
Sandra menepuk pipinya untuk mengembalikan kesadarannya. Saat ini aku tidak boleh goyah, jangan menyerah hanya karena dia tersenyum manis padamu san......
“San....San....”. Jofan melambaikan tangannya di depan wajah Sandra karena sahabatnya tampak asyik sendiri dengan dunianya.
“ I..Iya... jangan menatapku seperti itu”. Wajah Sandra bersemu merah karena Jofan sedikit menunduk untuk menyamakan tingginya dengan Sandra. Matanya yang memandang sendu ke arahnya membuat hati Sandra berdebar.
Sandra berbalik membelakangi Jofan, dia mencoba menyembunyikan kecanggungannya. Nafas nya sedikit tidak beraturan, emosinya juga tidak bisa di kontrol dengan baik.
Sandra merasakan perasaan seperti ini untuk pertama kalinya, biasanya dia hanya akan merasa deg-degan tapi masih dalam batas kewajaran.
“ San, jangan mempermainkan ku. Kita harus berdamai demi persahabatan kita”. Jofan berdiri di depan Sandra yang masih terlihat tidak bersahabat dengan Jofan.
“ Aku tidak ada masalah dengan kalian. Aku tidak pernah marah, kemaren hanya salah paham saja”. Sandra masih menundukan pandangannya, matanya tidak berani memandang pada Jofan.
“ Tatap aku”. Jari telunjuk Jofan menyentuh dagu runcing milik Sandra dan menegakkan pandangan sandra. Tapi sandra menepis nya dengan kasar.
“Jangan menyentuhku, aku baru saja mencoba mengatur emosiku supaya tidak berantakan Fan”. Sandra keceplosan memberi tahukan isi hatinya pada Jofan. Sandra sontak saja membekap mulutnya dengan tangannya sendiri. Dia yakin setelah ini tidak akan memilik nyali bertemu dengan Jofan.
“ Kau menyukaiku?”. Tatapan mata Jofan seakan ingin menelan Sandra hidup-hidup.
Lutut Sandra seketika saja melemas, tidak ada tenaga tersisa di tubuhnya. Bahkan saat ini dia sedang di hakimi oleh perasaannya sendiri.
“San, kamu baik-baik saja”. Jofan mencoba meraih pundak Sandra, tapi Sandra mengelak. Buru-buru saja Sandra mengambil tas nya yang terjatuh di lantai dan keluar dari kelas.
Tidak ada yang bisa di katakan pada Jofan, hari ini begitu sangat menyiksa untuk Sandra. Kenapa Jofan harus mengatakan hal itu dengan entengnya.
Selama ini Sandra mencoba menjaga perasaannya dengan rapat.
Jofan hanya diam mematung melihat Sandra pergi begitu saja, hatinya ikut hancur karena dia menyakiti sahabatnya. Terlebih dia sering berlaku kasar pada Sandra.
Jofan menganggap Sandra paling dewasa diantara sahabat yang lainnya. Sehingga sikapnya juga jadi sedikit cuek dan terkesan tidak bersahabat dengan Sandra.
__ADS_1
***
“San....kamu mau kemana?”. Ayu berlari ke arah Sandra yang hendak masuk ke mobilnya. Ayu sebenar nya sempat mendengar perdebatan sabahat nya. Dia mencoba mengikuti Sandra dan ingin menenangkan sahabatnya.
Sandra menoleh ke belakang mencari sumber suara. Sandra langsung saja memeluk sahabatnya yang baru saja berhenti di depannya.
Sandra memeluk Ayu dengan erat. Saat ini Ayu tidak banyak berkata-kata, dia hanya menepuk pundak sahabat nya dengan lembut. “ Sandra mau pulang?”. Ayu melepaskan pelukannya.
Hanya di jawab dengan anggukan dari Sandra. Bibirnya sulit berkata-kata, dia sedang menahan air matanya.
“ Sandra tidak papa pulang sendiri, Ayu hanya khawatir San?”. Ayu mencoba meyakinkan sahabatnya, karena berkendara dalam keadaan emosi akan berbahaya.
Akhirnya sandra mengurungkan niatnya. Ayu memilih membawanya ke ruang UKS dan membiarkan Sandra istirahat disana.
“ Aku tinggal ya San, nanti kalo ada apa-apa Sandra SMS saja yah?”. Ayu berlalu meninggal kan sandra. Ayu yakin saat ini Sandra butuh waktu untuk sendiri.
Duarrrrrr........
Ayu terjingkat kaget oleh ulah Melani.
“ Lagian di panggil-panggil dari tadi gak kedengeran. Dari mana sih?”. Melani merangkul Ayu dan kembali berjalan menuju kelas.
“ Sandra gak enak badan Mel, aku tadi anter ke UKS”. Ayu pun merangkul pundak Melani yang lebih tinggi dari pundaknya.
***
Hari ini Malik sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Ada rasa kangen melanda namun saat ini dia tak berdaya. Pekerjaan menuntutnya untuk tetap berada di kursi kebesarannya.
“Al...masuk ke ruangan ku sebentar”. Perintah Malik pada asisten nya dari balik telpon.
Tok....tok...tok....
__ADS_1
“ Iya pak”. Aldo mendatangi meja Malik. Mata malik masih tidak beralih dari dokumen-dokumennya yang menumpuk di atas mejanya.
“ Kenapa semua berkas proyek yang di luar kota di serahkan padaku? Pak Rama tidak menyentuh sedikitpun proyek-proyek ini? Apa dia mau mengambil semua waktuku?”. Malik memarahi Aldo yang jelas-jelas tidak tau tentang alasan pak Rama melakukan ini.
“ Maaf pak, saya tidak tau. Saya hanya mengikuti perintah Bapak”. Aldo hanya bisa pasrah saat nak dan ayah sedang tidak sejalan, dia akan jadi tumbal kemarahan keduanya. Dan Aldo hanya bisa Pasrah menerima nasibnya.
“ Arrrrggggg...............”. Malik mengacak rambutnya yang tersisir rapi. Ada raut frustasi dari wajahnya. Dia ingin beranjak namun masih banyak yang harus dia cek.
***
“ Gimana Pras? Kamu sudah atur semua proyek yang harus di tangani Malik. Jangan biarkan dia memiliki waktu menemui anak ingusan yang tidak jelas asal-usulnya”. Pak Rama menyeruput kopinya yang masih sedikit panas.
“ Sudah pak, saya sudah serahkan sesuai perintah bapak”. Pras mengulas senyum menjawab pertanyaan atasanya.
Brakkkkk............
Malik masuk secara paksa ke ruangan Ayahnya tanpa mengetuk pintu. Dia sudah tau akal-akalan ayahnya yang membuatnya tidak memiliki waktu luang untuk menemui Ayu.
“ Jangan mengambil semua waktuku. Apa selama ini pengorbanan ku tidak cukup? Aku ingin punya kebebasan sedikit”. Malik langsung marah mengeluarkan semua unek-unek nya.
“ Bicara apa anak ini”. Pak Rama mengalihkan pandangannya ke luar jendela dan tidak meladeni Malik. Dia sudah tau sebenarnya alasan kemarahan Malik pada dirinya.
“ Tolong kurangi sedikit saja pekerjaanku”. Malik menagtupkan kedua tangannya di dada. Emosinya sudah tidak tertahankan.
“ Kalo kamu bersedia aku nikahkan dengan putri sahabatku, aku akan memberimu kebebasan sesuai dengan kemauanmu”. Pak Rama masih mebelakangi Malik.
“ Tidak tersisa sedikitpun kasih sayangmu?”. Malik tidak menyerah, dia masih mencoba mempertahankan harga dirinya.
“ Aku akan selesaikan semuanya”. Malik meninggalkan ruangan Ayahnya dengan hati yang panas membara.
Kali ini Malik tidak akan menyerah begitu saja. sudah banyak hal yang di korban kannya hanya untuk mengikuti segala keinginan Ayahnya. Hatinya sudah terlanjur terpaut pada Ayuna. Tidak ada sosok lain yang mampu menjebol pertahanan hatinya.
__ADS_1
Selama ini dia tidak tertarik pada gadis manapun, mereka banyak yang memanfaat kan Malik untuk kepentingan diri mereka sendiri.
Ayu lah gadis yang mampu meporak porandakan pertahanan Malik. Senyumnya, keluguannya mampu membuat Malik bahagia.