
Oji turun dari mobilnya, suara bantingan pintu mobil begitu kencang. Oji menggedor kaca mobil yang menghalangi jalannya. Kata-kata umpatan dan sumpah serapah keluar dari mulut Oji sebagai ungkapan kekesalan nya.
"Kau bisa saja membuat ku celaka. Apa mau mu?" Oji mencekik Hans yang masih duduk di dalam mobilnya. Dia hanya menurunkan kaca mobilnya.
Hans tersenyum mengejek, menyulut amarah Oji yang sudah meledak. Oji membuka pintu mobil Hans, menariknya keluar dan mengunci tubuh Hans dengan kedua tangannya.
Oji menarik nafasnya dan membuang nya dengan kasar. Dahulu Hans adalah sahabat nya yang begitu dekat. Hans menjauhi Oji saat tau dirinya mengambil jalan yang salah. Hans tidak mau menafkahi keluarganya dengan cara yang salah.
"Apa yang kau inginkan!" Oji berteriak.
"Jangan berpura-pura. Katakan dimana kau menyembunyikan Ayu." Hans bertanya dengan nada santai. Sikapnya yang tenang malah menyulut amarah Oji.
Buggggg.....
Oji memukul keras kaca mobil Hans sampai tangannya berdarah, wajahnya merah dan nafasnya sudah tidak beraturan.
"Kau pikir aku bisa menyakitinya? Kenapa penculik itu bisa lolos? Kalian sibuk menyelidiki ku, kalian tidak tau Ayu dalam bahaya!" Oji tertawa merasa kecewa.
"Siapa lagi orang yang bisa berbuat nekad seperti ini kalau bukan kau!" Hans mulai emosi.
"Kalian sibuk dengan hal yang tidak penting sampai Ayu dalam bahaya. Sekarang kalian melempar kesalahan itu padaku." Oji menghempaskan tubuh Hans dari cengkeraman nya.
Hans tidak melihat Oji ketakutan, dia malah terkesan menyalahkan semua orang yang tidak bisa menjaga Ayu dengan baik. Sepertinya memang bukan Oji pelakunya. Hans kenal betul gelagat Oji saat melakukan kesalahan.
Setelah puas memaki Hans, Oji kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Kala. Perasaanya sudah tidak karuan saat melihat Ayu menangis di belakang punggung Sarah.
Hatinya tersayat, dia kecewa karena Malik tidak menjaga Ayu dengan baik.
Perasaanya semakin hancur karena tau sifat Kala saat tidak bisa mencapai tujuannya. Bisa saja Ayu menjadi korban kemarahan Kala.
Oji masih melihat mobil Hans membuntutinya. Akan jadi masalah jika Kala tau dia datang dan di buntuti. Oji memilih menepi ke sebuah cafe, memesan segelas kopi berpura-pura menikmatinya sambil berbincang di telpon.
Hans sudah tidak terlihat lagi. Oji memutuskan pergi dengan taksi dan membiarkan mobilnya terparkir di depak cafe.
Oji yakin Hans hanya mengelabuinya. Dia pasti akan membuntuti kemanapun Oji pergi untuk menemukan Ayu. Mereka bersahabat cukup lama sampai mereka saling mengenal satu sama lain.
Oji memperhatikan sekeliling sebelum masuk ke kediaman Kala. Rumahnya di jaga ketat tidak seperti biasanya. Oji sampai harus menunjukkan identitas nya untuk memastikan keamanan.
Oji memasuki rumah Kala dengan penuh harapan, dia ingin memastikan Ayu baik-baik saja dan tidak Kala sakiti. Pikirannya sudah tidak karuan saat ini.
"Hai anak muda, sudah lama sekali tidak mengunjungi ku." Kala memeluk Oji yang baru saja tiba.
Oji dan Kala cukup dekat, Kala selalu menjadi tempat Oji berlindung saat berseteru dengan Ayahnya. Keluarganya kaya raya dengan bisnis ilegal dan dunia Mafia yang mereka geluti.
Oji menyerahkan tiket yang Kala pesan. Perjalanan jauh ke sebuah pulau dengan kapal very. Tiket Oji beli jauh-jauh hari karena Kala mem-booking semua pulau untuk dirinya untuk waktu yang cukup lama.
"Kau yakin tempat ini aman?" Kala membolak balikkan tiket yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Ya, aku pernah sembunyi di sana saat Ayah mengejar ku." Oji pernah melarikan diri.
"Aku akan mencobanya, kau pasti memberikan rekomendasi yang bijak." Suara Kala yang tertawa menggelegar memenuhi ruangan.
"Paman, aku boleh menemui dokter Sarah? Aku ingin mengenalnya." Pura-pura terlihat antusias.
"Tentu saja, dia sangat cantik." Kala memgambul kunci yang ada di brangkas nya. Hanya dia yang bisa membuka ruangan dimana Sarah dan Ayu di sekap.
Ceklek.......
Terlihat dua wanita yang saling memeluk dengan kondisi yang berantakan. Oji menatap sedih wajah Ayu yang sama sekali tidak berani menatap ke arahnya. Dia menunduk dan tangannya terlihat gemetar.
"Kau boleh memperkenalkan diri, aku angkat telpon penting dulu sebentar." Kala meninggalkan Oji.
Oji mendekat dengan cepat, meraih tangan Ayu yang ada di genggaman Sarah. Kesempatan yang tidak datang dua kali. Kala bisa saja mencurigai nya.
Sarah seperti pernah melihat wajah Oji sebelumnya. Tapi dimana pernah bertemu dengannya? Mungkin hanya perasaan ku saja. Sarah tidak begitu yakin.
Ayu terkejut saat tangannya di tarik, masih belum berani menatap wajah laki-laki yang berdiri di hadapannya. Ketakutannya semakin menjadi saat melihat wajah yang dia kenal di hadapannya.
Oji jongkok di depan Ayu, air matanya menetes melihat kondisi Ayu saat ini. Ayu sendiri sangat terkejut melihat Oji ada di hadapannya. Tapi kedatangannya tidak membuat Ayu senang, Ayu yakin Oji bersekongkol dengan Kala melakukan kejahatan ini.
Jadi semua ini terjadi karena aku! Semua orang yang aku cintai terancam karena aku. Aku orang paling berdosa dan bersalah. Ayu hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.
"Tenang yah, aku akan mencari cara membebaskan kamu dari sini." Oji menciumi tangan Ayu.
"Jangan takut, aku akan menyelamatkan mu." Oji tersenyum dengan tulus, tapi di mata Ayu itu seperti senyum seorang penjahat.
Ayu tidak mampu berkata-kata, otaknya memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi pada dirinya dan Dokter Sarah.
Ayu ingin sekali memukul wajah Oji, tapi Ayu menahan amarahnya. Yang terpenting saat ini Ayu harus menyelamatkan Dokter Sarah, ini semua terjadi lagi-lagi karena dirinya.
"Kak." Ayu memberanikan diri.
"Iya sayang." Oji mulai kehilangan kendali. Suara Ayu selalu mampu membuai perasannya.
"Jangan menyentuhnya, pergi!" Sarah menarik tangan Ayu, merasa jijik dengan perlakuan Oji.
"Jangan ikut campur, atau anakmu akan aku hancurkan!" Mata Oji melotot sampai Sarah merasa ngeri. Dia bahkan lebih menakutkan dari Kala.
"Tolong bebaskan Kak Sarah, setelah itu aku akan mengikuti semua keinginanmu." Berlinang air mata. Ayu sama saja sedang menyerahkan nyawanya pada laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
"Benarkah? Kau akan mencintaiku jika aku membebaskannya?" Ayu mengangguk, lehernya terasa sakit menahan tangis.
"Jangan gila, tidak!. Aku tidak mau kamu mengorbankan diri lagi." Sarah berdiri, kaget dengan ucapan Ayu.
Ayu menggeleng, memohon pada Sarah agar tidak meluapkan amarahnya, laki-laki yang ada di hadapan mereka bukan orang waras. Dia bahkan memiliki sifat-sifat yang kadang Ayu sendiri bingung menafsirkannya.
__ADS_1
"Ada apa ini!" Kala merasa aneh melihat Oji menggenggam tangan Ayu dan terlihat sedih. Ada gelagat mencurigakan.
"Paman, aku hanya terharu mendengar kisah mereka." Kala menyipitkan matanya. Ada yang aneh sebenarnya.
Kala masuk dengan buah-buahan segar, dia memperlakukan Ayu dan Sarah dengan baik.
Melihat itu tidak membuat Oji merasa lebih baik.
Ayu tidak punya arti apapun bagi Kala, pasti akan begitu mudah disingkirkan oleh Kala. Oji harus mencari cara agar bisa membawanya pergi dari genggaman Kala.
Setelah memastikan Sarah dan Ayu makan, Kala kembali mengunci ruangan dengan aman. Oji gusar memikirkan cara membebaskan Ayu yang bahkan ruangannya sulit sekali dia jangkau.
"Bagaimana? Dia sangat cantik bukan?" Kala merasa bangga mencintai Sarah yang begitu cantik.
Oji tersenyum, wajahnya tampak tulus dan tidak dibuat-buat. Kala sedikit lega, tapi masih tidak percaya begitu saja karena Oji bersikap mencurigakan.
"Aku malam ini mau menginap." Ada gelagat aneh yang Kala tangkap sejak tadi. Dan benar saja.
Tidak pernah sekalipun Oji bersikap seperti tadi, sekarang malah mau menginap di rumahnya. Apa sebenarnya tujuan anak ini. Dia bahkan melihatnya menggenggam tangan Ayu tadi.
***
Adam dan Aldo melarikan Malik ke rumah sakit. Suhu tubuhnya sangat panas dan dia hilang kesadaran. Mulutnya hanya memanggil-manggil nama Ayu dalam alam bawah sadarnya.
Adam memeriksanya dengan berlinang air mata. Dia tau betapa saat ini Malik hancur karena egonya. Adam merasa bersalah tidak memperbaiki keadaan lebih cepat.
Adam bersikap seolah tidak perduli pada Malik, bersikap seolah Malik lah orang yang harus menyadari kesalahannya. Adam ingin mengajarkannya menjadi lebih bijak sana.
Aldo tidak bergeming dari tempatnya duduk, sesekali tangannya menyeka air mata yang lolos dari pertahanan. Dia sedih melihat Malik terbaring lemah tidak berdaya. Biasanya dia orang yang selalu bersemangat.
Adam sendiri membaringkan tubuhnya di atas sofa. Saat ini pencarian sudah di serahkan pada pihak berwajib bekerja sama dengan jaringan keamanan yang Rama miliki.
"Aku iri melihat mu menangis Al." Adam bicara dengan mata tertutup.
"Aku tidak menangis Dok." Berkelit merasa malu.
"Ehmmmmm..... Masih saja tidak mengaku, aku melihatnya!" Adam mencari hiburan. Dirinya juga tidak sekuat kelihatannya.
"Dokter salah lihat, aku hanya....hanya merasa ada yang masuk ke dalam mataku." Aldo gengsi ketahuan menangis di depan Adam.
"Al, kenapa kau sangat menyayangi Malik? Bukankan dia orang yang menyebalkan?" Adam sering melihat Aldo mengumpat Malik dibelakangnya.
"Aku mengagumi nya, dia mengajarkanku banyak hal dengan tulus. Dia percaya padaku dengan sepenuh hatinya." Aldo benar-benar menangis sekarang.
"Aku ingin punya orang seperti mu di sisiku." Adam terharu.
"Aku akan bersikap sama pada Dokter, Dokter juga sering mengajarkan ku menghadapi Bos." Aldo tersenyum membuat Adam ikut tersenyum.
__ADS_1