Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 178 ( Laki-laki Misterius )


__ADS_3

Ayu berusaha keras melakukan perlawanan sebisa dirinya, tapi laki-laki yang berdiri di depannya tidak goyah. Dia melangkah sedikit demi sedikit mendekati Ayu. Ayu melepas jarum pentul yang ada di hijabnya. Ayu berencana menusuk mata laki-laki yang menyekap dirinya tanpa sepengetahuannya. Ada bayangan di kepala Ayu yang sangat menganggunya, bayangan sosok laki-laki yang tertawa dengan senapan laras panjang tiba-tiba saja terngiang-ngiang di kepalanya.


Laki-laki misterius ini tiba-tiba saja menarik tubuh Ayu dalam dekapannya. Postur tubuhnya tidak asing dan membuat Ayu sangat nyaman dalam pelukannya. Ayu sedang menahan sakit di kepalanya sampai tidak bisa melakukan perlawanan. Dadanya sedikit sesak dan matanya berkuang-kunang.


“Aku sangat rindu. Aku rindu aroma tubuhmu.” Ayu tersenyum mendengar suara yang sangat dia rindukan. Laki-laki yang membuatnya patah hati pagi ini tanpa Ayu tau sebabnya. Cemburu lebih tepatnya. “Kau tidak merindukanku? Kenapa kau diam saja.” Malik membuka topi dan masker yang menutup wajahnya.


Ayu mengangguk tidak ingin melepaskan pelukkan Malik. “Kenapa Kak Malik baru datang.” Ayu menangis karena kerinduannya telah terobati.


“Maafkan aku. Aku tidak berdaya melawan keadaan kita saat ini.” Malik sangat ingin membawa Ayu ke pulau terpencil tidak berpenghuni, seperti ide yang Aldo lontarkan. Tapi itu mustahil, Malik punya tanggung jawab besar terhadap perusahaan yang menaungi ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya mencari nafkah.


“Jangan tinggalkan aku Kak. Aku tidak mau lagi kita berpisah.” Entah apa yang merasuki Ayu saat ini, dia benar-benar ingin bersama Malik.


“Iya, malam ini aku akan membawamu. Tenang yah.....kita pasti akan selalu bersama sampai maut memisahkan kita.” Malik menciumi Ayu berulang kali. Tidak tega melihatnya memohon agar dirinya tetap tinggal.


Rey dan Jofan berhasil menemukan Ayu yang terlihat di sekap oleh seorang pria, keduanya langsung berlari menuju toilet pria seperti yang ada di CCTV.


Dorrr....dorrr....dorrr....


“Buka pintunya! Jangan macam-macam dengan perempuan yang kamu bawa, atau kau akan menyesal sudah berurusan denganku.” Teriak Rey dari balik pintu. Jofan sudah bersiap mendobrak pintu kamar mandi, untung saja Aldo muncul tepat waktu.


“Jofan....Tuan Rey.” Aldo terlihat terengah-engah. “Yang ada di dalam Bos Malik.” Masih dengan suara yang terbata-bata. Jofan dan Rey menghembuskan nafasnya dengan kasar, Jofan sampai terduduk lemas tidak berdaya. Kakinya seakan mati rasa tidak bisa menahan tubuhnya.


Krekkkkk....


Derit pintu toilet yang terbuka membuat semua orang memandang siapa yang keluar dari dalam toilet. Perasaan lega setelah kepanikan yang memuncak membakar ubun-ubun Rey dan Jofan.


“Apa kau tidak bisa menghubungi kami, kau hampir saja membuatku gila.” Teriak Rey pada Malik. Jofan yang melihat Ayu baik-baik saja langung mendekapnya dengan erat. Ketakutan yang sangat besar kehilangan Ayu masih membayangi dirinya, Jofan tidak rela jika harus kehilangan untuk yang kedua kalinya.


“Jangan mengulanginya, aku tidak tau apa yang akan aku lakukan jika ini terjadi lagi.” Jofan sampai menangis masih menyalahkan dirinya sendiri yang membiarkan Ayu seorang diri.


“Maafkan aku karena membuat kalian semua khawatir. Aku baik-baik saja.” Ayu sangat terharu, banyak yang menjaganya. Ayu tidak boleh terluka demi kebahagiaan semua orang yang menyayanginya.


“Iya, ini bukan salahmu. Jangan meminta maaf.” Jofan tidak melepaskan pelukannya.


“Rey, setelah acara selesai aku ingin membawa Ayu malam ini. Aku akan hati-hati, aku berjanji.” Rey bingung karena keadaan masih belum stabil. Jika Malik tertangkap media, nama Ayu akan terseret dan pasti akan berpengaruh pada masa depannya.


“Apa tidak sebaiknya kalian tidak bersama dulu. Kita sudah sepakat sampai keadaan benar-benar membaik.” Malik menggeleng.

__ADS_1


“Hanya malam ini. Satu hari saja, setelah itu aku akan membawanya kembali.” Rey menatap mata Ayu yang meminta jawaban iya dari dirinya.


“Baiklah, malam ini saja. Tapi ingat kau harus sangat hati-hati.” Malik melompat kegirangan, sebahagia itu rasanya. Semua orang tertawa dibuatnya.


Rey, Jofan dan Ayu kembali ke aula dimana acara di adakan. Ana sangat lega saat ketiganya kembali dalam keadaan baik-baik saja. Adam dan Sarah merasakan hal yang sama.


Ayu kembali ke meja tampatnya duduk bersama kedua sahabatnya. Kali ini Jofan benar-benar tidak melepaskan tangan Ayu. Tidak mau lagi kejadian serupa terulang kembali. Ayu bahkan tidak bisa bergeming karena Jofan tidak mau melepaskan tangannya.


Sesi foto Rey dan Ana masih berlangung, kini giliran foto bersama keluarga besar. Jofan menggandeng tangan Ayu bersamanya naik ke atas panggung, semua orang pasti akan menyangka jika Ayu adalah kekasihnya. Sarah dan Adam ikut berfoto bersama-sama.


Dua foto pertama berjalan lancar, dari kerumunan tamu Ayu melihat laki-laki yang mengenakan topi mirip penampilan Malik tadi tengah memandangi Dokter Sarah. Ayu gemetar melihatnya tapi tidak berani bersuara. Terlalu bising dengan suara orang-orang yang ada di dalam aula.


Mata Ayu terbelalak saat laki-laki yang dia perhatikan menyeringai dan mengeluarkan pistol dari dalam Jas yang dia kenakan. Spontan Ayu melindungi Sarah dengan tubuhnya.


Duuuarrrrrr........


Suara tembakan membuat kerumunan saling berlarian menghambur untuk menyelamatkan diri. Sarah menahan tubuh Ayu yang lunglai di hadapannya. Bibirnya pucat pasi dan matanya berair. Tangan Sarah gemetar, dia merasakan tangannya basah.


Malik yang masih menunggu di dalam mobil lari secepat mugkin ke dalam aula. Semua orang sedang mencoba meneriaki Ayu agar tetap sadar. Gaun Ana yang sangat indah berlumuran darah, Sarah dan Adam yang terkejut mulai sadar, keduanya melakukan pertolongan pertama sebelum membawa Ayu ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Sarah sudah meminta team medis rumah sakit menyiapkan ruangan operasi. Semua sudah siap saat mereka sampai. Malik tidak melepaskan tubuh Ayu dari pelukkannya. Dia tidak rela suster dan dokter mengambilnya dari pelukkan Malik.


“Lepaskan.....Ayu harus segera masuk ruang operasi. Kita masih bisa menyelamatkannya.” Malik masih memeluknya erat. “Aku bilang lepaskan, serahkan pada kami.” Malik masih tidak bergeming. “Kau minta untuk di hajar! Aku bilang lepaskan Ayu!” Adam sudah habis kesabaran.


Plakkkkk....


Adam menampar Malik agar dia sadar. Malik masih tidak bergeming dia tidak mau melepaskan Ayu, Adam akhirnya meminta beberapa orang untuk memaksa Malik melepaskan Ayu. Malik yang masih mengamuk meronta-ronta terpaksa Adam suntik dengan obat penenang agar dia bisa istirahat.


“Tolong bawa Tuan Malik ke ruangannya.” Malik punya ruangan khusus di rumah sakit miliknya. Terbilang mewah layaknya kamar hotel bintang lima.


Adam membawa Ayu ke meja operasi, dengan sergap Sarah melakukan operasi untuk membantu Ayu. Peluru yang menembus kulit Ayu untungnya tidak mengenai organ tubuhnya. Hanya bersarang di tangan kirinya. Sepertinya pelaku penembakan memang tidak berniat membunuh Ayu, dia hanya berniat mencelakai Ayu.


Selama dua jam operasi berlangung, Sarah dan Adam lega karena operasi berjalan lancar. Kini Ayu sudah mereka pindahkan ke kamar perawatan yang sama dengan Malik. Dia pasti akan mengamuk saat bangun mencari keberadaan Ayu.


Semua keluarga masih terlihat tegang, meski operasi berjalan lancar, Ayu sempat kritis karena kehabisan banyak darah. Jofan tidak berhenti menangis di pelukkan Rey. Ferdinan masih memegangi dadanya yang terasa nyeri. Rama mencoba kuat agar keadaan tidak memburuk. Dia sudah berhasil mengamankan pelaku penembakan seketika setelah kejadian.


Rama meminta para pengawalnya memberi pelajaran tapi tidak untuk membunuhnya. Masih banyak yang perlu Rama tau motif dibalik penembakkan yang dia lakukan. Kepalanya berdenyut, tidak habis masalah yang datang silih berganti. Setiap saat orang-orang yang sangat dia sayangi terancam nyawanya.

__ADS_1


“Kalian semua boleh pulang, aku mohon. Biarkan Ayu istirahat, aku akan menjaga mereka berdua.” Sarah meyakinkan semua orang agar percaya pada dirinya dan Adam.


“Benar apa yang Sarah katakan. Gadis kecil kita tidak akan senang jika melihat kita sedih seperti ini. Besok kita datang lagi dengan suasana hati yang bahagia. Dia sudah baik-baik saja sekarang.” Rama memapah tubuh Ferdinan yang lemas. Membawanya ke dalam mobil miliknya dan mengantarkannya pulang.


Rey tidak melepaskan tangan Ana dan dekapannya pada Jofan. Keduanya pasti sangat syok kejadian seperti ini bisa terjadi dengan begitu mudah. Rey sudah menyewa keamanan ekstra untuk keamanan, tapi entah siapa yang sedang mempermainkan keluarganya. Bisa-bisanya orang bersenjata masuk dalam aula pernikahan tanpa ada yang mencurigainya.


Malik sedang duduk mengawasi Ayu yang tertidur pulas tidak berdaya. Berulang kali Malik menempelkan kepalanya di dada Ayu, menempelkan jari telunjuknya di lubang hidung Ayu, meletakkan jempolnya di nadi tangan Ayu untuk memastikan orang kesayangannya masih bernafas. Tidak ada satu orang pun yang dia respon, Adan dan Sarah sangat khawatir melihat kondisi Malik daripada kondisi Ayu.


Dia terlihat seperti orang yang depresi. Dia tidak makan, tidak mau menyentuh minuman. Bahkan dia terlihat tidak benar-benar hidup. Sarah mengoyak-oyak tubuh Malik tapi dia masih saja tidak bergeming. Perlahan Sarah memberi tahu Malik bajwa Ayu baik-baik saja pun tidak di tanggapinya. Dia benar-benar sedang merasa sedih.


Adam memutuskan tidur dikamar perawatan Ayu. Dia takut Malik tidak bisa mengendalikan dirinya dan berbuat yang tidak-tidak.


“Adam....cepat periksa Ayuna.” Hanya kata-kata itu yang berulang kali keluar dari mulut Malik.


“Aku sudah memeriksanya beberapa menit yang lalu.” Mata Malik melotot. Adam menciut melihat Malik seperti akan menerkamnya. Adam berjalan dengan langkahnya yang gontai. Mengecek ulang kembali semua seperti keinginan Malik. “Dia baik-baik saja. Denyut nadi nya normal dan jantung nya masih berdetak.” Adam sangat ingin berteriak agar Malik bersikap normal. Dia lebih merepotkan dari orang yang sakit.


Ada suara ponsel yang berdering, Adam mencari sumber suara karena Malik sama sekali tidak mau tau apa yang terjadi selain memperhatikan Ayu. Tertulis nama Mas Aditya pada ponsel Ayu yang ada di tangan Adam.


“Halo....Maaf ini dengan Adam. Ada yang bisa saya bantu?” Adam ragu awalnya, tapi telpon tengah malam biasanya sangat penting.


“Maaf....apa benar ini ponsel keponakan saya yang bernama Ayu. Aku harus bicara dengannya. Aku sudah ada di rumah sakit seperti yang dia berikan alamatnya padaku.” Aditya bicara sekenanya kerena saat ini dirinya sangat cemas dengan keadaan Murni.


“Benar Pak. Apa bisa bertemu dengan saya saja. Kebetulan saya ada di rumah sakit yang sama. Saya akan jelaskan apa yang terjadi.” Aditya menyetujui. Keduanya memutuskan bertemu di lobby utama setelah Adam meminta Sarah menggantikannya menjaga Ayu dan Malik.


Malik melakukan hal yang sama dan meminta Sarah memeriksa Ayu berulang kali. Sarah terharu karena Malik begitu besar mencintai Ayu. Dia bahkan tidak memejamkan matanya sebetar saja demi memastikan keadaan Ayu. Yah....terkadang sikapnya membuat Sarah jengkel dan sama seperti Adam ingin berteriak sekeras mungkin.


“Apa kau tidak lelah?” Malik menggeleng. Aku yang lelah...... mata ku sangat lengket sekarang. Sarah berteriak dalam hati. Harus tetap menjadi penyemangat meski tubuhnya juga lelah.


Adam dan Aditya menuju ruangan ICU dimana Murni di rawat, sudah cukup lama Murni koma dan belum memperlihatkan tanda-tanda dirinya akan siuman. Aditya menangis tersedu-sedu melihat adik semata wayangnya terbaring tidak berdaya dengan alat yang menempel disekujur tubuhnya.


Terakhir mereka bertemu tidak dalam kondisi yang baik, Murni marah besar karena semua hak waris dilimpahkan pada dirinya dan sebagian kecil untuk Ayuna. Murni hanya mendapat sebagian kecil yang tidak ada harganya dimata Murni. Dia marah dan memblokir semua nomor Aditya dan nomor Kaka Iparnya.


Kemarahan sesaat yang Murni lontarkan, beberapa kali dirinya sangat merindukan Aditya dan keponakan-keponakanya yang lucu. Murni bahkan sering meneteskan air mata mengingat sikapnya yang kasar hanya karena harta.


“Bagaimana ponsel Ayu ada pada Dokter? Dimana keponakan saya.” Tanya Adit saat sadar siapa yang seharusnya ada bersama dirinya saat ini.


“Dia juga sedang dalam perawatan. Ada kejadian yang luput dari penjagaa kita.” Adit tampak bingung, Adam terlihat sangat perduli pada Ayu. Ada hubungan apa dokter dengan keponakannya pikir Adit. Adam pun membawa Adit untuk menemui Ayu. Lorong yang Adit lewati berbeda dari lorong-lorong sebelumnya. Hanya ada sekitar 5 kamar tidur di lantai 9 gedung yang saat ini Aditya tapaki. Mungin ini ruangan VIP, tapi apa mungkin. Tidak sampai otak Adit memikirkan kehidupan seperti apa yang Ayu jalani selama ini.

__ADS_1


__ADS_2