Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 171 ( Kau Pergi Ke Tempat Yang Tepat )


__ADS_3

Sandra mengurung diri di dalam kamar tidak mengindahkan panggilan Mamah nya yang berteriak memintanya turun untuk makan malam. Kalista sampai pening dibuatnya. Sandra benar-benar mirip dengannya, dia keras kepala dan tidak mau kalah jika sudah punya keinginan.


“Jangan terlalu keras, kasian.” Arnold Papah Sandra tidak tega melihat Sandra tidak diberi kebebasan oleh Klista. Bagaimanapun dia putri semata wayangnya.


“Jangan membela dia. Kamu tau apa akibatnya jika tidak mengikuti peraturan yang aku buat.” Kalista kesal melihat sikap suaminya yang tidak berpartisipasi dan malah menyudutkan dirinya.


“Tapi tidak baik jika Sandra terlalu di atur dalam pergaulan. Dia kan sudah besar.” Bicara dengan nada lirih, istrinya tidak mudah di bujuk begitu juga putrinya. “Coba Mamah ada di posisi Sandra, dia hanya tulus berteman dengan putri Ferdinan.” Kalista membulatkan matanya.


“Jangan membela temanmu yang tidak punya moral itu.” Kalista benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala suaminya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu lah isi kepala Kalista yang membuatnya cemas membiarkan Sandra bergaul dengan Ayu.


“Jangan melibatkan anak-anak dalam masalah orang tua. Kasian.” Arnold masih mencoba membela putrinya.


“Jangan ikut campur, tau apa kamu soal mendidik anak. Kamu hanya sibuk dengan urusan pekerjaan dan semua hobi yang membuatmu lupa dengan putrimu.” Kalista meninggalkan Arnold yang tidak bisa lagi membantah ucapan istrinya. Percuma membujuknya dalam keadaan marah.


Bruggg…..brugggg….brugggg….


Kalista menggedor pintu kamar Sandra sekuat tenaga, kesabarannya sudah habis menghadapi Sandra yang mogok makan dan mogok bicara pada semua orang. “Buka pintunya, jangan membuatku bertindak diluar keinginanku. Cepat buka!” Arnold hanya geleng kepala mendengar dua wanita kesayangannya bersitegang.


Bruggg…..brugggg….brugggg….


“Jangan sampai aku mendobrak pintu kamarmu dan menyeretmu keluar.” Kalista terus mengancam Sandra, padahal ucapannya tidak sama dengan isi hatinya. Dia hanya takut putrinya sakit karena tidak makan. “Sandra!!!!!!.”


Brakkkkk…..


Sandra membuka pintu kamarnya dan membiarkan Kalista masuk. Sandra tidak mau menatap wajah Kalista sejak dirinya dilarang bergaul dengan Ayu. Hatinya hancur karena Ayu sahabat baiknya.


“Kau masih tidak mau bicara padaku!” Kalista berdiri di depan Sandra yang menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut. “Jangan membuatku benar-benar marah. Sandra!” Kalista menarik tangan Sandra agar menapat dirinya yang saat ini sedang bicara.


“Apalagi…..apalagi yang kau inginkan? Belum cukup memintaku tidak bicara dengan teman-temanku? Apa aku tidak bisa menikmati kebebasan seperti mereka!” Sandra berdiri dengan tatapan tajam di depan Kalista. Wajahnya merah padam karena begitu marah.


“Kau berani sekali bicara sekeras itu padaku. Apa aku salah, aku hanya ingin melindungi dirimu.” Keduanya merasa benar. Sandra kembali berbaring di atas kasurnya.


“Aku tidak mau bicara lagi. Aku muak denganmu.” Sandra bicara dari balik selimut, tapi suaranya masih terdengar jelas.


Kalista benar-benar tidak bisa menahan diri. Kalista membuak lemari pakaian Sandra dan melempar semua isi lemari ke tubuh Sandra. “Jangan kau kira aku main-main dengan ucapanku. Kau pikir aku takut!” Sandra terisak di bawah bantalnya. Setelah puas Kalista meninggalkan Sandra yang masih menangis.

__ADS_1


Arnold benar-benar tidak bisa memisahkan keduanya, mereka punya batu dikepalanya yang tidak mudah di pecahkan. Arnold hanya mengela nafasnya saat melihat putrinya menangis di balik selimut. Setidaknya Kalista tidak mengusirnya pergi. Arnold menutup pintu kamar Sandra agar dia bisa menangis dengan puas.


Kalista menenggak air putih dingin sampai bajunya basah kuyup. Arnold membiarkannya menikmati waktunya seorang diri agar amarahnya sedikit mereda. Suasana rumah yang biasanya sangat ceria karena Sandra dan Kalista biasanya seperti sahabat baik berubah sedikit sepi. Keduanya tenggelam dalam pembenarannya masing-masing tanpa mau mendengarkan pendapat satu sama lain.


***


“Dia tidur!” Rey tersenyum melihat Ayu yang terlelap di atas sofa ruang tamu. Ana bahkan tidak menyadari Ayu terlelap begitu mudah. “Aku akan menggendongnya ke kamar.” Rey seperti memiliki putri kecil yang saat ini membutuhkan perhatian lebih darinya.


Setelah puas memandangi wajah Ayu Rey meninggalkannya agar Ayu bisa istirahat dengan tenang. Ferdinan mengintip putri kecilnya yang saat ini sedang memasuki dunia mimpinya.


“Wajahnya sama persis dengan Arumi. Aku seperti melihat putriku hidup dalam diri Ayuna.” Rey memeluk tubuh renta Ferdinan yang sedang bahagia. Akhirnya ada senyum bahagia setelah penderitaan yang di tanggungnya puluhan tahun.


"Mulai sekarang dia adalah kekasihku." Ferdinan hanya tersenyum melihat bagaimana Rey sangat perduli pada kebahagiaan keluarganya.


Keributan tiba-tiba saja terjadi di ruang tamu, entah siapa yang datang malam-malam begini membuat kegaduhan.


"Kenapa berisik sekali Rey." Ferdinan berjalan perlahan menuruni anak tangga. Ternyata putra nya pulang.


"Lihat siapa yang tiba-tiba saja muncul. Dia bahkan sangat ribut seperti sedang mengejar buronan." Dua-duanya sama saja.


"Merengek......seperti anak kecil." Ledek Rey membuat wajah Jofan masam.


"Biarkan Rey, dia pasti rindu sampai pulang tengah malam begini." Dengan berat hati Rey melepaskan tangan Jofan. Semuanya dibuat tertawa dengan tingkah Jofan.


Akhirnya kamar yang selama ini kosong terisi, Jofan tidak pernah masuk ke kamar Arumi semenjak kejadian menyakitkan yang menimpanya. Membayangkannya saja membuat dada Jofan bergemuruh. Tidak terasa air mata menetes mengisyaratkan isi hatinya saat ini. Tapi ini air mata melepas kesedihan, kini tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Wajah dan senyum Ayu mampu jadi penawar rasa sakit yang selama ini keluarganya rasakan.


Tinggal Jofan yang masih terjaga, kantuknya lenyap dan matanya seolah tidak mau di ajak kerjasama untuk istirahat. Jofan menyerah dan masuk ke dapur karen perutnya keroncongan. Jofan mengambil apel dan menikmati nya sambil menonton siaran televisi.


Ting tong.....ting tong....


Ting tong....ting tong....


Jofan melirik jam yang menempel di dinding. Sudah larut siapa yang datang. Jofan mengambil sapu berjaga-jaga. Jofan mengintip keluar memastikan siapa yang datang. Bibirnya terangkat ke atas melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya.


Suara derit pintu membuat hati Malik berbunga-bunga. Dia sangat rindu sampai tidak bisa memejamkan matanya. Usahanya tidak akan berhasil sebelum Malik melihat wajah Ayu dan memastikan dia baik-baik saja. Awalnya dia khawatir karena sudah sangat larut untuk datang. Tapi ternyata usahanya tidak sia-sia.

__ADS_1


"Kak Malik. Masuklah." Jofan membawa Malik masuk ke dalam rumahnya. "Kau mau bertemu adikku?" Malik mengangguk. Jofan tersenyum melihat wajah Malik yang terlihat gelisah. "Dia sudah tidur. Di kamar atas."


Bisa-bisanya dia tidur, tapi dia memang bisa tidur dimana saja. Itu tanda nya dia nyaman. Aku harusnya senang. Malik bicara dengan dirinya sendiri.


Bukan kali pertama Jofan melihat Malik yang tidak bisa jauh dari Ayu. Dia bahkan melarang dirinya memeluk Ayu padahal dia adik kandungnya. Malik orang yang sangat cemburuan, seperti anak ABG.


"Aku ingin melihatnya sebentar saja." Malik segera naik setelah Jofan mengijinkannya untuk menemui Ayu. Melarangnya juga tidak mungkin. Jofan merasa beruntung Malik memberi keluarganya kesempatan tinggal bersama Ayu meski hanya sebentar.


Malik turun satu jam kemudian, Jofan masih duduk di ruang tamu karena masih belum mengantuk. Keduanya saling menatap dengan canggung.


"Kak.....sudah selesai?" Pertanyaan macam apa ini. "Maksudku." Malik tersenyum.


"Tidak perlu kau jelaskan." Malik menyambar jasnya yang tersampir di kursi. "Aku langsung pulang Fan. Terimakasih." Jofan mengantar Malik ke depan.


Tok.....tok....tok...


Belum juga berbalik pintu sudah kembali di ketok. Jofan membuka nya dengan wajah ramah. "Kau mau menginap!" Dasar laki-laki tua tidak tau diri. Gerutu Jofan dalam hati.


"Ah....tidak. Kunci mobilku tertinggal." Malik mengambilnya dan segera keluar. Pintu kembali Jofan tutup rapat.


Tok.....tok....tok....


Apalagi yang tertinggal. Dia sudah sangat tua sampai jadi pikun, bagaimana Ayu menghadapinya selama ini. Jofan sedikit kesal dan membuka pintu dengan kasar.


"Apalagi yang ter....tinggal...Sandra!." Bukan Malik yang datang, Sandra berdiri di depannya. Matanya sembab dan wajahnya tampak sayu. Jofan menarik tangan Sandra, tubuhnya menggigil dan kakinya hanya menggunakan satu sendal. Jofan melihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia tampak menahan diri agar tidak menangis.


Jofan memeluk Sandra, isak tangis tidak tertahankan saat berada di pelukan Jofan. Jofan segera membawanya masuk, menyelimuti tubuh Sandra dan tidak melepaskan pelukkannya. Tidak menanyakan apapun dan membiarkan Sandra merasa nyaman.


Jofan sangat khawatir melihat Sandra terlihat berantakan, tapi tidak ada luka dan pakaiannya tampak baik-baik saja. Sedikit mengobati rasa khawatirnya. Jofan menunggu dengan sabar sampai isak tangis nya tidak lagi terdengar. Mengangkat dagu Sandra dan menatapnya dengan penuh cinta kasih.


"Maaf...." Jofan lega mendengar suara Sandra. Mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya. "Aku tidak tau harus kemana." Sandra menunduk merasa malu.


"Kau pergi ke tempat yang tepat." Jofan tidak sadar memperlakukan Sandra seperti kekasihnya. Dia tidak menyadari ada jantung yang berdetak terlalu cepat dibuatnya. "Jangan takut, aku akan menjagamu." Jofan lega tidak ada hal buruk terjadi. Hanya remaja yang kabur dari rumah.


Entah apa yang menuntun langkahnya ke rumah Jofan saat Sandra tidak tau harus kemana. Padahal beberapa hari ini Jofan tidak ada di Jakarta. Mungkin memang kedunya saling terikat tapi belum menyadari perasaannya. Hanya Sandra yang selama ini sudah jatuh cinta pada Jofan.

__ADS_1


__ADS_2