Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 119 ( Pencarian )


__ADS_3

Malik menyusuri jalanan sunyi dengan penuh harapan. Aldo tertidur pulas di sebelahnya begitu pula Adam yang ada di bangku belakang.


Sudah hampir pupus harapan Malik menemukan Ayu yang entah ada dimana saat ini. Apa dia baik-baik saja? Apa dia benar-benar diculik dan bukan pergi karena membencinya?


Semua pikiran-pikiran jahat bergelut menjadi satu dalam kepala Malik.


Berulang kali mengatur nafas agar tidak terbawa suasana sampai membuat kepalanya berdenyut. Malik menepi, memandang kosong jalanan seperti hatinya saat ini. Sungguh penyesalan tidak ada artinya saat ini. Semua terjadi begitu saja saat dirinya sadar Ayu menderita dan butuh cinta kasihnya.


Malik menyandarkan kepalanya di setir mobil, tubuhnya sudah tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan. Kakinya sudah lemas dan tangannya kram. Matanya sudah tidak sanggup lagi berkonsentrasi.


Dikediaman Rama saat ini masih ramai para IT dan petugas keamanan mencari informasi bagaimana Ayu bisa hilang. Penculikan lumayan merepotkan karena penculik tau titik CCTV berada agar tidak mudah di lacak.


Mamih memaksa Rama untuk istirahat, Mamih khawatir dengan kesehatan suaminya. Dia tidak bisa mengabaikan kepentingan nya sendiri. Setelah mendengar kan ucapan Mamih yang memohon penuh harap, Rama akhirnya luluh tidak tega melihat istrinya diliputi rasa khawatir.


Tubuhnya juga sudah tidak sekuat dulu, dia harus memikirkan banyak orang. Rama menyuruh semua bekerja bergantian, tetap harus istirahat agar pekerjaan berjalan lancar dan pencarian menemukan titik terang.


Semua bekerja keras untuk mendapatkan jejak sang penculik yang sangat profesional. Pelaku bukan penjahat kaleng-kaleng yang mudah ditemukan.


***


Jofan mendengar kabar Ayu di culik oleh Kak Rey, tapi Rey meminta Jofan tidak memberitahu Ferdinan. Akhir-akhir ini Ferdinan kurang sehat dan berita penculikan Ayu bisa berakibat buruk untuk kesehatannya.


Pagi-pagi sekali Jofan sudah datang ke restaurant Rey, tapi Rey tidak ada. Jofan menelpon Rey berkali-kali juga tidak ada jawaban. Jofan merasa frustasi, dia tidak tau harus mencari Ayu kemana.


Jofan ingat pertemuan Kak Rey terakhir kali dengan Oji. Jofan meraih kotak yang pernah Oji berikan pada Rey. Membuka satu persatu hadiah yang ada di dalamnya. Ada alamat rumah Oji di sana. Jofan berinisiatif mencari Ayu di kediaman Oji.


Jofan melajukan mobilnya perlahan. Menyusuri jalanan menuju rumah Oji sesuai degan alamat yang ada di dalam kotak, terlihat sepi.


Cukup pagi saat Jofan tiba di sana. Semua penghuni rumah mungkin masih menikmati mimpi indahnya sebelum beraktifitas.


Jofan menunggu di sebrang rumah, memperhatikan siapa saja yang keluar masuk rumah dan tidak ada yang Jofan kenali satupun.


Setelah menunggu cukup lama dan Oji masih juga tidak keluar, Jofan memutuskan bertanya pada seorang pedangan makanan tidak jauh dari sana. Orang nya terlihat ramah di mata Jofan.


Jofan kecewa.


Menurut informasi, rumah tersebut sudah cukup lama berganti pemilik. Sudah bukan lagi milik Oji dan keluarganya. Pantas saja Jofan tidak mengenal satu orang pun yang keluar masuk rumah besar tersebut.


Hilang satu peluang menemukan Ayu, Jofan kembali ke Restaurant. Rey masih belum kembali juga. Hanya ada Kak Ana yang sedang membantu persiapan Restaurant di pagi hari.


"Hay Kak." Jofan mengecup kening Ana. Memeluknya dengan hangat.


Ana tau suasana hati Jofan sedang tidak baik, sama dengan Rey. Dia bahkan hilang kontak sejak semalam, Rey masih belum kembali dari pencariannya. Ponselnya pun tidak aktif.


"Kak Rey masih belum bisa dihubungi?" Jofan bergelayut manja di pundak Ana.


Ana mengangguk, ada kesedihan yang tidak bisa dia tunjukkan. Hanya akan membuat Jofan semakin terbebani. Ana menyembunyikan kekhawatirannya, tugasnya menjadi penyemangat bagi Rey dan juga Jofan.

__ADS_1


"Kak Ana sudah buatkan sarapan, ayo temani Kaka makan!" Ana menarik tangan Jofan.


Mereka menikmati roti panggang yang masih hangat. Tangan Ana kini sudah sedikit mahir mengolah bahan makanan menjadi makanan yang lezat.


"Kak Ana, tolong maaf kan Kak Rey." Jofan menggenggam tangan Ana.


Ana tersenyum, Jofan seperti biasa membuatnya selalu merasa dibutuhkan. Membuat Ana kembali yakin saat dia ragu dengan perasaanya.


"Ayo habiskan, jika tidak Kaka akan marah. Hehehehe." Jofan merasa menyesal, Ana selama ini menjadi wanita paling kuat yang mencintai Kak Rey dengan tulus.


Ana bahkan sudah menunggu bertahun-tahun kepastian hubungan mereka yang sampai saat ini belum ada peningkatan.


Rey punya trauma dengan hubungan pernikahan, dia melihat perpisahan yang begitu dramatis yang dialami Ferdinan. Mereka bahkan mengatas namakan cinta sebuah perpisahan yang terjadi.


Ana duduk di sofa ditemani Jofan, memeriksa laporan yang masih menumpuk di meja Rey dari kemarin. Ana sedikit banyak sering membantu Rey mengelola laporan. Saat Rey sibuk, Ana akan menggantikan perannya.


Rey pulang dengan baju compang camping dan mata sedikit hitam, dia pasti tidak tidur dan kelelahan.


Brugggg....


Rey menjatuhkan tubuhnya di sofa cukup keras. Ana dan Jofan saling pandang. Ana bangkit menghampiri Rey yang memejamkan mata menyembunyikan kesedihan.


Pelukan hangat yang Ana berikan tanpa bertanya apapun. Rey membalas pelukan Ana, menenggelamkan kepalanya di perut Ana yang rata. Ana memperlakukan Rey seperti anak kecil yang sedang bersedih.


"Aku tidak menemukannya." Rey meneteskan air mata. Ana sedih melihat Rey begitu hancur saat tau Ayu di culik.


"Aku menyesal tidak menerimanya lebih awal. Aku menyesal." Rey merasa menjadi orang bodoh dengan perbuatannya.


"Semua orang belajar dari kesalahan. Kak Rey juga sama. Kita semua sama Kak." Ana tau betul cinta Rey begitu tulus pada Ayu, bahkan sebelum dirinya tau siapa Ayu sebenarnya.


Rey berulang kali mencoba membenci Ayu, tapi semakin Rey mencoba, cinta kasihnya semakin tumbuh dan sulit ditepiskan. Ayu semakin membuatnya jatuh cinta dan tidak bisa membuat Rey tidak mengakui betapa Ayu sangat berarti dalam hidupnya.


***


Ayu dan Sarah saling memeluk dalam ketakutan. Ayu tidak berhenti berdo'a memohon perlindungan dari orang-orang jahat yang saat ini mengurung mereka berdua.


Krekkkkkk.....


Mendengar derit pintu, tubuh Ayu bergetar ketakutan. Sarah menggenggam erat tangan Ayu agar lebih tenang. Sarah juga sangat takut, terlebih ada janin di dalam perutnya yang harus dia jaga. Tapi Sarah harus menjadi penguat Ayu, dia pasti sangat takut dan bingung.


Kala masuk dengan wajah ramahnya, tapi tetap saja membuat Ayu tidak bisa menahan rasa takutnya. Sarah lebih berani dan terlihat sangat tenang.


Ayu mengusap air matanya yang mengalir begitu saja. Wajahnya tertunduk tidak berani menatap wajah seram Laki-Laki yang menculiknya.


"Kalian harus makan, jangan sampai jatuh sakit." Kala menyodorkan dua bungkus roti beserta air mineral.


Cuihhhh....

__ADS_1


Sarah meludahi wajah Kala yang sangat dekat dengan wajahnya. Deru nafas Sarah bergemuruh, rasanya ingin mencabik wajah Kala.


Kala tersenyum, pemandangan yang membuat Ayu semakin ketakutan melihat dua orang dewasa yang berseteru didepannya.


Kala menarik paksa tubuh Ayu, mendekapnya dalam pelukan Kala. Sarah meringis menahan perutnya yang tiba-tiba saja mengeras. Mungkin karena Sarah terlalu emosi sampai perutnya sedikit bergejolak.


"Kau jangan memaksaku menyakitinya." Kala memainkan pasmina Ayu dengan jari-jarinya.


Air mata Ayu semakin tidak bisa dibendung, nafasnya tersengal-senggal menahan ketakutan. Ayu tidak berani membela diri, hanya ketakutan yang mengisi pikirannya saat ini.


Sarah menarik Ayu kembali dalam pelukannya. Membelai lembut pundak Ayu agar merasa dilindungi. Sarah menatap tajam mata Kala yang memandang nya.


"Jangan menyentuhnya, atau kau akan menyesali perbuatan mu!" Sarah berkata dengan wajah penuh amarah.


"Kita simpan tenaga ekstra kita untuk perjalanan jauh kita. Sekarang isi perut kalian dan jangan membantah." Kala membelai puncak kepala Sarah.


Sarah merasa jijik dan menepis kasar tangan Kala yang menyentuhnya. Sarah tau Kala menginginkan dirinya. Dia bahkan sering mendapat teror dari Kala semenjak mereka bertemu kembali.


Drettt...drettt...dretttt


Kala mengangkat ponsel nya yang berdering. Video Call dari keponakan Kala.


"Hai anak muda." Kala menyapa penuh semangat.


"Paman, aku sudah siapkan tiket yang Paman inginkan. Aku antar kan malam ini." Kala merasa puas karena sedikit lagi rencananya akan berhasil.


"Paman tunggu. Ingat, jangan mencurigakan." Kala memberi peringatan keras.


"Paman, aku mengenal gadis yang ada di belakang Paman." Oji merasa aneh kenapa ada sosok yang sangat mirip dengan Ayu di rumah paman nya.


"Ah, kenalkan. Ini Dokter Sarah. Dia cinta pertamaku, apa kau ingat?" Kala menempelkan pipinya pada wajah Sarah yang dia cengkram.


Ayu masih berlindung di belakang tubuh Sarah yang tinggi besar. Tapi tidak menutupi kenyatan betapa Oji sangat terkejut ada Ayu di sana. Bagaimana bisa Ayu ada di genggaman Kala saay ini.


Oji merasa bodoh dengan perbuatan Kala, bagaimana mungkin Kala dengan mudahnya bisa menculik Ayu. Oji bahkan sangat kesulitan mendekati Ayu selama ini, Malik menjaga nya dengan sangat ketat.


Dia dalam bahaya, kala bukan orang yang mudah memaafkan orang lain dan melepaskan nya begitu saja.


Oji bergegas menyambar jaket dan kunci mobilnya menuju kediaman Kala. Dia harus menyelamatkan Ayu dari genggaman tangan Kala.


Oji sangat syok dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan, otaknya masih mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Ciiiiiitttttt.......


Oji menarik rem tangan secara mendadak. Dia dikejutkan oleh mobil yang dia kenali yang saat ini menghadang jalannya.


Oji membunyikan klakson tanpa henti dengan penuh amarah. Kecelakaan bisa saja terjadi jika Oji tidak dalam keadaan siap.

__ADS_1


__ADS_2