
Duarrrr......
Mobil yang Malik, Adam dan Aldo tumpangi tiba-tiba saja pecah ban. Untung saja keadaan jalanan lengang dan mereka tidak terluka.
"Bos, apa Bos dan Dokter terluka?" Aldo sendiri syok karena ban mobil belum lama dia ganti.
Mobil mendapatkan perawatan ekstra dan baru kali ini Aldo mengalami pecah ban. Mobil milik Bosnya bukan mobil murahan yang bisa mengalami kejadian tidak terduga seperti ini.
"Aldo, kau bisa saja membuat kita celaka. Kau tidak servis mobil dengan benar!" Malik masih memegangi dadanya.
Mobil oleng dan suara ledakkan membuat mereka bertiga sedikit terombang-ambing dan merasa ketakutan.
Adam hanya membisu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bagi Adam ini pertanda buruk yang Tuhan tunjukkan. Firasat Buruk yang selama ini dia sembunyikan terhambat jelas kali ini.
"Dokter, maaf. Aku juga bingung kenapa bisa sampai begini." Aldo merasa khawatir karena Adam tidak cerewet seperti biasanya.
Adam tersenyum menyembunyikan rasa khawatirnya. Anggap saja ini kerikil kecil yang bisa membuat mereka lebih siap menerima segala kemungkinan yang terjadi.
Setelah memasang ban cadangan. Perjalanan di lanjutkan, waktu Malik dan Adam untuk sampai di kediaman Kala yang jauh dari pusat kota memakan waktu lebih lama.
Udara dingin menyeruak, suasana semakin mencekam saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Tujuan mereka masih jauh dan tidak bisa jika tidak dengan kecepatan tidak tinggi.
Aldo dibuat serba salah. Malik protes saat dia melaju degan kecepatan tinggi karena kejadian yang menimpa mereka tadi. Saat Aldo sedikit memperlambat pun Malik masih protes. Aldo ingin teriak sekeras mungkin di depan Malik.
"Baik Bos." Tapi hanya kata-kata itu yang lolos dari mulutnya.
Aldo melaju dengan kecepatan rata-rata. Menjaga agar Malik tetap tenang. Dia masih butuh pemulihan dari sakitnya, tapi mendengar omelannya seolah dia baik-baik saja membuat Aldo heran.
***
Hans melihat alat pelacak nya bergerak. Tapi menjauh dari lokasinya saat ini. Hans aneh karena rute tidak dia kenali.
"Tuan.....alat nya bergerak!" Jantung Hans berdetak cepat. Hans sangat takut upaya nya mengecewakan Rama.
"Kita bersiap, kita ikuti alat pelacak ini bergerak." Rama memang menaruh curiga pada design rumah Kala yang di kelilingi lahan yang sangat luas.
Entah apa fungsi lahan luas yang tidak Kala manfaatkan. Bahkan lahan tidak di urus dengan baik sampai mirip hutan belantara.
Semua mobil bergerak mengikuti arah pelacak nya membawa mereka. Rama meminta bantuan sejumlah aparat untuk menutup akses jalan yang mungkin akan Kala lewati.
Tidak sulit bagi Rama, dia hanya merasa takut jika saat ini putrinya dalam bahaya. Perasaan was-was menghantuinya, Kala ternyata bukan orang biasa yang melakukan kejahatan tanpa berpikir panjang. Dia pasti sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang.
"Tuan." Pras menyodorkan air mineral yang sudah dia buka penutupnya.
"Terimakasih Pras." Rama tetap tersenyum dalam keadaan nya saat ini.
Pras tidak tega melihat Rama berjuang begitu gigih menyelamatkan Ayu. Dia benar-benar tulus menyayangi menantu nya.
"Tuan, apa tidak sebaiknya istirahat saja! Biarkan kami yang melanjutkan pekerjaan ini." Pras memijat pergelangan tangan Rama. Kulitnya sedikit keriput.
"Kau pikir orang tua ini tidak sekuat dulu!" Rama tertawa menatap Pras yang menunduk di hadapannya.
__ADS_1
"Tidak Tuan. Aku hanya merasa bersalah karena tidak menjaga Ayu dengan baik." Pras masih menundukkan pandangan.
"Tidak, ini salahku dan Malik. Dia putriku, dia tanggung jawabku sepenuhnya." Rama menyenderkan kepalanya di kursi mobil. Kepalanya sedikit berdenyut.
"Mobilnya semakin jauh Tuan. Kita sepertinya dikecoh kan olehnya." Rama tidak kehilangan jejak, hanya tertinggal Jauh dari lokasi Kala saat ini.
"Pras, tugas kan seseorang menggeledah isi rumah Kala. Perasaanku tidak enak." Rama merasa Kala sedang membuat tipuan.
"Baik Tuan!" Segera Pras menugaskan beberapa orang kepercayaan untuk mengeledah isi rumah Kala.
Jalan sudah di blokade di beberapa titik. Memastikan Kala tidak akan bisa kabur ke luar kota. Rama mengepalkan kedua tangannya geram.
Setelah pengejaran yang memakan waktu cukup lama. Alat pelacak yang Hans lihat berhenti. Di tengah-tengah jalan tol yang jauh dari pemukiman.
"Tuan, alatnya berhenti. Apa sudah ada petugas yang menangkap nya?" Sebuah harapan meski masih belum pasti.
"Semoga kita mendapatkannya." Rama bisa sedikit tersenyum.
Petugas keamanan yang berada tidak jauh dari lokasi Kala segera meluncur dengan persenjataan lengkap. Berusaha tidak mencurigakan agar tidak menarik perhatian pers.
"Tuan ada panggilan." Pras menyodorkan ponsel Rama yang berdering.
"Tuan, mobil sudah kami amankan. Tapi hanya ada seorang laki yang ada di dalam kurungan." Rama sudah menduga ini hanya tipuan Kala untuk mengelabuinya.
"Amankan Laki-Laki yang kalian tangkap." Rama semakin geram. Tidak ada ampun kali ini. Kaka akan menerima akibatnya karena menyakiti putrinya.
Setelah 15 menit perjalanan dengan kecepatan tinggi. Rama dan team sampai di titik keberadaan mobil. 5 orang yang bertugas masih menjaga mobil dari luar degan membuka pintu mobil.
Rama berjalan tergopoh-gopoh ingin segera mengintrogasi laki-laki yang ada di dalam kerangkeng. Matanya merah padam dan dadanya bergemuruh penuh emosi.
"Kami sudah memeriksanya, dia sepertinya juga korban." Rama kenal wajah laki-laki yang ada di dalam mobil dengan tangan terikat dan mulut di tutup lakban.
"Oji, kaukah itu." Suara Hans yang sudah ada di dalam mobil Van. Hans menarik lakban yang menutup mulut Oji.
"Kalian semua tertipu. Kala membawa Sarah dari sini. Ayu masih ada di rumah Kala!." Oji berteriak merasa frustrasi.
"Apa maksudmu." Hans membeberikan Oji air mineral.
Bagaimanapun juga Hans tau rasanya mencintai seseorang yang tidak mencintai nya. Oji dan dirinya sama, cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Katakan perlahan. Aku tau kau tidak mungkin mencelakai Ayu." Mata Oji begitu merah. Dia sangat emosi.
"Kalian bilang akan menjaganya dengan baik. Aku mencoba mempercayai nya. Tapi apa!" Oji sangat kecewa. Berteriak membuat Rama tidak mampu mengelak.
Team memutuskan untuk dibagi dua. Sebagian mengikuti jejak Kala sesuai petunjuk yang Oji berikan dan sebagian kembali ke rumah Kala.
Hans memutuskan mencari Dokter Sarah dengan Pras dan petugas lain. Rama dan Oji kembali ke Rumah Kala.
Malik sudah berada di rumah Kala. Terlihat petugas yang masih menyisir seluruh isi rumah yang sudah kosong. Seluruh petugas keamanan Kala sudah tidak ada. Mereka hilang bak ditelan bumi.
"Apa kalian tidak menemukan apapun?" Malik mencengkeram pundak seorang petugas yang melintas ke arah luar.
__ADS_1
"Kami mau menyisir area luar Tuan." Malik heran tidak melihat tanda-tanda keberadaan gadis kecil kesayangannya dan Sarah.
"Lepaskan, jangan bersikap begini. Tidak akan membantu." Adam mencoba melepaskan tangan Malik yang membuat seorang petugas tidak bisa bergeming. Marah hanya akan membuang energi.
"Bos, team Tuan Rama sedang menuju ke sini. Tapi menurut informasi yang kami dapat, Kala sudak kabur membawa Dokter Sarah."
Bruggggg....
Adam jatuh terduduk mendengar berita yang Aldo sampaikan. Pertahanan nya hancur, dia tidak bisa lagi menahan air matanya.
Malik memeluk Adam agar tidak tenggelam dalam kesedihannya. Malik tau bagaimana rasanya. Baru kali ini Adam menangis, berteriak sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Semua membisu, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Kala sangat licik dan punya teknik kejahatan yang sulit di tebak.
Malik memutuskan menemani Adam menuju tempat yang dicurigai menjadi pelarian.
Terlihat tiga mobil hitam berhenti di depan rumah Kala. Rama turun dari mobil dengan laki-laki yang sangat Malik benci.
Buggggggg.....
Oji berlari ke arah Malik, menghantam wajah Malik sebagai bentuk protes nya karena tidak menjaga Ayu dengan baik.
Adam dan Aldo menahan Malik agar tidak terjadi perkelahian. Petugas lain menahan Oji karena berani memukul Malik di depan mereka semua.
Rama menyuruh orang-orang nya tidak ikut campur. Dia juga merasa malu di depan Oji. Malik pasti merasakan hal yang sama
Dia bahkan tidak membalas pukulan Oji.
"Sudah ku katakan, serahkan padaku jika kau tidak bisa menjaganya dengan baik!" Oji meronta mencoba meloloskan diri agar bisa menghajar Malik dengan puas.
Malik tidak berkata sedikitpun. Terlalu Malu mengakui kesalahannya di depan banyak orang. Wajahnya tertunduk lemas tidak mampu mengelak dari Oji.
"Tolong tenang, kita harus lebih hati-hati. Jangan sampai kita menyita waktu untuk hal yang tidak penting." Adam mencoba melerai.
Oji merasa ada benarnya juga apa yang Adam katakan.
Dia pergi meninggalkan Malik begitu saja. Dia harus memeriksa ruangan yang dia terka-terka ada di suatu tempat di rumah Pamannya.
"Apa kau ingat sesuatu?" Rama mengikuti langkah Oji, begitu juga Malik dan Adam.
"Aku ingat dia membawaku berjalan tidak jauh dari sini memasuki ruangan. Tapi ada tangga yang turun ke bawah." Oji tidak melihat ada tangga di sekitarnya.
"Tuan, lokasi doker Sarah dan Kala sudah di temukan." Lapor seorang petugas.
Adam sedikit menoreh kan senyum bahagia. Paling tidak dia tau Sarah masih hidup. Hanya sedikit tau keberadaannya saja membuat Adam sedikit lega.
"Bos, biar saya yang temani dokter Adam. Bos tetap di sini mencari Nona." Malik memandang Adam dengan tatapan penuh penyesalan tidak bisa menemaninya.
"Tidak apa. Kita akan bertemu lagi dan berkumpul seperti biasa." Adam pergi ditemani Aldo.
Malik melanjutkan pencariannya bersama team lain yang masih ada di lokasi. Mencari kemungkinan adanya ruang rahasia yang Kala sembunyikan di rumahnya.
__ADS_1