
Jofan yang melihat ketiga sahabatnya diam terpaku merasa sangat terpukul. Diambilnya semua buku-buku Ayu yang berserakan basah kuyup dan tasnya.
“San, boleh antar Ayu Pulang?” Jofan memegang bahu Sandra supaya segera sadar dari kekagetannya melihat peristiwa yang sangat menyakitykan.
“Ok” Sandra menggenggam tangan Ayu yang masih meratapi kesialannya hari ini.
“Ayo Mel, kita anter Ayu pulang”. Melani tidak bisa berkata-kata, matanya menatap sendu pada Ayu yang berkali-kali mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan.
“Mas Jofan, buku-buku aku gimana?”. Ayu berbalik menyadari kalau buku-bukunya masih berserakan dan sebagian sudah ada di tangan Jofan.
“Tenang saja, aku akan bereskan. Besok aku akan bawa lagi buku-bukunya”. Jofan membalas pertanyaan Ayu penuh dengan kelembutan.
Jofan memiliki hati yang sangat lembut saat dia sudah menyayangi seseorang. Kehadiran ketiga sahabat nya membuat hari-harinya yang selama ini tidak berwarna menjadi lebih hidup. Jofan merasa menjadi bagian penting dalam kelompoknya.
“Tapi Fan......itu basah semua”. Melani berbicara pelan takut menambah kesedihan di hati Ayu.
“Tenang saja, percaya saja padaku”. Jofan mengulas senyum yang mendamaikan hati ketiga sahabatnya.
“Pulanglah, jaga mereka ya San”. Jofan mendorong Melani dan Ayu supaya segera pergi.
***
Jofan berjalan menuju ruang CCTV sekolah yang ada di lantai 1 dekat dengan kantor kepala sekolah. Kakinya melangkah penuh dengan kebencian, sahabat nya berulang kali mendapatkan perilaku yang tidak baik. Dan Ayu yang paling lemah diantara ketiga sahabatnya.
“Tok....Tok...Tok...”. Jofan membuka gagang pintu dan memasuki ruangan CCTV yang di jaga oleh petugas.
“Permisi Pak, saya mau cek CCTV di toilet perempuan lantai 1 Pak”. Jofan langsung to the point ke inti permasalahan.
“Ada apa memang nya mas Jofan?” petugas megenali Jofan karena Jofan merupakan anak kepala sekolah yang juga memiliki saham di sekolah tersebut.
“ Ada yang tidak sopan mengerjai sahabatku”. Jofan meletakkan buku-buku dan tas Ayu yang basah di meja petugas.
__ADS_1
Petugas mulai memainkan jari-jarinya mencari Rekaman CCTV yang dimaksud Jofan.
Rahang Jofan mulai mengeras, tangannya terkepal menahan amarah. Gadis-gadis remaja yang dilihatnya dilayar CCTV tidaklah asing. Mereka sering menggoda Jofan meskipun tidak direspon oleh Jofan.
“Terimakasih pak”. Jofan menyambar buku-buku dan tas Ayu dari atas meja.
***
“Lissa, kalo kita ketahuan ngerjain Ayu, Kita bisa kena masalah gak Lis?”. Karla.
“Tenang aja, Ayu kan orang gak punya, dia gak akan berani cari masalah sama kita”. Jawan Lissa sambil ngos-ngosan karena sedang berlatih cheerleader.
Brukkkk....
Sekelompok gadis yang sedang berlatih terjinggat kaget menerima lemparan tas dan buku-buku yang basah.
“Lis, itu kan Jofan”. Louisa berbisik di telinga Lissa.
Tidak ada yang bergeming, mereka hanya menunduk tidak berani menatap ke arah Jofan. Lissa yang ada di belakang mencoba mengumpulkan keberaniannya maju menghadapi Jofan.
“Jofan, jangan salah faham. Kami hanya bercanda”. Lissa memaksakan senyumnya.
“Jangan sok akrab, aku tidak kenal kalian”. Jofan menjauhi Lissa yang mendekat ke arahnya sok akrab.
“ Jika kalian tidak minta maaf, kalian akan menyesal”. Jofan meninggal kan mereka semua membawa buku-buku dan tas Ayu yang berserakan.
“Aku tidak akan minta maaf”. Lissa berteriak dan berhasil menghentkan langkah Jofan.
“Jangan berpikir kalo kita akan berbaik hati pada anak itu”. Jofan berbalik dan setengah berlari menghampiri Lissa.
“Jangan macam-macam dengan ketiga sahabatku. Jika kau tidak mendengarkan, kamu akan menyesal seumur hidup karena sudah berurusan denganku”. Jofan mencengkeram lengan Lissa dengan sangat kuat.
__ADS_1
Lissa menghempaskan tangan Jofan yang menyakiti bahunya. Dia tidak berani membalas perkataan Jofan. Dia hanya memandang punggung jofan yang sudah berjalan pergi meninggalkan ruang latihan.
***
“Yu, kamu baik-baik saja?”. Melani memeluk Ayu sambil berjalan. Ayu hanya membalas senyum karena tidak karuan menahan perasaannya.
“kita makan dulu ya sebelum pulang, aku tau tempat makan yang enak di dekat sini”. Sandra mencoba mengalihkan perhatia Ayu. Mereka saling menyayangi satu sama lain seperti saudara.
Ayu hanya menurut mengikuti kedua sahabatnya. Tidak tau mau berbuat apa, dia merasa sangat tertindas dan tidak di hargai.
Meraka bertiga memilih makan Mie Ayam kesukaan Sandra. Melani menikmati makanannya dan melupakan masalah yang sedang terjadi. Sandra memperhatikan Ayu yang hanya memainkan sendoknya dengan tatapan kosong.
“Yu, kamu gak suka yah?”. Sandra menyadarkan Ayu dari lamunannya.
“Suka San......”. Sandra tau Ayu hanya berpura-pura baik-baik saja.
"Aku ke toilet sebentar ya San, aku pengen pipis”. Ayu berdiri meninggalkan Melani dan Sandra.
“Mel, Ayu gak baik-baik aja Mel. Kita harus gimana?”. Melani yang sudah memasukkan Mie ke dalam mulutnya menumpahkannya kembali mengingat apa yang sedang mereka alami.
“Ih.....Jorok banget lw Mel”. Sandra setengah berteriak melihat kelakuan Melani.
Di dalam toilet Ayu menumpahkan air mata yang sedari tadi di tahannya.
Tangannya menahan mulutnya agar tangisannya tidak terdengar oleh orang lain.
Hatinya sakit, ternyata tidak mudah menjalani kehidupan ditempat asing. Banyak teman dan banyak juga lawan.
Setelah puas menangis, Ayu membereskan kerudungnya yang berantakan. Tangannya sibuk menghapus sisa-sisa air matanya.
“Huh.....”. Ayu menghela nafas panjang. Mencoba mengumpulkan energi yang sempat merosot menghilang agar terkumpul kembali.
__ADS_1
Sandra melihat Wajah Ayu yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ada senyum terpaksa tapi lebih tulus. Ayu memang hebat, didepan Sandra, dia sangat kuat. Tidak pernah menyerah dan tidak pernah marah berlarut. Hatinya mudah sekali memaafkan kesalahan orang lain.