Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 61 ( Perjalanan Aldo )


__ADS_3

Tut...Tut...Tut...


Aldo meraih handpone yang berdering dan menepi agar tidak berbahaya bagi dirinya dan orang lain. Diliriknya kaca spion sebelah kiri.


Setelah menepi dengn sempurna, Aldo langsung menggeser layar ponsel berwarna hijau.


“Iya Bos” Gurat sedih langsung menghiasi wajah Aldo. Malik memintanya menjemput kedua orang tua Ayu yang tinggal jauh di pedesaan.


Cobaan apalagi ini ya Tuhan. Untung saja alamat sudah dikantongi dari jauh-jauh hari.


Banyak hal yang Aldo persiapkan perihal yang berhubungan Ayuna. Wanita pujaan hati Malik yang selalu membuat Malik mampu tersenyum.


Hari-hari Malik begitu berwarna dan penuh kebahagiaan semenjak kehadiran Ayu. Dahulu Malik hanya fokus pada pekerjaannya. Mamih dan Ayah nya bahkan menyerah menjodohkan Malik dengan banyak perempuan-perempuan cantik anak dari rekan bisnisnya.


Aldo memutar stir, merubah haluan.


Menghubungi sahabatnya yang bisa menemaninya untuk perjalanan panjang yang pasti akan sangat melelahkan.


Berdiri seorang lelaki bernama Samuel di halte daerah Bogor, kebetulan Sam memang berdomisili di Bogor. Teman akrab Aldo semenjak SMA sampai saat ini. Aldo membuka kaca jendela sebelah kiri, memanggil Sam yang masih fokus dengan handpone ditangannya.


“Sam, ayo masuk” Sam segera melebarkan senyum saat melihat sahabatnya.


Langsung saja Aldo menancap gas menuju kampung halaman yang sudah dia cek jalannya memalui google maps.


“Kenapa kau dinas jauh sekali Al?”


Pandangan mata lurus ke depan tanpa menengok k samping.


“Ini demi asmara Bos Malik. Dia selama ini tidak pernah jatuh cinta.” Aldo mencoba terlihat baik-baik saja, padahal hatinya juga menangis harus menanggung beban berat.


Sepanjang perjalanan mereka beberapa kali bergantian untuk melepas lelah, setelah kurang lebih 5 jam perjalanan. Akhirnya mereka sampai di sebuah desa yang cukup padat penduduk.


Aldo mecoba bertanya pada Ibu-Ibu yang sedang duduk bergerombol ramai. Awalnya ragu, tapi karena sudah buta arah, Sam mendesak Aldo agar turun dan menanyakan alamat yang mereka tuju.


“Ibu-Ibu maaf, saya mau bertanya alamat ini.” Aldo menyodorkan selembar kertas yang di dalam nya tertulis alamat rumah Pak Hadi.


“Bapak ada perlu apa yah?” Tanya salah seorang yang melihat alamat yang di tuju.


“Ada hal penting yang harus saya sampaikan bu. Dan mau menjemput Bapak dan Ibu nya Mbak Ayu” Aldo mencoba tersenyum ramah.


“Rumahnya masih lumayan jauh dari sini. Kebetulan saya sepupunya Pak Hadi, apa berkenan jika saya antarkan ke sana?” Aldo bahagia sekali mendengarnya, sedari tadi dia berputar-putar dan tidak menemukan alamat yang dia tuju.


“Dengan senang hati Bu.” Aldo membukakan pintu depan dan menyuruh Sam untuk pindah ke kursi belakang.


Setelah 10 menit perjalanan, mereka sampai di rumah yang cukup besar ukurannya, di depannya ada pohon mangga besar yang membuat suasana menjadi sejuk dan rindang.

__ADS_1


Perempuan yang mengantarkan Aldo dan Sam terburu-buru keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Aldo masih bingung harus bagaimana sekarang. Baru terpikir akan menyampaikan apa pada kedua orang tua Ayu. Aldo akhirnya menelpon Malik.


“Bos. Saya bingung, saya harus bagaimana agar mereka mau ikut dengan saya menemui Bos?” Aldo memang kadang telat mikir kalo berhubungan dengan asmara. Apalagi ini asmara orang lain.


“Katakan jika saya mau menikahi anak gadisnya!” Malik menutup telpon begitu saja. Membuat Aldo geram dan memutar otak untuk alasan yang lebih masuk akal.


***


“Mbak....Mas... Mbak Lia.” Kartini lari tergopoh-gopoh mencari keberadaan Ayah dan Ibu Ayu. Dia panik karena ada dua laki-laki asing yang datang mencari mereka karena Ayu.


Ibu Ayu muncul dari dapur, tangannya masih penuh dengan tepung terigu karena sedang membuat adonan combro dan misro.


“Kenapa Tin? Kok ya teriak-teriak sampe tetangga jauh denger loh itu” Mengusap keringat yang membanjiri kepalanya.


“Itu Mbak, ada orang katanya mau jemput Mbak sama Mas Hadi. Laki-lakinya ganteng-ganteng Mbak” Bibi tersenyum tapi menyisakan tanya di benak Ibu Ayu.


“Laki-laki mau jemput aku bagaimana sih Tin.” Lia berlari mencuci tangannya yang belepotan. “Memangnya mereka dari mana?” Suara sedikit berteriak karena jaraknya cukup jauh.


“Aku lupa tanya loh Mbak. Tapi kayaknya bukan orang sini. Aku nggak pernah lihat mereka sebelumnya” Suara dengan nada tidak kalah kencang.


Terlihat Lia merapikan bajunya, meyambar hijab yang tergantung di dekat kaca.


Memastikan tidak ada tai mata dan mengusap mukanya dengan handuk kecil.


“Idih, yang mau ketemu calon mantu. Rapih banget loh!” Kartini geli melihat tingkah Mbak Lia yang sangat aneh hari ini.


“Aku gak kenal loh Tin. Mereka itu siapa yah?”


“Aku apalagi Mbak, gak kenal aku juga loh Mbak”


“Mbak minta tolong yah, tolong panggilkan Mas Hadi. Dia tadi katanya ke rumah sebelah sebentar” Lia bergegas keluar menyapa kedua tamunya yang dengan sopan menunggu di teras rumah.


“Halo Ibu” Aldo tersenyum.


“Assalamualaikum, kok halo. Memangnya sedang telponan” Aldo merasa tersindir. Tapi demi Bos tidak boleh menyerah. Harus tetap tersenyum.


“Iya Tante, Assalamualaikum.” Aldo sedikit canggung menghadapi suasana ini.


“Wa’alaikum Salam. Begitu kan lebih sopan mas. Ini ngomong-ngomong mau mencari saya dan suami saya?” Masih belum percaya dengan ucapan Kartini.


“Benar Tante, saya disuruh dateng ke sini Tante” Aldo semakin bingung harus dengan alasan apa mengajak mereka ke Jakarta secara mendadak.


“Masuk Mas, biar lebih enak ngobrolnya. Tunggu Mas Hadi sebentar yah, beliau tadi sedang di panggil” Lia meninggalkan kedua tamunya yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


“Bu, siapa yang datang?” Merasa heran karena ada mobil mewah terparkir di halaman rumah.

__ADS_1


“Katanya mau cari Ibu dan Bapak, tapi belum Ibu tanya. Kasian mereka sepertinya jauh, bukan orang sini kata Tini” Menyalakan kompor untuk membuat teh.


“Kelihatannya logatnya bukan orang Jawa Mas. Seperti orang kota cara ngomongnya” Menbantu Mbak Lia menyiapkan gelas dan nampan.


“Ya sudah, Bapak temui dulu ya Bu. Jangan lama-lama” Hadi berlalu meninggalkan dua wanita yang sedang membuat minuman untuk para tamu.


“Hmmm...Hmmm” Memberi kode akan keberadaannya.


“Assalamualaikum Pak. Saya Aldo dan ini sahabat saya Samuel Pak” Berjabat tangan dengan Pak Hadi.


“Wa’alaikum Salam” Belum ada obrolan, sama-sama bingung mau memulai percakapan dari mana dan bagaimana.


“Mas ini dari mana asalnya? Dan ada tujuan apa datang kemari?” Aldo sudah mulai keringat dingin. Padahal itu sudah ada dalam daftar pertanyaan yang akan keluar. Tapi kenapa jadi tetap saja deg-degan.


“Saya dari Jakarta Pak” Aldo mengangguk sopan. Senyum tidak pernah luntur, melekat selalu di bibir Aldo. Sam hanya manggut-manggut karena tidak tau apa yang sedang terjadi.


“Oh.....Kalian dari Jakarta toh. Pantesan logat bicaranya beda sekali dengan kami” Menyodorkan teh hangat, combro dan misro yang masih hangat di atas meja.


“Ibu ini, bikin kaget saja” Pak Hadi terkejut dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba.


“Gitu aja kok kaget Pak. Silahkan di minum Mas. Maaf yah makanannya sederhana seperti ini” Mendorong piring misro dan combro agar lebih dekat dengan jangkauan tangan.


“Terimakasih banyak Tante. Maaf merepotkan” Terselip senyum di bibir Pak Hadi mendengar istrinya di panggil tante.


Istrinya hanya melirik sinis karena merasa sedang di ejek oleh suaminya sendiri.


Senyumnya jelas sekali sedang mengejekku sekarang ini. Batin Lia sambil menajamkan matanya.


Hadi hanya geleng-geleng akan perang batin yang sedang dia lakukan dengan istrinya tercinta. Mereka mampu berkomunikasi dalam diam seperti Sarah dan Adam.


“Mas ini temennya Ayu atau bagaimana?” Mulai pembicaraan setelah ngalor ngidul membicarakan suasan kampung yang asri.


“Saya temennya Bos Malik” Aldo menyodorkan kartu nama. Tertera namanya dan nama sbeuah perusahaan. Tapi Hadi dan Lia sama-sama bingung, tidak kenal dengan mereka semua.


“Jadi tujuan utamanya kesini bertemu dengan kami untuk apa Mas?” Mulai geram karena berputar-putar.


Kenapa otakku tidak bekerjasama dengan baik. Lebih baik aku menghadapi klien yang sedang ngambek, daripada orang tua dari Bos nya. Salah sedikit bisa selesai riwayat karir yang sudah dibangun selama ini.


“Jadi begini Pak, saya diminta Bos Malik untuk mengajak Bapak dan Ibu datang ke Jakarta” Gugup setengah mati.


“Ke Jakarta untuk apa Mas?” Pak Hadi masih butuh keterangan detail.


“Beliau bilang ingin menyampaikan hal penting pada Ibu dan Bapak.” Aldo takut jika mengatakan Malik ingin menikahi puteri mereka.


“Apa boleh saya bicara dengan Bos Mas Aldo?” Sam hanya diam saja. Takut salah bicara karena tidak paham dengan situasi yang sedang terjadi.

__ADS_1


“Makudnya telpon?” Aduh bagaimana ini. Apa Bos akan bicara jujur jika Bapak nya Mbak Ayu bicara langsung di telpon. Bisa pulang tidak utuh ini saya. Aldo menangis dalam hati kali ini.


__ADS_2