
Malik tersenyum dalam hati, dia begitu lembut seperti dugaannya. Dia tidak bisa mendapatkan orang lain marah padanya, apalagi ini dirinya yang sekarang sudah sah jadi suaminya.
"Ayuna, aku sangat mencintai mu." Malik duduk di lantai memeluk Ayu yang masih menangis. Ada perasaan menyesal bercampur bahagia melihat bagaimana Ayu menyesali perbuatannya.
"Aku hanya bercanda, aku tidak mungkin marah." Mendengar itu Ayu semakin menangis. Meluapkan segala kesedihannya yang dia tahan sejak tadi sampai membuat dadanya sesak.
"Sudah sayang, sudah yah. Aku tidak marah, aku hanya bercanda." Malik mengangkat tubuh Ayu duduk kembali di atas kasur.
Malik baru ingat tidak menutup panggilan telpon nya dari Adam. Dia kembali meraih ponsel dan melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda.
"Adam, kau masih di sana?" Malik mengatur nafasnya yang masih bergemuruh.
"Apa yang terjadi, Ayu masih demam? Apa aku harus kesana?" Adam penasaran karena mendengar Ayu menangis cukup keras.
"Hahahaha, tidak Dam. Dia sudah baik sekarang."Malik memandang Ayu yang memunggunginya sekarang.
Menyentuh tubuh Ayu dengan lembut agar Ayu tidak tenggelam dengan perasan sedihnya.
Ayu merasa malu karena hatinya begitu lemah, dia tidak suka orang lain marah padanya. Dia akan sangat mudah meneteskan air mata di manapun. Dia merasa Kak Malik jahat mempermainkan perasaannya.
Malik menyudahi obrolannya dengan Adam, ada hati yang harus dia tenang kan saat ini. Tidak boleh membiarkannya berpikir hal buruk yang tidak seharusnya.
"Kau marah? Ayu tau, aku hari ini sangat bahagia. Kamu sudah kembali sehat, Ayu menunjukkan betapa besar penyesalan Ayu dengan sikap Ayu sebagai istri yang tidak menuruti ucapan suaminya." Kata-kata Malik membuat Ayu berbalik.
Kak Malik benar, tidak seharusnya Ayu melawan perintah suaminya. Itu dosa besar. Ayu menahan air matanya yang masih deras agar tidak kembali mengalir.
"Jangan mengulanginya, aku akan benar-benar marah jika Ayu mengulanginya lagi." Malik memposisikan siapa dirinya, agar Ayu mau membuka hati dan menceritakan apa yang mengganggunya saat ini.
Malik tau emosi Ayu saat ini sedang di permainkan, dia rapuh dan masih sangat muda untuk tau apa yang sebenarnya harus dia lakukan.
Ayu tidak bisa berkata-kata, dia hanya menggeleng. Tenggorokannya sakit menahan emosi agar tidak kembali menangis.
"Jangan bersedih lagi, aku sudah memaafkan." Malik merangkul Ayu ke pelukannya. Mendekap erat tubuhnya menempel dengan tubuh Malik.
Kau terlalu lemah menahan semuanya sendiri Ayuna, toling percaya padaku dan berbagilah semua kesedihan yang kamu rasakan. Malik bicara dalam hati
"Maaf" Terdengar suara Ayu yang sangat lirih.
"Tidak apa sayang." Malik merasa bahagia sangat di cintai Ayu. Banyak hal yang ingin Malik tanyakan, tapi waktunya belum tepat.
Dia bahkan sampai demam, pasti ada ketakutan yang besar tapi Ayu tidak tau bagaimana cara mengatasinya.
"Apa benar Minggu depan ada camping?" Ayu tersentak mendengar ucapan Kak Malik.
Ayu kaget, tau darimana Kak Malik soal camping ini. Pasti Mas Jofan yang memberi tau Kak Malik. Apa dia akan memberikan ijin. Ayu berargumen sendiri dalam hati.
"Benar Kak." Harus jadi gadis kecil yang manis agar di beri ijin. Senyumnya tiba-tiba saja kembali.
"Apa Ayu ingin ikut?" Malik masih bingung.
__ADS_1
Tentu saja aku mau ikut. Berteriak girang dalam hati.
"Apa boleh Kak?" Tidak boleh terlihat antusias, Kak Malik tidak suka.
"Apa Ayu bisa berjanji tidak akan terluka?" Malik duduk menyandarkan tubuhnya. Jemarinya di tautan dengan jemari-jemari mungil milik Ayu.
Ya Tuhan, dia hanya perduli dengan keselamatan ku. Aku sangat beruntung memilikinya. Ayu ikut duduk karena Kak Malik sedang serius kali ini.
Ayu mengangguk, dia mencoba meyakinkan Malik kalau akan baik-baik saja selama di sana. Aku akan sangat bahagia bisa camping setelah sekian lama tidak kemanapun setelah menikah dengan Kak Malik.
"Aku banyak sekali perkejaan, tidak bisa aku tinggalkan apalagi ke luar kota." Malik merasa sedih. Banyak yang tidak bisa dia tinggalkan untuk menemani Ayu.
"Aku akan jaga diri baik-baik Kak." Dengan suara serendah mungkin.
"Benarkah? Aku akan memikirkannya. Harus ada yang menjaga malaikatku disana." Malik kembali merengkuh tubuh Ayu ke pelukannya.
Mendengar ucapan cinta Kak Malik yang kesekian kalinya membuat Ayu berbunga-bunga memiliki cinta yang begitu besar.
***
"Kak Rey, kenapa Kaka akhir-akhir ini sering sekali melamun? Kamu pasti rindu pada Ayu kan?" Jofan dengan santai bicara tanpa tau yang Rey rasakan.
Johan merasa ada yang berubah sejak tidak ada Ayu. Kak Rey kembali dingin seperti dulu. Jofan bahkan merasakan kali ini perubahan sikapnya jauh lebih parah dari sebelumnya.
"Jangan banyak bicara, cepet makan makananmu sebelum dingin." Mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa bertemu dengannya secara bebas. Kak Malik benar-benar menjaga nya dengan ketat." Mengunyah potongan daging dengan perlahan. Menikmati rasa yang di hasilkan dari gigitan yang menusuk di lidah.
Ana tersenyum manis lalu kembali fokus pada lukisan indah yang dia lihat. Sudah lama dia tidak menghasilkan lukisan indah karena begitu banyak hal yang mengganggunya belakangan ini.
Ana sampai tidak punya inspirasi untuk melukis keindahan yang biasanya bisa dia gambar dengan mudah. Dia harus menjaga Rey agar tidak terpuruk dengan kenyataan yang dia tau belakangan ini.
Apalagi selama ini Rey sangat mencintai Ayu, pasti sulit untuk merubah perasaanya begitu saja. Dia bahkan pura-pura tidak perduli lagi, tapi perasaanya tidak bisa dia pungkiri begitu saja.
"Kak Ana, Minggu depan aku dan teman-teman camping. Apa Kak Ana mau ikut?
"Memang kamu pikir aku ini anak sekolah? Aku sudah tua Jofan." Melirik Rey.
Ana sebenarnya sudah lama menanti Rey menikahinya. Sudah cukup lama mereka bertunangan dan Rey masih belum memberikan kepastian kapan akan menikahinya.
"Kak Ana tidak terlihat tua, Kaka masih sangat cantik." Ana tersipu malu. Jofan selalu bisa membuatnya tersenyum dengan tingkah nya.
"Jangan merayunya, kau bisa cari perempuan lain." Menarik Ana yang saat ini memeluk Jofan.
Mereka bertiga tertawa. Merasa bahagia karena sudah lama tidak bercanda seperti ini. Biasanya suasana semakin ramai saat Ayu bekerja di restoran Kak Rey.
"Kak Rey, sepertinya kita harus mengawasi Oji. Dia benar-benar nekat sekarang." Jofan ingat pembicaraannya dengan Malik.
"Yah, tapi dia lebih hati-hati sekarang, kita jadi lebih sulit karena tidak bisa membuktikan perbuatannya." Rey ingat bagaimana dia membuat Arumi masuk dalam perangkap nya.
__ADS_1
"Aku tidak mau kehilangan Ayu seperti aku kehilangan Arumi. Aku harus menjaganya." Jofan merasa sangat terpukul.
"Kenapa kamu sangat menyayangi Ayu?" Rey takut cinta Jofan bisa berubah jadi kekecewaan pada Ayu setelah tau siapa dirinya.
"Aku tidak tau, perasaanku tidak bisa dijelaskan. Aku hanya sangat mencintainya seperti aku mencintai Arumi kecil ku." Jofan sendiri merasa heran. Biasanya dia tidak mudah menyayangi orang lain seperti dia menyayangi Ayu.
Ana menggenggam erat tangan Rey, menguatkan agar Rey tidak membuka percakapan yang tidak seharusnya.
Mereka sama-sama belum siap, hanya akan ada kehancuran jika tetap egois. Sorot mata Ana membuat Rey mengurungkan niatnya.
Bukan dia yang harus menceritakan semuanya, tapi Kak Ferdinan yang harus membuka semua kejadian di masa lalunya. Dia harus menguatkan kedua anak kandungnya agar saling mengakui satu sama lain.
"Kita akan sama-sama menjaga Ayu." Akhirnya hanya kata-kata itu yang berhasil keluar dari mulut Rey. Ana tersenyum bangga, Rey mengambil keputusan yang tepat.
Tok....tok...tok....
"Masuk" Rey menyahut mendengar pintu ruangannya di ketuk.
"Tuan maaf, ada yang ingin bertemu dengan Tuan." Rey berdiri keluar dari ruangan mengikuti karyawannya membawa dia pada tamu yang datang dan ingin menemuinya.
Bajingan kecil ini ternyata, berani-beraninya dia datang kemari. Rey melipat kedua tangannya dengan pandangan mata yang tajam mengerikan.
"Kak Rey. Maaf mengganggu, aku hanya ingin menyerahkan barang-barang Arumi yang masih ku simpan." Menyodorkan kotak kecil.
"Buang saja, aku tidak Sudi menerimanya." Rey menahan emosinya yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Santai Kak Rey, aku sudah menemukan orang yang tepat. Jadi aku akan melupakan Arumi." Berkata sambil tersenyum, membuat Rey semakin emosi.
"Kau, keluar dari sini !" Rey mengangkat kursi yang ada di hadapannya. Rasanya ingin sekali melemparinya ke muka Oji.
Rey mengurungkan niatnya, banyak pelanggan yang memperhatikannya. Dia hanya akan menghancurkan citra restauran yang sudah dia bangun dengan susah payah selama ini.
"Baiklah, jangan emosi Kak. Aku akan berbahagia sekarang, hahahhahahha." Tertawa membuat Rey benar-benar tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Rey menarik kerah baju Oji, mendorong nya sampai membentur tembok. Oji tetap masih tersenyum, dia bahagia sudah berhasil memancing emosi Kak Rey.
"Jangan ganggu Ayu. Atau aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi seperti dulu." Rey mendorong Oji lalu meninggalkannya begitu saja.
Oji kembali berdiri tegak setelah di dorong Rey cukup keras. Menyapu pakaiannya yang sekarang berantakan dengan tangannya.
"Jangan ikut campur, dia tidak punya hubungan apapun denganmu." Oji berteriak sekeras mungkin agar Rey mendengarnya.
Rey tidak menggubrisnya, meladeninya pasti hanya membuang energinya saja dan merugikan dirinya sendiri.
"Siapa yang datang?" Ana memeluk Rey yang masuk dan terlihat sangat kesal .
Menenangkannya dengan tidak membahas apa yang mengganggunya. Agar Rey bisa meredakan emosinya yang masih tidak terkontrol.
Mendengar ucapan Oji, Dia merasa ada tekanan dalam dirinya untuk membuka identitas Ayu. Tapi dia harus menjaga perasan Jofan dan Ayu, Rey tidak boleh egois hanya karena terpancing ucapan Oji.
__ADS_1
Oji tidak boleh membuat orang yang dia cintai sekali lagi harus menderita karena ulahnya.