Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 155 ( Gaun Pernikahan )


__ADS_3

“Siapa Fan.” Ana meletakkan nasi dan beberapa lauk pauk yang baru saja dia ambil dari bawah. “Kenapa wajahmu sangat tegang? Apa ada yang salah?” Ana mendekati Jofan, menyodorkan segelas air putih.


Jofan meneguk habis air putih sampai tidak tersisa sedikitpun. “Kak Aldo baru saja menelponku, kau tau dia sedang bersama siapa?” Ana mengangkat bahunya karena tidak tau sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. “Dia bersama Martha, kenapa mereka berdua bisa bertemu!” Jofan sangat penasaran akan apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi menghubungi Aldo tidak ada jawaban. Sepertinya dia memang sengaja tidak mengangkat panggilannya.


“Siapa Martha? Apa dia sahabat kalian? Apa yang aneh dengan pertemuan Aldo dan Martha?” Ana benar-benar bingung. Biasanya hanya masalah serius yang bisa merubah mood Aldo Jofan.


“Aku dan Kak Aldo mencarinya saat kecelakaan Ayu. Tapi kami tidak berhasil menemukannya di manapun. Dia menghilang begitu saja Kak.” Ana sedikit mulai mengerti apa yang Jofan maksud. Sepertinya dia gadis yang membuat Jofan curiga dengan kecelakaan yang menimpa Ayu saat camping.


“Apa ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Ayu?” Jofan mengangkat pundaknya, dirinya dan Aldo masih belum punya bukti kuat dengan tuduhannya. Tapi Martha benar-benar tidak ada di daftar anggota ataupun siswa baru di sekolah.


Dia seperti setan yang datang tanpa di undang dan pergi tanpa meninggalkan jejak kehadirannya. Aldo mencari jejak dan tidak menemukan apapun. Martha seperti menguap mengikuti udara. Gadis yang sangat dia ingin tau keberadaannya saat ini ada bersama Aldo. Jofan jadi tidak bisa berpikir jernih saat ini.


Wajahnya yang putih bersih terlihat memerah, dia mondar-mandir membuat Ana ikut terbawa suasana hati Jofan.


“Fan, coba untuk tenang. Kita tunggu kabar dari Kak Aldo. Dia pasti saat ini sedang memastikan apa yang sebenarnya gadis itu sudah lakukan.” Ana juga penasaran, tapi dia harus pintar menutupi rasa khawatirnya di depan Jofan.


“Kenapa kalian terlihat sangat tegang! Ada masalah apa?” Rey merasa atmosfir ruangannya tidak sejuk seperti biasa. Ana menyipitkan mata pada Rey, dia memberi isyarat saat ini Jofan sedang menghadapi problem.


“Ada apa Fan? Apa Kak Ferdinan baik-baik saja? Atau ada masalah dengan Mama?” Jofan menggeleng, tebakan Rey dua-duanya tidak benar.


“Kak, kau masih ingat tentang Martha yang aku ceritakan padamu?” Rey mencoba mengingat nama yang Jofan sebutkan. “Dia gadis muda yang satu group dengan kita saat camping, yang mengaku bahwa dirinya adalah siswa baru padahal bukan Kak.” Jofan sedih ceritanya tidak di ingat sedikitpun oleh Rey.


“Oh iya, ada apa? Apa kau sudah berhasil menemukannya?” Jofan kembali menggeleng. “Lalu….?” Tanda Tanya besar muncul, Rey bingung karena Jofan berputar-putar.


“Bukan aku yang menemukannya, tapi Kak Aldo.” Rey mengernyit.


Pembicaraan mereka tidak untuk tau keberadaan Martha. Tapi untuk menguak siapa dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Ayu. “Apa kau sudah tau kebenarannya?” Jofan menghela nafas. Jawabannya sudah pasti belum.


Rey mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Aldo tapi tidak di angkat. Sepertinya hal ini yang membuat Jofan sangat frustasi karena tidak sabar menunggu jawaban atas rasa penasarannya selama ini. Rey menggeleng tersenyum pada Ana. Ana pasti sangat sulit menghadapi situasi seperti ini saat dirinya dan Jofan dalam keadaan yang sama. Saat ini Rey baru merasakan apa yang Ana rasakan.


“Makanlah dulu Fan, Kak Aldo pasti akan segera memberi kabar.” Jofan masih saja tidak beranjak, Rey akhirnya mengalah membawa makanan yang sudah Ana siapkan. Menggantikan peran kedua orang tua yang sudah lama tidak memperhatikan Jofan dengan baik.

__ADS_1


“Buka mulutmu.” Rey menyodorkan sendok yang sudah penuh makanan ke mulut Jofan. Awalnya Jofan menolak, tidak ada nafsu makan di saat-saat seperti ini.


“Makan meski hanya sedikit. Jangan membuat Kak Ana sedih.” Ana tersenyum manis membuat Jofan membuka mulutnya tanpa penolakkan.” Selanjutnya Ana yang menyuapi Jofan karena Rey harus membereskan pekerjaannya.


“Kan Ana, tadi Kak Ana bilang ingin aku temani pergi ke supermarket.” Jofan bicara dengan mulut penuh makanan.


“Habiskan dulu makananmu. Batalkan belanja hari ini An, aku ingin mengajakmu fitting baju pernikahan kita. Tadi orang butik bilang pakaian yang kita pesan sudah selesai.” Ana sangat bahagia mendengarnya. Rey benar-benar memperhatikan setiap detail persiapan pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari.


“Apa aku boleh ikut?” Ana dan Jofan menatap wajah Rey. Rey mendengus Jofan selalu ada diantara mereka berdua.


“Kau harus punya pacar agar tidak selalu mengganggu kami. Bagaimana kau mau punya keponakan kalau terus mengikuti kami.” Ana merasa malu mendengar ucapan Rey.


“Tidak apa Fan, kau boleh ikut. Jangan dengarkan apa kata Kak Rey.” Ana melotot merasa kata-kata Rey tidak pantas. Rey sudah menduga Ana akan bersikap seperti ini, Rey memang sangat suka menggoda Ana. Ana sangat menyayangi Jofan melebihi dirinya. Baginya Jofan sama seperti adik laki-lakinya.


“Bukannya Sandra suka padamu? Kenapa kau tidak menerima saja dia jadi pacarmu, dia lumayan cantik.” Jofan membulatkan matanya, darimana Kak Rey tau Sandra punya perasaan lebih pada dirinya.


“Aku tidak memikirkannya. Akan aku pertimbangkan.” Ana tersenyum, keduanya punya sifat yang sama soal perempuan. Selalu bertele-tele dan suka sekali menggantung perasaan pasangannya. Padahal Ana sedikit memperhatikan Jofan dan Sandra saat sedang bersama, keduanya saling menyukai tapi masih sama-sama malu.


“Kak Ana, kenapa Kaka hanya diam saja. Tapi lihat wajahmu merona, apa yang kau pikirkan?” Jofan bersandar di bahu Ana yang sedang tersenyum sendiri mengingat masa lalunya.


“Siapa yang mirip, Kak Ana tidak bisa liat dengan jelas. Aku jauh lebih tampan dari Kak Rey.” Jofan menggelitik perut Ana, mereka berdua bercanda sampai Rey merasa cemburu dengan kedekatan keduanya.


Jofan akhirnya lupa dengan rasa penasarannya terhadap Martha. Saat ini Jofan ikut bahagia melihat kebahagiaan kedua orang selalu ada untuk dirinya. Mereka selalu jadi penopang Jofan agar tetap kokoh seperti langit yang tidak pernah pudar keindahannya.


Gaun yang sangat cantik terpampang indah, siapa saja yang memakainya pasti akan terlihat sangat cantik. Ana memegangi dadanya yang berdegup cukup kencang, wajahnya sangat tegang masih tidak percaya hari yang sangat dia impikan akan segera datang. Impian setiap wanita bisa tampil bak putri di hari pernikahannya.


“Cobalah, gaun ini pasti akan sangat cantik saat kau kenakan.” Rey memeluk Ana dari belakang, mencium tengkuknya yang selalu menggoda Rey. Aroma tubuh yang selalu menjadi candu saat Rey ada di dekat Ana.


Ana maju beberapa langkah mendekati gaun indahnya, seseorang dengan cekatan memindahkan gaun seraya memint Ana mengikutinya. Wajah Ana tidak berhenti berseri-seri. Rey ikut bahagia melihat bagaimana Ana sangat menyukai segala kerja kerasnya.


“Bagaimana gaunnya Rey? Apa Ana menyukainya?” Tina baru saja masuk ke butik miliknya setelah pergi membeli beberapa bahan untuk butiknya.

__ADS_1


“Apa kabar Kak?” Rey memeluk Tina. Wanita yang pernah jadi bagian hidupnya. Bagi Rey wanita ini tetap sama. Hanya status yang memisahkan mereka, tapi tidak perasaan Rey padanya. “Gaunnya sangat cantik. Persis seperti Kakaku yang membuatnya.” Rey masih tidak melepaskan pelukkannya.


“Kau sangat merindukanku?” Rey mengangguk. Tina tersenyum sambil membelai bahu Rey yang kekar. “Kau sudah sangat besar, terimakasih sudah menjaga Jofan dan Ayu selama ini.” Tina terharu saat mereka dipersatukan satu sama lain.


“Kau tidak mau kembali? Apa sangat sulit menerima dia lagi?” Rey masih berharap Tina kembali bersama Ferdinan.


“Kita ini sudah tua, kita bisa saling memberikan dukungan meski tidak terikat dalam pernikahan.” Rey tersenyum. Mereka bedua sama-sama keras kepala. Tidak mudah merubah pendirian mereka.


“Aku tetap mencintaimu.” Tina mengangguk. Dia tau persis bagaimana Rey tumbuh, banyak luka yang dia tahan sendiri. Dia bahkan mampu mengalahkan rasa sakitnya sampai bisa bangkit dan menjadi sukses seperti saat ini. Mungkin itu yang membuatnya berhati besar membantu Ayu tanpa pamrih meski dahulu dia tidak tau siapa Ayu sebenarnya.


“Wah…..”Tina memeluk Ana yang terlihat sangat cantik. “Rasanya seperti sedang melihat model papan atas.” Mereka berdua tertawa, hanya Rey yang terlihat tidak suka. “Kau sangat cantik sayang.” Tina membuat Ana tersipu malu.


“Kak, aku tidak rela membagi kecantikannya dengan orang lain.” Rey menaruh kepalanya di pundak Tina yang sedang merangkul Ana. Tina hanya menggeleng mendengar protes dari Rey.


“Kak Rey……” Semua orang tersejut mendengar Jofan berteriak. “Kak……” Jofan mengatur nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kita harus segera ke apartemen Ayu. Sepertinya kekhawatiranku benar.” Jofan menunjukkan pesan singkat yang ada di ponselnya.


Rey membaca dengan seksama isi pesan yang ada di ponsel Jofan. Tidak ada yang aneh, ini hanya pesan dari Malik yang mengajaknya untuk makan malam bersama. Rey merogoh ponsel yang ada di saku celananya. Sepertinya Rey juga beberapa menit yang lalu mengabaikan sebuah pesan.


Isi pesan yang sama, Malik mengajak mereka makan malam bersama di apartemennya. Tapi bukan berarti dia akan membahas masalah Martha, gadis yang masih menjadi misteri bagi Jofan.


“Kita pergi bersama, tapi kau harus janji padaku. Jangan membahas apapun tentang Martha jika bukan Malik atau Ayu yang memulai pembicaraannya. Kau paham maksudku?” Rey takut Jofan tidak bisa menahan diri.


“Tapi aku yakin pertemuan ini di adakan karena dia ingin tau siapa Martha Kak.” Rey mengajak Jofan menjauhi Ana dan Tina. Mereka lebih baik tidak tau masalah apa yang sedang Ayu hadapi. Beruntung mereka sedang asik mengamati gaun yang sangat indah.


“Menurutmu apa yang Aldo temukan? Kita bahkan tidak bisa menghubunginya. Jangan gegabah Fan, kita bisa saja menemukan apa yang kamu curigai. Tapi jangan buat kekacauan.” Rey masih mencoba menahan diri untuk tidak mencari tau lebih dalam.


“Aku tidak akan membuat Ayu dan Kak Malik khawatir, aku akan tutup mulut Kak.” Rey merangkul Jofan, apapun selalu dia lakukan demi adik tersayangnya. Biasanya Jofan akan keras kepala sama seperti dirinya.


Setelah selesai fitting baju, Rey mengajak Ana dan Jofan untuk berbelanja makanan dan buah-buahan untuk di bawa ke tempat Ayu. Mereka sangat bahagia mendapat undangan makan malam. Tidak mudah bagi Ayu, tapi dia mencoba menjadi orang yang bijaksana.


Ting tong…..ting tong….

__ADS_1


Adam membukakan pintu untuk tamu yang datang karena Sarah dan Ayu sedang sibuk menyajikan makanan untuk para tamu. Malik sibuk menimang Mahesa yang sedang tidur. Adam sudah memintanya agar Mahesa bisa tidur dengan nyaman, tapi Malik bersikeras masih ingin menimang-nimang Mahesa.


“Kalian sudah datang! Silahkan masuk.” Adam membantu Rey yang terlihat sangat kesulitan membawa tentengan di tangannya.


__ADS_2