
Sepulang sekolah saat Ayu memasuki rumah, terlihat Mbak Murni dan Mas Ali yang sedang duduk santai di ruang keluarga. Ayu menangkap pandangan tidak enak dari mata Mbak Murni, tapi Ayu tetap mencoba bersikap senetral mungkin agar tidak canggung.
“ Ayu ke kamar ya Mbak, Mas”. Ayu pamit setelah salim dengan keduanya.
Ayu benar-benar merasa ada yang aneh. Sepertinya ada yang sedang serius di bicarakan oleh Mbak Murni dan Mas Ali.
Malam ini Ayu sedang menyiapkan makan malam di dapur. “ Yu, nanti selesai makan mbak mau bicara yah”.
“Iya Mbak”. Ayu mengangguk. Ada rasa deg-degan dalam hati Ayu. Apa mbak Murni sudah gak sanggup yah bayar semua biaya sekolahku. Kan sekarang Buyut Ayu sudah tidak ada lagi.
Tersirat kesedihan yang mendalam, tapi tidak ada yang bisa Ayu perbuat. Dia hanya mampu pasrah saja dengan segala yang akan terjadi kedepannya.
“ Duduk Yu”. Mbak Murni sudah terlihat sangat serius. Ayu semakin tegang, dia meremas- remas ujung bajunya untuk mengurangi ketegangannya.
“Maaf ya Yu, sepertinya Mbak dan mas Ali sudah tidak bisa lagi membiayai sekolah kamu Yu”. Mbak Murni meraih tangan Ayu. Dia melihat wajah Ayu saat ini sudah tidak baik-baik saja.
“ Tapi Mbak..... apa mbak mau memulangkan Ayu sekarang juga?”. Suara Ayu bergetar menahan tagisannya.
“ Ya tidak, kamu cari waktu untuk urus semuanya ya Yu. Mbak mah terserah Ayu saja, kalo masih mau bantu-bantu mbak disini juga gak papa. Cuma Mbak gak bisa sekolahin Ayu lagi. Mbak gak ada uang Yu”. Mbak Murni memandang suaminya yang ada di sebrang tempat dia duduk.
“ Kasih Ayu waktu ya Mbak”. Ayu pasti akan segera keluar dari rumah Mbak. Maafkan Ayu karena sudah membuat Mbak dan Mas kerepotan.
“ Jangan tersinggung ya Yu, Mas sama Mbak gak punya pilihan”. Mas Ali terlihat santai memberikan argumen.
Ayu sedikit emosional, karena sebelumnya Mbak Murni hanya akan memindahkannya ke sekolah yang lebih murah. Tapi sekarang keputusannya tiba-tiba saja berubah, mereka sekarang menyerah.
Setelah pembicaraan panjang lebar, Mbak Murni memilih menyudahi pembicaraan dan menonton TV yang ada di ruang tamu. Sejak awal memang Mbak Murni tidak setuju dengan keputusan Buyut Ayu yang membawa Ayu tinggal di rumah Mbak Murni.
__ADS_1
Ayu sudah menduga sebelumnya kalo hal ini akan terjadi, tapi tidak pernah terbayangkan prosesnya begitu cepat. Ayu bahkan baru terhitung bulan mengenyam pendidikannya.
Aku butuh udara segar, aku bisa meledak kapan saja jika tidak keluar sekarang.(Batin Ayu )
“ Apa Ayu boleh keluar sebentar Mbak. Ayu mau beli pembalut”. Ayu hanya beralasan, dia ingin menenangkan pikirannya.
Kakinya gontai, langkahnya tidak mampu mengimbangi jalannya. Ayu terjatuh tersandung pembatas jalan.
Ayu tidak langsung berdiri, dia duduk telungkup menyandarkan kepalanya pada lututnya. Saat ini tidak tampak seorang pun yang berjalan berlalu lalang. Jalanan sepi dan sangat mendukung suasana menjadi semakin menyedihkan bagi Ayu.
Ayu menangis sejadinya, sudah tidak bisa di tahan lagi. Sedari tadi tenggorokannya sakit menahan tangisan. Sekarang aku harus keluarkan, jika tidak aku akan tetap terlihat menyedihkan.
Ayu menangis lumayan kencang, karena malam itu sangat sepi. Suara tangisan Ayu nyaris memenuhi udara di sekitar.
****
“Mamih, tolong beritahu Ayah. Jangan serahkan semua pekerjaan padaku”. Malik menjatuhkan tubuhnya di sofa samping Mamihnya. Kepala nya di jatuhkan tepat di pangkuan Mamihnya.
“ Kenapa aku selalu diperlakukan seperti anak kecil Mih? Aku bisa memilih sendiri seperti apa kehidupanku kelak Mih, aku mau menentukan sendiri dengan siapa aku akan menikah”. Malik memilih memejamkan matanya.
Mamihnya melotot, tidak biasanya anaknya ini akan membuka mulut tentang kehidupan pribadinya. Ada raut bahagia di Wajah Mamih Ajeng. Tapi juga ada kesedihan karena suaminya selalu saja membatasi pergerakan putranya.
“ Apa dia sangat istimewa? Anak mamih sampe cinta setengah mati. Bahkan sudah berani menentang ayahnya”. Mamih meledek Malik yang wajahnya sudah tidak bersahabat. Ini akan menjadi kesenangan tersendiri bagi Mamih nya. Dia sangat senang membuat suasana hati anaknya semakin kacau.
Malik duduk seketika mendengar pertanyaan Mamih, dia meraih tangan Mamih dan menciumnya. Matanya berbinar bahagia.
“Dia akan jadi wanita kedua yang aku cintai setelah Mamih”. Malik menyandarkan kepala nya di pundak Mamih.
__ADS_1
“Jangan mimpi, tidak akan semudah itu”. Pak Rama tiba-tiba saja menyela pembicaraan Malik dan Mamih. Tangan bergerak mengendorkan dasinya sambil menatap Malik tajam.
Mamih hanya memandang keduanya dengan penuh cinta, mereka berdua memang sejak dulu jarang sekali sejalan. Selalu saja ada yang mereka perdebatkan. Bahkan Malik pernah kabur meninggalkan rumah karena ulah Ayahnya yang terlalu mengekang Malik.
Raut muka Malik berubah seketika mendengar ucapan Ayahnya. Jas yang sudah di letakkan di atas sofa di raihnya lagi.
“Mau kemana nak? Makan dulu ya sayang”. Malik mencium kening Mamih nya sebelum berlalu meninggalkan kedua orang tuanya.
Malik selalu mampu mengendalikan emosinya jika berkendara. Dia akan membuka kacanya dan berteriak sekencang mungkin untuk menuntaskan amarahnya.
Tiba-tiba saja dia terfikir untuk mampir sekedar melihat rumah yang Ayu tinggali. Saat sampai, malik hanya memandangi teras rumah Ayu yang lampunya tidak terlalu terang. Mata malik menangkap sosok yang keluar dari rumah itu dan tersenyum.
Ayuna memang jodohku, dia tau kalo saat ini aku ada di sini menunggu kehadirannya.
Malik mengikuti langkah Ayu dari dalam mobil, dia sengaja menjaga jaraknya agar tidak terlihat oleh Ayu. Malik kaget saat melihat Ayu terjatuh di atas trotoar pejalan kaki yang dia lewati.
Langsung saja Malik berlari ke arah Ayu. Perasaannya sudah tidak karuan karena khawatir melihat Ayu. Dia juga mendengar suara tangisan Ayu yang menyelimuti pendengarannya.
Malik berjongkok, tangannya meraih pundak Ayu. Dia melepaskan jasnya dan di kenakan pada Ayu. Malik membantu Ayu berdiri. Tangannya sibuk membantu Ayu membersihkan celana nya yang penuh dengan debu.
Malik mencoba meraih tangan Ayu, dia melihat tangan ayu yang tergores. Malik sudah tau jika Ayu tidak mau di sentuh oleh siapa pun jika bukan Mukhrim.
“ Ayu baik-baik saja?”. Perasaan Malik campur aduk saat ini. Dia begitu sedih dan kecewa meilhat keadaan Ayu saat ini. Dia merasa bersalah tidak bisa berbuat apa-apa.
“ Maaf ya Kak”. Hanya itu yang mampu Ayu ucapkan. Dia mencoba menahan agar air matanya tidak ditunjukkan pada siapa pun.
“Jangan minta maaf Ayuna”. Kali ini tangan Malik meraih pergelangan tangan Ayu dengan paksa. Tidak bisa dibiarkan begitu saja, Malik membawa Ayu masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Kali ini Ayu pasrah, ini bukan pertama kalinya dia di tarik paksa oleh laki-laki. Biasanya kak Oji juga akan melakukannya dalam keadaan seperti ini.
Malik menyerahkan air mineral yang sudah di buka tutupnya. Matanya memandang Ayu penuh kehangatan. Saat ini Malik ingin sekali menjadi orang yang berarti untuk Ayu.