Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 173 ( Otak Kotor Ayu )


__ADS_3

Ayu bangun dengan suasana hatinya yang penuh kebahagiaan. Dia menyaksikan bagaimana dua sejoli yang sedang kasmaran, dan memenukan bingkisan besar yang isinya penuh dengan makanan kesukaannya. Ada note yang membuat kebahagiaannya terasa berlipat ganda.


“Makan dan nikmatilah, seolah setiap suapan adalah bentuk cinta kasihku padamu. Aku mencintaimu, jangan lupa untuk mencintaiku.” Penuh dengan gambar hati.


Mentari bersinar seolah tau suasana hati Ayu pagi ini. dengan langkah yang ringan Ayu berjalan meuruni anak tangga perlahan, terlihat Ferdinan yang sedang menikmati teh hangat buatan Ana. Ada senyum hangat yang menyambutnya, Jofan begitu menunggu adik yang dia sayangi bangun.


Jofan merentangkan kedua tangannya. Ayu tersipu malu dengan sikap Jofan, masih perlu penyesuaian. “Kau tidur dengan nyenyak?” Ayu mengangguk. Membalas pelukkan Jofan meski rasanya canggung. “Kenapa menatapku seperti itu.” Merasa aneh dengan tatapan mata Ayu.


“Aku melihatmu dan Sandra semalam.” Berbisik ditelinga Jofan. Jofan merasa terkejut. Bagian mana yang dia maksud. Apa dia melihat aku mencium Sandra. Jofan tersenyum getir. Ayu mengangguk dengan senyum nakalnya membuat Jofan menggertakkan giginya.


“Jangan katakana apapun. Mereka semua sedang melihat kita sekarang.” Ayu melepaskan dirinya dari Jofan saat melihat dirinya sedang di tatap penuh rasa penasaran. Ana dan Ferdinan saling tersenyum merasa ada yang mereka berdua sembunyikan.


“Kak Ana, aku sangat lapar.”Ayu mencoba mengalihkan perhatian semua orang. Ana menyiapkan nasi goreng udang yang dia masak pagi-pagi sekali.


Satu minggu ini Ana sangat sibuk mempersiapkan pernikahannya. Banyak yang harus dia bereskan sehingga pagi-pagi sudah masak. Ana sangat cekatan, dia tidak terbiasa bermalas-malasan sampai Rey kadang memarahinya karena terlalu memaksakan diri dalam pekerjaan. Dia melukis, mengurus restaurant dan mengurus Rey dan keluarganya dengan baik. Ana tidak pernah mengeluh, Rey sangat mencintai apapun yang Ana masak untuknya meski masakannya lebih enak dari masakan Ana. Baginya yang dibuat dari Ana adalah yang terbaik.


“Aku tidak melihat Kak Rey. Apa dia sudah pergi Kak.” Ana yang sedang mengunyah makanan hanya mengangguk. “Apa hari ini jadwal belanja bahan makanan?” Jofan merasa bukan, tapi iseng saja bertanya.


Ana menggeleng. “Kak Rey tidak pergi belanja, ada tamu special hari ini yang akan reservasi untuk makan siang. Jadi….” Jofan menggeleng paham. Rey masih saja sibuk kerja sampai Ana mengurus banyak hal seorang diri.


“Yu, tolong bangunkan Sandra.”


Uhukkkk…..uhukkkk…uhukkkk…..


Ayu tersedak air putih yang dia teguk. Pikiran kotornya melayang kemana-mana memikirkan apa yang terjadi setelah mereka berciuman. Ayu bergidik tidak percaya. Mata tajamnya menatap Jofan tanpa berkedip.


“Awww…..” Jofan menyentil jidat Ayu. Dia tau saat ini adiknya sedang memikirkan adegan mesum. Dia pasti tau karena sudah menikah. “Sakit….” Ayu mengusap jidatnya yang sedikit merah. Ferdinan hanya tersenyum memeprhatikan keduanya.


“Jangan isi otakmu denga hal-hal kotor.” Ayu meringis, ternyata bukan hanya Malik yang padai membaca pikirannya. Jofan juga sama. “Cepat, kita bisa terlambat pergi ke sekolah hari ini.” Ayu bergegas menuruti perintah Jofan.


Tuan Putri Sandra masih terlelap. Ayu duduk di tepi ranjang memperhatikan wajah Sandra dengan intens. Sandra bahkan tersenyum dalam tidurnya, mereka benar-benar tidak bisa di biarkan. Mulut Ayu berdecak membayangkan apa yang mereka lakukan berdua di dalam kamar tanpa pengawasan. Seharusnya dia tidak tidur dan memastikan ini tidak terjadi.

__ADS_1


Duarrrrr…..


Ayu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Sandra yang terbungkus selimut. Sandra terperanjat kaget dengan suara teriakan Ayu. Ayu tertawa puas karena ulahnya berhasil membuat Sandra tersadar dari mimpinya. Ayu menarik selimut yang masih menutupi tubuh Sandra. Tertawa dengan puas tanpa merasa bersalah.


“Kau mau tidur sampai kapan! Cepat bangun!” Sejenak keduanya lupa jika saat ini mereka sedang tidak saling bicara. “Aku melihatmu…..” Ayu mengadu kedua jari-jari tangannya yang dia rekatkan. Sandra berpikir apa maksudnya. “Iya….” Mengangguk sambil melakukan adegan berulang-ulang. “Kau ini susah sekali tidak bisa berpikir…..” Ayu menarik tubuh Sandra. “Aku melihat kalian berciuman!!!” Sandra membekap mulut Ayu.


“Tututp mulutmu.” Sandra lari menutup pintu, dia tidak mau orang lain tau kekacauan yang sudah dia lakukan. Karena terburu-buru Sandra tidak tau Jofan berdiri di depan pintu.


Dugggg…..


Sandra terpental karena pintu kembali terbuka cukup keras setelah dia tutup. Jofan mencoba menahan pintu agar tidak menghantam tubuhnya tapi malah membuat Sandra terjatuh. Jofan ingin tertawa tapi juga merasa bersalah.


“Kau kenapa tidak hati-hati.” Jofan mengangkat tubuh Sandra yang masih membeku di atas lantai menahan rasa malunya. “Apa ada yang sakit.” Jofan memeriksa dengan teliti. Ayu sampai tidak percaya melihat adegan romantis saat dirinya jauh dari Malik.


“Cepet, nanti kita terlambat.” Ayu meninggalkan keduanya dengan wajahnya yang kesal dan lirikkan tajam kedua matanya. Bisa-bisanya mereka tidak melihat kehadiranku.


“Sekarang kamu mandi, kita berangkat sebentar lagi.” Sandra segera meraih pakaian sekolah yang Ayu siapkan. Hari ini dia meinjam seragam Ayu untuk pergi ke sekolah. Jofan mencuri-curi kesempatan mencium pipi Sandra. Sandra yang terkejut langung memukul tangan Jofan cukup keras.


Jofan tertawa saat melihat tingkah Sandra, segera Jofan menyusul Ayu ke ruang keluarga. Suasana rumah kembali ramai karena Ayu melompat kegirangan saat Malik dan Aldo datang pagi-pagi ke rumah Jofan.


“Yeayyy….Kak….kalian datang di waktu yang tepat. Ada berita hot yang harus kalian deng….” Jofan membekap mulut Ayu yang pasti akan menceritakan adegan yang dia lihat semalam. Malik menahan tangan Jofan karena kasian melihat Ayu di bekap.


“Jangan bicara sembarangan. Hahahahah….” Jofan tertawa menutupi kecanggungannya. Malik menarik Ayu ke pelukannya. Tidak membiarkan Jofan menahannya lebih lama. Apa seperti itu seorang kakak memperlakukan adiknya. Malik melotot ke arah Jofan yang masih mengancam Ayu dengan tatapannya.


“Jangan menyakitinya.” Ayu merasa Malik salah paham. Semua yang terjadi tidak seperti kelihatannya. Ayu menggeleng.


“Kakak salah paham, aku tidak menyakitinya.” Jofan geram melihat Ayu masih berlindung di bawah ketiak Malik tanpa rasa bersalah. “Cepat jelaskan.”


Ayu tersenyum puas sambil menjulurkan lidahnya.


“Aku rindu Kakak.” Ayu merengek seperti anak kecil, Jofan tidak habis pikir Ayu dengan sikapnya yang konyol mempermainkan perasaannya.

__ADS_1


“Sekali lagi kau menyentuhnya!” Malik menggorok lehernya sendiri dengan ibu jarinya, Jofan bergidik ngeri dengan kelakuan Malik yang bucin pada adiknya.


“Jangan macam-macam.” Malik membawa Ayu ke meja makan. Dia bawa sarapan kesukaan Ayu hasil kerja kerasnya.


Ayu menelan ludahnya berulang kali. Perutnya penuh dengan nasi goreng buatan Kak Ana, tapi menolaknya pasti akan sangat menyakiti perasaan Kak Malik yang sudah bekerja keras membuatnya. Ayu duduk berpura-pura menikmati apa yang Malik lakukan.


“Kak, kau sangat pengertian. Ayu sangat lapar sejak pagi. Untung Kakak bawa banyak makanan.” Tersenyum puas.


“Benarkah, kau keterlaluan membuatnya kelaparan.” Malik menyendok porsi makan Ayu dua kali lipat.


“CUKUP!!!!” Sendok sayur yang Malik pegang terpental karena terkejut. “Hahahaha….” Tertawa karena suaranya sendiri. “Maksudku tidak baik makan terlalu banyak pagi-pagi begini Kak.” Suaranya berubah jadi lembut. Malik menggeleng, dia biasanya habis berapapun Malik menyendokkan makanan ke piringnya. Malik memiringkan kepalanya merasa heran.


Jofan terkekeh melihat Ayu tidak berdaya karena ulahnya. Ayu mengunyah sedikit demi sedikit makanan yang sangat enak tapi perutnya sudah menolak. Ana yang baru turun dari lantai dua menyapa Malik yang sedang memandangi wajah Ayu.


Dengan segera Ayu memindahkan makanan dari piringnya ke tempat Aldo. Ayu melotot agar Aldo tidak bicara dan tetap diam. Malik tidak tau karena sedang bicara dengan Ana. Aldo menolak tapi percuma tangan Ayu sangat cepat.


"Loh....kamu masih lapar Al? Padahal tadi kamu makan sangat banyak di rumah."


Malik menggelengkan kepalanya. Aldo meringis memamerkan giginya yang tersusun rapih.


Uhukkkk.....uhukkkk...uuuuhukkkkk.....


Ayu terbatuk tidak percaya, ternyata Kak Aldo juga sudah sarapan. Ayu tidak berani menatap wajah Aldo. Dia pasti sangat kesal karena Ayu memintanya makan makanan miliknya. Ayu menunduk masih berusaha menghabiskan sisa makanan yang ada di piringnya. Malik dengan perhatian menyodorkan air putih pada Ayu saat mendengarnya terbatuk-batuk.


Jofan menikmati makanan buatan Malik yang cukup enak. Ternyata dia bisa juga di andalkan sebagai suami. Dia sangat perhatian juga pada Ayu dan teman-teman nya selama ini. Jofan turut bahagia.


"Sandra juga di sini!" Sapa Malik saat melihat Sandra keluar dari kamar Jofan. Sandra tersipu malu. Takut ada yang tau kejadian semalam selain Ayu. "Ayo temani Ayu sarapan San." Wajah Malik yang tampan memporak porandakan hati Sandra. Sandra menurut saja dan duduk di sebelah Malik.


"Kak Malik yang masak?" Malik mengangguk, semakin bersemangat untuk makan. Jofan cemburu melihat Sandra tersenyum begitu manis pada laki-laki lain. Sandra tidak tau ada yang cemburu. "Selamat makan!!!!" Suasana rumah semakin ramai.


Ferdinan seakan hidup kembali dengan penuh semangat. Rumahnya yang sudah lama sepi kini hidup dan dipenuhi kebahagiaan. Ferdinan bersyukur diberi kesempatan menikmati masa tuanya penuh dengan cinta kasih. Tidak ada penyesalan saat ini, kesalahannya di masa lalu sudah Ferdinan lepaskan, dia bersyukur punya putri yang sangat pintar terlahir ke dunia.

__ADS_1


__ADS_2