
Gubrak…..gubrak….gubrak……
Suara lemparan barang-barang yang mungkin akan berbunyi seperti itu jika terdengar, tapi Sarah tidak mendengar suara. Hanya kursi, papan dan barang-barang lain yang berterbangan membuat Sarah waspada dengan kekacauan yang sedang dia lihat.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi, kepana Gunawan semarah itu. Apa yang Ali dan Laskar lakukan. Sarah terus berdo’a agar dirinya bisa lolos dari kemarahan yang sedang terjadi. Meminta pada yang Maha Kuasa agar dirinya dan Murni tidak ikut terbawa dalam suasan mencekam yang sedang dia saksikan dengan mata kepalanya.
Gunawan terlihat mengangkat tongkat kayu yang selalu di bawanya kemana-mana ke arah Ali. Matanya menyala seperti kobaran api yang di siram bensin. Entah apa yang mereka perdebatkan. Laskar hanya diam membisu mengamati situasi tanpa mampu berbuat apa-apa.
Murni tiba-tiba menarik tangan Sarah. Sarah sampai terperanjat terkejut mendapati Murni duduk di sebelahnya. Matanya berair dan tubuhnya gemetar.
“Kenapa kau bangun! Cepat, mereka bisa melihat kau bangun.” Sarah menarik tubuh Murni agar kembali tidur, Murni menggeleng. “Kenapa? Cepat!” Sarah memohon dengan sangat. “Aku mohon jangan memperkeruh suasana.” Sarah melirik memantau agar tidak ada siapapun yang melihat Murni siuman.
“Aku akan menyerah, tapi Dokter harus menyelamatkan file yang aku berikan pada Ayu.” Jantung Sarah terpacu dengan sangat cepat.
“File….” Mata Sarah tidak bisa fokus. Pikirannya kacau. “Apa maksud mu karena itu mereka menahan dan ingin membuatmu kembali siuman?” Murni mengangguk.
“Aku mengambil paksa tanpa sepengetahuan Ali, mereka benar-benar harus di musnahkan. Aku mohon Dokter selamatkan diri Dokter dan laporkan isi File yang aku berikan pada Ayu.” Murni tiba-tiba pingsan. Keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
“Murni….Murni….” Sarah mengoyak-oyak tubuh Murni yang tidak juga bergeming. Kepala Sarah semakin pusing mengetahui ada rahasian besar yang memang mereka kejar dari Murni. Kecurigaan dirinya benar, ini bukan main-main. Sarah hanya bisa menangis tanpa tau harus berbuat apa untuk bisa kabur dari orang-orang itu.
***
“Tuan, ada yang ingin aku bicarakan.” Gunawan tidak menggubris Ali yang berdiri di depannya. “Tuan, kita sudah sepakat untuk tidak menyakiti Murni sampai apa yang kita inginkan kita temukan. Dan itu belum tentu ada padanya.” Gunawa menyeringai.
“Apa kuasa mu meminta aku tidak menyentuh wanita yang sudah menghancurkan usahaku.” Gunawan terlihat kesal.
“Kita masih membutuhkan informasi yang kita cari, jika dia tidak juga sadar. Kita akan memerlukan waktu lebih banyak dari yang kita perhitungkan.” Ali mencoba membujuk Gunawan.
“Aku justru sedang membuatnya merespon rasa sakit yang aku berikan, agar dia cepat sadar.” Gunawan dengan santai menjawab.
“Tuan menyakiti tubuhnya. Tuan tau kan akibatnya jika dia tidak sadar! Tidak ada lagi harapan kita menemukan dimana file itu berada.” Laskar sudah menduga Murni ada kaitannya dengan apa yang mereka sembunyikan.
“Aku tidak perduli, jika perlu aku akan mengulitinya supaya dia sadar.” Gunawan masih terdengar acuh.
“Coba dengarkan dia.” Menarik Laskar yang berdiri di belakangnya. “Kau bisa membahayakan keselamatan Murni jika terus memberi nya tekanan.” Ali terdengar sangat tulus, membuat Laskar bergidik.
__ADS_1
“Be….benar Tuan.” Pura-pura tergagap menjawab pernyataan Ali yang menyeret dirinya untuk ikut campur.
“Kau masih menaruh hati padanya!” Gunawan melemparkan gelas yang ada di depan matanya mengenai pelipis Ali sampai berdarah. “Sudah aku katakan, hentikan!.” Gunawan menarik kerah baju Ali dengan geram.
“Kau melanggar janji. Aku tidak akan melawan mu jika kau menepati janji!!!!” Ali tersungkur tidak berdaya mendapat tendangan dari kaki Gunawan yang kekar meski sudah cukup tua.
“Kau yang membuat ku harus melakukan hal bodoh seperti ini.” Gunawan melempar barang-barang yang ada di dekatnya.
“Tapi kita sudah sepakat tidak menyakitinya jika aku berhasil membawanya pada mu.” Ali terdengar menyesali perbuatannya. Laskar menggeleng tidak percaya dengan aap yang dia lihat.
Laskar geram, dua orang jahat yang saat ini sedang saling menyalahkan satu sama lain tanpa rasa malu. Laskar sedang memikirkan cara untuk mengirim sinyal, dirinya tidak lagi menyimak perdebatan yang isinya tidak berbobot, hanya kemarahan dan perkelahian. Matanya melotot melihat dengan jelas Murni dan Sarah yang sedang berbincang tanpa rasa takut.
Apa yang mereka pikirkan. Kenapa mereka ceroboh sekali. Laskar langsung naik pitam. Sekarang tugasnya bertambah, dia harus mengalihkan perhatian Gunawan dan Ali, jangan sampai mereka melihat Murni sadar dan berbincang dengan Sarah.
Laskar sampai terkena pukulan tongkat Gunawan karena menahan Gunawan yang sudah kehilangan kesabaran. Kepalanya berdebyut bingung harus bagaimana saat ini. laskar sekuat tenaga menahan Gunawan agar tidak melihat Murni.
“Kau jangan ikut campur. Atau aku patahkan tangan mu.” Laki-laki tua menyebalkan, Laskar benar-benar geram. Apa yang mereka bicarakan, kenapa mereka tidak berhati-hati.
“Sekali lagi kau menyentuh Murni, aku akan membunuh mu dengan tangan ku sendiri.” Ali benar-benar sudah hilang akal, dia memancing amarah Gunawan yang sudah berapi-api.
“Kau sudah di butakan oleh cinta. Lihat saja apa yang akan lakukan padanya.” Benar saja, Gunawan termakan kata-kata Ali yang menyulut amarahnya. “Jangan berharap kau bisa lepas dari ku setelah ini.” Gunawan menghempas tubuh Laskar, meninggalkan Ali yang tergeletak tidak berdaya berlumuran darah.
Laskar meninggalkan Ali tanpa rasa kasian. Sangat merepotkan menghadapi orang-orang keras kepala yang gila. Laskar lebih kesal saat melihat Murni duduk dan bicara dengan santai pada Sarah.
“Sarah!!!” Sarah terjingkat kaget melihat Laskar masuk ke dalam ruangan. Matanya tidak berhenti berkedip mengumpulkan kesadarannya. “Apa kalian sudah gila. Sudah aku bilang jagan lagi-lagi kalian bermain-main dengan mereka.” Laskar benar-benar geram.
“Kau ini, membuat ku jantungan saja.” Sarah tidak menggubris kemarahan Laskar.
“Apa yang dia katakan!” Pura-pura memeriksa alat vital Murni agar tidak mencurigakan. “Aku ada di pihak kalian, jadi jangan tutupi apapun dariku. Jika kalian tidak selamat, aku juga bertanggung jawab pada pekerjaan dan pada Malik.” Sarah sangat lega saat tau Laskar adalah orang yang Malik kirim untuk menyelamatkannya.
“Benarkah! Apa aku tidak sedang salah dengar?” Laskar menjawab dengan kedipan mata. “Ada File yang Murni sembunyikan. Tapi….” Sarah ragu jika dia buka mulut Ayu bisa saja dalam bahaya.
“Katakan, jangan membuang waktu.” Laskar melihat Gunawan pergi dengan pengawalan ketat. Kesempatan bagi dirinya untuk mencari cara melarikan diri.
“File yang mereka cari ada pada Ayu.” Laskar tidak merasa kenal.
__ADS_1
“Siapa dia?” Laskar mengernyitkan dahinya.
“Dia keponakan Murni, dan dia istri dari Malik.” Laskar tidak percaya ternyata semakin rumit saja kasus yang dia selidiki. “Tolong jangan sampai mereka tau file itu ada pada Ayu.” Sarah takut, dia masih ingat saat Ayu tergeletak berlumuran darah beberapa waktu yang lalu.
“Sarah, cepat siapkan Murni.” Sarah tidak paham dengan apa yang Laskar katakan. “Kita akan pergi dari tempat ini. Jangan katakana apapun tentang keberadaan file yang mereka cari.” Sarah mengangguk. Segera sarah mengemas obat-obatan kedalam plastik.
Laskar menyisir setiap ruangan, benar-benar aneh. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya beberapa penjaga yang pasti bisa dengan mudah di kelabui.
Dengan cepat Sarah dan Laskar medorong kursi roda karena tubuh Murni yang masih sangat lemas tidak bisa bergerak dengan mudah. Meski tindakannya nekat, Laskar berfikir harus mencoba melarikan diri dengan aman.
“Tolong buka gerbangnya Pak.” Laskar bicara pada penjaga gerbang yang sudah mengenalnya.Penjaga segera membuka gerbang tanpa rasa curiga sedikitpun pada Laskar.
“Silahkan Tuan.” Dengan ramah penjaga mempersilahkan Laskar pergi. Laskar sendiri tidak curiga. Sampai pada beberapa kilometer, jalanan dipenuhi mobil yang parker di sisi kanan dan kiri jalan yang hanya cukup untuk 3 mobil.
Laskar kenal beberapa mobil yang tidak asing. Ternyata Gunawan menjebaknya keluar dengan berpura-pura bertengkar dengan Ali. Mekera benar-benar sudah membuat Laskar tidak bisa melanjutkan rencananya melarikan diri.
“Sarah, jangan keluar dari dalam mobil. Apapun yang terjadi kalian harus mengulur waktu sampai bantuan datang menemukan kita.” Sarah dan Murni saling memeluk satu sama lain. Semua orang yang ada di dalam mobil keluar, mengelilingi mobil yang Laskar gunakan. Laskar dengan cermat menghitung jumlah dan titik keberadaan pasukan yang Gunawan miliki.
Duar….
Tembakan pertama melayang, kaca mobil Laskar tidak tembus peluru jenis senjata yang mereka gunakan. Tapi jika senjata lebih tinggi kekuatannya, Laskar tidak menjamin pertahanannya akan berhasil.
“Laskar, kita harus bagaimana?” Laskar masih menunggu sinyal bantuan yang masih saja belum Nampak.
“Tenang. Jangan membuatku semakin bingung.” Laskar menabrak beberapa orang yang maju ke arahnya.
“Ahhh….Aku sangat takut kalian terluka.” Suara tangisan Murni tidak tertahankan. “Maaf karena melibatkan kalian sejauh ini.” Sarah terharu melihat Murni yang tidak sedikitpun mengkhawirkan keselamatan dirinya sendiri.
“Kita akan keluar dalam keadaan selamat bersama-sama. Tenang yah….tenang.” Sarah mencoba bijaksana padahal dirinya juga sangat ketakutan.
Drrrtttt…Drrrttttt…Drttttt
Ponsel Laskar akhirnya bergetar, pasukan sudah siap sedia di posisi yang Laskar arahkan. Kali ini Laskar berhasil mengecoh gunawan dan anak buahnya masuk ke dalam perangkap. Laskar tersenyum mengayunkan ponselnya pada Gunawan dan Ali yang menatapnya dari mobil mereka.
“Pasang sabuk pengaman, kita akan segera bebas dari mereka semua.” Laskar menancap gas dengan kekuatan penuh menembus mobil-mobil yang menghalangi jalannya. Tidak lama sirine mobil polisi yang sudah mengepung Gunawan dan pasukannya berbunyi dengan lantang. Helicopter pasukan khusus yang siap meringkus komplotan Mafia kelas kakap yang sudah lama jadi target operasi anggota kepolisian.
__ADS_1
Tragis, mereka terjebak oleh perangkap yang mereka ciptakan sendiri kali ini. Laskar bisa tersenyum bahagia menatap Murni dan sarah yang menangis karena terharu, akhirnya mereka bisa bebas dari para penjahat yang tidak berperikemanusiaan.