Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 90 ( Kala Kembali )


__ADS_3

Ayu hari ini merasakan berbagai macam gejolak dalam dirinya. Bahagia karena menang dalam perlombaan, marah pada diri sendiri karena membuat Kak Rey benci pada dirinya, merasa sangat di cintai Kak Malik dan ketakutan karena Kak Oji yang menyatakan perasaan secara tiba-tiba.


Semua tumpah menjadi satu, membuat Ayu lemah dan emosional. Ayu masih menangis tersedu-sedu, membuat Malik takut akan apa yang terjadi pada Ayu.


"Tenang lah, tidak apa-apa." Malik memeluk erat tubuh Ayu yang masih bergetar ketakutan.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Ayu. Dia hanya menangis di pelukan Malik. Rey yang melihat Ayu menangis mendekat. Merasa bersalah dan khawatir.


"Ada apa? Ayu baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Malik menggeleng, dia sama bingungnya.


Malik dan Rey membawa Ayu kembali ke ruangan Rey, mencoba membuat Ayu lebih tenang. Ana memeluk tubuh gadis kecilnya, dia sudah seperti adik bagi Ana.


"Menangis lah, lepaskan saja." Ayu tidak menahan lagi, kini suara tangisannya memenuhi ruangan. Hati Malik terasa di sayat pisau mendengar tangisan Ayu yang penuh penderitaan.


Air matanya sudah kering, Ayu sudah mulai berangsur tenang. Ana dengan telaten menenangkan Ayu. Malik sedikit belajar, dia kagum degan sosok perempuan lain selain Mamih dan Sarah.


"Lihat Rey, apa kamu yakin bisa melukai perasaannya? Dia sangat lembut." Berbisik di telinga Rey.


Rey tertegun, ternyata perasaan sayang nya pada Ayu mengalahkan kebencian dalam dirinya. Jofan merasa curiga, antara Kak Malik dan Kak Rey ada yang tidak biasa. Dia memergoki mereka saling berbisik beberapa kali.


***


Pagi ini Sarah dan Adam memboyong kedua orang tua Sarah agar tinggal bersama mereka. Adam memutuskan tidak lagi tinggal di apartemen. Dia memperbaiki rumah sederhananya untuk mereka tinggali bersama dengan kedua orang tua Sarah.


Adam bahagia, luka lama istri tercinta nya sudah pulih. Dia sudah membuka hati memaafkan kesalahan mereka di masa lalu.


Sarah berjanji akan mengobati penyakit Maghda yang membuatnya lupa dengan siap dirinya dan keluarga nya.


Maghda sangat cantik mengenakan pakaian sederhana berwarna putih, Austin hari ini mengambil cuti mengurus barang-barang yang akan mereka bawa di rumah baru.


Setelah sekian lama akhirnya Austin merasa hidupnya sangat berarti.


Dia sangat sibuk mengurus segala keperluannya dan Maghda, tapi Austin masih sempat memandikan Maghda agar tubuhnya tidak lagi menyebarkan bau tidak sedap.


Austin menyisir rambut Maghda yang sudah didominasi warna putih.


Menyenandungkan lagu kesukaan Maghda dengan merdu. Maghda tersenyum meski pandangan matanya kosong. Seolah dia tau ini hari bahagia keluarganya.


“Ayah sudah siap?” Sarah muncul di balik pintu. Tersenyum bahagia melihat kedua orang tuanya yang masih mesra.


“Ibumu cantik yah, Ayah terlalu lama mengabaikan dan tidak mengurusnya dengan baik.” Austin mencium puncak kepala Maghda.


Sarah mendekat, menempelkan pipinya dengan pipi Mahgda. Menatap betapa cantik wajah tua yang selama ini merindukan kehadirannya.


Sarah menyesal meninggalkan mereka begitu saja, perasaan kecewa membuat sarah gelap mata dan tidak memikirkan perasaan kedua orang tuanya.


Beruntung Sarah masih melihat mereka dalam keadaan sehat. Jika tidak Sarah akan lebih menyesal.


Semua barang sudah masuk ke mobil pengangkut barang yang Adam sewa. Tidak banyak yang mereka bawa, karena barang-barang yang ada di rumah mereka sudah tidak layak pakai.

__ADS_1


Sarah membiarkan semua barang di tingalkan, menggantinya dengan yang lebih layak.


“Terimakasih banyak ya Nak, kalian mau menerima orang tua ini.” Austin masih meras bersalah.


“Mari kita lupakan apa yang sudah terjadi, kita buka lembaran baru dan hidup dengan penuh kebahagiaan.” Sarah memeluk tubuh Maghda yang duduk di sebelahnya.


Adam masih canggung, dia tidak cerewet seperti biasanya. Dia malah jauh terlihat seperti laki-laki pendiam selama bertemu dengan kedua orang tua Sarah.


Ciiiiiiittttt....


Tiba-tiba saja ada mobil sport berwarna merah menghalangi mobil Adam. Untung saja Adam mengendarai mobil dalam keadaan penuh waspada, sehingga bisa menghidar.


“Ya Tuhan, apa kalian tidak apa?” Adam meraih tangan Sarah yang duduk di belakanganya.


“Aku tidak apa sayang.” Sarah menyakinkan Adam agar tidak khawatir padanya.


Terlihat laki-laki yang menggunakan stelan jas hitam turun dari mobilnya, mengetuk kaca mobil Adam dengan jari telunjuknya.


Sarah menatap netra laki-laki yang wajahnya tidak asing baginya. Mengingat kapan dia pernah melihat wajah yang tidak asing ini.


Adam membuka kaca mobil, emosi Adam memuncak karena merasa khawatir pada Sarah yang saat ini sedang hamil muda.


“Tuan, saya minta maaf. Tiba-tiba saja saya kehilangan kendali.” Tersenyum menatap Sarah yang masih menatap wajahnya.


Sarah ingat, laki-laki ini adalah Kala yang Ibu kenalkan lewat foto, pemilik Dragon yang pernah mau membelinya. Sarah memalingkan pandangannya. Rasanya seperti kembali ke masa lalu.


Kenapa bisa-bisanya aku bertemu dengan dia di sini. Apa yang dia inginkan. Banyak pertanyaan dalam benak Sarah.


Austin menatap wajah Sarah dari kaca spion, merasakan ketakutan yang sama dengan yang Sarah rasakan. Sarah mencoba mengulas senyum, menyampaikan lewat senyumannya bahwa dia baik-baik saja.


***


Ayu dan Jofan mendapat hadiah istimewa dari sekolah karena mampu memenangkan perlombaan, membawa nama baik sekolah menjadi lebih diperghitungkan di kancah pendidikan tanah air.


Semua siswa merasa bangga dengan prestasi yang Jofan dan Ayu torehkan, mereka sangat pantas dijadikan teladan karena prestasi yang sangat membanggakan. Ditambah mereka aktif dalam kegiatan sekolah di kelas dua.


Jofan dan ketiga sahabatnya banyak mengikuti kegiatan ekstraurikuler untuk menambah banyak ilmu pengetahuan lain diluar pelajaran sekolah. Dan mereka berempat merasa bahagia menghabiskan waktu bersama.


“Kalian enak sekali dapat hadiah, aku jadi iri.” Melani bahagia tapi merasa berkecil hati melihat prestasi kedua sahabatnya.


“Kau pikir mereka mendapatkanya dengan mudah. Ada perjuangan di balik semua ini Mel.” Sandra sok bijak, padahal dia juga merasa iri.


“Iya iya aku tau.” Memeluk Ayu tidak berhenti.


“Mau kalian apakan uang yang kalian dapatkan?” Melani penasaran.


“Aku akan menabungnya.” Jofan memang rajin menyisihkan uang untuk di tabung, dia punya impian membuka butik di Jakarta agar Mama bisa terus ada di sampingnya.


“Kalau kau Yu, mau kamu apakan uang sebanyak itu.” Sandra menatap Ayu.

__ADS_1


“Aku akan memberikannya pada Kak Malik. Aku ingin mengembalikan uang yang sudah kita pakai.” Ayu masih merasa bersalah menggunakan uang Kak Malik terlalu berlebihan.


“Apa kita juga harus menggantinya?” Melani sedih.


“Tidak...tidak, anggap saja aku mentraktir kalian bertiga.” Ayu tersenyum.


“Aku tidak menggunakan uangnya. Kan kalian yang belanja. Aku hanya mengawasi kalian saja.” Jofan tidak mau di salahkan.


“Apa Kak Malik marah? Apa dia memintamu mengembalikannya?” Sandra gusar kali ini. Takut kalau Ayu dalam bahaya karena ulah mereka.


“Tidak, dia bahkan sampai saat ini tidak menanyakan ATM nya.” Ayu merogoh dompet di dalam tasnya, menunjukkan kartu ATM yang masih tersimpan rapih di dalamnya.


“Itu tandanya dia tidak keberatan, untuk apa kamu kembalikan?” Sandra masih tidak mengerti dengan cara berpikir Ayu yang terlalu penakut.


“Bagaimana kalau ini hanya jebakkan, menguji seberapa Ayu bisa di percaya.” Jofan membuat suasana menjadi hening.


Tapi benar juga apa yang di katakan Jofan, Ayu akan dalam masalah besar jika gagal melalui ujian yang Kak Malik lakukan secara diam-diam pada Ayu.


“Kembalikan saja. Aku tidak mau dia membuat perhitungan dengan kita semua.” Melani bergidik ngeri.


“Baiklah, untung saja kita menang ya Mas Jofan. Kalau tidak aku harus mengganti dengan apa uang sebanyak itu.” Ayu memasukkan kembali kartu ATM yang ada di tangannya.


Teng...teng...teng...teng...


Bel sekolah berbunyi, siswa yang ada di dalam kelas mulai berhambur keluar setelah mengikuti pelajaran sekolah seharian penuh.


Malik sudah menunggu Ayu di parkiran, dia bertemu dengan klien di dekat sekolah dan memutuskan mampir menjemput Ayu.


“Kaka sudah lama? Maaf yah aku agak terlambat, Melani dan Sandra menahan ku sebentar tadi.” Mencari alasan yang paling masuk akal. Padahal Ayu mengobrol dengan anak laki-laki yang memberinya ucapan selamat.


Dia pikir aku tidak lihat apa yang dia lakukan, bisa-bisanya dia menggunakan sahabatnya sebagai kambing hitam. Bicara dalam hati.


“Apa benar ucapanmu? Aku bisa melihat seisi sekolah dari sudut manapun dan kapanpun.” Mulai melepaskan ancaman.


Ayu menatap Malik sambil tersenyum. Apa dia melihatku? Apa yang harus aku lakukan, kalau aku jujur pasti dia akan marah padaku karena bicara dengan mereka semua. Meratapi nasibnya.


“Bicara yang benar.” Ancaman kedua.


“Kak, aku lapar.” Mengalihkan pembicaraan.


Malik menatap Ayu tajam kemudian tertawa melihat wajah Ayu yang diliputi rasa khawatir. Melihat itu Ayu jadi ikut tertawa.


“Jangan pernah bicara terlalu lama dengan mereka, aku selalu mengawasimu.” Malik mendekatkan tubuhnya, menatap Ayu dengan lekat.


Ayu secara spontan memejamkan matanya, membuat Malik bahagia dan juga merasa canggung. Jantungnya berdetak kencang, Malik menyudahi aksinya setelah tidak bisa menahan gelora jiwanya sendiri.


Ayu membuka matanya setelah merasakan guncangan mobil yang mulai melaju.


Dadanya bergemuruh tidak karuan, dia pikir Kak Malik akan menciumnya. Hahaha.....

__ADS_1


Bagaimana bisa aku menutup mataku. Apa yang Kak Malik pikirkan ya Tuhan. Ayu mencaci maki dirinya sendri yang melakukan hal konyol.


Malik tersenyum melihat Ayu yang memukul kepalanya sendiri. Dia tau saat ini Ayu sedang sangat malu. Dia bahkan menatap keluar jendela menghindari kontak mata dengannya.


__ADS_2