
Perempuan cantik yang baru saja memberikan sambutan menghampiri Ayu dan teman-teman nya. Wajahnya masih semangat seperti saat dia bicara tadi.
"Hallo......" Kedatangan Anggi disambut hangat senyuman Ayu dan para sahabatnya.
"Kali ini kalian punya kesempatan untuk tidak ikut masuk ke dalam hutan. Kak Anggi punya misi untuk kalian berlima di dampingi Kak Hans." Wajah ceria lenyap seketika.
Mereka sangat penasaran akan seperti apa kegiatan sore ini di dalam hutan yang penuh dengan kejutan.
"Tapi kami ingin seperti yang lain, ikut masuk ke dalam hutan Kak." Sandra memohon.
Anggi jadi tidak tega melihatnya. Anggi mencoba bicara lewat sorot matanya pada Hans, tapi Hans menggeleng.
Tidak ada pilihan lain selain mengelabui Ayu dan teman-teman nya agar tidak merasa ada yang aneh.
"Misi ini tidak kalah penting dari kegiatan kita di dalam hutan adik-adik sayang." Tetap saja kesedihan tidak memudar dari wajah mereka.
"Dengar yah...." Anggi terhenti, melihat Ayu menghubungi seseorang.
Hans dan Anggi saling menatap penuh tanda tanya. Jangan sampai misi mereka terbongkar. Berharap dengan penuh kecemasan.
"Tidak ada sinyal." Ayu mencoba menghubungi Malik tapi tidak berhasil. Jaringan sangat sulit karena mereka berada jauh di dalam hutan. Anggi dan Hans bisa bernafas lega.
"Dengar adik-adik semua, kalian punya misi membantu teman satu tim yang lain untuk mempersiapkan dan menghias setiap titik yang nanti malam akan kita jadikan tempat untuk melakukan beberapa sesi permainan. Pasti akan seru jika ornamen dan hiasan yang dibuat sesuai dengan tema yang kita inginkan. Kalian anak-anak terpilih yang kami incar karena kepandaian kalian." Anggi tersenyum menutupi kebohongannya.
Ayu, Jofan dan Sandra boleh dia katakan pandai, aku apa kabar pemirsa. Melani sedikit curiga. Tapi itu bisa saja terjadi karena dia berada di kelompok yang sama. Mengabaikan keganjilan yang terjadi.
"Baiklah, kalian ikuti Kak Hans dan yang lainnya. Aku harus bersiap menyusul yang lain." Anggi pergi setelah menyelesaikan misi pertamanya.
Malik membuat semua orang repot karena harus menjauhkan Ayu dari bahaya dan peluang bahaya itu bisa terjadi.
Jelas mereka semua kecewa, tapi tetap mengikuti aturan yang sudah di tetapkan oleh panitia penyelenggara.
"Kita jangan bersedih yah. Tetap semangat." Ayu mencoba menghibur.
"Seharusnya sekarang kita sedang berpetualang di dalam hutan!" Teriak Sandra merasa kesal.
Jofan sudah menebak akan seperti apa camping dengan istri seorang konglomerat, semuanya serba rumit dan tidak bisa diprediksi.
"Aku membuat coklat panas." Menyodorkan gelas pertama pada Sandra.
Pipinya merona mendapat perlakuan manis dari Jofan. Suasana hatinya berubah bahagia dengan cepat. Senyum tidak memudar dari bibir nya yang tipis.
"Terimakasih Jofan. Ini membuat kita sedikit terhibur." Bibir Sandra menukik mendengar Martha bicara manis pada Jofan.
Ayu dan Melani hanya saling menatap dan tersenyum dalam diam, menikmati coklat panas di tengah hutan sebelum membuat prakarya untuk menghias suasana menjadi semakin indah.
Melani merasa hampa tidak ada percakapan yang berati, dia memutuskan untuk membuat tebak-tebakan agar suasana sedikit hidup.
"Coba tebak, ikan apa yang bau." Tebakan pertama.
"Ikan basi." Sandra. Melani menggeleng.
"Ikan mati." Martha. Melani masih menggeleng, kali ini dengan senyum penuh kemenangan.
"Ikan busuk." Ayu. Tidak tau harus menebak apa.
"Nyerah...... nyerah?" Mata Melani memandang satu persatu sahabatnya.
"Jawabannya adalah.....i...kantut. Hahahhahahha" Melani tertawan membuat sahabat-sahabat nya ikut tertawa.
Sandra menatap Jofan yang ikut tersenyum mendengar canda tawa mereka. Entah kenapa hari ini Jofan terlihat sangat tampan.
"Adalagi....tapi tebak yang benar yah." Sok benar, padahal tebakannya tidak mungkin bisa di jawab oleh siapa pun.
"Kenapa kopi rasanya pait?" Melani yakin tidak ada yang bisa menjawab.
"Karena warnanya hitam?" Melani meringis.
__ADS_1
"Tidak semua yang hitam pahit Yu, coklat kan manis." Kesal mendengar jawaban Ayu.
"Karena manisnya ada di aku!" Semua Memandang Jofan, tidak biasanya dia jadi pria manis.
Ahhhhhhhh.......
Teriak keempat perempuan seperti paduan suara.
Jofan jadi malu dengan kelakuannya barusan. Dia sudah mempermalukan dirinya sendiri. Tapi apa boleh buat semua sudah terjadi.
"Tolong....tolong.....awas....awas semuanya!" Teriak seseorang tidak jauh dari mereka.
Hans berdiri melindungi Ayu dan Melani, Jofan melindungi Sandra dan Martha. Mereka saling menjaga seperti janjinya pada Malik.
Terlihat seekor babi hutan lari ke arah mereka. Sandra tidak melewatkan kesempatan untuk memeluk Jofan dengan erat, tapi memang dia sangat takut.
Bruk.....
Babi menabrak kaki Hans, tapi dia tetap berdiri kokoh tidak bergeming. Untung banyak yang membantu sehingga babi hutan bisa di tangkap dan di amankan.
"Kak Has? Kau tidak papa?" Ayu merasa bersalah karena sempat ragu padanya.
"Kaki ku seperti nya patah." Hans duduk di tanah begitu saja. Kakinya berdarah sedikit. Babi hutan menabraknya cukup keras.
"Aku ambilkan P3K." Jofan lari dan segera kembali.
Jofan merobek celana yang Hans gunakan agar lebih mudah mengobati lukanya.
"Cukup dalam Kak Hans, bagaimana ini. Tidak bisa hanya di perban, ini harus di jahit." Ayu merasa bersalah karena Hans menjaga dirinya sampai terluka.
"Tenang Fan, aku akan bantu Hans. Tolong bawa ke tenda ku yah." Jofan mengikuti perintah begitu saja, dia tidak tau siapa orang ini. Tapi seperti nya ahli medis yang di sediakan sekolah untuk berjaga-jaga. Tapi kenapa dia mengenal ku yah.
"Jofan jangan tinggalkan mereka, aku baik-baik saja." Jofan sebenarnya bingung, tapi Hans benar. Dia tidak boleh membiarkan mereka tanpa penjagaan. Jofan memutuskan meninggalkan Hans dan menjaga sahabatnya.
"Bagaimana Kak Hans?" Jofan tersenyum.
Ayu pasti merasa bersalah seperti biasanya.
Jofan tau ketakutan Ayu saat ini. Dia tidak perduli dengan keselamatannya, dia hanya takut orang lain terluka karena dirinya.
Ayu merasa kakinya sedikit perih. Ayu masuk ke dalam tenda dan dia mencoba membuka perlahan celana legging yang menutupi kakinya di balik rok panjangnya yang kotor dengan tanah.
Ternyata dia juga terluka, tapi tidak dalam seperti luka Kak Hans. Ayu memasang 4 plester untuk menutupi lukanya. Tidak terlalu sakit dan dia masih bisa menahannya. Darahnya juga sudah tidak mengalir. Ayu kembali membantu sahabat-sahabat setelah memasang plester di kakinya.
Hiasan sudah terpasang apik di tempatnya. Membuat suasana semakin indah dan enak di pandang mata.
Para siswa yang mengikuti acara sore ini di hutan sudah mulai berdatangan, waktunya untuk istirahat dan membersihkan diri untuk kegiatan selanjutnya.
Setelah Maghrib semua siswa berkumpul di lapangan untuk makan malam. Lapangan yang luas berada di tengah-tengah tenda yang mengelilinginya. Obor-obor menyala di sekeliling membuat pencahayaan alami yang begitu menakjubkan.
Semua siswa antri menjadi barisan panjang dengan tertib, menerima jatah makanan dengan adil dan merata tidak ada perbedaaan.
"Makanannya enak, ternyata senior jago masak juga yah." Puji Sandra pada makanan yang sedang dia nikmati.
"Aku bawa cemilan banyak, Kak Malik menyiapkan untuk kita semua." Pasti enak malam-malam sambil cerita-cerita makanan Chiki.
"Wah enak betul itu Yu, bilang terimakasih sama Kak Malik ya Yu." Melani semangat mendengar cemilan yang melimpah.
"Setelah makan malam kita masih ada acara. Jangan terpisah karena akan gelap." Peringatan dari Hans.
"Kenapa gelap, bukannya acaranya di tengah sini?" Jofan penasaran.
"Supaya Seru Fan. Nanti kalian akan lihat sendiri kesenian dengan obor-obor itu." Melani dan yang lainnya semakin antusias.
Memang panitia keren menyusun acara sedemikian rupa supaya seru dan banyak cerita.
Selesai makan malam anak-anak diberi waktu istirahat sebentar sebelum melanjutkan kegiatan malam.
__ADS_1
"Mel, kita ngemil yuk." Ayu mengeluarkan plastik besar dari dalam tasnya. Menumpahkan isi di dalamnya membuat mata Melani melotot dibuatnya.
"Aku juga mau." Teriak Sandra yang baru saja masuk tenda bersama Martha.
Mereka menikmati makanan ringan dengan riang gembira. Membuka bungkus demi bungkus dan menikmatinya bersama.
Jofan menyibak pintu tenda dan mendapati ketiga sahabatnya dan Martha sedang asyik mengunyah makanan di mulut mereka.
"Keluarlah, sebentar lagi acara di mulai, Kak Hans sudah mencarikan kita posisi paling aman untuk kita duduk." Sandra tau maksudnya, tapi yang lain tidak mengerti kenapa harus seperti ini.
Ayu mengemasi makanan kedalam kantong seperti semula. Menyimpannya kembali ke dalam ransel agar tetap aman.
Acara malam begitu meriah, dimulai dengan drama yang di gelar oleh para panitia yang dikemas apik dan terlihat sangat profesional.
Ada persembahan lagu-lagu dari para panitia dan juga siswa yang memberanikan diri ikut serta menyumbangkan suara emasnya.
Puncak acara di tutup dengan tarian obor. Mulanya semua obor di matikan, membuat suasana gelap gulita, hanya bermandikan cahaya bulan yang terang malam itu.
Perlahan para penari memasuki area tegah lapangan dengan obor menyala di tangan mereka, setelah cerita horor berhenti. Ayu dan sahabat-sahabatnya saling berpegangan tangan mendengar kan cerita horor yang penuh dengan ketegangan. Mereka baru merasa lega setelah obor menyala dan pertunjukan tarian obor di mulai.
Sorak Sorai menggema di langit hutan yang terang malam itu. Alam memberikan restu agar malam ini semua acara berjalan dengan sempurna.
Tidak terasa rangkaian acara malam ini berjalan dengan cukup indah. Rasanya tidak ingin menyudahi nya. Tapi semua siswa di paksa untuk istirahat ke tenda masing-masing.
Banyak yang ngeyel dan ingin tetap berada di luar tenda. Panitia tidak mengijinkan karena itu berbahaya dan beresiko.
Hanya memeriksa sekeliling sebelum masuk ke tenda nya. Dia mendapati Jofan masih duduk di depan tendanya.
"Kenapa tidak istirahat?" Hans duduk di sebelahnya.
"Aku khawatir membiarkan Ayu hanya bersama gadis-gadis bodoh itu." Tapi sayang dengan kebodohan sahabatnya yang membuatnya selalu terhibur.
"Aku juga, dia tetap jadi gadis yang sederhana dengan segala yang dia miliki saat ini" Hans kagum karena Ayu tidak berubah. Dia tetap saja menjadi Ayu yang baik pada setiap orang dan ramah.
"Dia bahkan tidak tau caranya menghabiskan uang yang Kak Malik berikan." Hans menyipitkan matanya.
"Benar Kak, dia meminta kita membantunya menggunakan uang yang Kak Malik berikan. Jika tidak Kak Malik akan marah padanya. Kau tidak aneh dengan gadis itu?" Hans tertawa kecil.
"Jika gadis lain pasti sudah menghamburkannya untuk hal yang tidak penting." Hans merasa semakin kagum.
"Ya sudah kita harus istirahat. Sepertinya keadaan aman." Hans berdiri dan memastikan Jofan masuk ke dalam tenda.
Ayu terlelap ditengah perbincangan yang sedang panas. Martha punya pengalaman menarik dengan banyak laki-laki yang kini menjadi mantan pacarnya.
Sandra dan Melani merasa sedang belajar ilmu percintaan dengan Martha. Pengalamannya begitu luas mengenai Laki-Laki.
Melani ingin buang air kecil dan sudah tidak tahan.
"San, tolong antar aku ke toilet. Aku pengen pipis San." Sandra tidak bisa meninggalkan Ayu hanya bersama Martha, mereka baru saja saling kenal.
"Martha, kamu bisa temani Melani?" Sepertinya begini lebih baik.
"Aku saja takut, aku masih ingat cerita horor yang tadi San." Martha bergidik ngeri. Bulu kuduknya berdiri dan Sandra percaya karena melihatnya sendiri.
"Tunggu sebentar, aku bangunkan Jofan dulu." Sandra lari keluar tenda.
Memanggil Jofan dengan suara yang sedikit tertahan karena takut mengganggu yang lainnya.
Tidak ada respon dari Jofan, Sandra merasa kasian karena Melani menunggunya terlalu lama.
"Jofan tidak juga bangun. Bagaimana ini!" Sandra merasa kesal.
"Aku sudah tidak tahan San." Melani menggenggam erat batu di tangannya.
"Aku juga jadi ingin pipis San." Martha semakin membuat Sandra pusing.
"Ayu... Ayu.....gadis ini. Kalau sudah tidur susah sekali di bangunkan. Yu, kita ke toilet sebentar yah. Kalau ada apa-apa teriak saja. Kita tidak jauh. Yu....dengar tidak!" Teriak Sandra di telinga Ayu.
__ADS_1
"Hmmmmm...." Tapi kembali menarik selimutnya.
Sandra memutuskan untuk meninggalkan Ayu sendiri. Dia juga tidak akan lama.