
Ana sedih saat melihat Riyan ikut menangis dan memeluk Ibunya. Ana tersenyum, dia mengulurkan tangan dan mencoba berbicara pada Riyan.
“Kau mau ikut denganku membeli makanan? Kasian Ibu dan Ayu belum makan”. Riyan memandang Ibu, Ibu menganggukan kepala dan membiarkan anak laki-lakinya pergi.
Ibu butuh ruang untuk berbicara dengan Ayu. Ana juga terlihat sangat baik, sebab itu Ibu mengijinkan Riyan ikut bersamanya.
Ana dan Riyan mengendarai mobil pergi ke swalayan terdekat. Sesampainya disana, Riyan merasa heran karena swalayan di tempatnya tidak semegah dan sebagus itu.
“Kak, apa aku boleh naik itu?” Riyan menunjuk perahu besar yang saat ini sedang berayun. Teriakan riuh memenuhi arena permainan.
Ana mengangkat kedua ibu jarinya, mereka berdua berjalan menuju antrian pembelian tiket. Setelah dapat tiket mereke berdua kembali mengantri untuk menaiki perahu besar yang siap memacu adrenalin.
Tibalah giliran mereka untuk naik. Ana dan Riyan bergandengan tangan, ana memperlakukan Riyan seolah dia adalah adik laki-lakinya.
Ahhhhhh......ahhh....ahhh....
Suara teriakan membahana, meskipun permainan memacu adrenalin, tetap saja banyak diminati pengunjung mall yang ingin bermain-main melepas penat.
Puas bermain, mereka berkeliling mencari makanan. “Kau menikmati jalan-jalan kecil kita?” Riyan mengangguk sambil menyeruput es krim ditangannya yang sudah mulai meleleh.
Akhirnya mereka memutuskan untuk makan bakso, dari sekian makanan enak, Riyan hanya melirik kedai bakso yang wanginya memenuhi area.
Bakso sudah terhidang didepan mereka, Ana dan Riyan menikmati makanan dan tidak banyak mengobrol saat makan.
Setelah selesai, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah Mbak Murni.
***
Terlihat Rey mondar-mandir didepan pintu masuk restaurant. Beberapa kali mencoba menghubungi handpone Ana dan Ayu tapi tidak ada jawaban.
Handpone Ana malah tidak ada dalam jaungkauan, hanpone Ayu berdering tapi tidak diangkat.
Rey merasa frustasi karena sampai sekarang kedua wanita itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Rey semakin khawatir saat Jofan juga tidak menemukan mereka.
Rey mencoba meminta bantuan Jofan untuk mencari Ana dan Ayu dipasar yang mereka kunjungi. Jofan sudah lelah berkeliling namun tetap saja tidak menemukan keduanya.
Jofan memutuskan untuk menghubungi Kak Malik. Jofan sudah beberapa kali melihat laki-laki yang sama selalu berada didekat Ayu, dan Jofan yakin jika laki-laki itu adalah orang suruhan Malik.
Tut...Tut...Tut....
Malik tidak merespon panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Malik membiarkan telpon berdering tanpa suara.
__ADS_1
Dia masih menikmati kopi hangat buatan Kak Sarah, karena mereka semalam menginap dan menghabiskan malam mendengarkan curahan hati Malik yang sedang turun semangat hidupnya.
Jofan mengambil nomor Malik secara diam-diam dari HP Ayu. Suatu saat pasti nomor ini akan dibutuhkan pikir Jofan. Dan benar saja, sekarang gadis ini sudah membuat kekacauan.
Tidak diangkat, kenapa orang ini selalu saja. Arhhhh.....(Jofan geram sendiri )
Ayu hilang. Tolong suruh anak buah Kak Malik cari tau dimana Ayu berada. Jofan
Akhirnya Jofan mengirim pesan pada Malik, dia yakin jika Malik akan membacanya. Jofan memutuskan untuk ke restaurant menunggu kabar selanjutnya.
***
Ting....(Pesan Masuk)
Malik meraih ponselnya dan membaca pesan masuk dari Jofan. Malik membuka pesan sambil meneguk kopi hangatnya.
Uhuk...Uhukkk..Uhukkk...
Malik tersedak saat membaca pesan dari Jofan. Sarah yang melihat Malik tersedak bangkit dari duduknya, ditepuknya pundak Malik beberapa kali. Malik menyodorkan handpone pada Sarah, Adam yang tadinya fokus dengan tv ikut nimbrung.
“Apa menurutmu dia main-main?” Malik tidak langsung percaya dengan pesan yang dia terima, kedua sahabatnya terlihat berfikir.
“Apa Jofan anak yang jahil? Karena tidak semua perbuatan remaja itu nakal, bisa saja mereka dalam keadaan terdesak dan benar-benar membutuhkan pertolongan” Adam mencoba berfikir secara bijak.
“Sudah bukan rahasia, Ayu saja yang tidak peka. Sampe-sampe dia tidak tau ada orang yang mengikutinya kemanapun dia pergi”
Malik meraih ponselnya, dia mencoba menghubungi Aldo, karena orang suruhannya bekerja dibawah pengawasan Aldo.
Dering pertama Aldo langsung mengangkat telponnya. “Al, kau sedang menunggu telpon dariku?” Malik curiga karena Aldo langsung mengangkat telpon darinya.
“Aku kira telpon dari....” Aldo menggantung kata-katanya, dia tau pasti Malik tidak tertarik dengan kisah hidupnya. “Ada apa Bos?” Biarkan saja rembulan bersinar pada malam hari. Seperti cintaku, biarkan bersemi pada musimnya. Batin Aldo
“Kau bisa hubungi orang yang mengawasi Ayu? Jofan memberitahuku jika Ayu hilang!” Malik merasa khawatir, tapi masih ada keraguan.
“Terakhir dia memberitahukan bahwa Ayu ada dirumah dulu. Rumah dimana Bos bertemu dengan Ayu”. Aldo ingat betul saat Malik bercerita dengan sumringah, senyum tidak pudar selama beberapa pekan hanya karena gadis kecil yang ditemuinya dijalanan.
“Maksud kamu rumah Mbak Murni?” Malik tidak percaya, Ayu sudah cukup terpukul dengan sikap kaka sepupunya. Pasti ada hal penting sampe Ayu rela kembali kesana.
“Betul Bos” Aldo masih menunggu Malik yang saat ini terdiam, telponnya tapi masih belum terputus. “Bos, apa ada hal yang menghawatirkan?” Aldo sudah seperti pembaca pikiran. Dia selalu tau apa yang sedang Malik pikirkan.
“Al, tolong cari tahu, apa yang sebenarnya terjadi disana? Aku khawatir jika mereka kembali menyakiti Ayu” Malik ingat saat menemukan Ayu menangis pilu.
__ADS_1
“Baik Bos”
Telpon terputus, kini Malik mulai menghawatirkan keadaan Ayu. Dia beranjak, tidak bisa menunggu terlalu lama. Dia harus ada saat Ayu membutuhkannya.
“Kenapa? Apa semuanya baik-baik aja?” Sarah membantu Malik mengenakan jaket kulitnya. Tidak ada jawaban dari Malik. Hanya sorot mata Malik yang tergambar kegelisahan, Sarah hanya memandang Malik yang sudah menghilang dibalik pintu.
“Malik pergi?” Adam baru keluar dari toilet, dia merengkuh tubuh istrinya yang mematung didepan pintu. “Biarkan saja, dia harus belajar perduli dengan calon istrinya”. Sarah melirik tajam, dia merasa geli dengan kata-kata Adam.
“Bagaimana mungkin, Ayu masih sangat kecil sayang” Sarah membalas pelukan suami tercintanya. Sarah sangat bingung bagaimana menghadapi situasi saat ini. Pelukan Adam membuat hatinya kembali tenang.
***
Saat ini Ibu sedang sibuk membereskan semua baju-bajunya dan juga baju Riyan. Setelah mendengarkan penjelasan Ayu. Ibu merasa sedikit lega, ternyata banyak sekali orang-orang yang perduli dengan putrinya.
Ayu akan mengajak Ibu tinggal di kosannya selama di Jakarta. Selesai membereskan semua pakaian, mereka menunggu Riyan dan Kak Ana kembali. Ibu dan Ayu duduk diteras rumah.
Tidak lama terlihat mobil Mas Ali memasuki parkiran rumah, Ayu memperhatikan raut muka Ibu. Ada kekhawatiran dalam diri Ayu. Ibu tidak boleh membenci Mbak Murni dan Mas Ali. Mereka sudah menawarkanku untuk pulang, tapi aku yang bertekad untuk tetap melanjutkan sekolahku dengan biaya sendiri.
Mas Ali mencium tangan Ibu. Tampak wajah Mbak Murni yang sembab, Ayu yakin Mbak Murni juga sedih. Pasti keputusan Mbak Murni ambil adalah yang terbaik.
“Bude sudah lama?” Mas Ali mencoba mencairkan suasana, padahal dia juga saat ini sangat takut. Meras bersalah tapi tidak bisa mengulang kembali waktu yang sudah lalu.
“Sudah” Ibu tampak biasa saja, sepertinya sudah bisa menerima kenyataan. Ayu tampak tersenyum, dia bahagia karena sosok Ibu yang selama ini dia kenal adalah orang yang pemaaf.
“Ibu....” Riyan berlari kearah Ibu, tangannya penuh memegang beberapa kantong belanja. Riyan memamerkan deretan giginya. Semua orang yang ada jadi ikut tersenyum dibuatnya.
“Kak Ana, terimakasih banyak. Maaf merepotkan ya Kak” Ayu menghampiri Ana yang berjalan ke arahnya.
Selesai berpamita, Ayu membawa serta Ibu dan Adiknya. Ana begitu sabar menunggu Ayu, dia merasa terharu dengan apa yang terjadi.
Ana merasa bertanggung jawab dengan Ayu, selama ini Rey begitu menyayangi Ayu seperti adik kandungnya. Setelah seharian ini berjalan berdua, Ana semakin paham. Kenapa begitu banyak cinta kasih pada gadis ini.
Dia sosok orang yang selalu menaburkan kebahagiaan, tidak pernah berkeluh kesah padahal kehidupannya penuh dengan masalah.
Saat ini Ayu menggenggam tanga Ibu dengan erat, tangan yang selama ini selalu hangat, sabar dan telaten mengurusnya sampai dewasa. Sesekali Ayu melirik dan tersenyum pada Ibu. Bahagia yang tidak tergambar.
“Sudah sampai, kosan Ayu masuk kedalam gang Kak Ana” Ana membantu Ayu dan Ibu membawa barang-barang menuju kosan. Cukup banyak dan cukup berat.
“Maaf ya Nak. Ibu jadi merepotkan” Sudah sampai didepan kamar kos Ayu. Ana tersenyum hangat, rasanya bahagia bisa membantu orang lain.
Mereka semua masuk, Riyan berlari menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Sedari tadi badannya sudah pegal-pegal akibat berlarian didalam Mall.
__ADS_1
“Kak Ana, aku buatkan teh yah” Ayu menyalakan alat untuk memasak air. Karena di Kosan tidak diperbolehkan menggunakan kompor. Dan semua barang-barang yang Ayu miliki adalah pemberian Kak Malik.
Mereka menikmati teh hangat, obrolan ringan pun mengalir begitu saja. Tidak ada satupun dari mereka berdua yang menyadari. Jika saat ini semua orang yang mencintai mereka sedang khawatir dan mencari keberadaan mereka.