
Sandra sedang duduk melamun di depan jendela kelas, ingin rasanya menemui Ayu yang saat ini sedang terbaring di rumah sakit. Ada perasaan lega saat tau Ayu dalam keadaan baik-baik saja setelah melewati masa kritisnya.
Tapi masih belum bisa hilang rasa sedih karena Ayu sampai saat ini belum juga sadar, dia masih betah dalam tidur panjangnya. Sandra berencana mengajak Melani untuk menjenguk Ayu sepulang sekolah. Sudah rindu beberapa hari ini tidak bertemu dengan Ayu.
“San, kita pulang cepat hari ini. Ada rapat guru jadi kelas terakhir di bubarkan.” Melani sudah bersiap membenahi buku pelajarannya.
“Kau mau ikut? Aku mau ke rumah sakit menjenguk Ayu.” Sandra tersenyum bahagia bisa segera bertemu dengan Ayu.
“Apa! Tentu saja aku mau sekali ikut denganmu.” Melani bergelayut manja di punggung Sandra. Dua sahabat yang merindukan sosok Ayu yang selalu mengisi hari-hari mereka.
Sandra melaju dengan kecepat sedang saat melihat Jofan yang duduk melamun di sebuah halte dekat sekolah. Dia tidak datang ke sekolah pagi ini, tapi dia terlihat mengenakan seragam sekolah. Sandra menepi, dia harus memastikan Jofan baik-baik saja.
“Kenapa berhenti di sini?” Melani merasa aneh. Dia tidak melihat Jofan karena fokus dengan ponsel menyusuri dunia maya.
“Tunggu sebentar.” Sandra terburu-buru turun dari mobil.
Mata melani mengikuti arah Sandra lari, memperhatikan dari jauh apa yang sebenarnya membuat Sandra menepikan mobilnya.
Oh ternyata ada Jofan, seingatku tadi Jofan tidak datang ke sekolah. Tapi dia pakai seragam. Apa dia bolos yah. Melani mengira-ngira apa yang sedang terjadi sebenarnya.
“Jofan, hey....” Sandra berjongkok di depan Jofan yang terlihat begitu menyedihkan. “Apa yang terjadi?” Semua pasti karena Jofan memikirkan keselamatan Ayu.
Sandra kaget saat tiba-tiba Jofan memeluknya dengan erat. Jantung Sandra terasa melompat-lompat begitu bahagia. Selama ini hanya mimpi bisa mendapat pelukkan hangat dari laki-laki yang sangat Sandra cintai.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Sandra merasakan ada kesedihan yang begitu dalam. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
Jofan masih membisu, dia tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya memeluk Sandra erat. Cukup lama Sandra membiarkan Jofa memeluknya, membiarkan Jofan mendapat ketenangan nya kembali.
Akhirnya Jofan melepaskan pelukkannya, dia menatap wajah Sandra dan tersenyum. Sandra jadi salah tingkah mendapat perlakuan manis dari pujaan hatinya. Pipinya merah merona menahan perasaan malu.
“Kenapa kau sangat menggemaskan.” Jofan mencubit pipi Sandra gemas. “Aku ikut ke rumah sakit. Aku ingin melihat keadaan Ayu.” Jofan mengulurkan tangan.
Lagi-lagi Sandra salah tingkah mendapat perlakuan manis Jofan. Malu-malu Sandra mengulurkan tangannya bergandengan dengan Jofan. Kali ini bukan mimpi, ini benar-benar hari keberuntungannya setelah penantiannya yang cukup lama.
Melani dengan sadar berpindah posisi duduk ke belakang. Membiarkan Sandra merasakan kebahagiaan yang selama ini dia perjuangkan tanpa Jofan tau. Melani ikut bahagia melihat perlakuan Jofan pada Sandra. Pasti hatinya sedang berbunga-bunga karena perasaan cinta.
“Kalian berdua tumben sekali tidak berisik!” Jofan merasa ada yang aneh melihat kedua sahabatnya damai dan tidak bersuara.
__ADS_1
“Ah, tidak papa Fan. Kita terlalu bahagia ingin bertemu dengan Ayu.” Sandra benar-benar malu. Perasannya pada Jofan berlebihan, padahal Jofan hanya menganggapnya sahabat sama seperti yang lainnya.
“Ada-ada saja.” Jofan menggelengkan kepala merasa aneh.
Setibanya di rumah sakit, Jofan dan yang lain menyempatkan untuk membeli puding kesukaan Ayu. Dia akan sangat bahagia ketika dibawakan puding coklat dingin.
“Dokter, ap yang sebenarnya terjadi?” Teriak Malik yang terdengar sampai ke lorong ruangan perawatan. Sandra, dan Melani ikut berlari saat melihat Jofan lari.
Brugggg....
“Hey teman-teman, aku sangat merindukan kalian.” Jofan tersenyum bahagia melihat Ayu sudah siuman dengan senyum cerianya.
“Sandra dan Melani memeluk Ayu.” Jofan hanya membelai puncak kepala Ayu merasa lega. Akhirnya bisa melihat kembali senyum Ayu yang memuat dirinya ikut bahagia.
“Dokter, ada apa ini.” Malik masih berteriak meminta penjelasan dokter yang saat ini berdiri di depannya.
“Maaf Tuan, saya benar-benar merasa tidak menemukan luka serius pada Nona. Tapi saya juga merasa bingung kenapa semua ini bisa terjadi.” Dokter merasa ada yang aneh.
“Apa bisa pasien hilang ingatan dan masih mengenali orang lain selain diriku.” Malik marah karena Ayu tidak lupa pada ketiga sahabatnya.
“Ayuna, apa kau benar-benar tidak tau siapa aku?” Malik mendorong tubuh Melani dan Sandra yang menghalangi jalannya.
“Kau Kak Malik, kita kan bersahabat.” Ayu tersenyum manis tanpa dosa.
“Bukan itu, hubungan kita bukan hanya sahabat. Kita sudah menikah Ayuna. Aku mohon!.” Malik merengek seperti anak kecil.
“Kak bagaimana mungkin kita menikah, aku saja masih kelas 3 SMA” Ketiga sahabatnya terkejut mendengar Ayu tidak mengenali siapa Malik.
“Coba tanya pada ketiga sahabatmu. Aaku tidak berbohong kan! Aku kami memang sudah menikah kan!” Sandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melani menelan air liurnya merasa kaget dan Jofan tersenyum mendengar Malik yang meminta pembelaan dari mereka bertiga.
“Kak, jangan mengada-ngada. Aku tidak suka Kak Malik seperti ini. Aku tau Kaka menyukaiku, tapi kita harus sabar menunggu waktu yang tepat untuk hubungan kita.” Ayu masih saja dengan pendiriannya.
Ahhhhh.....ahhhhh....
Malik berteriak histeris meninggalkan ruang perawatan. Ayu benar-benar melupakannya, dia mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia perbuat pada Ayu selama ini.
“Ayu, apa kau baik-baik saja? Apa kau benar-benar tidak ingat pernikahanmu dengan Kak Malik?” Jofan merasa sedih Ayu melupakan memori yang begitu indah bagi Ayu. Mereka berdua saling menyayangi dengan tulus selama ini.
__ADS_1
“Apa aku benar-benar sudah menikah dengan Kak Malik?” Ayu bingung kenapa tidak mengingat apapun tentang pernikahannya dengan Malik.
Ayu memegang kepalanya yng sedikit berdenyut. Memaksakan diri untuk mengingat memori yang hilang membuat kepalanya sakit.
“Jangan memaksakan diri, kita akan bantu supaya memori indah itu bisa kembali lagi.” Sandra memeluk Ayu merasa sedih. Melani ikut memeluk Sandra dan Ayu.
Malik berlari saat melihat Adam yang berjalan ke arahnya. Sungguh kuasa Tuhan yang amat besar menghadirkan Adam di tengah kegelisahanya. Malik tidak kuasa menahan tangis, dia bahkan tidak tau kelanjutan pencarian Sarah karena fokus mengurus Ayu yang sempat kritis.
“Kenapa kau bersedih, kiat berhasil menyelamatkan Ayu dan Sarah. Bahkan Putraku lahir dengan selamat.” Malik masih enggan melepaskan pelukannya.
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi.” Adam bisa merasakan kesedihan Malik yang begitu dalam. Dia paham betul siapa Malik. Dia rapuh meski terlihat begitu kuat dari luar, dia selalu berusaha keras menutupi kelamahannya agar tidak diketahui oleh orang lain.
“Dia tidak ingat siapa aku. Apa begitu besar rasa bencinya padaku? Sampai-sampai dia tidak mengingat siapa diriku.” Adam masih tidak bisa menerka apa maksud perkataan Malik.
Adam membawa Malik untuk duduk dan menenangkan diri. Malik akan bicara ngawur saat tidak bisa mengendalikan emosinya yang berapi-api. Adam tau bagaimana menangani Malik saat seperti ini. Adam menyodorkan air mineral agar Malik sedikit rileks. Memaksanya bicara saat ini sama saja memancing emosinya.
Adam sudah melihat wajah Malik yang sedikit mulai tenang. “Apa yang terjadi?” Adam duduk menghadap Malik yang memejamkan mata. Malik membetulkan possisi duduknya sebelum mulai bercerita.
“Ayu kehilangan memori tentang perniakahan kita. Dokter bilang itu bisa saja terjadi karena ada trauma yang Ayu rasakan. Ditambah lagi ada benturan keras di kepala Ayu, tapi Dokter bilang lukanya tidak berbahaya.” Malik berlinang air mata, dia menyesali perbuatannya. Kali ini dia benar-benar akan kehilangan Ayu.
“Benar, semua itu bisa aja terjadi. Tapi besar kemungkinan Ayu akan sembuh. Biasanya kasus seperti ini termasuk langka tapi bisa saja terjadi. Kau harus mebantunya mengingat kembali pernikahan kalian.” Ucapan Adam menengkan pikiran Malik. Dia terus saja berpikir hal-hal negatif sampai lupa dengan apa yang seharusnya dia lakukan.
Malik berdiri, dia tersenyum sebelum meinggalkn Adam untuk menemui Ayu. Dia dapat sedikit ketenangan setelah bicara dengan Adam. Dia memang selalu bisa di andalkan dalam setiap. Adam ikut bahagia Malik bisa mendengar nasehatnya.
Adam sendiri menemui dokter yang menangani Ayu untuk mendengar secar langsung apa yang sebenarnya terjadi pada Ayu. Adam sedikit khawatir karena Ayu kekuatan Malik, dia bisa sangat rapuh jika sampai terjadi yang tidak di inginkan pada Ayu.
Selesai memastikan Ayu baik-baik saja, Adam kembali ke ruangan dimana Sarah di rawat. Istrinya tampak bahagia mendekap putra mungil yang sangat tampan. Sarah tidak berhenti tersenyum menatap wajah putranya.
“Aku sangat bahagia bisa memeluknya. Aku pikir aku tidak akan bisa menemuinya.” Matanya berkaca-kaca tapi bibirnya tersenyum.
“Aku minta maaf karena tidak memperhatikan kalian dengan baik selam ini.” Adam memeluk Sarah yang sedang medekap putranya.
“Dia sangat mirip denganmu. Lihat hidung mansungnya. Wajahnya tidak sedikitpun mirip denganku.” Adam iri putranya hanya mirip dengan Sarah.
“Kau harus berterimakasih pada Ayu. Selama kami di sekap, Ayu dengan telaten dan baik hati mejaga dan merawatku. Dia selalu memperhatikan makanan yang aku makan. Dia bahkan sangat ketakutan tapi mencoba tersenyum didepanku.” Sarah sangat bahagia bisa bertemu orang sebaik Ayu di kehiduannya.
Adam megangguk, itu alasan begitu banyak orang yang sangat menyayangi dan mencintai Ayu tanpa pamrih. Dia selalu bisa jadi cahaya dalam kegelapan, menjadi harapan dalam putus asa dan selalu memberikan energi positif bagi semua orang.
__ADS_1