
Sandra lelah karena cukup lama menangis. Rasanya sudah kering sampai tidak bisa lagi menangis. Jofan memandang wajah Sandra penuh belas kasihan. Hatinya terasa remuk melihat wajah Sandra yang biasanya garang sekarang terlihat menderita dan penuh beban.
Jofan merapihkan rambut Sandra yang berantakan menutupi wajah cantiknya. Andai saja kesedihannya bisa dipindahkan ke pundaknya, Jofan degan senang hati akan menggantikan rasa sakitnya menjadi kebahagiaan. Entah apa perasaan yang saat ini menyelimuti hatinya, tapi senang rasanya Sandra datang padanya saat dalam kesulitan.
Kenapa dia tidak melepaskan tangannya dari tadi, dia benar-benar membuatku sangat grogi. Aku bahkan tidak bisa bernafas. Kalau aku minta pertanggung jawaban memangnya dia mau jadi pacarku. Sandra kesal dengan sikap manis yang Jofan tunjukkan padanya. Apa arti semua perhatian yang dia berikan.
“Jangan menatapku seperti itu.” Sandra terkejut ternyata Jofan sadar dia perhatikan. “Jangan sampai aku menciummu.” Sandra spontan menutup mulutnya. Matanya membulat dan Sandra memundurkan tubuhnya yang menempel pada Jofan sampai mentok di ujung sofa.
“Jangan macam-macam. Kau pikir aku wanita seperti apa.” Sandra mengepalkan kedua tangannya menghalau jika Jofan tiba-tiba melakukan serangan. Apa yang dia pikirkan, Sandra terlalu berlebihan. Jofan sampai tertawa mendengar ancaman wanita yang baru saja menangis beberapa menit yang lalu. Sekarang dia sudah bisa mengancam.
Jofan sengaja mendekat sedikit demi sedikit ke arah Sandra, menakut-nakuti dengan wajah maskulinnya yang mampu memanah pendirian Sandra. Entah apa yang Sandra pikirkan, dia terlalu banyak berkhayal dan menutup kedua matanya dengan pasrah. Jofan menoyor kepala Sandra yang isinya adegan nakal. Sandra merasa malu dan tidak berani membuka matanya, dia malah menutup wajahnya frustasi.
“Jangan melihatku.” Berteriak tidak terima degan perlakuan Jofan. Bisa-bisanya dia menutup mata tanpa rasa malu. Untuk apa dia membentak Jofan dan akhirnya pasrah. Sandra sangat menyesal, tapi semuanya sudah terjadi dan tidak bisa lagi dia tarik kejadian yang sudah terjadi.
Jofan tidak tega membiarkan Sandra merasa bersalah. Jofan menarik tangan Sandra dan menatap wajahnya intens. Sandra lagi-lagi tidak bisa marah melihat wajah Jofan yang begitu manis. Sandra berusaha melepaskan tangan Jofan tapi tidak berhasil, yang bisa dia lakukan hanya menghindari tatapan mata yang mematikan.
Jofan menarik tubuh Sandra, mencium bibir Sandra yang menggodanya sampai pertahanan dirinya goyah. Sandra terkejut setengah mati saat mendapat ciuman yang dia dambakan sejak lama. Jofan mencubit tangannya sendiri karena dirinya sendiri merasa terkejut dengan apa yang sedang dia lakukan.
Tapi cinta sudah tidak lagi bisa Jofan bendung. Dia tidak menyesal, hanya tindakannya bisa saja Sandra salah artikan. Jofan menatap wajah Sandra dalam, mencari jawaban atas perbuatannya. Wajah Sandra merona dan senyum terpancar di wajahnya. Jofan bahagia cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, ketakutan yang dia rasa mustahil sebenarnya. Sandra jauh lebih agresif saat memperlihatkan bentuk cintanya pada Jofan.
Jofan memeluk Sandra. “Kau bahagia?” Sandra mengangguk. Tentu saja, sudah lama dia menantikan perjuangan cintanya pada laki-laki yang sering membuat hatinya sakit. “Mulai sekarang jangan buka hatimu untuk orang lain.” Sandra hanya mengangguk berkali-kali. Kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya.
“Apa artinya kita pacaran?” Bola matanya mengeluarkan sinar-sinar cinta membuat Jofan tidak tahan untuk tidak mengiyakan harapannya. Sandra mencubit tangannya, meyakinkan jika saat ini dia tidak bermimpi.
“Awwww....ternyata sakit. Itu artinya aku tidak bermimpi.” Sandra memeluk Jofan denga erat, dia punya hak dengan status barunya sebagai kekasih Jofan.
“Sekarang sudah malam, ayo aku antar ke kamar.” Wajah Sandra berseri-seri menatap punggung Jofan yang menggandeng tangannya. “Malam ini tidur disini bersama Ayu.” Mata Sandra membulat seketika, senyumnya sirna menyisakan tanda tanya besar di kepala Jofan. “Kenapa kau sangat terkejut. Kau baik-baik saja?” Sandra melangkah mundur. Hatinya perih dan tubuhnya terasa kaku.
__ADS_1
Sandra jatuh terduduk dan air matanya kembali berlinang. Jofan bingung apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Sandra tampak begitu menderita. Jofan membawanya turun ke kamarnya. Dia harus istirahat, terlalu banyak menangis bisa membuatnya sakit.
“Jangan menangis, jangan katakan apapun karena aku tidak mau kau semakin kesulitan.” Jofan membiarkan Sandra tidur di kamarnya malam ini. “Sekarang istirahat. Jangan menangis lagi.” Sandra menurut. Tidak lama Jofan keluar dari kamar setelah Sandra terlelap.
***
Arnold terbangun saat Kalista berteriak memanggil nama putrinya berulang kali. Apalagi kali ini, mereka masih saja bersitegang dan tidak ada yang mengalah.
“Ada apa sayang?.” Arnold menghampiri Kalista yang lari kesana kemari mencari Sandra.
“Sandra.....bagaimana ini.....cepat....” Kalista membuat Arnold semakin bingung.
“Tarik nafas dan katakan apa yang terjadi, aku tidak paham dengan kata-katamu.” Kalista menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya dari mulut.
“Sandra tidak ada di kamarnya, dia kabur!!! Bagaimana ini.” Kalista terisak menyesali perbuatannya yang terlalu keras pada Sandra. Tapi semua dia lakukan demi kebaikan Sandra. Kalista tidak mau Sandra mengalami kesulitan karena berteman dengan Ayu.
“Kau meledek aku sekarang?” Kalista memiting tangan Arnold sampai mengaduh kesakitan. “Jangan menyulut amarahku. Kau mau aku hancurkan seperti bubur sumsum? Hah....” Kalista mengeluarkan jurus andalannya. Arnold sudah lama tidak dapat pitingan mematikan dari Kalista.
“Aku kira kau sudah lupa. Ahhhh....Ampun....Ahhhh.....tolong lepaskan.” Begini jadinya ketika punya istri mantan antlet silat. Dia benar-benar punya skill membunuh yang tidak akan pernah bisa hilang dari dirinya. Kalista melepaskan tangan Arnold yang sudah mengaduh berkali-kali.
“Cepat cari Sandra. Dia dimana malam-malam begini.” Kalista menghubungi satu persatu teman-teman Sandra. Arnold yang menghubungi Ayu karena Kalista enggan. Dia masih tidak mau karena masih tidak rela Sandra dekat dengannya.
Drttttt....Drtttt....Drttttt.....
Ponselnya Kalista bergetar ditengah kegundahan hatinya. Jofan menghubunginya tepat waktu. “Terimakasih Jofan. Tolong jaga putri tante yah.” Kalista menjatuhan tubuhnya di atas kursi. Dia lega karena putrinya baik-baik saja di rumah Jofan.
“Putrimu tidak akan mudah di sakiti. Kau tidak marah Sandra ada di rumah Ferdinan.” Kalista ingat bagaimana putrinya sangat menyukai Jofan selama ini. Kalista menggeleng. Dia senang, Jofan anak yang bertanggung jawab dan penuh kharisma. Dirinya saja mendambakan punya menantu setampan dan secerdas Jofan. “Lihatlah....kau bahkan tersenyum sendiri membuatku takut.” Kalista malu Arnold memergoki perubahan suasana hatinya yang 180 derajat berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
"Apa aku pantas punya menantu seperti Jofan!" Arnold meringis merasa aneh. "Kenapa kau seperti menertawakan ku." Kalista merajuk. Sikap Arnold membuatnya berpikir. "Apa putri kita tidak layak?" Merasa kasihan Sandra mencintainya seorang diri.
"Bagaimana bisa Jofan jadi menantu kita. Kau bukannya tidak suka dengan Ayu. Mereka bukannya bersaudara. Sepertinya Jofan sangat menyayangi Ayu dari cerita yang Sandra berikan." Kalista membenarkan ucapan suaminya. Tapi lidahnya kelu mengakui kesalahannya.
"Mereka tidak ada hubungannya dengan hubungan Jofan dan Sandra." Arnold menggeleng tidak percaya dengan jalan pikiran istrinya. Kebaikan Ayu selama ini tertutup oleh kesalahan yang orang dewasa lakukan.
"Pikirkan bagimana perangai Ayu selama ini. Dia banyak membawa perubahan pada Sandra. Sikapnya lebih lembut dan peduli pada keluarganya." Kalista kali ini menyesal. Semua yang Arnold ucapan benar. Ayu gadis yang baik, dia mengajarkan kebaikan pada putrinya.
Kalista menangis di pelukkan Arnold menyesali segala perbuatannya. Dia menutup mata hanya karena kekhawatiran yang berlebihan. Dia tidak harus melibatkan masa lalu Ayu dan membuat putrinya kehilangan sahabat baiknya.
"Apa Sandra mau memaafkanku? Aku menyesal, tapi aku tidak bisa mengalah di depan Sandra." Harga dirinya sangat penting.
"Mengalah sekali tidak membuat dirimu buruk. Ada kalanya kita belajar dari anak-anak kita bagaimana memperlakukan orang lain dengan penuh kehangatan. Aku yakin Sandra paham tujuan mu melarangnya bergaul dengan orang yang kamu tidak yakin bisa membawa kebaikan untuk hidupnya. Dia gadis yang sangat pintar." Kalista masih memikirkan hal lain yang bisa dia lakukan tanpa menjatuhkan harga dirinya.
Arnold bersyukur perseteruan tidak berlangsung lama. Biasanya memakan waktu lama untuk keduanya berdamai. Sudah lama Arnold tidak melihat keduanya bertengkar sejak Sandra masuk SMA. Perseteruan kali ini bukan karena hal sepele seperti yang biasanya terjadi. Ini tentang kekhawatiran seorang Ibu yang putrinya sudah beranjak dewasa.
***
Ayu terbangun karena tenggorokannya terasa kering, kakinya melangkah menuju dapur tapi matanya dibuat terbelalak saat melihat adegan ciuman dua insan yang sedang kasmaran. Ayu mengendap-ngendap agar langkah kakinya tidak mengganggu. Ayu masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya berulang kali, meyakinkan diri bahwa semuanya nyata.
Hah.......ini berita besar yang sangat membahagiakan. Sandra pasti sangat bahagia punya kesempatan menjalin hubungan dengan Jofan. Laki-laki yang selalu mengisi relung hati Sandra. Pengorbanan yang kadang tidak terlihat sering Sandra lakukan hanya demi perhatian kecil Jofan. Ah......akhirnya dia berhasil. Ayu berguling-guling di atas tempat tidurnya merasakan kebahagiaan yang saat ini tengah Sandra rasakan.
Suara langkah kaki mendekat, Ayu berpura-pura tidur agar Jofan dan Sandra tidak curiga jika dirinya tau. Dadanya berdetak kencang tidak sabar ingin tau bagaimana perasaan Sandra saat ini.
Mereka tidak jadi masuk kesini, sepertinya Sandra sangat terkejut mendengar aku ada di sini. Atau bisa saja ini akal bulusnya agar bisa berdua saja bersama Jofan. Dasar Sandra!!!!!!. Ayu bicara dalam hati.
Ayu masih tidak mencurigai perubahan sikap Sandra pada dirinya. Baginya tidak akan ada yang berubah, mungkin Sandra hanya lelah sampai tidak punya tenaga lebih bercanda dan bergurau bersama. Sandra tetap sahabat baiknya.
__ADS_1