Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 38 ( Jofan Khawatir )


__ADS_3

Hari ini Malik tidak membiarkan Ayu pergi, dia khawatir Ayu akan kembali drop jika dipaksakan bekerja. Malik sudah mendapatkan laporan bagaimana keadaan Ayu saat ini dari sang asisten Aldo.


Ada kesedihan mendalam dalam diri Malik, tidak banyak yang bisa dia perbuat. Ditambah lagi gerak-geriknya saat ini di awasi Ayahnya. Jika Ayah tau Ayu ada bersamanya, akan banyak hal menegangkan yang bisa menimpa Ayu kapan saja.


Malik kenal betul bagaimana sifat Ayahnya, dia tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Hanya sekali dalam hidup Malik melihat Ayahnya mengalah, hanya pada Mamih saja. Selebihnya orang lain yang akan tunduk pada setiap perintah dan keinginannya.


Banyak hal yang Malik korbankan untuk menghindari perseteruan. Tiap kali berdebat, Malik akan meninggalkan rumah dan lebih memilih tinggal di apartmennya.


Seperti satu minggu ini, Malik sengaja menghindari rumah karena Ayah masih bersikeras menjodohkannya dengan anak dari rekan bisnisnya.


***


“ Yu, Mamih baru lihat anak Mamih mati-matian membela dan merawat kamu. Selama ini Mamih menjodohkan dia dengan banyak gadis. Tau kau apa jawaban dia?” Mata Mamih membulat menatap Ayu. “Malik bilang tidak tertarik dengan mereka” Tangan Mamih sibuk mengupas apel yang dia beli dalam perjalanan mencari obat.


Ayu hanya tersenyum, dia teringat akan kehangatan Ibunya saat Ayu sakit. Ayu bahagia karena ada banyak Ibu-Ibu didunia ini yang sangat mencinta anak-anak mereka.


Ayu tidak terlalu paham arah pembicaraan Mamih dengan dirinya, tapi sesekali mamih tersenyum hangat kearah Ayu. Seolah mengisyaratkan jika Mamih sangat menyayanginya. Ayu kegeeran karena sikap Mamih sangat hangat padanya. Dalam benak Ayu tidak mungkin juga orang setampan Kak Malik dan sekeren dia mau bersanding dengan Ayu yang masih anak bawang.


Ayu sudha menghubungi Kak Rey untuk ijin tidak masuk kerja, tubuhnya memang dalam kondisi yang kurang sehat. Jika dipaksakan Ayu takut malah akan merepotkan banyak orang.


Selesai makan buah yang dikupas Mamih, Ayu kembali memejamkan matanya. Badannya terasa lemas dan tidak bertenaga.


Malik berlari melihat Mamih yang sudah kembali keluar dari kamar Malik. “Apa Ayu sudah baik-baik saja?” Malik memeluk Mamih sambil berjalan, dia memang sangat romantis dengan Mamih. Sikapnya penyayang dan lembut dengan Mamih, itu karena Mamih selalu jadi sosok yang selalu mengerti apa yang Malik inginkan.


Mamih tidak menanggapi, dia tau Putranya saat ini sedang keganjenan karena ada gadis yang dicintainya. Mamih hafal betul sikap Malik yang manis padanya karena rasa sayang dan terimakasih yang tidak bisa diungkapkan.


“ Mandilah, kamu sangat bau” Mamih menggoda Malik dengan menutup hidungnya dan menyipitkan matanya. “ Ayu tidak akan suka dengan laki-laki yang jorok” Mamih melanjutkan kegiatannya yang akan membersihkan dapur putranya yang tinggal sendiri di apartmen.

__ADS_1


Malik terpancing, dia menarik kaosnya dan mencium dengan dalam. “Tidak bau, Mamih menggodaku?” Malik malu karena berhasil dikerjai Mamih. Dia tau kalo dirinya laki-laki yang menjaga kebersihan dan selalu wangi dalam setiap keadaan.


Malik melangkahkan kakinya kekamar, dia ingin memastikan keadaan Ayu. Saat sampai dikamar, Malik melihat Ayu yang sedang tertidur pulas. Terukir senyum dibibir Malik, dia berkhayal kalo pemandangan ini akan dilihatnya setiap hari dan setiap saat.


Hatinya sudah terpaut jauh mencintai Ayu, entah apa yang sudah Ayu lakukan padanya. Rasanya begitu dalam rasa sayang dan rasa cinta Malik pada Ayu.


***


Sudah siang, saat ini Jofan terlihat gusar menunggu Ayu yang tak kunjung datang. Dia berkali-kali menanyakan keberadaan Ayu pada Kak Rey. Padahal Jofan sudah tau jawabannya kalo Kak Rey juga sama dengan dirinya, tidak tau dimana Ayu berada.


Saat mendapatkan pesan dari Ayu, Rey langsung saja menghampiri Jofan yang sedari tadi terlihat mondar-mandir keluar masuk dan berjalan menyusuri setiap ruang direstaurant. Hal itu membuat kepala Rey pusing karena jadi tidak fokus.


“Pulanglah, Ayu tidak enak badan dan tidak bisa masuk hari ini” Kak Rey menyodorkan Handpone nya kearah Jofan.


“Apa Kak Rey tau dimana dia tinggal?” Terakhir kali dia ingat Ayu membicarakan soal kepindahannya dari tempat Mbak Murni. Jofan semakin tidak tenang memikirkan Ayu yang sakit dan tidak ada siapapun yang merawatnya.


Kak Rey sama seperti Jofan, dia menyayangi Ayu seperti mereka menyayangi Arumi. Sikap dan kepolosan Ayu yang penyayang, pemaaf dan cantik sama seperti Arumi yang mereka kenal.


“Apa tidak ada nomor yang bisa dihubungi” Jofan masih penasaran dan memikirkan cara menemukan keberadaan Ayu.


“Nomor yang terakhir Ayu pake tidak bisa dihubungi, sepertinya handpone dalam keadaan mati” Kak Rey sudah mencoba berbagai cara untuk tau keadaan Ayu. Tapi usaha nya sia-sia, dia merasa bersalah selama ini tidak memperhatika setiap karyawannya dengan baik.


“Jadi tidak ada yang bisa kita lakukan?” Jofan marah pada dirinya sendiri, dia ingat bagaimana adiknya seorang diri menyembunyikan penyakitnya. Bahkan kedua orang tuanya tidak tau jika selama ini Arumi sakit keras.


Arumi yang masih kelas 1 SMP mengetahui kalo dirinya sudah tidak sehat, tapi karena tidak mau merepotkan semua keluarganya, dia memutuskan untuk tidak memberitahu siapa pun saat dia dalam keadaan sakit. Arumi memiliki sakit lambung yang kadang membuatnya sampai pingsan menahan sakit.


Setelah meninggal, barulah keluarganya menyesal karena selama ini menyia-yiakan anak perempuan mereka yang sangat cantik dan baik hati.

__ADS_1


Orang tua Jofan sudah berpisah sejak Arumi berusia 1 tahun, entah apa yang menyebabkan mereka bercerai. Arumi dan Jofan menjadi anak-anak yang tumbuh dengan kasih sayang yang tidak utuh. Hal itu menyebabkan Jofan menjadi anak laki-laki yang dingin dan sulit bergaul.


Jofan masih terduduk lemas memikirkan bagaimana keadaan Ayu saat ini. Dalam kegundahannya, Jofan ingat kedua sahabatnya.


Tut...Tut...Tut...


“ Iya Fan, aku lagi didapur” Terdengar Sandra sangat sibuk dengan hari minggunya. Jofan hanya mendengarkan saat sahabatnya mengoceh kesana kemari mejelaskan apa yang sedang dia lakukan.


“Stop San...please” Telpon sunyi, tidak terdengar suara Sandra disebrang telpon. Jofan kembali ingat akan kebodohannya yang bersikap kasar pada Sandra.


“Maaf, aku hanya sedang khawatir. Ayu memberitahu Kak Rey kalo dia sedang sakit. Tapi saat ini tidak ada yang tau dimana dia tinggal” Jofan berkata dengan lembut. Dia sudah seringkali berkata kasar pada Sandra.


“ Aku tau Ayu pindah kemana, dia tinggal di kos-kosan Purnama tidak jauh dari restaurant Kak Rey” Sandra ingat karena dia dan Melani mengantrakan Ayu saat pindah.


“Ok, thanks San” Jofan langsung saja mematikan ponselnya dan lari dengan terburu-buru. Kak Rey yang melihat Jofan mencoba mengejar Jofan tapi tidak berhasil, anak itu sudah menghilang dalam sekejap mata.


***


“Kenapa aku tidak bertanya Ayu tinggal disebelah mana, kos-kosan ini banyak sekali” Jofan mencoba mencari siapa pun yang bisa membantunya saat ini.


Terlihat ada ibu-ibu seumuran dengan Mamah nya sedang duduk santai menikmati keindahan taman. “ Permisi, apa ibu kenal dengan Ayu sahabat saya yang tinggal disini?” Ibu tadi menurunkan kacamatanya dan memperhatikan Jofan dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“ Dia belum terlihat dari kemaren, mungkin dia tidak pulang” Ibu tadi menjawab dengan santainya setelah yakin Jofan anak yang baik.


“Dia tidak memeberitahu kalo dia tidak pulang semalam?” Jofan berjongkok, dia mulai khawatir karena Ayu tidak memiliki siapa pun setelah Mbak Murni dengan terang-terangan membuangnya.


“Tidak cah bagus, kan disini bebas. Siapa saja boleh kapan saja masuk dan keluar. Yang penting bayarannya lancar” Ibu tersebut berdiri dan pergi meninggalkan Jofan yang sedang bingung sendiri.

__ADS_1


Dengan kecewa Jofan kembali ke restaurant dan kembali duduk diruangan Kak Rey. Jofan memilih menidurkan tubuhnya yang lemas karena sedari tadi tidak sempat bristirahat atau makan.


__ADS_2