
Sore ini mendung menyelimuti langit. Pertanda hujan akan turun.
Hans dan rekan kerjanya sedang berjalan santai menuju halte terdekat dari tempat mereka bekerja.
Diselingi perbincangan ringan seputar pekerjaan hari ini yang menguras energi.
"Hans" Suara seorang wanita yang sangat Hans kenal.
Hans berbalik mencari sumber suara yang sebenarnya sangat dia rindukan. Hans tersenyum mendapati Lissa yang ada di hadapannya saat ini.
"Mas, duluan saja yah. Saya ada urusan sebentar." Mempersilahkan teman seperjalanan pulang nya untuk tidak menunggunya.
"Apa kabar Lissa. Aku kira kamu tidak akan menemui ku lagi. Aku bahkan mencari kamu kemana pun. Tapi tidak berhasil." Hans begitu rindu. Cintanya tulus pada Lissa.
"Itu semua tidak penting. Sekarang bantu aku membalaskan dendam pada Ayu." Mulut Lissa tidak berhenti mengunyah permen karet.
Hans melepaskan tangan Lissa yang sudah dia raih. Lagi-lagi gadis ini ingin menjerumuskan dirinya dalam dendam yang tidak berkesudahan.
"Maaf, aku tidak bisa menghianati kepercayaan Tuan Rama." Hans melangkah, tapi tangan Lissa menahannya.
"Aku tidak punya siapa pun lagi di dunia ini. Hanya kamu Hans." Rayuan menjadi senjata andalan Lissa.
"Maaf, aku sudah berjanji akan berubah. Aku tidak mau jatuh dalam lubang yang sama." Mencoba melepaskan tangan Lissa yang masih menahan nya.
"Tidak, aku benar-benar hancur. Ayu sudah merebut semua kebahagiaanku." Lissa melepaskan tangan Hans. Terisak mencari simpati Hans dengan air mata.
Hans begitu besar mencintai Lissa, perbuatannya tidak mengurangi sedikitpun rasa cintanya. Melihat air mata Lissa, pertahanan dirinya sedikit kendur.
"Tenang lah, lupakan dendam itu Lissa. Kita harus melangkah menjadi orang yang lebih baik." Merengkuh tubuh Lissa kepelukannya.
"Aku mohon. Aku tidak bisa membiarkan Ayu bahagia begitu saja setelah apa yang terjadi padaku." Masih berusaha membujuk Hans.
"Aku tidak mau, kita melakukan kesalahan besar. Seharusnya saat ini kita mendekam di penjara. Tapi lihatlah...." Hans mengangkat kedua tangannya.
Betapa malu dirinya dengan pengampunan yang di berikan Ayu dan Malik dan keluarga besar Rama Saputra.
"Itu tidak benar, aku melakukan semua itu karena Ayu yang menyulut api lebih dulu." Lissa merasa terintimidasi. Padahal perbuatannya sangat keji.
"Aku tau bagaimana dan siapa Ayu. Aku pernah menjaganya karena Oji memintaku mengawasinya. Dia gadis yang sangat baik." Hans malu dengan perbuatannya yang di dasari cintanya pada Lissa.
"Tidak, aku tidak akan membiarkannya bahagia begitu saja." Lissa lari, berlalu pergi meninggalkan Hans begitu saja.
"Lissa...Lissa..." Suara Hans tidak menghentikan langkah Lissa. Gadis keras kepala yang membuat Hans jatuh cinta.
Sekarang Hans merasa cemas dengan apa yang akan Lissa lakukan. Dia tidak mau Lissa menanggung beban karena dendam yang seharusnya dia lupakan.
Ayu bahkan memaafkan kesalahan yang merenggut kebebasannya. Membuat nya dihantui perasaan bersalah dan putus asa oleh ulah dirinya dan Lissa.
***
Ayu sedang sibuk belajar membuat kopi dengan bibi di dapur. Malam ini dia harus merayu Kak Malik agar Minggu depan di berikan ijin mengikuti camping yang di adakan sekolah.
Jantung nya sudah terpacu begitu cepat. Dengan penuh pertimbangan menyusun kata demi kata agar semua nya berjalan lancar.
Kak Malik masih berada di ruang kerjanya setelah makan malam. Perkejaan yang begitu menumpuk membuatnya masih harus lembur agar semua selesai sesuai waktu yang di tentukan.
Tok....tok...tok...
Ayu mengelus dadanya, mengatur nafas agar tidak terlihat tegang.
"Masuklah." Kak Malik mempersilahkan masuk.
"Apa aku mengganggu?" Kepala Ayu muncul dari balik pintu. Mengundang senyum manis khas Kak Malik.
"Masuklah, apa yang Ayu bawa?" Merasa heran. Tidak biasanya Ayu masuk ke ruang kerjanya, apalagi membawa minuman. Pasti gadis ini ada maunya.
__ADS_1
"Ahhhh.... Aku membuatkan Kaka kopi, supaya bisa tetap segar." Menaruh cangkir di atas meja kerja Kak Malik.
"Bagaimana kalau ini tumpah, pasti mataku akan sangat segar malam ini." Menggoda Ayu agar merasa bersalah.
"Oh iya juga yah." Ayu meraih kembali cangkir, menjauhkannya dari jangkauan dokumen-dokumen penting yang ada di atas meja.
Malik tersenyum sekilas. Merasa terhibur dengan kepolosan Ayu.
"Apa aku letakkan di sini saja?" Malik terlihat masih serius dengan pekerjaannya.
"Hmmmm" Masih berpura-pura tidak peduli.
Ayu duduk di sofa ruang kerja Malik, mencoba mengira-ngira waktu yang tepat untuknya membuka pembicaraan.
"Masih ada lagi? Kenapa masih di sini?" Malik masih mempermainkan perasaan Ayu.
Dia selalu bicara sesuka hati, apa dia tidak tau aku sangat sulit membuka pembicaraan karena takut dia marah. Meratap dalam hati.
"Sebenarnya .... Nanti saja. Kaka terlihat sangat sibuk." Ayu merasa suasana hati Malik sedang tidak baik untuk di ajak bicara.
Aku mohon, tahan aku Kak. Jangan membuatku keluar dari ruangan ini. Bicara dalam hati.
Malik tertawa dalam hati, dia tau sebenarnya Ayu ingin bicara padanya. Tapi Malik membuat seolah-olah tidak ada waktu untuk bicara saat ini.
Sampai di depan pintu Ayu menghentikan langkah kakinya, berbalik berharap saat ini Kak Malik sedang memperhatikan nya.
Melihat Ayu menghentikan langkahnya, Malik berpura-pura fokus dengan dokumen yang ada di atas mejanya.
Ayu menunduk, Kak Malik tidak memperdulikannya. Ayu akhirnya keluar dari ruangan kerja Malik dengan kecewa.
"Dasar laki-laki tidak pengertian, harusnya kan dia tau aku melakukan semua ini dengan tujuan tersembunyi." Mengumpat dari luar ruangan. Mengepalkan kedua tangannya meninjukan ke udara.
"Kau memaki laki-laki keras kepala yang ada di dalam?" Terlihat Ayah mertuanya yang berdiri tidak jauh darinya.
Ayu tersenyum masam, ada saksi mata yang melihat aksi konyolnya. Bagaimana ini....
"Tenang saja, rahasia aman." Rama masuk ke ruang kerja setelah menepuk pundak Ayu sambil tersenyum.
Malam semakin larut, jarum jam sudah berpindah beberapa kali. Kak Malik belum masuk ke dalam kamar, tapi mata Ayu sudah tidak bisa di ajak kerja sama. Rasanya sudah menahan untuk tidak memejamkan mata, tapi perlahan matanya sayu dan tidak bisa di tahan lagi.
Ayu menyerah, dia membiarkan matanya terpejam tapi belum sepenuhnya tertidur.
Tubuhnya terasa di peluk erat dari belakang, sepertinya Kak Malik sudah masuk ke dalam kamar tanpa Ayu sadari.
"Maaf ya Kak aku ketiduran." Ayu berusaha membuka matanya, menyesuaikan dengan cahaya lampu yang terang menyilaukan.
"Aku sudah menunggumu lama." Suara yang berbeda.
Ayu tersentak, ini bukan suara Kak Malik seperti yang Ayu kenal. Ayu meronta mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan laki-laki yang ada di atas ranjangnya.
Ussss.....ussss.....
Suara nya mencoba menghentikan Ayu agar tidak melakukan perlawanan. Tapi Ayu tidak bisa diam saja.
"Tol....." Teriakannya tertahan, mulutnya di bekap oleh tangan kekar yang tidak sebanding dengan tenaga yang Ayu miliki.
Klekkkk...klekkk....klekkk
Suara pintu kamar yang mencoba Malik buka namun terkunci. Tidak biasanya Ayu mengunci pintu dari kamar.
Tokkk... tokkk...tokkk...
"Ayuna, apa kamu sudah tidur? Kenapa pintu nya di kunci, Yu...."Malik heran tapi terbersit rasa khawatir.
Malik berlari mecoba mencari bantuan dan mencari kunci cadangan yang di simpan di ruang penjaga keamanan rumah Rama Saputra.
__ADS_1
"Dia selalu saja mengganggu kesenanganku. Jangan katakan apapun, kalau kau buka mulut. Aku akan pastikan orang- orang yang berharga menjadi target ku." Ancaman yang membuat Ayu lemas.
Ayu paling tidak bisa melihat orang-orang yang dia sayangi terluka karena dirinya.
Dekapan laki-laki yang ada di belakang tubuh Ayu mengendur, Ayu dengan spontan menjauh menjatuhkan dirinya dari atas kasur.
Kepalanya sampai tidak bisa menghindari meja kayu yang ada di disebelah tempat tidur.
Ayu mengaduh kesakitan, pelipisnya mengeluarkan darah karena benturan cukup keras.
"Kau tidak apa, kenapa tidak hati-hati." Ayu takut melihat laki-laki yang menggunakan topeng berdiri menghawatirkan dirinya.
Suaranya tidak asing, tapi Ayu tidak bisa memastikan siapa yang ada di depannya. Dia hanya mematung gemetar menahan rasa takutnya.
Laki-laki yang entah siapa itu pergi begitu saja. Menahan diri terlalu lama akan membuatnya tertangkap oleh pemilik rumah.
Entah bagaimana dia bisa masuk ke dalam rumah Malik yang dijaga begitu ketat.
Setelah bayangan laki-laki yang Ayu yakin adalah Kak Oji menghilang, kesadarannya berangsur kembali.
Ayu hanya mampu menangis menahan rasa takut mengingat ancaman-ancaman yang Oji lontarkan.
Brakkkkkk.....
Malik berhasil membuka pintu berkat bantuan satpam rumah yang selalu siap siaga, meskipun kali ini dia kecologan.
Melihat Malik masuk, Ayu tidak bisa menahan air matanya. Tangisannya pecah setelah merasa dirinya beruntung masih di selamatkan.
Malik merasa cemas melihat Ayu yang terlihat begitu terpukul.
"Tenang sayang, tenang yah. Katakan apa yang terjadi." Malik belum menyadari Ayu terluka.
Masih memeluk erat tubuh Ayu yang bergetar ketakutan.
"Bos, pelipis Nona berdarah." Satpam yang berdiri di belakang Malik melihat jelas darah yang mengalir.
Malik semakin panik, melepaskan kaos yang dia pakai untuk menahan agar darah berhenti mengalir.
"Kenapa bisa seperti ini." Malik memeriksa pelipis Ayu. Melihat luka yang tidak terlalu dalam membuatnya sedikit lega.
"Syukurlah tidak berbahaya. Tolong ambilkan P3K." Perintah nya pada satpam yang masih berdiri di belakangnya.
Dengan sigap sang Satpam meraih kotak P3K yang tertangkap di sudut ruangan.
"Bapak boleh pergi, aku akan mengurus sisanya. Tolong periksa, jangan ada yang terlewat." Sang Satpam langsung pergi meninggalkan Malik dan Ayu.
Malik membantu Ayu duduk di atas kasur, membaringkan tubuhnya yang masih mencengkeram erat tangan Malik.
"Kamu sudah aman sayang. Aku disini, aku akan menjaga kamu. Maaf karena aku terlalu lama datang." Malik merasa kecolongan.
Ayu orang yang tidak pernah berbagi kesedihannya, dia selalu menyembunyikan rasa khawatir membuat Malik harus mencari taunya sendiri.
"Kamu tidak mau cerita apa yang terjadi?" Membersihkan bekas darah yang mengalir ke leher Ayu.
Ayu membisu, dia khawatir banyak orang yang dia sayangi akan terluka kalau dia membuka suara.
Air matanya kembali berderai, tidak bisa membuka suaranya membuat dadanya terasa sesak menahan tangis.
Ayu sampai sesenggukan karena menahan tangisan yang menyakiti dirinya sendiri.
Melihat itu rasanya sekali lagi Malik gagal menjaga Ayu degan baik. Dia selalu saja dalam kesulitan sendirian.
Malik mendekap erat Ayu yang tidak mau lepas dari pelukannya sampai Ayu terlelap karena kelelahan.
Malik malam ini tidak bisa tidur, banyak pertanyaan dan pikiran-pikiran buruk tentang kenapa Ayu beberapa kali seperti orang ketakutan.
__ADS_1
Tapi kenapa juga gadis ini tidak mau membuka suara. Perasaan cemas membuatnya terjaga sepanjang malam.