
Jofan berjalan menggandeng tangan kedua wanita yang sangat dia sayangi. Senyum menyertai setiap langkah kakinya berjalan. Tidak ada kebahagiaan yang bisa menggantikan rasa bahagianya sekarang. Dunia seakan sedang memberinya kenikmatan yang selama ini lenyap. Jofan tidak berjenti bersyukur diberi kenikmatan yang membuatnya akan lupa tentang keperihan hidupnya selama ini.
“Kau kenapa tersenyum sendiri? Aku jadi curiga.” Ayu menggerutu karena Jofan tidak berhenti tersenyum, dia pasti memikirkan asmaranya dengan Sandra.
“Awww....sakit.” Ayu memegangi kedua pipinya yang agar Jofan tidak mencubitnya lagi. “Kau seperti anak-anak.” Jofan hanya menggeleng melihat melihat tingkah Ayu.
“Kau yang anak kecil, berani-beraninya kau meneriakiku.” Jofan menyilangkan kedua tanganya mengancam. Ayu berusaha keras menjadi adik kandungnya. Meski masih kaku, Jofan mencoba memberinya apresiasi. Mereka sama-sama berusaha menyatu dalam ikatan keluarga.
“Sandra!!!!” Kalista berteriak sampai semua mata memperhatikan kedatangannya yang dipenuhi amarah. Sandra tidak menghindar, ini memang yang akan terjadi jika dia kabur dari rumah.
Jofan tersenyum, tidak menyangka Kalista masih marah dengan perbuatan Sandra. Selaman dia tampak baik-baik saja saat Jofan menghubunginya. “Tante, kita bicarakan baik-baik.” Jofan menahan Sandra yang dia sembunyikan di belakang punggungnya. Mencoba meraih tangan Kalista tapi ditepis dengan keras.
“Jangan ikut campur, kembalikan putriku!” Kalista masih terlihat sangat emosional. “Kau tidak bisa melindunginya. Aku sudah tidak percaya.” Kalista masih berapi-api. Suaranya tidak mereda bahkan bertambah keras.
“Mamih Please. Kau membuatku malu.” Sandra merasa ada yang aneh, biasanya Kalista tidak akan semarah ini meski kesalhannya fatal. Dia tidak akan menyerangnya di depan umum seperti saat ini.
“Kau malu! Aku lebih malu lagi.” Kalista menarik tangan Sandra agar pergi dari sekolah. Jofan merasa heran dengan sikap Kalista yang tidak biasa.
“Apa aku bisa tau kenapa dan apa masalahnya? Aku akan melepaskannya jika alasannya bisa aku terima.” Senyum sengit Kalista menyeringai dari bibirnya. Jofan bersikap sangat baik melindungi putrinya. Bukan waktu yang tepat terpesona pada Jofan.
Kalista geram melihat putrinya tidak menyadari kondisinya saat ini sedang terancam dan bisa membahayakan masa depannya. Bagimana jika pemberitaan ini jadi ramai dan melukai harga dirinya. Sandra pasti tidak akan bisa berdiri setegak sekarang, pasti mataharinya yang menyilaukan ini akan redup.
"Kau memang susah sekali aku kendalikan. Lebih baik jangan melawan ku dan cepat pulang." Kalista menarik tangan Sandra dengan kasar.
"Aku tidak akan ikut sebelum Mamih jelaskan." Kalista merogoh saku celananya. Dia tau seperti apa pendirian putrinya, sifatnya sama dengannya.
"Buka matamu dan baca. Kau masih tidak mau menuruti perkataannku!" Sandra melongo tidak percaya melihat artikel yang tertulis tentang dirinya.
Jofan meraih ponsel dari tangan Sandra dan mencoba mencari tau rasa penasarannya. Jofan memegang erat tangan Ayu yang berdiri di sampingnya. Mencoba menenagkan dan menguatkan harga diri Ayu. Dia pasti sangat sedih melihat bukan dirinya yang ada di dalam berita tapi orang lain. Terlebih lagi dia sahabat baiknya.
“Kau puas? Sekarang jangan melawanku dan cepat ikut aku pulang.” Kalista tidak mau menunggu lebih lama.
"Semua akan baik-baik saja. Kau percaya pada Kak Malik?" Ayu mengangguk, sudut matanya sedikit berair tapi dia tahan.
"Mamih! Berita ini sangat mengada-ada, kita bisa membantahnya jika itu memang perlu." Sandra tidak memahami dunia tidak berjalan sesederhana itu. Apalagi jika ada campur tangan bisnis di dalamnya. Bukan Kalista tidak paham, dia sangat tau karena sadar betul siapa yang sedang di beritakan.
__ADS_1
"Kau pikir semudah itu. Aku sudah katakan jangan bergaul dengan gadis ini." Kalista menunjuk Ayu dengan mata menyala dipenuhi kebencian. "Kau memang susah sekali di atur." Jofan sedikit marah karena Ayu yang di salahkan.
"Mamih tidak bisa menyalahkan Ayu." Baru saja Jofan ingin membela Ayu, Sandra sudah beraksi lebih cepat darinya. Jofan terkejut dan senang. "Ayu tidak tau apa-apa sama seperti ku. Kalian saja orang dewasa yang hidupnya terlalu dibuat sulit." Kalista hendak menjitak kepala Sandra, tapi tangannya di halangi Jofan.
"Tolong jangan gunakan kekerasan tante. Kita bicarakan baik-baik, ok!" Kalista ingin tersenyum tapi gengsi. Baginya Jofan adalah menantu idaman. Kalista menarik lagi tangannya yang masih Jofan genggam erat. Jofan menyembunyikan Sandra di balik punggungnya.
Sandra mesem-mesem kegirangan melihat Jofan melindunginya. Dari belakang punggung Jofan, hati Sandra sedang berbunga-bunga.
"Tapi jangan halangi Mamih membawanya. Aku tidak akan membuat putriku jadi bulan-bulanan media." Kali ini Jofan setuju dengan keputusan Kalista. Akan sulit mengendalikan pemberitaan jika tidak keluar dengan kesiapan. Sandra harus menyembunyikan diri sampai berita mereda. Paling tidak bisa membuat media tidak bisa mengulik hal yang bisa saja semakin menyulitkan Sandra.
Jofan menatap wanita yang saat ini resmi jadi pacarnya dengan penuh cinta. Menggenggam kedua tangan Sandra dengan senyuman maut yang bisa melumpuhkan otaknya. "Kali ini ikuti permintaan Mamih." Sandra mengangguk setuju begitu saja. Padahal sebelumnya bersikeras melawan Kalista.
Ahhhh.....dia bahkan memanggilnya Mamih. Dia sangat keren. Suara Sandra yang coba dia tahan. Sandra mengangguk setuju beberapa kali saat mendengar ucapan Jofan yang melehkan isi hatinya. Apapun yang Jofan inginkan akan dia turuti.
"Jangan melawan Mamih, cobalah sedikit lebih manis padanya. Kau mengerti!" Mamih dan Sandra sama-sama terpesona. Dia sangat rupawan dan hatinya sangat baik. Menantu idaman yang bisa di andalkan.
Segera Kalista membawa Sandra pergi dari sekolah, telat sedikit bisa fatal. Sandra yang tidak tau apa-apa yang suka berbuat seenaknya bisa saja membuat masalah ini semakin runyam. Jofan menatap wajah adiknya yang sendu, pasti dia terkejut melihat berita pagi ini.
"Are you ok?" Ayu mengangguk dan mencoba terlihat baik-baik saja di depan Jofan. Tidak semudah itu, Jofan tau senyumnya palsu tapi pura-pura tidak paham. Biar Ayu tetap merasa nyaman bersama dirinya.
"Jangan mencemaskan apapun. Aku dan Kak Rey tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu." Kata-kata Jofan mengingatkannya pada Malik. Pertahanan dirinya runtuh seketika, Ayu terduduk menutup wajah dengan kedua tangannya. Menangis sesenggukan di depan Jofan.
Betul seperti ini....jangan sembunyikan perasaanmu di depanku. Menangis lah, menangis sepuasmu sampai kau merasa lega. Jofan sedih sekaligus bahagia. Ayu bisa mengungkapkan perasaanya tanpa menutupinya lagi di depan dirinya.
Jofan meminta siapa saja yang mendekat untuk pergi, mereka semua perduli saat melihat Ayu menangis. Pasti mereka mengira Jofan menyakitinya. Ayu cukup di sayangi semua teman-teman nya. Dia sangat populer karena kebaikan hatinya. Melihat Ayu menangis banyak yang ingin membantunya.
Perlahan suara tangisnya mereda. Jofan meraih tangan Ayu membawanya berdiri, mengusap sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Senyumnyanya dipaksakan untuk memberi tau Jofan sekarang dirinya sudah lebih baik.
"Jangan khawatir." Jofan menggandeng tangan Ayu dengan lembut. Melani yang sedari tadi merasa khawatir bisa bernafas lega saat melihat Ayu berjalan dibelakang Jofan.
Melani memeluk erat tubuh Ayu, Jofan lega Ayu bisa secepat itu mengembalikan senyum di wajahnya. Melani mengeluarkan beberapa lawakan yang membuat Ayu tertawa. Tidak apa senyum itu palsu, asal jangan menutupinya. Meski senyumnya palsu dia berusaha keras terlihat baik-baik saja saat ini, Jofan bangga.
Kelas hari ini dimulai seperti biasa, pelajaran demi pelajaran bisa di ikuti Ayu dengan baik. Sesekali air mata lolos membasahi buku tulisnya tanpa sepengetahuan Jofan dan Melani. Perasaannya kacau, hatinya seakan tercabik perasaan sedih dan cemburu.
Wanita mana yang tidak sedih saat melihat suaminya di kabarkan punya hubungan dengan wanita lain. Padahal beritanya Ayu tau persis tidak benar, tapi tetap saja sakit. Tetap saja cemburu, tetap saja tidak rela.
__ADS_1
***
Malik sedang mengamuk di ruang kerja apartemennya, semua melarang Malik menampakkan batang hidungnya di depan publik sementara waktu sampai berita yang beredar bisa di luruskan. Aldo jadi bahan pelampiasan Malik meluapkan emosinya.
Aldo membiarkan Malik berteriak dan melempar apa saja ke sembarang arah. Aldo hanya memastikan Malik tidak terluka meski hatinya hancur. Lebih sulit menghadapi Malik dalam keadaan seperti ini daripada berhadapan dengan para petinggi perusahaan. Dia tidak bisa menahan diri
"Al, katakana apa yang harus aku lakukan? Katakan Al!!!!" Malik mencengkeram bahu Aldo cukup keras, Aldo pasrah asal bisa membantu Malik. Setelah ini dia bisa datang ke tukang pijit langganannya.
Dia benar-benar hilang wibawa saat dalam keadaan seperti ini, apa salah ku sebenarnya.......sabar....sabar.....Berulang kali Aldo menarik panjang nafasnya. Perbuatan Malik benar-benar membuat tubuhnya tidak berdaya. Dia jadi membayangkan jika hal seperti ini terjadi pada dirinya dan Aleta.
"Al.......jangan diam saja, tolong bantu aku." Malik bergelayut di tangan Aldo seperti anak kecil. Aldo hanya geleng kepala tidak tau harus bagaimana. Bicara juga tidak akan membantu. Tapi dia merengek tidak berhenti.
"Bos, coba bersikap layaknya orang dewasa." Nona pasti ilfil melihatmu seperti ini, tidak berani meneruskan kata-katanya.
Buggg......
Awww......
Bicara baik-baik saja tetap jadi sasaran empuk. Aldo benar-benar serba salah. Bos nya seperti tidak waras. Bisa-bisanya dia yang berbuat dirinya yang kena hantaman.
"Kau ini, bukannya menghibur ku malah mengatai ku." Malik tau Aldo berkata benar, Malik duduk di meja menyilangkan tangannya. "Kau tidak lelah?" Aldo menggeleng. "Duduk Al, aku tidak akan bunuh diri." Malik baru sadar dirinya cukup lama membuat Aldo tersiksa.
Huhhh....
Bernafas lega saat Malik menyatakan dirinya tidak akan berbuat hal aneh. Aldo langsung duduk dengan senang hati, kakinya benar-benar terasa kaku. Badannya seakan meronta minta di istirahat kan. Menjaga bayi besar lebih sulit.
"Jangan berbuat macam-macam." Aldo mengancam Malik yang sedang menatapnya.
"Kau ini sangat menjengkelkan." Malik menggeleng tidak percaya Aldo masih saja berani memakainya setelah mendapat pukulan.
"Bos, kenapa masalah tidak pernah habis!." Malik mengangkat bahu nya tidak tau juga. "Aku merasa bersalah pada Nona. Dia masih sangat muda untuk punya masalah seberat ini." Memikirkan keadaan Ayu yang ada di luar sana membuat hatinya merasa perih.
"Kau pikir aku juga tidak merasa bersalah? Kau bertanya hal yang tidak bisa aku jawab. Jangan Tanya yang tidak penting, aku bisa melempar ini padamu." Malik Mengangkat buku besar di tangannya.
"Aku ingin Bos membawanya pergi saja dari bumi ini." Berkhayal hidup di planet tidak berpenghuni. Bahagia bersama selamanya.
__ADS_1
"Kau pikir aku punya kantong Doraeman? Otak mu itu isinya sangat menyebalkan Al." Malik semakin geram mendengar ocehan Aldo yang tidak jelas. Bukannya memikirkan jalan keluar dia malah berpikir hal yang tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi.