Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 81 ( Pecahan Gelas )


__ADS_3

Senyum hari ini tidak memudar, kebahagiaan kian menyeruak menghangatkan jiwa yang haus akan kebahagiaan.


Pasangan yang menanti buah hati kian lama kini sedang berbahagia menerima karunia Tuhan yang tiada Tara.


Tidak bisa di gambarkan dengan apapun kebahagiaan yang saat ini tengah mereka rasakan.


Seperti mendapat berkah yang tidak pernah mereka sangka. Bahagia yang dirasakan sungguh di luar nalar, tidak ada kata-kata yang setara untuk menggambarkan nya.


"Apa rasanya sangat bahagia? Kau bahkan tidak berhenti tersenyum seperti orang bodoh." Malik terheran melihat sahabatnya bertingkah seperti anak kecil.


"Kau akan tau bagaimana rasanya saat ada di posisi ku." Adam tidak menghiraukan penghinaan pada dirinya.


Tidak mau mempengaruhi kebahagiaan yang saat ini tengah memenuhi lubuk hatinya.


Malik mengantarkan Sarah dan Adam kembali ke apartemen mereka, tidak sampai di situ, Malik juga membuatkan makan malam untuk kedua sahabatnya untuk merayakan kebahagiaan ini.


Malik sudah sibuk dengan urusan masaknya, setelah memastikan Ayu duduk di ruang tamu.


Sebenarnya Ayu sangat lelah hari ini. Tubuhnya yang kecil merasakan otot-otot nya tegang karena terlalu lelah.


"Aku sangat haus, apa aku ambil sendiri saja yah. Lagi pula tuan rumah nya sedang bermesraan.Hehehhe." Ayu melangkah menuju dapur.


"Kau butuh sesuatu? Aku akan ambilkan." Malik melihat Ayu yang berjalan ke arah dapur.


"Aku hanya ingin minum Kak." Ayu tetap melangkah.


"Duduk lah, biar aku saja." Ayu tidak tega memerintahkan Kak Malik yang sedang sibuk saat ini.


"Tenang saja Kak, aku bisa." Ayu tidak mengindahkan ucapakan Kak Malik, dan akhirnya Malik mengalah.


Ayu menuangkan satu gelas penuh air putih kedalam gelas yang sudah ada di tangannya.


Berjalan perlahan agar air yang ada di tangannya tidak tumpah.


Pranggg.......


Ayu menjatuhkan gelas yang ada di tangannya. Ayu sendiri bingung karena gelas yang dia pegang tiba-tiba sudah pecah berserakan di lantai.


Ayu terkejut setengah mati. Jari-jari tangannya kram dan tidak bisa di gerakkan.


"Kau baik-baik saja?" Suara Kak Malik menyadarkan Ayu.


"Tidak papa Kak, maaf." Ayu merasa bersalah karena ceroboh.


Ayu bermaksud melangkah untuk mengambil sapu dan membersihkan pecahan gelas yang berserakan.


"Diam jangan bergerak." Malik takut Ayu terkena pecahan gelas.


"Biar aku yang bereskan Kak." Ayu masih bersikeras ingin bertanggung jawab


"Tidak, biarkan Kaka yang bereskan."


"Ini tanggung jaw...."


"Diam!" Malik menatap tajam kedua mata Ayu yang terus saja mencoba beranjak dari tempat nya berdiri.


Seketika Ayu mematung karena terkejut, Baru kali ini Ayu melihat Kak Malik marah padanya.


"Jangan membuat aku mengulangi kata-kata ku." Ayu menunduk, menahan air matanya.


Malik mengangkat tubuh Ayu dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.


Adam hanya memperhatikan pertengkaran keduanya dari kejauhan.


Ayu mengusap air matanya, hatinya melankolis karena dia kelelahan. Emosinya jadi tidak stabil dan sedikit sensitif.


Malik sibuk mencari keberadaan sapu dan pengki untuk membersihkan pecahan gelas.


Matanya kembali terkejut saat melihat tetesan darah di lantai.


Memeriksa kakinya dan tidak menemukan apapun di sana.


Malik berlari dengan penuh rasa khawatir, Ayu memunggungi Kak Malik. Ayu hanya bermaksud menyembunyikan air matanya.

__ADS_1


Malik mengangkat sedikit kaki Ayu, memeriksa dengan teliti kaki Ayu satu persatu.


Ayu kaget saat Kak Malik mengangkat kakinya. Tapi tidak berani melakukan perlawanan. Pasrah.


Benar saja, kaki kanan Ayu terkena sedikit pecahan beling.


Ayu bahkan tidak sadar karena sibuk dengan air matanya yang tidak mau berhenti.


"Adam, Adam. Cepet lah." Malik berteriak sekuat mungkin.


"Kau ini, ada apa lagi?"Adam keluar hanya dengan celana kolor, dia mau mandi.


"Kaki Ayu terluka, cepat lihat." Adam kaget melihat bekas darah di bawah sofa.


"Aku akan minta Sarah memeriksa nya, dia lebih ahli." Adam sudah berlalu.


Sarah berjalan cepat karena merasa khawatir.


"Kau bagaimana? Kenapa bisa Ayu terluka?" Sarah duduk di bawah, Ayu sangat segan sebenarnya. Tapi saat ini dia sedang tidak mau berkata-kata.


Sarah sangat cekatan, Ayu sampai kagum melihatnya. Sudah selesai dan sangat rapih.


Adam menarik tangan Malik membawanya ke dapur menjauhi Ayu dan Sarah.


"Kau ini kenapa?"


"Kau tidak sadar membuat Ayu menangis? Kau bahkan tidak memperhatikannya kan?"


"Apa yang aku lakukan?" Malik masih belum paham.


"Kau membentak nya, aku saja tau dengan jelas."


Deg....


"Benarkah? Apa aku membentaknya?" Malik tidak merasa demikian.


"Itulah kau, selalu saja seenaknya." Adam melihat dengan baik bagaimana Ayu menyembunyikan air matanya.


Adam kenal betul bagaimana Malik, dia hanya khawatir dan sering kali kehilangan kendali. Dia meledak-ledak tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Adam dan Malik sudah kembali bersama menemani Sarah yang sedang mengobati luka di Kaki Ayu.


"Sudah selesai? Ayo kita makan." Malik mengulurkan tangannya. Kini Malik melihat dengan jelas mata Ayu yang sedikit sembab.


"Ayo kita makan bersama." Adam sibuk menggangu Sarah dengan tangan jahilnya.


"Aku mau pulang." Ayu kaget melihat semua orang terlihat terkejut.


"Aku ngantuk sekali, hehhehe." Lagi-lagi Ayu menyembunyikan rasa sedihnya.


"Kau lelah, ya sudah. Ayo kita pulang." Malik mengangkat tubuh Ayu yang mungil. Tidak membiarkan Ayu berjalan dengan kakinya yang terluka.


"Maafkan aku ya Kak." Ayu sedikit menyesal karena bersikap egois. Merutuki kebodohannya dalam hati.


Lain kali aku tidak boleh marah di depan umum. Aku harus menjaga nama baik Kak Malik. Maaf kan aku. Ayu hanya mampu berkata dalam hatinya.


Malik membawa Ayu ke lantai 5 apartemen nya. Sudah lama juga Malik tidak pulang.


Ayu tidak mengatakan apapun padahal dalam hatinya ingin sekali bertanya. Kenapa kita ke sini? Apa kita tidak pulang? Apa yang akan Kak Malik lakukan padaku?


Banyak pertanyaan-pertanyaan melintas di benaknya, tapi Ayu sedang mogok bicara.


Malik membaringkan tubuh Ayu di atas kasur, menyodorkan air putih hangat yang membuatnya melakukan kesalahan besar.


"Minumlah." Ayu segera meraih dan meneguk habis air di dalam gelas. Sedari tadi Ayu sangat kehausan.


"Aku akan buatkan makanan." Malik berlaku setelah mengecup kening Ayu dengan lembut dan penuh penyesalan karena sudah membentaknya.


Ayu tidak bisa tidur, masih teringat Kak Malik yang berteriak padanya. Ayu takut jika Kak Malik berubah karena merasa diri Ayu tidak sepadan dengan Kak Malik.


Pikirannya tenggelam dalam dilema, memikirkan jika dirinya sudah melangkah terlalu jauh. Tapi semua ini tidak bisa berhenti begitu saja. Aku harus melewatinya.


Apapun dan bagaimanapun Kak Malik nanti, aku akan menerima semua itu. Ayu kembali mengusap air matanya.

__ADS_1


"Ayo kita makan." Malik menatap lekat bola mata Ayu. Masih ada sisa air mata di sudut matanya.


"Aku tidak lapar Kak." Aku bisa membuatnya marah. Ayu takut sendiri. Mulut dan hatinya tidak sejalan.


Malik memeluk Ayu dengan erat, membuat Ayu sedikit kaget. Ayu pikir Kak Malik akan memukulnya.


Kebanyakan nonton telenovela nih Ayu.


"Kau marah padaku? Apa aku menyakiti perasaan Ayu?" Kini berganti penyesalan dalam diri Ayu.


Apa yang sudah aku lakukan padanya ya Tuhan, dia bahkan sangat menyayangiku.


"Tidak kak, hehehe." Ayu tertawa.


"Jangan menyembunyikan perasaan kecewa Ayu. Aku tau kamu kecewa kan, aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya khawatir." Wajahnya sangat sendu, Ayu jadi salah tingkah.


Aku harus berkata apa ini, kenapa jadi begini suasana nya. Dia hanya membentakku begitu saja. Aku baik-baik saja kok!. Hanya mampu berteriak dalam hati.


"Aku tidak kecewa Kak. Aku lapar." Ayu berlari menghindari Kak Malik. Malik tersenyum, mengikuti langkah Ayu.


Tangan Ayu sudah sibuk menyiapkan makanan, mengalihkan kecanggungan.


"Wah, Kak Malik makin jago masaknya. Ini sangat enak." Mencoba mencairkan suasana.


Kak Malik hanya tersenyum. Gadis nya sudah kembali ceria seperti biasanya.


Malam ini Malik dan Ayu memutuskan untuk tidur di apartemen.


"Kalian tidak pulang? Mamih sangat merindukan kalian."


"Jangan berlebihan, kami sudah kembali besok." Malik mematikan sambungan telponnya.


Padahal di sebrang sana Mamih sangat bahagia.


***


Aldo malam ini mengajak Aleta makan malam. Setelah pertemuannya di Dufan, Aldo tidak bisa berhenti memikirkan Aleta.


"Kak Aldo sudah lama menunggu. Maaf aku terlambat." Aleta sangat cantik dengan gaun berwarna hitam.


Aldo sampai terkesima dibuatnya.


"Kak Al...Kak." Aleta mencoba menyadarkan Aldo yang diam mematung.


"Kau sangat cantik" Bergumam pelan.


"Apa kak? Aku tidak dengar Kak." Padahal Aleta mendengarnya.


"Ah tidak tidak. Maaf." Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tidak lama makanan pesanan mereka datang. Aldo membisu bingung harus berkata apa. Padahal biasanya dia sangat pandai merayu wanita.


"Kak." Aleta mengejutkan Aldo


Uhuk...uhuk...uhuk


Aldo tersedak, suara Aleta membuatnya terkejut sampai makanan tersangkut di tenggorokan nya.


"Kak Aldo baik-baik saja? Pelan-pelan Kak." Aleta menepuk punggung Aldo.


"Minum Kak." Menyodorkan segelas air putih.


Setelahnya Aleta tertawa karena menyadari Aldo yang begitu lugu dan lucu.


Kenapa aku bersikap bodoh, padahal aku ingin sekali memancing perhatiannya. Aldo mengutuk dirinya sendiri.


Dia sangat mempermalukan dirinya sendiri kali ini.


Aleta sampai menertawakan kebodohanku. Aldo masih merasa sedikit kesal pada dirinya.


seharusnya malam ini Aldo mampu membuat Aleta terpesona.


"Kak, jangan membuatku tertawa. Kau benar-benar membuatku tidak bisa berhenti tertawa." Aldo memaksakan senyum di bibirnya.

__ADS_1


Tapi sepertinya Aleta terhibur, dia menikmati kekonyolan sikap Kak Aldo. Dirinya bahkan sudah lama tidak tertawa lepas seperti malam ini.


__ADS_2