
Malik terbaring lemas dengan selang infus yang masih melekat di pergelangan tangannya. Pandangan matanya kosong tidak bersemangat. Tubuhnya seolah kehilangan tulang belulang yang menyangga raganya.
Sudah dua hari dan pencarian nya masih belum menemukan hasil. Pihak kepolisian pun sulit melacak dan memastikan pelaku karena saat kejadian rumah Adam ramai tamu dari berbagai kalangan. Membuat pencarian terlalu luas dan membutuhkan waktu yang lebih lama.
Malik tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, berbeda dengan Adam yang terlihat lebih tenang. Adam memposisikan dirinya sebagai seorang putra sulung. Dia harus sekuat baja didepan Malik.
Mamih bahkan tidak tau saat ini Malik ada di rumah sakit. Adam merahasiakan agar Mamih dan Rama tidak terlalu terbebani. Mereka sudah cukup khawatir dengan keadaan Ayu saat ini.
"Apa enak? Kau terlihat sangat menikmati nya!" Adam meledek Malik yang melahap bubur sampai habis tidak tersisa sedikitpun.
"Apa ini hukuman? Aku baru menyadari betapa aku sangat membutuhkannya." Malik berkaca-kaca. Hatinya saat ini rapuh tidak terawat.
"Ini hukuman untuk kita berdua. Kita bahkan harus siap dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi." Adam tersenyum nanar. Kekhawatirannya nya begitu besar dengan keadaan Sarah yang lemah sejak kehamilannya.
"Bos.......Bos.... dokter." Terdengar suara Aldo yang berteriak dari luar kamar. Suaranya jauh tapi terdengar oleh Malik dan Adam.
Jantung Malik berdetak kencang, dia berharap ini kabar baik yang sudah lama dia nantikan. Tapi dia tidak mau berandai-andai. Takut tidak siap mendengar kenyataan sebenarnya.
Brugggg......
"Awww......" Aldo mengaduh kesakitan.
Aldo jatuh saat masuk ke ruang perawatan Malik. Adam dan Malik hanya memandang nya dengan tatapan penuh kecemasan.
Aldo menarik nafasnya panjang, mengatur nafas nya yang tersenggal-senggal agar bisa menyampaikan pesan dengan baik.
"Kalian tidak penasaran?" Heran karena Malik dan Adam hanya terdiam menatapnya.
"Ini kami dengan sabar menunggu berita apa yang kau bawa. Heboh sekali!" Adam memaki merasa aneh bercampur khawatir.
"Cepat katakan, jangan membuat kami penasaran!" Malik tidak kalah ketus.
"Baru saja Hans menghubungiku. Dia melihat Nona dan Dokter Sarah di kediaman Kala." Malik menyipitkan matanya heran.
"Kala......" Malik ingat terakhir kali menolak proposal yang dia ajukan.
"Apa hubungan Kala dengan mereka. Atau dengan Oji? Siapa dia?" Adam merasa penasaran.
"Bukan waktu yang tepat mencari tau alasannya melakukan ini. Kita bisa menanyakan nya nanti." Malik turun dari tempat tidur nya.
"Betul Bos. Kita harus bergegas." Aldo sudah menghubungi Rama. Pasti saat ini mereka sudah bergerak.
"Apa ada bukti? Kita tidak bisa masuk rumah orang begitu saja tanpa surat perintah yang jelas." Adam masih penasaran, siapa sosok Kala yang Aldo maksud.
Kala yangg Adam kenal tinggal satu komplek dengannya. Bahkan saat kejadian penculikan Kala ada di sana membantu Adam memadamkan Api yang berasal dari Mobil yang terbakar.
"Itu sudah Tuan Rama atur." Aldo yakin mereka sudah mengatur nya. Tidak sulit bagi Rama mengajukan surat permohonan penggeledahan.
"Kau tidak boleh...." Adam terlambat, Malik sudah mencabut selang infus nya begitu saja.
__ADS_1
"Kau bisa disini saja ! Kau masih lemah!" Usaha yang sebenarnya sia-sia.
Malik memukul pundak Adam, dia menganggap Adam kekanakan. Sejak kapan Malik kenal takut, apalagi ini menyangkut hidup dan matinya.
"Apa! Aku lebih baik tidak hidup jika tidak bergerak sekarang juga. Rasanya tanganku sudah gatal ingin memukul seseorang!" Malik melangkah masih dengan baju pasien berwarna biru langit.
Aldo tersenyum pada Adam yang terlihat bahagia. Aldo tau Adam hanya sedang mempermainkan perasaan Malik. Adam tau Malik tidak akan tinggal diam begitu saja.
***
Kala naik pitam oleh ulah Oji. Dia tidak bisa menyakiti Oji dan Sarah atas apa yang terjadi. Mereka sama-sama berarti dalam hidup Kala.
Hanya Ayu yang bisa jadi pelampiasan kemarahannya. Ayu bukan siapa-siapa bagi Kala. Dia tidak berarti baginya baik hidup maupun mati.
Bruggggg.....
Pintu terbuka begitu keras. Kala masuk dengan wajah penuh amarahnya. Melangkah dengan cepat ke arah Sarah dan Ayu yang berdiri di depan ranjang.
Sarah melindungi Ayu di balik punggungnya. Sarah tau Kala tidak mungkin menyakitinya. Tapi tidak dengan Ayu. Kala bisa saja berbuat nekat padanya.
"Jangan menyentuhnya. Pergi dari sini." Sarah gemetar tapi harus terlihat berani.
"Kau pikir bisa kabur begitu saja!" Kala mendorong tubuh Sarah sampai terjerembab di atas kasur. Kala menarik Ayu keluar dari ruang penyekapan.
"Jangan, aku mohon jangan Tuan." Tangan Kala begitu kuat menarik tubuhnya. Ayu menahan tubuh nya sampai tangannya berdarah terkena kuku jari-jari Kala.
Kala tersenyum melihat bagaimana Sarah dan Oji sangat menyayangi gadis yang Kala tidak tau kenapa begitu berarti dalam hidup orang-orang yang dia sayangi.
"Jangan menghalangiku!."Kala menghempaskan Sarah untuk Kali kedua.
Perut Sarah terasa keras dan sedikit nyeri. Dia tidak kuasa lagi menahan Kala agar tidak membawa Ayu pergi.
"Kala.....ahhhh....!!!!" Sarah menangis kesal karena tubuhnya lemah tidak berdaya.
Tubuh Ayu bergetar hebat, ketakutan nya menjalar membuat kesadarannya sedikit menurun. Ayu lemas tersungkur saat Kala mendorong tubuhnya masuk di ruangan bawah tanah yang sangat besar.
Ayu di kurung di jeruji besi yang ada di ruangan bawah tanah. Tidak banyak yang Ayu lihat karena kesadarannya hilang. Ayu pingsan tidak sadarkan diri.
Kala menampar wajah Ayu meski sudah tidak sadarkan diri. Tangannya gatal ingin memukul dan menghabisi nyawa Ayu. Tapi entah apa yang membuat Kala merasa Iba.
Kala memutuskan mengurung Ayu di ruang bawah tanah. Dia akan mati perlahan karena dehidrasi dan kelaparan.
Kala kembali ke atas. Membereskan pekerjaannya yang tidak boleh siapapun tau bahkan para penjaganya. Hanya dirinya yang tau ruang bawah tanah berada.
Kala mengikat Oji dan Sarah menuju ke sebuah Mobil yang sudah dia siapkan di parkiran bawah tanah yang jalannya menembus jalan lain selain yang terlihat di sekeliling rumahnya.
Sarah melihat Ayu tidak sadarkan diri saat melintasi ruangan. Sedikit lega karena Ayu masih bernafas. Sarah tidak bisa menahan air matanya.
"Ayuna....Ayu....sadarlah Yu." Sarah berteriak kencang. Berusaha membuat Ayu sadar, tubuh nya tidak bergeming. Kala mendorong Sarah agar tidak menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Kau akan tamat kali ini. Kau tidak tau sedang berurusan dengan siapa saat ini!" Kala masih tidak mengerti dengan ucapan Sarah.
Oji hanya mendengar kan percakapan Sarah dan Kala karena matanya di tutup rapat, mulutnya di tutup lakban dan tangannya terikat.
Oji merasa khawatir mendengar Ayu tidak sadarkan diri. Dadanya bergemuruh, ingin rasanya menusuk Kala dengan apapun yang bisa membunuhnya karena menyakiti Ayu.
"Jangan mengada-ada, dia akan lenyap sendiri dari muka bumi sebelum masalah itu datang." Kala tersenyum mengejek pada Sarah.
Kala mendorong tubuh Oji dan Sarah di mobil belakang yang sudah di design seperti mobil tahanan. Mereka dipisahkan dua jeruji yang ada di dalam mobil Van yang cukup besar.
Keduanya tidak bisa saling menggapai karena disekat besi besar ditengah nya. Mobil sudah Kala design sedemikian rupa untuk melancarkan aksinya.
Kala meninggalkan mereka sejenak karena harus mempersiapkan perlengkapan lain yang masih belum dia bawa turun.
Banyak yang berubah karena Oji mencoba membawa Ayu dan Sarah kabur. Rencananya sedikit melenceng padahal sudah sangat matang. Kala terpaksa harus mengamankan Oji agar tidak menggagalkan rencana nya.
Terdengar suara bising saat kala naik ke lantai atas dari ruang bawah tanah rahasianya. Kala menghampiri untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.
"Ada apa ini." Kala terkejut ada petugas kepolisian di depan rumahnya.
Apa mungkin Oji melapor ke polisi? Kala memeriksa ponsel Oji sebelumnya dan tidak menemukan panggilan keluar selain ke nomor ponselnya.
"Kami punya surat tugas untuk menggeledah rumah bapak." Kala menarik surat tugas yang polisi perlihatkan.
"Dengan alasan apa bapak menggeledah rumah saya." Kala takut kebohongannya terbongkar.
Rencananya tinggal selangkah lagi dan tidak boleh gagal. Sarah harus jadi miliknya seutuhnya. Dia tidak rela melihat Sarah hidup dengan pria lain selain dirinya.
"Penculikan dan tindak kriminal." Tanpa menunggu waktu lama polisi masuk menggeledah seluruh ruangan di kediaman Kala.
Tidak ada apapun yang memperlihatkan tanda-tanda keberadaan Sarah dan Ayu. Kala merasa tenang karena semua barang-barang Sarah dan Ayu sudah di amankan di ruang bawah tanah.
Langkahnya sudah tepat membawa mereka ke ruang bawah tanah secepatnya. Kala menaikkan ujung bibirnya. Rasanya bahagia bisa mengelabuhi polisi kali ini.
Polisi keluar dengan tangan kosong. Tidak menemukan apapun di rumah Kala. Rama bingung karena Hans tidak mungkin membohonginya.
"Apa tidak ada ruangan rahasia?" Hans masih melihat alat pelacak nya yang tidak berpindah.
"Atau mungkin Oji tau kau melacaknya dan mereka memindahkan Ayu dan Sarah!" Banyak kemungkinan yang terjadi. Rama merasa Oji dan Kala sedang mempermainkan nya.
"Harus ada yang berjaga. Masih ada kemungkinan mereka masih ada di dalam rumah Kala." Rama memutuskan mengawasi dari jauh kediaman Kala.
Hans tidak enak hati karena ternyata Sarah dan Ayu tidak ada di sana. Hans melihat jelas Ayu dan Sarah saat sedang diancam oleh Kala di halaman rumahnya.
Cukup lama Hans, Rama dan yang lainnya menunggu pergerakan. Rama memejamkan matanya, kepalanya berdenyut memikirkan keselamatan putri kesayangannya.
"Tuan.....alat nya bergerak."
Semua bersiap memperhatikan arah dan tujuan alat pelacak yang ada di handphone Hans.
__ADS_1