Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 91 ( Semua Milik Mu )


__ADS_3

Sarah masih menaruh tanda tanya besar di kepalanya. Kenapa bisa-bisanya Kala muncul di depan wajahnya.


Kedua orang tuanya bahkan sudah mengembalikan uang yang Kala berikan.


Ini pasti akan jadi hari-hari yang berat kedepannya.


Perut Sarah sedikit kram, dia terlalu banyak pikiran sampai lupa akan kesehatan kandungannya.


Sarah menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, Adam mengambil alih tugas Sarah mengantarkan kedua orang tuanya ke kamar. Meminta Sarah agar beristirahat.


Adam muncul dari balik pintu, membawa nampan berisi buah-buahan yang sudah Adam potong-potong.


Sarah duduk tersenyum menikmati perhatian Adam.


"Kau berubah jadi laki-laki romantis?" Adam mengangguk.


"Aku akan lakukan semua tugas yang biasa kamu kerjakan." Menusuk apel dengan garpu, memasukkannya ke dalam mulut Sarah yang sudah siap menerima hadiah.


"Makan yang banyak ya anakku sayang, jangan kelaparan." Adam bicara pada perut Sarah.


Sarah tertawa melihat tingkah Adam yang konyol. Perutnya bahkan masih rata.


Drettt...drettt...drettt...


Ponsel Adam bergetar, Adam meraih dan melihat layar ponselnya.


Tidak mengangkat telpon karena nomor di rahasiakan.


"Kau tidak angkat? Siapa tau penting." Sarah meraih ponsel Adam yang tergeletak di dekatnya.


"Tidak usah, nomornya di rahasiakan." Masih sibuk menyuapi Sarah.


"Kalau penting bagaimana?" Masih penasaran.


"Tidak mungkin dia menyembunyikan nomor nya jika penting. Sudah tidak usah dipikirkan." Adam menjauhkan ponselnya.


Sarah jadi berpikir, bagaiman kalau Kala yang menelpon Adam. Tapi dari mana dia mendapatkan nomor Adam.


***


Ayu sudah selesai shalat isya, dia masih malas beranjak dan tiduran di atas sajadah.


Masih sibuk merangkai kata untuk mengembalikan uang Kak Malik.


Tapi kenapa sampai saat ini dia tidak menanyakan uangnya, apa dia menyerah kan semuanya padaku?


Tiba-tiba saja ponsel Ayu berdering, menyadarkan Ayu dan segera meraih ponsel yang ada di atas nakas.


"Ibu....aku kangen. Kapan Ibu main kesini?" Manja.


"Jangan khawatir, semua orang sangat menyayangiku."


"Datanglah Bu, ajak Bapak dan Riyan. Aku merindukan meraka."


Setelah cukup lama, Ayu menyudahi panggilan telponnya. Ternyata ada Mata yang mengawasinya sejak tadi.


Malik mengulas senyum, mengingat kejadian tadi siang membuatnya sedikit menjauhi Ayu. Dia takut tidak bisa menahan diri.


Tapi apalah daya, gadis ini malah mendekatinya tanpa Malik minta.


"Apa yang Kak Malik baca?" Melihat sampul degan sedikit berjongkok.


Malik tidak menjawab, dia menyuruh Ayu duduk di sampingnya menepuk sofa.


"Kau mau makan sekarang?" Mencium kepala Ayu yang bersandar di bahunya.


"Aku masih sangat kenyang Kak." Ayu mengelus perutnya yang masih merasa kekenyangan.


"Kak, Ibu bilang semua keluargaku dan tetanggaku sangat berterima kasih."

__ADS_1


"Benarkah? Apa aku perlu kirim hadiah lagi?"


"Tidak, semua itu sudah cukup. Tapi aku sangat rindu mereka semua." Wajahnya terlihat sedih.


"Nanti kita bisa main saat pekerjaanku tidak terlalu banyak." Malik meletakkan majalah yang ada di tangannya.


Baru saja tangan Malik mau meraih tubuh Ayu, gadis ini sudah bangkit dari duduknya.


"Oh iya Kak." Ayu berlari megambil tasnya.


Malik hanya memperhatikan dengan rasa penasaran dengan apa yang akan Ayu tunjukkan padanya.


Ayu mengeluarkan kartu ATM dan amplop putih berisi uang tunai.


"Untuk apa ini semua Ayuna?" Meletakkan Amplop setelah melihat isi di dalamnya.


"Aku mohon ampuni kesalahanku, aku ganti semua uang yang aku dan teman-teman ku gunakan." Ayu menyodorkan amplop ke tangan Malik.


"Kau...." Otak nakalnya bekerja. Malik melihat catatan belanja dari ponsel pintarnya.


"Kalian menghabiskan uangku RP.10.230.000,-. Uang yang ada di amplop ini berapa?" Ayu tersenyum.


Kami menghabiskan uang sebanyak itu. Kenapa tidak kami hitung saat belanja, ini salah kalian teman-teman. Menggerutu dalam hatinya.


"Hanya ada 8 juta Kak. Aku akan cicil sisanya." Meraih tangan Malik dan menggenggamnya erat.


Lihatlah, dia sedang merayuku, kenapa wajahnya sangat manis. Rasanya ingin aku makan. Malik menahan diri.


"Kenapa kamu mau mengembalikan uang ku?" Penasaran.


"Tidak seharusnya aku menggunakan uang Kak Malik dengan tidak bijak. Kami semua kehilangan kendali Kak." Malik mendengus. Membuat Ayu tersenyum getir.


"Benar Kak, tapi aku menyesal." Menyodorkan kembali amplop.


"Kemarilah" Malik menyuruh Ayu duduk di pangkuannya.


"Kenapa aku bekerja?" Ayu sedikit berpikir arah dan tujuan pertanyaan Kak Malik.


"Ehhh...untuk mencari uang?" Apa jawaban aku benar.


"Untuk apa uang yang aku hasilkan? Jumlahnya banyak sampai Rera pusing membuat laporan nya." Menatap netra Ayu lekat.


Pertanyaan Kak Malik membuat Ayu sedikit sadar, selama ini dia banyak berkorban untuk banyak orang.


"Uangnya untuk gaji karyawan, untuk memperluas bisnis. Untuk makan...hehhehe." Ayu bingung dengan jawabannya sendiri.


"Dan juga untuk menafkahi keluargaku, apa kamu keluargaku?"


Pertanyaan macam apa ini. Dia pasti akan menjebak ku. Ayu sudah berpikir Malik akan mengerjainya


"Ten....tentu saja. Aku kan istri Kak Malik." Meskipun pernikahan nya dilakukan karena keadaan.


"Jadi apa kamu berhak atas uangku? Apa masih mau mengembalikannya?" Nada nya berubah jadi kesal.


"Apa aku boleh menyimpannya? Tapi jumlahnya terlalu banyak." Ayu ragu.


"Tentu saja, bahkan semua harta ku boleh kamu gunakan."


Apa begini rasanya jadi istri konglomerat? Dia bahkan menyerahkan ATM yang uangnya sangat banyak untuk ukuran anak SMA.


Batin Ayu menolak, tapi tangannya meraih ATM dan amplop nya kembali.


Tersenyum dengan penuh kebahagiaan menyimpan kembali harta bendanya dalam tas dan menaruh nya di atas meja belajarnya.


"Ingat, gunakan dengan bijak. Aku memberikan kebebasan bukan berarti boleh digunakan untuk hal yang tidak baik. Mengerti!." Ayu mengangguk.


***


Hari ini Malik berangkat lebih pagi, tidak sempat mengantar kan Ayu seperti biasanya.

__ADS_1


Jadwal perkejaan nya akhir-akhir ini sedang sangat banyak.


Ayu sedang membantu bibi di dapur saat Malik berangkat, dia sempatkan diri pagi-pagi membuatkan Kak Malik sarapan untuk di makan di jalan.


Dia pasti akan menolak jika diminta sarapan walau hanya sebentar.


"Pulang nanti aku akan jemput." Malik mengecup kening Ayu sebelum masuk ke mobil.


Ayu sebenarnya lebih bahagia pagi ini karena uang jajan yang dia dapat dari sekolah tidak jadi hilang.


Ayu berencana mengirimkan uang itu pada Ibu. Mereka lebih membutuhkan karena Ayu sudah punya yang lebih banyak dari Kak Malik.


Ibu pasti bangga kalau tau aku dapat hadiah uang tunai karena berhasil membawa nama baik sekolah.


Ayu menikmati sarapan bersama Mamih dan Ayah yang sudah rapih dengan pakaian formal.


"Mamih cantik sekali hari ini, ada acara ya Mih?" Menatap Mamih kagum.


"Apa Mamih cantik?" Merapihkan sanggul di kepalanya. Tersenyum menatap Rama yang memalingkan pandangan nya.


Rama hanya jadi pendengar, mereka berdua hanya membicarakan hal remeh temeh yang Rama tidak habis pikir bisa ada di benak kedua wanita ini.


Tapi di luar itu, Rama sangat bahagia. Keluarganya sedikit hidup sejak kehadiran Ayu.


Banyak obrolan di meja makan yang sebelum nya tidak pernah terjadi.


Tiba-tiba Rama menyela di tengah perbincangan.


"Ingat Ayu, apapun yang akan terjadi padamu, atau pada siapapun di dalam keluarga kita. Kita harus tetap saling menjaga, menyayangi dan mengasihi. Dan ingat, kami juga orang tuamu yang bisa menjadi tempat kamu pulang saat tidak tau arah dan tujuan." Ayu terperangah, kata-kata Rama begitu dalam menghujam jantungnya.


Setelah sarapan, Ayu bergegas ke sekolah diantar pak Dodo.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sekolah, karena jaraknya yang cukup dekat.


Sandra dan Melani sudah penasaran dengan apa yang terjadi semalam.


"Kalian pasti menunggu karena penasaran kan?" Ayu duduk diantara Melani dan Sandra di depan kelas Ayu. Mereka berdua tersenyum.


"Apa dia marah?" Sandra sudah tidak sabar. Ayu menggeleng.


"Katakan dengan jelas, kau tidak tau Sandra datang ke rumahku sangat pagi! Dia bahkan membuatku tidak mandi hari ini." Melani kesal karena ulah Sandra.


"Dengarlah dia merajuk, tidak akan ada yang tau. Kau sudah sangat wangi." Sandra menyemprot minyak wangi sangat banyaj.


Ayu mencium bahu Melani yang wangi luar biasa.


"Ini sangat berlebihan,kau menuangkan satu botol? Wanginya seperti mencekik hidungku." Ayu mengibaskan tangannya mengurangi wangi yang menempel di ujung hidungnya.


Mereka bercerita bercanda tawa menunggu bel sekolah, Ayu menceritakan kejadian semalam dengan detail, membuat kedua sahabatnya iri.


Malik sedikit gusar karena pagi ini pertama kalinya dia tidak mengantarkan Ayu. biasanya dia akan sempatkan bagaimanapun keadaanya.


"Al, coba hubungi Pak Dodo. Apa mereka sudah sampai dengan selamat?"


Tidak bisakah dia santai sedikit saja, Ayu kan bukannya pergi ke luar pulau, dia hanya ke sekolah Bos. Jerit Aldo dalam hati.


"Cepat, kenapa kau malah menatapku seperti itu." Malik heran.


Aldo bergegas menguhungi Pak Dodo, memastikan Ayu sampai sekolah dalam keadaan selamat.


Mendengar itu Malik merasa lega, kini dia bisa fokus mengerjakan semua tugas nya yang menumpuk pagi ini.


Aldo bahkan bergadang semalaman karena proyek besar yang harus segera di selesaikan dalam waktu yang singkat.


Semua orang bekerja keras, bagaimanapun dan berapapun yang di hasilkan jangan menyerah, tetap berusaha menjadi yang terbaik.


Semua kerja keras yang sudah kita jalani akan membuat diri kita bangga karena tidak menyerah.


Bangga karena mampu menaklukkan setiap keadaan. Bangga menjadi pribadi yang tidak pantang menyerah.

__ADS_1


__ADS_2