Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 181 ( Murni Sudah Siuman )


__ADS_3

Sarah hanya bisa mengedipkan mata memperhatikan jalanan yang dia lewati dari celah-celah kaca mobil yang tertutup tirai. Mulutnya tertutup rapat dengan lakban sementara tangan dan kakinya di ikat tali dengan cukup kuat. Sarah tidak berani menatap Ali dan kedua temannya yang duduk di sebelahnya.


Mau dibawa kemana aku ini, dia ini laki-laki macam apa yang tega menganiaya istrinya. Sekarang dia malah membawa kabur istrinya yang lebih membutuhkan rumah sakit daripada dirinya. Kau tidak akan memiliki cinta jika sikapmu seperti itu. Sarah memaki Ali di dalam hatinya.


“Kau mengataiku!” Sarah menggeleng saat tertangkap basah oleh mata Ali. “Kenapa kalian membawanya lari dariku! Aku sangat menyayanginya.” Ali membuat Sarah menelan ludahnya berkali-kali. Sarah semakin takut saat Ali memperlihatkan ekspresi wajahnya yang sangat tidak bersahabat.


Murni sangat tidak beruntung, dia memiliki laki-laki yang mencintainya sekaligus membuatnya menderita karena sifatnya yang tempramental. Entah apa yang membuatnya bisa tega menyakiti wanita yang seharusnya menjadi tempatnya pulang, wanita yang seharusnya menjadi rumah saat dia ingin berteduh. Ini bukan cinta, Ali hanya terobsesi.


“Apa yang sedang kau pikirkan. Kenapa menatapku seperti itu.” Sarah segera memejamkan matanya. Tidak mau berurusan dengan Ali lebih jauh. “Benar, kau tidur saja sampai kita temukan tempat persembunyian yang aman.” Sarah setuju den mengangguk. Karena tubuhnya sangat lelah, Sarah benar-benar tertidur.


Dia bangun dan sudah ada di ruangan yang cukup besar, lebih mirip dengan gudang. Tapi dipenuhi dengan senjata-senjata modern yang cukup mahal. Beberapa orang berjaga dan tidak membiarkan Sarah kabur pastinya.


Seseorang maju mendekati Sarah, membuka ikatan tangan dan kakinya. Dan terakhir membuka lakban yang menutup mulutya. Sarah sampai berteriak karena kulitnya seakan ikut tercabut dari dagingnya.


“Dokter makan. Jangan membantah atau kau akan kehilangan nyawamu.” Sarah beringsut turun dari ranjangnya dan segera meraih bungkusan yang ada di depan matanya. Memakannya dengan tergesa-gesa sampai tersedak beberapa kali.


Siapa sebenarnya mereka ini, kenapa mereka seakan bukan orang-orang biasa saja. Sepertinya ada yang tidak diketahui oleh banyak orang apa yang sebenarnya Ali lakukan pada Murni bukan semata-mata karena penyakit kejiwaan yang dia miliki. Ada hal lain yang perlu diselidiki. Sarah menggelengkan kepalanya.


Sadar Sarah, itu bukan urusan mu. Saat ini kau harus memikirkan bagaimana caranya bisa keluar dari ruangan ini dengan selamat. Sarah menyadarkan dirinya agar tidak penasaran dan malah membahayakan nyawanya dan Murni.


Sarah tidak sadar sedari tadi ada mata yang memperhatikan dirinya. Tatapan yang tidak bersahabat membuat Sarah ingin sekali memakinya. Tapi apalah daya, dirinya saat ini tidak berdaya. Melawan dan mencari masalah hanya akan menambah sulit. Perlahan laki-laki yang memperhatikannya mendekat dengan senyum menjengkelkan bagi Sarah. Pasti niatnya tidak baik, Sarah sangat gugup sampai tidak tau harus berbuat apa.


“Tolong ja..jang...” Baru saja ingin membela diri meski sekujur tubuhnya gemetar. Ali muncul dan menyeret tubuh laki-laki itu keluar dari ruangan.


“Jangan khawatir. Aku yang akan menjaga kalian dengan tanganku sendiri.” Entah harus berterimakasih atau apa. Tapi kali ini Sarah lolos karena Ali. Semoga selanjutnya tidak akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, pikir Sarah bersyukur daripada merajuk.


Ali memanggil Sarah agar mendekat dengan gerakkan jari-jari tangannya. Sarah mencoba bersikap berani meski tidak sama dengan isi hatinya. Melangkah perlahan mendekati Ali yang saat ini duduk menggenggam tangan Murni yang masih tidak kunjung sadar.


“Kenapa istriku masih belum pulih juga. Apa yang sudah kau lakukan padanya.” Benar ketakutannya, kehadirannya akan menjadi bahan pelampiasan kemarahannya. Sarah mencoba tetap tersenyum.


“Murni saat ini koma, aku sudah mencoba berbagai cara dan masih belum bisa membuat Murni sadar.” Aduh....kenapa aku malah menyatakan peryataan yang sulit menghindarkanku dari amukannya. Sarah semakin deg-degan. Dia takut apa yang Ali lakukan pada Murni juga menimpa dirinya.


Ternyata tidak, Ali hanya menggeleng seakan tidak menyalahkan Sarah. Sarah pura-pura memeriksa selang infus di pergelangan tangan Murni. Mengotak-atik alat kesehatan agar Ali melihatnya seolah sedang berusaha keras. Sarah lega karena Ali akhirnya keluar dari ruangan tanpa melukainya meski tatapan tajam matanya saja sudah meresahkan. Jantungnya hampir saja copot dari tempatnya.


Mata Ali masih tidak lepas dari dirinya dan Murni saat sedang berbincang dengan beberapa orang yang berdiri di balik ruangan kaca yang mereka tempati. Ada laki-laki tua yang tubuhnya tinggi besar duduk di pojok ruangan, Sarah tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi tampaknya semua orang takut padanya.


Percakapan mereka tidak bisa terdengar karena ruangan yang Sarah tempati kedap suara. Pasti sudah di rancang dengan sangat canggih oleh pemilik tempatnya.

__ADS_1


Sarah mencoba melupakan semua yang ada di kepalanya, bayangan-bayangan hal buruk yang bisa kapan saja menimpanya. Membayangkan Mahesa kecil yang tumbuh tanpa dirinya jika sampai Ali melukainya. Bukan berhasil menguasai perasaannya, Sarah malah menjadi semakin sedih. Air mata tiba-tiba saja tidak bisa Sarah bendung. Mengalir deras seolah tidak ada celah untuk menghentikannya. Sarah berjongkok di samping ranjang Murni menangis sepuasnya tanpa suara. Tidak mau menarik perhatian Sarah menyembunyikan diri agar tidak ada yang melihatnya menangis.


Sarah terkejut saat tiba-tiba air mineral dingin muncul di depan mukanya. Air mata yang deras berhenti begitu saja. Menatap wajah laki-laki yang saat ini berdiri di depan Sarah.


“Minumlah, supaya air mata dokter beku dan tidak lagi menetes.” Sarah meringis mendengar kata-kata seorang penjahat yang seolah sedang membual menghiburnya. Sarah segera meraih air mineral dan meneggaknya sampai kandas. “Ternyata Dokter kehausan. Lain kali jangan menangis, bilang saja kalau ingin minum.” Laki-laki yang entah siapa itu pergi meninggalkan Sarah yang masih merasa sedikit terhibur ditengah kegundahan hatinya.


Sarah melotot dan tersenyum melihat tangan Murni yang bergerak. Matanya sedikit demi sedikit terbuka. Ini benar-benar keajaiban, Murni berhasil berjuang kembali sadar. Sarah rasanya ingin berteriak mengatakan bahwa Murni sudah sadar, tapi siapa orang yang bisa dia ajak bicara saat ini.


Sarah mendekatkan telinganya ke mulut Murni. Dia masih kesulitan bicara tapi seolah ingin menyampaikan sesuatu. “Apa yang ingin kau katakan. Jangan memaksakan diri.” Murni mengedipkan matanya sambil tersenyum. Sarah menggenggam erat tangan Murni.


“Jangan katakan aku sudah sadar, ini rahasia. Aku selama ini sadar dan tau apa yang kalian bicarakan, apa yang terjadi selama aku koma. Aku sengaja, aku ingin Ali di tangkap dan di adili karena dosa-dosanya.” Sarah terkejut, ternyaat selama ini Murni sudah sadar tapi tidak memperlihatkannya pada siapa pun. Dia ingin memperlihatkan bagaimana sikap seorang Ali yang asli. Dan Murni berhasil, sudah setengah jalan.


Sekarang Murni bahagia dirinya bisa melepas Ali dengan bangga. Tidak akan ada lagi yang mengakui jika Ali adalah laki-laki baik hati. Dia hanya iblis yang bersembunyi dibalik senyum ramahnya pada setiap orang. Tidak ada kebaikan sedikitpun yang ada dalam jiwa Ali.


Brakkkk….


Sarah terjingkat mendengar pintu yang dibuka dengan keras. Ali lari ke arahnya, meraih tangan Murni dan memeriksa sekujur tubuhnya. Sepertinya Ali melihat dengan jelas saat Murni bicara pada Sarah.


“Aku melihatnya membuka mata. Benarkan!” Ali terlihat sangat bahagia. “Kenapa dia kembali tidur? Apa dia kelelahan? Katakan apa yang terjadi!” Sarah sangat takut. Sarah menggeleng. “Jangan bercanda. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia bicara dengan mu.” Ali mencengkeram tangan Sarah kuat.


Tidak lama dari kejadian Ali memasang CCTV di setiap sudut ruangan. Jelas Ali tidak percaya begitu saja dengan apa yang Sarah katakan. Akan sulit bagi Sarah dan Murni berkomunikasi, tapi mau bagaimana lagi. Jika Sarah sadar, bisa saja Ali akan berbuat brutal.


***


Krekkkk…..


“Kalian baik-baik saja?” Malik kaget mendengar suara benda di seret dari dalam ruangan Ayu.


“Kita baik-baik saja, tenang saja.” Teriak Adam. Ayu dan Adam sedang menarik tempat tidur besi. Membuat tameng perlindungan.


“Apa kau bisa menahan sisi sebelah sini?” Ayu mengangguk. Adam tidak percaya sebenarnya, tangan pasti sangat sakit, tapi apa boleh buat. Setidaknya mencoba.


“Tahan yang kuat, ini sangat berat.” Adam menahan sisi kiri yang berhasil dia balikkan. Ayu sekuat tenaga menahan agar sisi kanan yang dia pegang tidak jatuh.


“Kak, aku tidak kuat lagi.” Lepas kendali karena tangannya nyeri.


Brakkkk…..

__ADS_1


“Adammmm!!!!.” Malik berteriak sangat kencang. “Apa yang terjadi!” Malik terdengar sangat khawatir.


“Kami baik-baik saja. Aku mengangkat kursi tapi malah jatuh.” Adam mencoba mencari alasan yang masuk akal.


“Hati-hati Adam. Tolong kalian menjauh dari pintu. Cari tempat yang paling jauh dari pintu.” Ayu dan Adam masih bisa tertawa ditengah kekalutan akibat ulah mereka yang heboh membuat tameng perlindungan.


“Apa seperti ini sudah aman?” Ayu mengangguk. “Ayo.” Adam merentangkan tangannya. Ayu dengan suka rela masuk ke pelukkan Adam yang sudah seperti Kaka baginya. “Tenang saja. Malik pasti akan menyelamatkan kita.” Ayu hanya bisa tersenyum. Tangannya masih sangat sakit.


“Bagaimana? Apakah bisa kalian selesaikan sebelum waktunya habis?” Malik sangat takut, dua petugas sedang menganalisa jenis Bom di pasang. Setelah yakin mereka meminta Malik menjauh dari sana.


“Pak, kami akan berusaha keras. Bapak tolong menjauh dari sini.” Pras menarik tubuh Malik yang masih enggan menjauh.


“Kita juga harus aman. Nona pasti sedih kalau Tuan sampai terluka.” Malik akhirnya mundur, benar kata-kata Pras. Mereka juga harus selamat.


“Tolong kalian juga hati-hati. Kita semua harus selamat.” Pesan Malik pada kedua petugas yang merelakan dirinya dalam bahaya.


“Baik Pak.” Keadaan mulai menegangkan.


Untung saja kedua petugas yang datang adalah ahli penjinak Bom. Mereka dengan cepat mengetahui jenis dan cara kerja Bom yang sedang mereka hadapi. Dengan cepat pula keadaan bisa di kendalikan. Salah sedikit saja seluruh ruangan bisa meledak karena kekuatan Bom cukup besar.


“Sudah aman Pak.” Malik sangat berterimakasih atas kerja keras kedua petugas yang menyelamatkan nyawa wanita yang sangat dia sayangi.


“Pras, catat nama mereka. Selesai semua pekerjaan aku punya kejutan untuk para petugas yang membantuku terutama mereka berdua.” Kedua petugas merasa tersanjung. Pras membawa keduanya turun kembali untuk melanjutkan pekerjaan karena 1 buah Bom telah di informasikan keberadaannya sesuai janji yang Ali ucapkan.


Suara esel pintu membuat Adam dan Ayu merasa lega. Akhirnya bahaya yang mengintai mereka bisa di atasi. Terlihat Malik yang lari kea rah keduanya sambil tersenyum. Matanya berkaca-kaca namun terlihat lega karena keadaan kritis bisa di lalui.


Ayu menghambur ke pelukkan Malik, tersenyum dengan bibir pucatnya karena belum sepenuhnya pulih. “Maaf kan aku.” Malik membelai lembut puncak kepala gadisnya. “Terimakasih sudah menjaganya Dam. Aku benar-benar takut.” Adam memeluk Malik dan Ayu menggoda karena merasa iri dengan cinta yang Malik pancarkan dengan tulus.


“Sudah-sudah, kau membuatku iri.” Ayu tersipu malu menyadari sikap Malik yang berlebihan di depan umum. “Tangan mu baik-baik saja?” Adam melihat perban Ayu memerah, sepertinya jahitan lukanya mengalami masalah.


“Iya Kak, sedikit nyeri.” Adam segera memeriksa perban memastikan luka Ayu baik-baik saja. Sepertinya ini akibat Ayu mengangkat beban terlalu berat bersamanya tadi.


“Maaf karena memaksamu mengangkat kasur yang sangat berat.” Adam merasa bersalah.


“Kau gila Dam, baru saja aku memuji mu. Apa tidak apa lukanya mengeluarkan darah seperti ini.” Sudah pasti Malik marah, ini memang keteledoran Adam.


“Maaf kan aku. Aku tidak menyangka akan terbuka jahitan di lukanya.” Adam salah perhitungan dia pikir tidak masalah. Malik hanya bisa menggelengkan kepalanya heran.

__ADS_1


__ADS_2