Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 177 ( Penikahan Rey dan Ana )


__ADS_3

Rama pulang dengan wajahnya yang tidak bersahabat, tampak kusam dan sangat berantakan. Mamih meraih tangan suami yang sangat dia cintai. Tersenyum dengan gigi putihnya yang tersusun rapih agar suaminya sedikit terhibur. Usahanya kali ini gagal, Rama hanya tersenyum sedikit dan kembali dengan wajah kusamnya.


Ajeng lari ke lantai bawah saat Rama masuk ke dalam kamar mandi. Dia sangat penasaran dan menghampiri Pras yang masih berbincang dengan Pak Dodo yang sama-sama sudah bersiap untuk pulang. Dengan nafas tersenggal-senggal akhirnya Ajeng sampai di depan Pras.


“Nyonya, apa yang terjadi! Kenapa nyonya terlihat sangat terburu-buru. Apa Tuan baik-baik saja?” Ajeng menggeleng, masih mengatur nafasnya yang terasa sesak. Pras dengan penuh perhatian meminta Ajeng untuk duduk.


“Pras, jelaskan padaku apa yang terjadi pada suamiku! Kenapa dia terlihat sangat bingung dan kesal!” Pras tersenyum, Rama memintanya untuk tidak menceritakan kejadian yang menimpanya. “Apa ini ada hubungannya dengan berita yang menggemparkan tentang Putra ku?” Ajeng sangat penasaran.


“Sepertinya itu hanya perasaan Nyonya saja. Tuan baik-baik saja, hanya saja hari ini sangat banyak kerabat dan rekan bisnis yang menghubungi untuk mengkonfirmasi kebenaran berita yang beredar.” Pras mencoba menutupi sebaik mungkin. Ajeng menggeleng, dia kenal betul siapa Rama. Dia bukan tipikal orang yang mudah terpengaruh dengan hal-hal kecil, kecuali yang terjadi benar-benar mengancam dirinya atau orang-orang yang dia cintai.


“Kau seperti baru mengenalnya saja. Dia tidak mungkin bersikap seperti itu padaku. Aku baru melihatnya setelah sekian lama. Semenjak Malik menikah.” Ajeng yakin ada yang tidak beres.


“Mamih.....” Ketiganya terkejut saat Rama berteriak dari balkon kamarnya. Ajeng buru-buru masuk ke dalam rumah menemui Rama. Dia sangat menakutkan jika dalam keadaan marah seperti sekarang.


“Aku hanya meminta Pak Dodo mengantarku ke butik besok. Aku ingin beli gaun untuk pesta pernikahan Rey Lusa.” Berusaha mencari alasan agar Rama tidak mencurigainya. Rama tidak menggubris dan berjalan dengan santai ke meja makan. Perutnya keroncongan sejak pagi tidak ada kesempatan untuk makan.


“Kau hanya masak ini? Kenapa makanannya sangat tidak berselera!” Baru kali ini Rama komplain dengan makanan yang Ajeng siapkan. “Ayo kita makan di luar.” Rama menggandeng tangan istrinya. Ajeng menurut saja karena masih tidak bisa membaca situasi yang sedang Rama hadapi.


“Pak Dodo sepertinya sudah pulang!” Ajeng tidak melihat siapa pun ada di halaman rumah selain satpan yang berjaga.


“Aku akan menyetir sendiri malam ini.” Rama tersenyum, dia harus menebus kesalahannya membuat Ajeng gelisah karena sikapnya. “Jangan khawatir, suami mu ini masih sangat gagah perkasa untuk menyetir mobil seorang diri.” Ajeng tertawa mendengar lelucon suaminya.


Sebenarnya jiwa emak-emak sudah membakar jiwa Ajeng, rasa penasaran menjalar di sekujur tubuhnya, tapi dia tidak berani memberanikan diri untuk bertanya. Salah-salah Rama bisa saja marah dan tidak bicara beberapa hari dengannya. Itu bentuk protes yang biasa Rama lakukan jika Ajeng terlalu ikut campur yang bukan urusannya. Ajeng memilih membisu dan tidak menyuarakan isi otaknya, daripada membuat masalah semakin rumit. Bicaralah yang baik atau diam. Begitu menurut isi pikiran Ajeng yang terbaik saat ini.


Rama memilih restaurant favorit keluarganya untuk makan malam ini. Restaurant milik Rey tentu saja. Ana menyambut dengan hangat kedatangan dua orang istimewa yang selalu jadi tamu VIP retsaturant milik calon suaminya.


“Sudah sangat lama Tuan dan Nyonya tidak mampir.” Ajeng menyambut Ana dengan pelukkan hangatnya.


“Aku juga sangat kangen dengan masakan Rey yang sangat enak.” Ana membawa Rama dan Ajeng ke ruangan VIP. “Kenapa kau masih bekerja, kan lusa kalian menikah!” Merasa bangga dengan kerja keras anak-anak muda jaman sekarang.


“Kami sudah beberapa hari tidak mampir, hari ini Kak Rey ingin mengecek keadaan restaurant saja Nyonya.” Ajeng menepuk punggung tangan Ana yang menuntunnya.


“Kenapa tidak panggil aku Mamih. Aku tidak suka di panggil Nyonya oleh keluargaku.” Ana tersenyum, benar sekali. Ajeng adalah Ibu Mertua Ayu.


“Baiklah...Mamih...Hehehehe” Ana membukakan pintu dan mempersilahkan Rama dan Ajeng untuk duduk. “Aku akan bawakan orang special yang pasti sangat kalian rindukan.” Mata Ajeng membulat.


“Apa Ayuna ku ada di sini?” Ana mengangguk dan berlalu meninggalkan ruangan dengan wajah bahagianya.


“Kau sangat tepat membawaku ke sini.” Ajeng memeluk tubuh suami tercintanya. Rama juga sangat rindu pada putrinya. Tuhan sangat baik mempertemukannya dalam keadaan yang tepat. Dia putuh ruang bahagia agar bisa sedikit melupakan keresahannya.

__ADS_1


Ana masuk ruangan dengan wajah berbinar-binar . “Ayu.....” Jofan membekap mulut Ana yang baru saja ingin berteriak lantang. Ternyata Ayu tertidur pulas di atas sofa.


“Kak Ana sangat antusias, ada siapa?” Jofan merasa penasaran, Ana bukan orang yang suka bersuara keras. Dia cenderung lemah lembut dalam bersuara. Ana memanyunkan bibirnya.


“Sayang sekali, padahal orang tua Malik ada di bawah. Mereka sangat ingin bertemu dengan Ayu.” Ana sedikit kecewa.


“Aku aja yang turun menemui mereka. Kak Ana boleh melanjutkan pekerjaan Kaka agar kita bisa cepat pulang.” Ana menyetujui ide Jofan. Keduanya turun ke bawan menyelesaikan pekerjaan masing-masing.


“Selamat Malam Om, Tante.” Mamih mencari sosok lain, tapi hanya Jofan yang masuk ke dalam ruangan. “Ohhh....Maaf, tapi Ayu tertidur pulas.” Mamih tersenyum sedih. “Apa Mamih mau menemuinya setelah makan malam?”. Jofan tau betul mereka sangat merindukan Ayu.


“Iya Jofan, kamu jaga Ayu yah. Kita akan menemui kalian selesai makan malam. Om sangat lapar tidak tahan....” Rama menggosok perutnya yang sudah tidak tahan lagi.


“Baik Om, Tante. Jofan naik ke ruangan Kak Rey, aku tunggu di sana yah.” Jofan membantu pelayan menyiapkan makanan sebelum meninggalkan keduanya. Ajeng memeluk Jofan dengan erat, tidak tahan melihat Jofan tumbuh jadi laki-laki yang sangta kuat dan hebat.


“Cepat pergi Fan, nanti dia bisa jatuh cinta padamu.” Rama membuat Jofan da Ajeng tergelak. Jofan degan sopan membalas plukkan Ajeng sebelum pergi meninggalkan keduanya.


Tidak lama Ajeng dan Rama memasuki ruangan Rey bersama dengan Ana dan Rey. Rama bahagia putrinya dikelilingi orang-orang yang sangat mencintainya. Setidaknya mereka lega Ayu tidak merasa sendirian.


“Apa dia putri tidur? Dia bahkan tidak terganggu dengan suara bisingnya.” Rama mencubit hidung Ajeng dengan gemas.


“Suara ku itu memabukkan, lihat siapa yang berhasil aku rayu.” Ajeng tidak mau kalah membalas ejekkan suaminya. Paling tidak senyum Rama sudah kembali.


“Semua akan segera baik-baik saja. Kita akan segera berkumpul.” Rama menepuk bahu Ajeng menenagkannya.


“Kami sedikit bersyukur, setidaknya kami punya kesempatan merawatnya karena masalah ini.” Benar ucapan Rey, selalu ada hikmah yang bisa di ambil dari setiap kejadian. Malam ini Rama dan Ajeng merelakan putrinya dengan keluarganya yang juga sangta menyayanginya.


***


Tibalah hari bahagia yang sangat Rey dan Ana nantikan. Semua keluarga termasuk Ayu sibuk mempersiapkan diri agar terlihat menawan di pesta pernikahan yang di gelar mewah oleh Rey. Semua kerabat dan teman-teman dekat turut menghadiri undangan hari bahagia Rey.


Jofan, Ayu dan Ferdinan mengenakan pakaian yang senada dengan gaun pernikahan Ana yang berwarna lavender. Ana tampak begitu menawan, kecantikan memancar alami dari wajahnya yang penuhi kebahagiaan.


Jofan tidak melepaskan tangan Ayu. Dia masih ingat betul bagaimana nyawa Ayu berkali-kali dalam bahaya karena orang-orang tidak bertanggung jawab. Ayu mulai terbiasa dengan sikap Jofan yang posesif padanya. Semua Ayu anggap wajar karena dia pernah kehilangan saudara kandungnya.


Jofan menghampiri meja Sandra dan Melani, jantung Sandra berdetak tidak beraturan melihat ketampanan Jofan malam ini. Kemeja lavender yang sangat seksi di tubuh Jofan membuat Sandra merinding. Tidak percaya jika laki-laki tampan yang ada di hadapannya adalah kekasihnya. Jofan menggeleng sambil tersenyum melihat Sandra mengedipkan matanya berulang kali. Jofan menarik kursi untuk Ayu.


“Kau sangat cantik.” Jofan berbisik ditelinga Sandra. Melani yang memperhatikan Jofan merasa curiga tapi tidak mau ambil pusing, itu urusan mereka berdua.


Hanya Sandra yang berbunga-bunga tanpa sepengetahuan kedua sahabatnya.

__ADS_1


Acara demi acara dilalui dengan hikmat. Sekarang semua tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Beberapa ada yang memilih berfoto dengan pengantin ketimbang mengantri makanan. Jofan mengajak Ayu, Sandra dan Melani makan terlebih dahulu sebelum berfoto. Perutnya sangat lapar tapi tidak bisa meninggalkan ketiga sahabatnya yang sering berbuat ceroboh.


Sandra masih tersenyum-senyum tidak jelas membuat Ayu dan Melani menggeleng tidak percaya, dia sangat memalukan. Tidak bisa sedikit pun menutupi rasa bahagianya di depan orang lain. Untung saja tidak ada orang yang memperhatikan. Jika begini, Ayu dan Melani tau dengan sendirinya keduanya sudah menjalin hubungan. Pandangan Jofan pada Sandra pun mulai berbeda. Penuh dengan cinta pancaran matanya.


“Aku mau ke toilet.” Ayu tiba-tiba ingin buang air kecil.


“Aku antar.” Ayu menggeleng dan langsung lari karena sudah tidak tahan.


“Aku mohon ikuti Ayu. Aku khawatir jika dia sendirian.” Sandra dan Melani langsung lari menyusul Ayu, tapi keduanya kehilangan jejak Ayu. Sandra dan Melani menyusuri lorong mencari toilet.


Aww......tolo....ng.....


Ayu sangat terkejut saat tiba-tiba saja ada yang membekap mulutnya dari belakang dan membawanya ke toliet laki-laki. Sekujur tubuh Ayu bergidik ngeri dan gemetar ketakutan.


Ayu menatap dengan tajam dari ujung kaki sampaiujung kepala, laki-laki dengan topi hitam yang sangat asing di mata Ayu. Tapi postur tubuhnya sangat dia kenal. Ayu mundur menjauh dari laki-laki yang saat ini berdiri di depannya. Wajahnya tertutup masker dan topi berwarna hitam.


“Jangan macam-macam. Kau tidak bisa melukaiku. Jangan mendekat.” Langkah kaki laki-laki yang ada di depan Ayu terhenti tanpa bersuara. “Aku akan berteriak jika kau tidak melepaskanku.” Laki-laki itu tampak tersenyum dari balik maskernya. Wajahnya tidak asing, tapi tidak mungkin.


Sandra dan Melani tidak berhasil menemukan Ayu. Dua toilet terdekat dalam keadaan kosong. Mereka memutuskan kembali siapa tau Ayu sudah kembali. Jofan tampak masih berdiri seorang diri menikmati minuman yang ada di tagannya.


“Ayu belum kembali?” Jofan menggeleng. “Kami juga tidak menemukannya.” Jofan segera berlari mencari keberadaan Ayu, Sandra dan Melani mengikuti Jofan. Dari kejauhan Rey melihat Jofan yang berlari dengan wajah paniknya.


“Aku akan segera kembali.” Rey meninggalkan Ana yang sedang berbincang dengan Sarah dan Adam. “Adam tolong jangan tinggalkan Ana sendirian.” Adam setuju begitu saja tanpa bertanya maksud Rey.


“Apa ada masalah!” Sarah sangat penasaran kenapa Rey terlihat sangat panik. Ana sama bingungnya, dia juga tidak tau apa yang sedang terjadi.


“Mungkin hanya masalah kecil, jangan merusak momen bahagia dengan khawatir hal-hal yang tidak perlu.” Sarah memeluk Ana yang sangat menggemaskan, dia mengingatkannya pada hari pernikahannya dengan Adam. Ana sama seperti dirinya, menikah tanpa kedua orang tua. Bedanya orang tua Ana memang sudah tiada.


“Jofan!!!!” Rey meneriaki Jofan yang lari pontang-panting kesana kemari. “Ada apa!” Jofan mendekat pada Rey, wajahnya sangat tertekan.


“Aku tidak menemukan Ayu dimanapun. Tolong Kak Rey....tolong temukan Ayu.” Rey memeluk Jofan, dia pasti sangat ketakutan terjadi hal buruk pada Ayu.


“Tenang, aku akan meminta keamanan gedung mencari Ayu lewat rekaman CCTV.” Jofan mengangguk menuruti saran Rey. Air mata tidak bisa Jofan tahan, dia menangis dalam diam. Sandra ikut teriris hatinya melihat Jofan sangat khawatir dan ketakutan.


“Sandra dan Melani kembali ke ruang pesta. Beri peringatan pada Ana dan Dokter Adam.” Sandra menggandeng tangan Melani memasuki keramaian.


Adam tau ada yang tidak beres saat Sandra dan Melani datang dengan wajahnya yang sangat pucat. “Tenang....tarik nafas dalam-dalam hembuskan lewat mulut.” Keduanya mengikuti perkataan Adam. Setelah cukup bisa menguasai dirinya, Sandra meneritakan apa yang terjadi pada Ayu.


“Apa yang harus kita lakukan. Kita tidak bisa diam saja.” Sarah emosi melihat Ayu selalu saja dalam bahaya.

__ADS_1


“Kita tidak mungkin membuat semua orang yang ada di sini panik, kita tunggu kabar dari Rey. Kita harus tenang.” Adam padahal sangat khawatir, dia juga mencemaskan keadaan Ayu.


__ADS_2