini banyak menguras energi nya. Ayu bahkan tertidur pulas di dalam mobil.


Sesampainya dirumah, Malik masih melihat Nikita yang sudah duduk dengan koper besar di sampingnya.


Ayu terlelap di gendongan Malik. Pasti dia sangat lelah hari ini. Malik tidak tega membangunkannya.


"Nik, tunggu sebentar. Aku antar Ayu dulu ke atas." Nikita mengangguk.


Ada rasa cemburu melihat Malik memperlakukan Ayu dengan sangat baik. seharusnya dirinya lah yang ada di pelukan Malik saat ini.


Tidak lama Malik sudah kembali turun menemui Nikita.


"Apa kamu langsung pulang ke Bali?" Malik masih merasa bersalah.


"Iya, tidak ada lagi yah aku kejar di sini." Nikita memaksakan senyumnya. Dada Malik terasa di tusuk belati mendengar ucapan Nikita.


Tapi apalah daya, masa lalu bisa kita jadikan pelajaran agar tidak melakukan kesalahan yang akan membuat kita menyesal kemudian.


"Baiklah, sekali lagi aku mohon maafkan segala kebodohan ku." Malik membawakan koper Nikita ke mobil.


Disana sudah duduk Aldo memegang kemudi dengan sabar. Siap Mengantarkan wanita patah hati pulang kembali ke kampung halamannya.


Saat masuk Malik sudah di Hadang Mamih di depan pintu. Dia pasti ingin mencari tau apa yang sudah terjadi.


"Apa dia benar-benar pergi?" Pertanyaan nya bukan seperti yang ada di benak Malik.


"Kenapa bertanya seperti itu." Malik malah balik bertanya.


"Mamih tidak tau, tapi Mamih tidak yakin dia pergi begitu saja." Cinta tidak semudah itu di lepaskan pikir Mamih.


"Tidak Mih, Malik yakin Nikita gadis yang baik." Malik mendorong tubuh Mamih masuk ke dalam rumah.


"Ya sudah istirahat lah, sudah cukup malam sekarang." Mamih melangkah ke kamar nya.


"Nak...apa Ayu sudah makan malam?" Malik berpikir sejenak. Mamih ingat Ayu punya sakit lambung dan tidak boleh telat makan.


Dia berteriak keras membuat suaranya menggema memenuhi ruangan karena sudah sunyi.


Tadi itu kita makan siang atau makan malam yah. Kami datang ke tempat Rey siang, dan tidak terasa sampai malam di sana.


"Nak..." Masih menunggu jawaban Malik.


"Aku rasa sudah." Tidak yakin dengan jawaban nya sendiri.


"Kau ini bagaimana, sudah atau belum. Jangan sampai lambungnya kumat." Mamih berteriak cukup keras.


"Nanti aku siapkan sendiri kalau Ayu sudah bangun Mih. Tidurlah." Malik kembali melangkah menapaki tangga demi tangga.


Saat Malik masuk ke kamar, terlihat Ayu yang sedang shalat isya. Malik tersenyum bahagia dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Mengguyur badan dengan air hangat menghilangkan penat yang bersarang di kepalanya. Butuh kesegaran agar segala energi negatif segera hilang dari jiwa dan raganya.


__ADS_2