
Malik ada rapat pagi ini dengan para pemegang saham. Aldo sudah menyiapkan semua materi yang dibutuhkan sebagai bahan presentasi Malik nanti. Suasana menjelang rapat dengan para pemegang saham selalu menegangkan, akan ada saja perdebatan yang membuat kepala Aldo rasanya mau pecah.
Aldo masuk ke ruangan Malik menjelaskan apa saja yang sudah dia siapkan dan meminta pendapat Malik apa saja yang perlu di tambahkan. Aldo menjelaskan panjang lebar isi laporan yang ada di tanagnnya. Rera yang berdiri di samping Aldo memperhatikan mata Malik yang berbinar-binar, tapi sepertinya bukan karena laporan yang sedang Aldo jabarkan.
“Al….”Rera berbisik di telingan Aldo. Menggerakkan matanya kea rah Malik yang sedang senyum-senyum tidak jelas. Aldo menggeleng saat tau Malik tidak focus dengan segala jerih payahnya. Melihat ekspresi Aldo, Rera menyesal karena hanya akan menyulut perdebatan di antara keduanya.
“Bos….tok…tokkk…(mengetuk meja), bos….!!!” Suara Aldo memekik sampai Rera terkejut. Malik mendongak, menatap wajah Aldo dan Rera bergantian tanpa rasa bersalah.
“Kenapa Al, kau berisik sekali pagi ini.” Tersenyum tidak jelas. “Kenapa kau marah-marah tidak jelas, awas loh….nanti kamu cepet tua Al.” Malik tersenyum.
“Kau yang tidak jelas, kenapa malah menyalahkanku!” Aldo melotot tanpa sadar.
“Maaf Bos, aku mohon serius sedikit Bos. Ini rapat pemegang saham.” Aldo menekan suaranya agar Malik paham kepanikan yang menyelimuti dirinya.
Malik mengangguk, meraih tumpukan kertas yang ada di tangan Aldo dengan hati-hati. Satu persatu tangannya membalikkan lembar demi lembar setelah membacanya sekilas.
Entah apa yang merasuki jiwanya, dia bahkan tidak marah dengan nada bicaraku yang sangat kasar tadi. Apa dia bertukar jiwa dengan orang lain. Ah tidak mungkin, aku terlalu banyak menghayal. Aldo masih merasa ada yang aneh dengan Malik.
Selesai mengecek semua laporan, Aldo segera mengajak Malik ke lobby untuk menyambut jajaran direksi yang datang pagi ini. Masih dengan senyum yang sangat bahagia di wajah Malik. Aldo sampai takut jika Malik hari ini tidak bisa bekerja dengan maksimal karena jiwanya ada di tempat lain.
Satu persatu peserta rapat datang dengan mobil mewah, pakaian bermerk dengan rata-rata berwarna gelap dan tidak lupa seorang sekertaris pribadi yang mendampingi kemanapun Bos besar pergi. Malik menyapa dengan penuh kegembiraan seperti suasana hatinya pagi ini. Biasanya wajah masam dengan tatapan tajam yang selalu menghiasi wajah tampannya.
Satu orang yang cukup sepuh menghampiri Malik dengan senyum hangat. Nampaknya orang yang cukup akrab dengan keluarga Malik. Beberapa kali menepuk pundak Malik setelah memeluknya, tampak begitu bangga dengan pencapaian yang sudah Malik capai sejauh ini. Perusahaan yang dulu dia besarkan bersama Rama bisa maju pesat saat seorang ahli turut campur tangan dalam pengembangan bisnis di prusahaan.
“Kau sudah sangat besar dan membuatku merasa bangga berada di sini.” Malik berjalan beriringan membantu laki-laki yang begitu menyayanginya. Selama ini Malik banyak mendapat bimbingan darinya saat memulai bisnis yang dia tidak paham seluk beluknya.
Dengan telaten beliau memberikan perhatian dan memberikan pelajaran dengan perlahan. Rama sangat sibuk sampai tidak memperhatikan kinerja putra semata wayangnya. Beliau yang Malik panggil dengan sebutan Paman yang bernama Krisdianto yang selama ini setia memberikan wejangan untuk dirinya.
“Paman yang sudah membimbingku sejauh ini. Lihat perusahaan yang kita bangun bersama, sekarang sudah jadi perusahaan yang patut diperhitungkan di negeri kita sendiri.” Malik tersenyum bangga.
__ADS_1
“Bagaimana kabar istrimu?” Paman Kris berbisik ditelinga Malik. Sontak saja wajahnya bersemu merah merasa bahagia nama wanita yang dia sayangi jadi perhatian Kris.
“Dia sangat baik, kau harus mampir dan mencoba makanan buatannya.” Paman Kris turut bahagia melihat Malik yang begitu bangga dan terlihat sangat bahagia saat menceritakan sosok Ayu istrinya.
“Kau sepertinya sudah jadi pria sejati seperti ayahmu.”Kris ingat bagaimana Rama begitu sering menyanjung istrinya di depan teman-temannya. Bahkan Rama jarag sekali mau di ajak nonkrong sekedar menghilangkan penat setelah bekerja seharian.
“Dia datang ke sini nanti sepulang sekolah. Aku akan kenalkan Paman secara resmi dengannya.”Malik duduk di kursinya setelah membantu Kris duduk di tempatnya yang sudah tersedia.
Setelah semua berkumpul, pintu ruangan pun di tutup. Malik memulai presentasinya dengan membacakan beberapa laporan keuangan, pergerakan saham perusahaan dan juga beberapa peluncuran proyek baru yang nantinya sahamnya akan di perjual belikan. Masih aman, Aldo tidak melihat sedikitpun gerak gerik wajah yang akan berusaha mengkomplain hasil kerja mereka.
“Sepertinya semuanya sudah saya bahas, apa ada yang ingin menambahkan atau mengajukan pertanyaan?” Malik duduk, meraih gelas kopinya yang masih penuh. Meneguknya sedikit membasahi tenggorokannya yang kering.
“Pak Malik” Seseorang berdiri dengan wajah yang tampak ragu dengan apa yang akan dia utarakan.
“Tidak apa, sampaikan saja jika memang itu untuk kebaikan perusahaan.” Malik bersikap santai pada siapa saja. Mencoba menjadi laki-laki yang tidak takut dengan koreksi terhadap dirinya.
“Saya mendengar rumor yang cukup besar, tapi saya masih tidak yakin dengan apa yang saya dengar, dan apakah pantas saya ucapkan di sini.” Dia menatap setiap orang yang ada dan sedang memperhatikan dengan serius. Pria yang Malik tidak terlalu ingat ini terlihat menelan ludahnya beberapa kali. Sepertinya dia sedikit takut mengutarakan isi hatinya.
“Saya dengan Pak Malik menikahi gadis di bawah umur yang masih sekolah SMA Pak.” Tertunduk setelah mengucapkan kegelisahannya, sedikit merasa bersalah karena selama ini Malik memperlakukannya semua klien bisnis nya dengan sangat baik, termasuk dirinya.
Malik berusaha tetap tersenyum. Apa yang mereka khawatirkan memang benar, tapi dirinya tidak akan membawa Ayu dalam bahaya hanya kerena nama baik perusahaan. Tidak semua tau pernikahan Malik, hanya orang-orang kepercayaan saja yang tau tentang pernikahan Malik dan Ayu.
“Saya tidak akan mencampur adukkan masalah pribadi saya dengan pekerjaan dan mempertaruhkan nama baik perusahaan. Saya bisa bekerja dengan profesional.” malik berusaha bersikap tenang. Aldo mulai berkeringat, sudah pernah dia bayangkan kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi.
“Tapi Pak, apa yang Pak Ramdani katakan benar. Saham kita bisa saja turun jika ada skandal seperti ini di jajaran petinggi perusahaan.” Yang terlihat mulai memikirkan kemungkinan yang bisa merugikan perusahaan.
“Skandal!” Malik sedikit berteriak. Matanya menyala membuat siapa saja yang melihatnya merasa takut.
“Bos tolong jangan terbawa emosi, Bos harus tenang.” Aldo berusaha menenangkan Malik agar tidak terbawa emosi. Malik membelakangi semua peserta rapat, mencoba mengatur nafasnya yang sudah mulai terasa berat.
__ADS_1
“Tuan-tuan semua yang hadir di sini saya mohon jangan gegabah menuduh Tuan Malik tanpa bukti. Ini semua bisa kita bicarakan dengan kepala dingin.” Paman Kris mencoba menenangkan semua orang yang saat ini sedang gaduh dengan pikiran dan pendapatnya masing-masing.
“Pak Malik tidak bisa membiarkan kita menerima akibat dari perbuatannya. Dia harus meninggalkan gadis yang masih bau kencur yang sudah menggodanya.” Malik menatap dengan tatapan mematikan, perlahan kakinya melangkah mendekati laki-laki yang bicara sembarangan tentang Ayu di hadapannya.
Malik meraih kerah baju dan mencengkeram dengan kuat, matanya tidak berkedip menatap penuh rasa benci. “Jangan bicara sembarangan, kalian tidak kenal siapa wanita yang saat ini bersamaku.” Semua tercengang. Berarti berita yang simpang siur tidaklah keliru. Malik bahkan mengakuinya dengan mulutnya sendiri di depan umum.
“Jangan pertaruhkan perusahaan hanya demi wanita yang tidak pantas Malik. Kami semua selama ini mengandalkanmu.” Paman Kris akhirnya mmebawa Malik keluar dari ruangan rapat. Bicara dalam keadaan marah tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya akan membuat keadaan semakin tidak terkendali.
“Tolong jangan pikirkan hal yang belum terjadi dan tidak akan terjadi. Biarkan Malik menenagkan dirinya dulu.” Kris kembali menenangkan semua orang agar bersikap tenang.
Malik meneguk air mineralnya sampai habis, kemejanya sedikit basah karena Malik minum dalam keadaan gemetar sampai air tumpah tidak terkendali. Aldo bingung harus bagaimana jika sudah seperti ini, Malik pasti sangat sedih mendengar hujatan para pemegang saham yang tidak mempertimbangkan perasaannya.
“Bos, tolong jangan terbawa emosi karena ucapan mereka. Bos harus tetap tenang menghadapi situasi seperti ini.” Aldo bicara sangat pelan.
Malik mendorong tubuh Aldo sampai kepala Aldo terbentur tembok. Aldo tidak berani mengaduh, Malik terlihat sangat marah padanya. Seharusnya dia diam saja nanti. “Kau bisa diam saja jika wanita yang kau lindungi dan sayangi mereka hina. Mereka boleh menghina saya, tapi jangan coba-coba menyentuh Ayu.” Aldo hanya diam, membuka mulutnya sama saja dengan menyerahkan dirinya untuk di hajar oleh Malik.
“Iya Bos.” Aldo pasrah. “Saya minta maaf Bos.” Malik melepaskan cengkeraman tangannya. Aldo hanya mengutarakan perhatiannya, tapi Malik malah menyalahkannya. Malik merasa bersalah dan merapihkan kemeja Aldo yang berantakan karena ulahnya.
“Aku tidak marah padamu. Maafkan aku Al.” Bibir Aldo teangkat sedikit. Sejak kapan Malik jadi orang yang mau mengakui kesalahannya seperti ini. Dia biasanya akan bersikap arogan tanpa memperdulikan perasaan orang lain.
Malik kembali memasuki ruangan rapat setelah mampu menguasai emosinya. Malik duduk dengan tenang diantara para peserta rapat yang saat ini juga sudah tenang. Tidak ada lagi keributan, tapi suasana jadi canggung.
Aldo menutup acara hari ini dengan ringkasan isi rapat yang sudah dia buat dengan baik. Semua mengangguk merasa puas dengan hasil rapat hari ini. Tapi masih menyisakkan kemarahan melihat Malik yang gegabah dan tidak berhati-hati dalam bertindak, mengingat dia punya tanggung jawab besar akan keberlangungan perusahaan yang saat ini dia pimpin.
“Kami hanya ingin menambahkan sedikit Pak Malik, kami mohon agar apa yang menjadi keresahan kami tidak sampai mempengaruhi kinerja bapak menjadikan perusahaan yang bapak pimpin selalu bisa kami banggakan.” Paman Kris menyampaikan isi kesepakatan yang beliau buat dengan para pemegang saham lainnya.
“Saya tidak mungkin membahayakan keduanya. Saya akan lebih hati-hati.” Paman Kris tersenyum bangga, ternyata Malik mampu meredam emosinya yang sempat memuncak menguasai dirinya. Dia sudah jadi pria dewasa yang penuh tanggung jawab.
“Paman, mari saya kenalkan dengan wanita kesayanganku. Mereka tidak berhak menghinanya.” Malik cemberut. Kris meraih tangan Malik membantu dirinya berjalan.
__ADS_1
“Setiap masalah datang dengan penawarnya, jangan panatang menyerah. Buktikan kalauapa yang kita takutkan tidaklah benar.” Bicara dengan santun.
Setibanya di kantin perusahaan, sudah ada Ayu yang ditemani Pak Dodo sedang menikmati puding coklat kesukaannya. Ayu buru-buru membersihkan tangan dan mulutnya saat melihat Malik berjalan mendekat padanya. Ayu tidak bisa menghindari tatapan mata Malik karena Malik berjalan bersama laki-laki sepuh yang tersenyum ramah pada dirinya.