Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 196 (Daging Panggang)


__ADS_3

Ayu sedikit cemas saat memasuki rumah sakit, wajah Malik sudah tidak bersahabat sepanjang perjalanan. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu, entah itu semua mungkin hanya kekhawatiran Ayu belaka. Tapi rasanya sangat tidak nyaman. Malik menyadari tangan Ayu yang berkeringat sampai tangan Malik ikut basah.


“Kenapa?” Malik menggenggam erat tangan Ayu, menyeka keringat dengan sapu tangan miliknya. “Kau harus tenang, rileks saja sayang. Tidak ada yang perlu kamu takutkan, percaya padaku.” Ayu menarik panjang nafasnya, mengikuti permintaan Malik yang memintanya agar lebih tenang.


Ayu masuk perlahan dengan perasaan yang masih benar-benar dipenuhi kekhawatiran. Terlihat Murni yang sedang duduk di tepi ranjang memandang keluar jendela, Ayu mendekatinya perlahan agar tidak mengejutkannya.


“Mbak.” Murni masih tidak merespon. “Mbak, ini Ayu Mbak.” Ayu duduk di depan Murni memandang wajahnya dengan lekat. Perlahan Murni menyadari kehadiran Ayu, Murni tersenyum dengan ramah. “Apa yang sedang Mbak pikirkan sampai tidak mendengar suara ku?” Murni memeluk Ayu, membelai kepala Ayu dengan sangat lembut.


“Kau sehat Yu?” Ayu mengangguk masih dalam pelukkan Murni. “Syukur kalau kau baik-baik saja. Mbak sudah berhasil membebaskan Mas Ali dari perbuatan jahat. Dia tidak akan bisa lagi mengganggu kita.” Ayu tidak menjawab, pasti kejadian ini tidak akan pernah bisa dilupakan.


“Mbak sudah makan?” Murni menggeleng. “Kenapa tidak makan?” Murni menarik tangan Ayu bangkit dari duduknya.


“Ayu di sini?” Adit masuk membawa tentengan di kedua tangannya.


“Mas Adit masih di sini?” Ayu memeluk Adit yang baru saja masuk. “Kenapa Kak Malik tidak memberitahuku!.” Malik masih di luar ruangan bicara dengan Adam dan Sarah.


“Jangan menyalahkannya, aku bahkan sudah memarahinya habis-habisan tanpa tau alasan dia menahan ku di hotel tempat ku menginap.” Ayu penasaran.


“Kak Malik menahan Mas Adit! Kenapa?” Ayu duduk dengan wajah sangat serius menyimak.


“Kau lihat luka lebam di dagunya?” Ayu mengangguk. “Aku yang melakukanya.” Suara Adit penuh penyesalan. “Dia hanya berusaha melindungi kita semua, aku terbawa emosi dan tidak mendengarkan dulu penjelasannya.” Adit tesenyum kecut. “Kau sangat beruntung punya Malik Yu, dia tidak hanya menyayangi mu. Dia sangat perduli pada kita semua.” Ayu jadi ingin lari dan memeluk Malik yang sangat baik pada semua keluarganya.


Ayu ikut menikmati makanan yang Mas Adit beli, dia selalu kelaparan akhir-akhir ini. Adit sampai tersenyum melihat Ayu lebih lahap daripada Murni yang baru saja sembuh dari sakit.


“Ayuna!” Suara Malik membuat Ayu terkejut sampai menjatuhkan pisang yang ada di tangannya.


“Yahhhh…Kaka menganggetkan ku.” Ayu memungut pisang dan membuangnya ke tong sampah. Malik tertawa senang berhasil mengerjai Ayu.


“Sepertinya sekarang aku sudah bisa meminta ijin membawa Murni ikut dengan ku.” Murni sebelumnya menolak ikut Aditya, namun dirinya juga tidak mau merepotkan Ayu dan Malik jika tetap ada di Jakarta. Jika dia pergi dari Jakarta setidaknya dia akan mencari cara lain agar bisa hidup mandiri seperti dulu.


“Apa Mas Adit sudah bicarakan dengan Mbak Sekar?” Ayu merangkul Murni tidak tega. “Kalau Mbak Sekar keberantan aku bisa menjaga Mbak Murni, Kak Malik pasti tidak akan keberatan.”


“Aku sudah bicarakan, Sekar dengan senang hati menerima Murni. Dia juga punya tanggung jawab menjaganya.” Ayu tau senyum Murni tidak sesuai dengan isi hatinya.


Mas Adit bukan orang yang bisa Murni ikuti, dia punya beban dua anak dan istrinya. Penghasilannya bahkan tidak bisa dibilang cukup untuk dia dan keluarganya. Ayu tau betul rasanya menjadi beban bagi orang lain, dia tidak mau Mbak Murni mengalami apa yang dia alami dulu.

__ADS_1


“Tenang sayang, Mas Adit dan aku akan melakukan kerja sama bisnis. Kedepan kalian tidak perlu khawatir lagi tentang proyek perusahaan milik Mas Adit. Aku yang akan turun tangan mengembangkan bisnisnya di sana.”


Benarlah apa yang Mas Adit katakan, Malik tidak hanya memperhatikan dirinya. Dia juga sangat perduli tentang keluarga besarnya, dia bahkan mau repot-repot menangani perusahaan kecil milik saudaranya yang masih belum stabil. Ayu tidak berhenti bersyukur, akhirnya satu persatu masalah bisa mereka lalui.


Malam ini Murni dan Adit kembali ke Surabaya. Murni sudah sehat dan bisa melepaskan masa lalunya yang pahit. Meski berat Ayu harus merelakan mereka kembali, suasana seperti ini membuatnya teringat pada Bapak dan Ibu yang sudah lama tidak datang atau bahkan sekedar memberinya kabar lewat telpon.


Tidak adil rasanya, demi dirinya kedua orang tuanya merelakan diri mereka tidak terlalu dekat agar Ayu bisa terbiasa dengan keluarga Ayah kandungnya. Padahal sampai kapan pun mereka tidak akan tergantikan.


“Kak, aku lapar.” Malik heran kenapa Ayu suka sekali makan sekarang. “Kak, ayo kita makan di restaurant Kak Rey. Aku ingin makan daging panggang buatannya.” Malik tidak bisa meolak.


“Baik Tuan Puteri. Kita mampir yah.” Malik membelokkan stir mobilnya menuju ke restaurant Rey yang sudah muali buka dengan normal.


Disana ada Adam dan Sarah yang hari ini menjemput Mahesa yang sudah lama di asuh Ana salama Sarah menangani Murni sampai dia sembuh total. Mahesa tampak sangat bahagia dalam pelukkan Sarah.


“Hey…. kalian datang juga?” Sapa Ana menyambut kedatangan malik dan Ayu.


“Ayu ingin makan daging panggang. Dia jadi sangat rakus An.” Ayu cemberut dikatai Malik. “Tidak….Tidak….aku hanya bercanda.” Malik memeluk Ayu yang terlihat akan menangis. Dia sangat sensitive. Ana segera meminta pelayan membuatkan makanan kesukaan Ayu.


“Kak Ana.” Ayu menarik tangan Ana. Suaranya sangat lirih, Ana menatap wajah Ayu menunggu kalimat selanjutnya dengan wajah ramahnya. “Aku tidak mau di masak orang lain, aku mau Kak Rey yang membuatnya.” Ana agak kaget dengan permintaan Ayu. Tapi bisa saja Ayu sedang sangat rindu masakan Kak Rey.


“Kenapa An. Dia tidak jadi makan?” Malik heran karena makanannya lama sekali datangnya.


“Aku dan Sarah pulang duluan. Kasian Mahesa pasti sangat lelah.” Ana mencium Mahesa sebelum mengijinkannya pergi, beberapa hari ini Mahesa mengisi hari-harinya penuh dengan tawa bahagia. “Kapan-kapan aku akan mampir Ana, terimakasih banyak.” Sarah tidak khawatir meninggalkan Mahesa selama Ana yang menjaganya.


“Hati-hati di jalan, cutilah untuk beberapa saat.” Malik ingin kedua sahabatnya istirahat dan memulihkan kondisi tubuhnya yang pasti sangat lelah.


“Tenang saja Al, kami baik-baik saja. Ana yang harus istirahat, dia pasti sangat lelah menjaga putra kami yang tidak bisa diam.” Sarah merasa bersalah.


“Tidak, dia anak yang sangat baik. Rey bahkan ingin segera punya anak karena melihat Mahesa yang sangat menggemaskan. Hehehehe….” Semua orang ikut tertawa bahagia.


Setelah mengantar Adam dan Sarah, Malik dan Ana ke lantai atas menyusul Ayu yang sudah naik duluan. Malik merasa damai saat melihat Ayu tertidur pulas di atas sofa, wajahnya sangat cantik, kulitnya bersih dan auranya memancarkan kehangatan bagi dirinya.


“Kenapa dia tidak makan? Dia datang kesini ingin sekali makan daging panggang, aku sampai tidak memperhatikanya.” Ana menyodorkan kopi pada Malik.


“Dia mau menunggu Rey, Ayu hanya mau Kak Rey yang membuatkannya.” Malik menyipitkan matanya merasa heran.

__ADS_1


“Aku tidak salah dengar? Dia biasanya tidak pernah pilih pilih An.” Ana mengangkat kedua pundaknya, dia sendiri heran dengan sikap Ayu.


“Tenang saja, aku sudah hubungi Rey agar pulang lebih cepat.” Ana membuka laporan dan melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.


Rey sangat bersemangat saat dengar Ayu mampir dan ingin makan masakan buatannya. Rey membeli daging dengan kualitas paling bagus untuk dia masak. Saat sampai di restaurant, Rey langsung menuju dapur dan mengolah daging yang sudah dia beli segera. Dia tidak mau Ayu menunggu terlalu lama. Rey membuat empat porsi, tentu saja dia juga harus menyiapkan makanan terbaik untuk istrinya dan untuk Malik.


Suara derit pintu saat Rey masuk membawa makanan yang sudah dia siapkan. “Apa kalian menunggu lama?” Ana menggeleng, wajah teduh yang saat ini terlelap membuat Rey merasa bersalah terlalu lama datang. “Dia pasti bosan menunggu ku.”


“Tidak, dia hanya kelelahan saja Rey. Aku akan membangunkanya.” Perlahan Malik membangunkan Ayu, aroma daging panggang yang menyeruak membuat Ayu langsung sadar.


“Aku lapar…” Suara manja yang tidak pernah sekali pun Rey dengar.


“Makan sayang makan, Kak Rey masih punya banyak makanan kalau Ayu masih lapar.” Ayu melahap makanan tanpa basa basi. Ana dan Malik hanya menggeleng heran dengan ***** makan Ayu yang sangat besar. Rey dengan telaten memotong daging agar Ayu bisa memakannya dengan mudah.


“Masih mau lagi?” Malik menawarkan daging miliknya.


“Tidak aku sudah kekenyangan.” Ayu mengelus perutnya yang seakan penuh muatan. “Ayo kak kita pulang, aku besok ada janji dengan Sandra dan Melani.”


“Janji apa Yu?” Tanya Ana penasaran. “Kalian sudah selesai ujian?”


“Sudah Kak, aku ingin melihat beberapa kampus.” Ayu lupa belum memberitahu Malik tentang rencananya kuliah. “Boleh Kak?” Tanya Ayu pada Malik.


“Besok Kak Malik ada meeting pagi sampai jam 11 siang. Bilang pada Sandra dan Melan, Kaka yang akan antar kalian besok selesai kerja.” Ayu hampir saja melompat kegirangan.


“Apa Kak Ana boleh ikut? Kak Ana bosan di sini seharian.” Ayu mengangguk penuh perasaan bahagia.


Rey membawakan Ayu pudding coklat kesukaannya, beberapa kue buatannya dan buah-buahan segar agar Malik tidak repot-repot belanja.


Baru jalan beberapa menit Ayu sudah membuat rusuh, dia berusha meraih paper bag berisi makanan yang ada di kursi belakang. Karena ceroboh, semua makanan dalam paper bag tumpah berantakan di bawah kursi.


“Kenapa tidak nanti saja sayang, sebentar lagi kita juga sudah sampai.” Ayu tidak menjawab, wajahnya berubah sendu dan tidak mau melihat ke arah Malik. Padahal Malik bicara dengan nada rendah, dia tidak sedikitpun marah. Malik bingung karena seperti tidak mengenal gadis yang ada di sampingnya.


Apa perasannya sensitive karena perpisahannya dengan Mbak Murni? Apa dia marah karena hal lain?. Tapi apa? Aku tidak melakukan hal aneh yang membuatnya marah!. Malik jadi memikirkan banyak kemungkinan yang sedang Ayu alami dalam dirinya.


Sementara waktu sepertinya akan lebih baik jika dirinya diam, begitu menurut pemikiran dewasa Malik. Wanita harus diberi ruang saat dirinya marah-marah tidak jelas, biarkan dia berpikir jernih dan kembali jadi wanita normal seperti sedia kala. Malik mendengar banyak hal tentang wanita akhir-akhir ini, dia harus mempersiapkan diri karena Ayu sudah jadi wanita dewasa sekarang.

__ADS_1


__ADS_2