Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 22 ( Lomba Cerpen )


__ADS_3

Sepulang sekolah anak-anak berbondong-bondong menuju Mading sekolah yang ada didekat perpustakaan.


“Ada apa Yu? Anak-anak rame banget pada mau kemana yah?”. Melani penasaran. Sandra dan Ayu kompak mengangkat bahu karena sama-sama tidak tau.


“Mereka mau ke Mading. Ada pengumuman lomba cerpen tentang Pahlawan”. Jofan memberikan info pada teman-temannya yang terlihat sangat penasaran.


“Owwwwww, ada lomba”. Mereka bertiga menjawab dengan serempak. Di susul dengan saling pandang dan tertawa bersama karena merasa lucu.


Jofan yang melihatnya hanya geleng kepala. “Ayo kita lihat, aku juga mau ikut”. Ayu berlari mendahului teman-temannya.


“Tunggu Yu.....”. Melani dan Sandra mengejar Ayu. Jofan pun mengikuti ketiga sahabatnya.


“Ramai sekali, aku tidak bisa liat pengumumannya Mel, San”. Mereka bertiga berdiri berjejer di belakang kerumunan anak-anak yang sedang melihat pengumuman.


Jofan tidak tinggal diam, dia berjalan di tengah-tengah kerumunan mengambil formulir pendaftaran untuk ketiga sahabatnya.


“Ini......isi lah. Waktu pendaftaran hanya 2 hari saja. Jadi jangan sia-sia kan perjuanganku yang sudah bersusah payah”. Jofan sampai bercucuran keringat karena berdesakan.


“yeayyyyy”. Ketiga gadis cantik itupun bersorak kegirangan. “Terimakasih Jofan”. Sandra reflek memeluk Jofan.


“Jangan Macam-macam”. Jofan menajamkan matanya pada Sandra.


“Hehehehe...Maaf”. Sandra melepaskan pelukannya. Hatinya merasakan ada getaran-getaran berbeda hari ini.


Dari awal perjumpaannya, Sandra memang sudah tertarik pada Jofan. Tapi Jofan sangat cuek dan hanya menganggap Sandra sama seperti Ayu dan Melani.


“Ayo pulang, hari ini aku antar ya Yu. Aku bawa mobil”. Ajak Sandra.


“Ok”. Ayu mengiyakan ajakan sahabatnya itu.


“Apa aku boleh ikut, hari ini aku tidak bawa motor. Si Gina lagi sakit dia”. Melani ikut nimbrung.


“Gina itu siapa?” Ayu bingung kadang dengan bahasa Alay Melani.

__ADS_1


“Gina itu nama motor gw Yu. Cantikkan?”.


Mereka bertigat tidak bisa menahan tawanya mendengar Melani yang memberikan nama pada motor kesayangannya.


***


Dua hari sudah berlalu, hari ini batas akhir anak-anak mengumpulkan cerpen mereka untuk diseleksi dan dinilai oleh para juri.


“Cerpen kamu apa judulnya Mel”. Ayu penasaran


“Rahasia Yu, nanti kalo di antara kita ada yang menang harus traktir yah. Ok....ok....”. Melani menantang teman-temannya.


“Juara nya dinilai dari berbagai sudut, tapi paling keren kalo juara 1 yah. Yang menang dapet uang jajan 1 jt. Kita bisa makan baso di kantin sampai puasssss......”. Sandra berkhayal makan baso dengan uang 1 jt.


“San, kalo punya duit 1 jt, kita beliin cendol, bayangin itu kali di belakang sekolah isinya es cendol semua”. Timpal Ayu.


“hahahahhahaha”. Mereka bertiga tertawa menghayalkan uang 1 jt dibelanjakan makanan.


Waktu sudah mendekati saat-saat pengumuman. Mereka semua yang mengikuti lomba tersebut sudah berkumpul di lapangan basket.


“Tenang anak-anak, Ibu langsung saja yah buka amplop pertama”. Bu Restu membuka amplop pertama.


Dari juara 5 sampai juara 2, tidak satupun nama Ayu, Melani dan Sandra yang dipanggil. Mereka bertiga pun memutuskan untuk meninggalkan lapangan karena kecewa.


“Kita ke kelas aja yuk, percum kita gak akan menang”. Mereka berjalan meninggalkan lapangan.


Saat mereka berjalan masih belum jauh dari lapangan, tiba-tiba saja mereka mendengar nama Ayuna di sebut-sebut.


“Yu, itu bukan nama kamu Yu?”. Mereka bertiga menajamkan pendengaran.


“Salah gak Mel, San?”. Ayu juga masih belum percaya saat mendengar namanya dipanggil sebagai juara 1.


Jofan datang dari arah belakang menarik tangan Ayu, dia membawa Ayu naik ke atas podium untuk mendapat penghargaan.

__ADS_1


Dari kejauhan Lissa yang melihat kejadian itu sangat tidak suka. Lissa saat Ospek sudah menyukai Jofan. Melihat Jofan menggandeng tangan Ayu, ada perasaan jengkel dalam diri Lissa.


“Lis, itu bukannya anak baru yang lw taksir?”. Barbie


Lissa hanya diam saja, dia sudah sangat kesal melihat Jofan dan Ayu.


“Gw ada ide, ayo”. Lissa mengajak anggota geng nya pergi.


“Ayu.....yeay.....yeay...yeay....”. Melani, Sandra dan Jofan sangat senang sahabatnya berhasil memenagkan perlombaan.


“Kamu memang beda Yu”. Sandra memeluk Ayu, begitu juga Melani. Mereka sangat senang .


“ Gimana kalo kita ke kantin, makan baso sampe mbledos perutnya. Ayo....” Ayu mengajak teman teman nya makan baso.


“Mau di apakan uang itu yu? Jangan di sia-siakan”. Jofan menasehati. Ayu hanya agak bingung, karena Jofan terlihat sangat serius dengan perkatannya.


“Traktir hanya sedikit aja Mas Jofan. Boleh kan?”. Ayu memasang wajah lucunya yang mampu membuat Jofan luluh.


Mereka pun berjalan mejuju kantin. Selesai makan, mereka kembali ke kelas untuk siap-siap pulang. Ayu langsung saja menuju ke tempat duduknya bersama Melani.


“Kemana tas ku yah, aku tadi gak bawa kemana mana padahal”. Ayu bingung mencari tasnya.


“Kenapa?”. Jofan menghampiri Ayu dan Melani yang kelihatan celingukan mencari-cari.


“Tas Ayu gak ada Fan”. Jelas Melani sambil mencar-cari.


Sandra menghampiri mereka bertiga sambil berlari-lari. Sandra tidak langsung ke kelas setelah dari kantin, perutnya mules karena makan sambel terlalu banyak.


“Yu, Mel, Fan”. Sandra mencoba mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.


“Kaya di kejar setan, kenapa?”. Melani penasaran.


“Ayo ke toilet......”. Sandra menarik tangan Melani dan Ayu

__ADS_1


Sesampainya di toilet. Ayu, Melani dan Sandra terperanga melihat buku-buku Ayu dan Tas nya ada di dalam toilet dan sudah basah kuyup.


Jofan yang sangat penasaran pun mengikuti mereka masuk ke dalam toilet. Jofan sangat marah melihat sahabatnya diperlakukan sangat tidak baik oleh orang lain.


__ADS_2