Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 28 ( Malam Yang Panjang Part 2 )


__ADS_3

Malik hanya memandang wajah Ayu, tidak banyak pertanyaan. Dia hanya ingin membuat Ayu nyaman.


Setelah meminum airnya sampai tidak tersisa, Ayu menghela nafasnya panjang. Bibirnya dipaksa kan tersenyum, matanya di arahkan ke sosok pria tampan yang di kagumi nya.


“ Ayu sudah lebih baik”. Malik mengulas senyum, matanya berbinar menahan rasa malunya karena tidak terbiasa. Ayu hanya menganggukan kepalanya.


“ Kaka akan mengantarkan Ayu, tapi kita makan dulu yah”. Malik melajukan mobilnya perlahan karena tau Ayu masih belum nyaman satu mobil dengannya.


“ Makanan apa yang enak di sekitar sini Yu?”. Mencoba mencairkan suasana. Ayu terharu dengan orang-orang yang sangat mencintainya. Matanya kembali berkaca-kaca menerima kebesaran Tuhan kepada dirinya.


Ayu menutup mukanya dengan kedua tangannya. Air mata nya tidak mau berkompromi, dia masih saja beranak sungai di mata Ayu. Nafasnya masih tidak bisa di kontrol.


Malik yang melihat Ayu kembali menangis menepikan mobilnya. Tangannya menepuk-nepuk pundak Ayu pelan.


Malik tidak pernah menghadapi keadaan seperti ini. Dia bingung sendiri harus berbuat apa saat ini.


Apa yang harus ku perbuat Tuhan, sekarang Ayuna sangat tersiksa dan aku tidak tau harus berbuat apa padanya. ( Batin Malik )


Setelah beberapa saat, Ayu kembali bisa menguasai dirinya dan emosinya. Dia berusha menahan agar tidak memalukan di depan Kak Malik.


“ Apa sudah baik-baik saja?”. Malik melihat Ayu sudah bisa menegakkan pandangannya. Wajahnya masih merah tapi sudah mulai ada senyum di bibirnya.


“ Terimakasih ya kak, Ayu sangat bahagia banyak orang yang sayang sama Ayu”. Malik hanya tersenyum, dia senang di saat-saat seperti ini dia ada untuk Ayu.


“ Kita makan dulu yah, setelah itu baru aku antar kan pulang”. Malik kembali melajukan mobilnya, matanya asik berkeliling melihat makanan yang ada di pinggir jalan.


Meskipun hidup mewah, Malik masih suka makan di pinggir jalan. Hanya beberapa makanan saja yang tidak ada di restoran. Itupun tidak sering, jika Mamih tau, Malik akan dalam kesulitan menghadapi kemarahan Mamih nya.


“ Tidak keberatan aku ajak makan nasi goreng? Ini sangat enak meskipun tempatnya tidak terlalu bagus”. Malik mengarahkan pandangannya pada Ayu setelah memutuskan akan makan apa.

__ADS_1


“ Terserah Kak Malik saja”. Ayu tidak keberatan dengan ide Malik.


Mereka pun duduk menunggu antrian, cukup ramai. Mungkin benar yang di katakan oleh Kak Malik. Tempatnya tidak mewah tapi makanannya enak, makanya rame pembeli.


Setelah 30 menit menunggu, nasi goreng kami pun datang. Malik dan Ayu menikmati makanannya, terlihat kali ini Malik sangat menikmati makanannya. Mood nya yang tadi berantakan karena ulah Ayahnya, kini melebur. Hatinya sedang berbunga-bunga.


Senyum nya terus terulas di bibirnya, Ayu yang melirik sedikit-sedikit ke arah Malik pun menjadi salah tingkah. Jantung nya berdetak semakin tidak teratur, Ayu mencoba menarik nafasnya dalam-dalam.


“Huuufffftttt......”. keceplosan, membuat Malik kembali menatapnya tajam. Ayu hanya tersenyum kecut tertangkap basah bertingkah konyol.


Hahahahhahahaha........


( Malik dan Ayu tertawa bersama karena merasa konyol )


Acara makan pun selesai sudah, waktunya Ayu dan Malik kembali pulang. Dalam perjalanan pulang. Ayu kerap kali menguap, perutnya yang kenyang, di tambah udara dingin dari AC Mobil membuatnya dalam mood tidur. Berkali kali dia menggelengkan kepalanya untuk mengusir kantuk.


“ Tidak Kak, Aku masih kuat”. Sambil menguap.


1 menit kemudian saat Malik melihat gadis di sebelahnya, matanya sudah tertutup rapat. Malik tersenyum mengingat kata-kata Ayu yang terakhir. Ternyata hanya bibir nya yang kuat, matanya tidak kuat juga. Hehehehe


Saat sudah berada di depan rumah Mba Murni, Malik mencoba membangunkan Ayu. Tangannya iseng menusuk lesung pipi Ayu yang menggemaskan di mata Malik.


Tiga kali towel dan Ayu masih saja belum bangun. Akhirnya Malik membiarkan untuk beberapa saat Ayu tertidur di dalam mobilnya.


“ Dingin sekali”. Ayu membuka matanya, badannya kaku kedinginan. Tangan nya di gosok-gosokkan untuk mengurangi dingin yang menjalar di tubuhnya.


“ Sudah bangun?”. Malik memandang Ayu dengan penuh keteduhan. Ayu spontan saja menutup mulutnya setelah nyawanya kumpul 100%.


Ayu berusaha membetulkan duduknya yang sudah tak tau arah. Kakinya kesemutan karena terlalu lama duduk menekuk.

__ADS_1


“ Terimaksih ya Kak. Aku pamit yah”. Ayu segera meraih gagang pintu, namun Malik masih saja iseng. Dia sedari tadi belum membuka kunci pintu mobilnya. Ayu yang tidak berhasil membuka pintu pun berbalik kembali ke arah Malik.


“ Masih di kunci Kak”. Ayu masih menahan malunya.


“ Oh iya, aku lupa membukanya”. Malik pura-pura tidak tahu. Padahal Ayu bisa membuka kunci pintu itu sendiri. Tapi dasar Ayu, gadis desa yang tidak berpengalaman.


Setelah memastikan Ayu masuk ke dalam rumah, Malik kembali melajukan mobilnya untuk segera pulang. Tapi kali ini Malik tidak pulang ke rumah, dia lebih memilih pulang ke apartemen nya.


Dia masih tidak mau jika pulang hanya bersitegang dengan Ayahnya. Malik tidak mau terlalu membebani Mamih dengan kekacauan yang dia dan Ayahnya lakukan.


Keisengan Malik tidak sampai disitu, dia mengumpulkan banyak foto-foto Ayu saat dia sedang tertidur. Raut muka nya tetap saja cantik meskipun sedang tidur.


Handphone Malik bahkan sempat terlempar karena Ayu ngulet, meregagkan tangannya. Malik yang fokus dengan foto-fotonya pun kehilangan keseimbangan sehingga HP nya terlempar.


Hampir 15 menit Malik mencari Hp nya yang terlempar dan masuk ke kolong mobil. Dengan susah payah dia berusaha mengambilnya. Dia menjaga agar gerakannya tidak mengganggu Ayu yang sedang terlelap.


Malik saat ini sedang memikirkan apa yang terjadi pada Ayu. Tidak biasanya gadis periang nya akan menangis di depan orang lain. Dia biasanya selalu ceria dan membuat orang lain bahagia.


Tut....Tut....Tut.... ( Malik menghubungi Aldo di tengah malam).


“ Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?". Aldo belum terlelap karena masih menunggu laporan proyek dari luar kota yang sedang di tunggu untuk meeting besok pagi.


“ Cari tau, kenapa Ayuna sangat sedih hari ini”. Suara Malik dari sebrang telpon.


“ Baik Pak, akan saya kerjakan”. Jawab Aldo. Dia tidak pernah bisa menolak apapun keinginan atasannya, meskipun itu diluar pekerjaannya.


“ Jika berhasil, aku akan kasih bonus”. Malik menutup telponnya sepihak.


Aldo tidak jadi sedih, mendengar kata terakhir dari bosnya, membuat dia bersemangat mengerjakan perintah dari Malik. Matanya yang tadi sudah layu kembali cerah dan berbinar.

__ADS_1


__ADS_2