Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 39 (Kepentok)


__ADS_3

Malik terlihat santai duduk diruang tamu saat Ayu keluar dari kamar. Ayu memberanikan diri menegur Malik yang terlihat sangat serius dengan laptop nya setelah mondar mandir keluar masuk kamar.


“ Kak Malik” Ayu tersenyum dengan wajah pucatnya yang masih saja belum hilang.


“Kau sudah bangun, duduklah” Malik menepuk sofa agar Ayu duduk disebelahnya. Ayu tampak ragu,dan memandang Malik dengan wajah yang terlihat sedikit khawatir.


“Baiklah, duduk dimanapun Ayu mau” Malik memahami maksud dari tatapan mata Ayu. Gadis desa ini memang sangat menjaga dirinya.


“Kak, dimana semua orang?” Ayu mengedarkan pandangan dan tidak menemukan siapapun disana. Hanya tersisa dirinya dan Malik.


“Adam dan Sarah sudah pulang. Mereka mau liburan panjang selama beberapa hari, dan Mamih dapat panggilan darurat dari Ayah” Malik menyandarkan tubuhnya disofa. Badan nya pegal-pegal karena seharian terlalu banyak bergerak kesana kemari. Ayu hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Malik.


“Ayu mau pamit ya Kak. Ayu pasti sudah membuat Kak Rey khawatir.


Seharusnya Ayu memberi kabar kalo hari ini tidak bisa masuk kerja Kak” Malik


mengeryitkan dahinya. Selama ini Malik hanya tau sahabatnya Jofan dan Oji sang penggemar. Tidak ada laki-laki lain yang dekat dengan Ayu.


“Siapa Kak Rey?” Malik penasaran. “Apa dia sahabat Ayu?” Malik menatap Ayu tajam, ada sedikit rasa cemburu yang mencubit hatinya.


“Buka Kak. Kak Rey itu pemilik restaurant tempat Ayu kerja. Dia orang yang sangat baik, Kak Rey mau menerima Ayu dan membimbing Ayu mempelajari semuanya” Mata Ayu tampak berbinar mengingat kebaikan Kak Rey.


Malik semakin cemburu dibuatnya. Dirinya dikalahkan oleh sosok Kak Rey yang baik hati. Malik tidak rela, dia berencana menemui Kak Rey dan membuat perhitungan. Otak nya sedang berpikir apa yang harus dia lakukan.


Sampai-sampai segala perkataan Ayu tidak didengarnya.


“Kak....Kak...Kak Malik” Ayu heran karena Kak Malik terlihat melamun dan tidak mendengarkannya. Ayu iseng melempar Malik dengan bolpoint yang ada diatas meja.


“Awww....(lemparan Ayu mendarat tepat di dada bidang malik)” Malik tersadar, sedari tadi dia sedang berkhayal jika dirinya bertemu dengan Kak Rey yang menjadi saingannya.


“Maaf Yu (Malik tersenyum), makan dulu sebelum pulang” Malik berdiri dan mengajak Ayu keruang makan.

__ADS_1


Mata Ayu terbelalak melihat makanan yang begitu banyak diatas meja. Bagaiman mungkin tubuh sebagus dan seatletis itu makan begitu banyak.


Tatapan Ayu berakhir diwajah Malik setelah selesai memandang setiap makanan yang tersaji dan disusun rapi diatas meja makan.


Malik hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tatapan Ayu sudah membuat harga dirinya hancur. Malik tau maksud dari tatapan tajam Ayu pada dirinya. Malik membalas tatapan Ayu dengan tersenyum kecut.


Flash Back


Tangan Malik sibuk mengotak atik handponenya berselancar didunia maya mencari rekomendasi makanan-makanan enak yang bisa memulihkan kesehatan lambung dengan cepat.


Adam memberi tahu Malik bahwa Ayu selama ini tidak makan dengan benar. Lambung nya sedikit bermasalah dan membuat daya tahan tubuhnya mudah sekali drop.


“Nak, kamu sedari tadi sibuk sekali dengan handpone kamu. Sedang cari apa? Tidak sedang cari gaun pengantin kan?” Mamih mengedipkan matanya. Dia sangat senang menggoda anak semata wayangnya.


“Tidak, sebentar lagi aku akan mencari gaun pengantin, tapi tidak sekarang” Senyum Malik mengembang membuat Mamih bergidik ngeri.


“Mih, coba lihat. Apa Ayu akan suka dengan makanan ini?” Malik menyodorkan handponenya.


“Ini enak sepertinya, yang ini juga enak. Pasti Ayu akan suka!!! (Mamih membolak balikkan slide demi slide yang ada dilayar ponsel)” Mamih menyodorkan ponsel pada pemilinya.


“Memang kamu tau selera Ayu seperti apa?” Mamih berkacak pinggang dihadapan anaknya. Dia yakin kali ini keputusannya tidak akan salah.


Terlihat Malik berpikir sejenak. Ada benarnya juga yang dikatakan Mamih, kalo Ayu tidak suka bagaimana? Apa aku ikuti saran Mamih saja yah?


“Ok, kita pesan semua makanan yang enak-enak ini” Tangan Malik dan Mamih dibenturkan, pertanda keduanya setuju dan sepakat.


Tidak lama makanan pun datang, Malik memesannya secara deliveri. Setelah menyusun makanan dengan rapih, Malik dan Mamih kembali duduk disofa menunggu Ayu bangun.


Kring....kring...kring


“Hallo Ayah?” Mamih lupa jika sekarang sudah waktunya suami tercintanya pulang. Mamih menepuk jidatnya dan dengan terburu-buru lari meninggalkan Malik.

__ADS_1


Malik sudah hapal betul Mamih melakukan kesalahan fatal saat ini. Sudah bisa dipastikan dia akan menerima hukuman saat bertemu dengan sang suami tercinta. Malik hanya bisa memandang punggung Mamih yang sudah menghilang dibalik pintu.


Ayah Malik tidak pernah suka jika saat pulang kerumah tidak menemui istrinya. Dia akan sangat marah dan akan menghukum istrinya dengan berbagai cara.


Sudah lama Mamih tidak melakukan kenakalan yang membuat suaminya marah, tapi kali ini Mamih terlalu asik dengan asmara anaknya. Mamih jadi lupa tugas utamanya dan mengabaikan jam sakralnya dan masih berada diluar rumah.


Flash Back Off


“Ayu duduk disalah satu kursi berhadapan dengan Malik” Ayu mulai memilih makanan yang menurutnya menarik dan belum pernah dia coba.


Malik lega karena tidak ada protes dari Ayu. Hanya tatapan matanya saja yang membuat Malik drop dan kehilangan kepercayaan diri.


Keduanya fokus menghabiskan makanan di piring masing-masing. Tidak ada obrolan sampe tiba-tiba saja Ayu menjatuhkan sendoknya.


Prankkk.....


Ayu langsung saja berjongkok mencari sendoknya. Saat akan berdiri, Ayu tidak memperhatikan ujung meja yang ada ditatas kepalanya.


Dug...


Malik langsung berjongkok mendengar benturan yang cukup keras. “Kau baik-baik saja” Malik membantu Ayu berdiri.


“Hehehehe....(Untuk kesekian kalinya Ayu melakukan hal bodoh didepan Kak Malik)” Ayu mengusap kepalanya yang berdenyut akibat benturan yang cukup kuat.


Malik menyodorkan air putih. Dia merasa syok melihat Ayu terbentur cukup keras, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Ayu tidak akan mau disentuh olehnya.


“Kau baik-baik saja? Kenapa kamu ceroboh sekali? Apa perlu kita periksakan? Kalo ada pendarahan didalam bagaimana?” Malik meberondong Ayu dengan banyak pertanyaan.


Ayu hanya tersenyum, laki-laki dihadapannya ini sepertinya tidak pernah kepentok meja. “Tidak kenapa-napa Kak” Ayu mencoba menenangkan Malik.


“Ini hanya sakit saja, tidak akan pendarahan” Ada senyum di bibir Ayu.

__ADS_1


“Kenapa kamu tersenyum” Malik duduk berjongkok dihadapan Ayu. “Jangan main-main, aku tidak mau kamu terluka walaupun hanya sedikit” Netra Malik sedikit berkaca-kaca.


“Kak, ini tidak kenapa-napa. Ayu baik-baik saja Kak” Ayu mencoba memberikan pengertian pada Malik. Tapi muka Kak Malik tetap tidak berubah, raut khawatir tergambar jelas disana.


__ADS_2