Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 112 ( Aku Tidak Akan Berpaling )


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Malik dan Ayu langsung di tangani oleh dokter ahli. Namun fasilitas rumah sakit yang tidak memadai membuat Rama tidak puas dan membawa Ayu dan Malik ke rumah sakit miliknya di kota tersebut.


Ayu masih juga tidak sadarkan diri. Malik sama saja seperti Ayu. Tubuhnya hidup tapi tidak jiwanya. Mamih sampai bingung harus bagaimana agar Malik sadar dan kembali normal.


"Aldo, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Kenapa bisa sampai seperti ini!" Mamih memeluk anak laki-laki nya yang tidak melepaskan tangannya dari tangan Ayu.


Jemari mereka saling bertaut tidak terpisahkan.


Malik terlelap di atas ranjang pasien yang sama dengan Ayu. Memeluk erat tubuh Ayu seolah Ayu akan pergi meninggalkan dirinya.


Rama dan Mamih sudah ada di ruang dokter yang menangani Ayu dan Malik. Di sana juga ada Adam yang langsung meluncur begitu tau Ayu dan Malik mengalami kecelakaan.


"Kenapa anak saya tidak merespon apapun yang kami katakan Dok. Apa yang terjadi padanya?" Mamih meneteskan air matanya.


Rama hanya bisa menepuk pelan tangan istri tercintanya. Dia putra semata wayang yang selama ini selalu dia cintai melebihi dirinya sendiri.


Melihat Malik yang saat ini rapuh pasti menyakiti dirinya melebihi rasa sedih yang Rama rasakan.


"Sebenarnya tidak ada apapun yang terjadi dengan Tuan Muda. Tapi saya masih mencari tau kenapa dia terlihat sangat depresi. Seperti nya Tuan Muda sangat terguncang Tuan." Dokter sama bingungnya karena tidak ada luka sedikitpun pada tubuh Malik. Dia hanya lecet di beberapa daerah tubuhnya namun lukanya tidak berbahaya.


"Putriku bagaimana Dok. Apa ada yang serius dengannya? Dia masih saja belum siuman!" Rama meremas jemarinya, berharap mendapat jawaban seperti yang dia inginkan.


"Ada beberapa luka yang harus kami jahit di bagian paha kanannya karena luka nya cukup dalam. Tapi hasil pemeriksaan lainnya menunjukkan tidak ada yang perlu di khawatirkan Tuan." Dokter merasa terharu, mereka sangat mencintai istri Malik seperti putri kandungnya sendiri.


Tidak banyak yang tau jika Ayu adalah istri sah Malik. Hanya pejabat perusahaan dan beberapa kolega yang mengetahui kabar pernikahan Malik.


Mendengar ucapan Dokter membuat Rama merasa lega. Dia yakin saat ini putranya baik-baik saja, Malik hanya sedang bingung dan kehilangan arah.


Rama yakin jika Malik saat ini sadar. Dia hanya tidak bisa mengontrol emosinya sampai tidak tau harus berbuat apa.


Selesai dengan dokter Rama dan Mamih kembali ke kamar perawatan. Mereka kembali menjaga Ayu dan Malik yang masih terlelap.


Adam dengan setia menjaga sahabatnya. Memeriksa denyut nadi setiap 30 menit sekali, memastikan Malik tidak kena serangan jantung seperti yang dia takutkan.


Malik terbangun, dalam mimpinya Ayu mendatanginya dengan tubuh penuh luka dan darah. Malik menatapi Ayu yang ada di dekapan nya. Mimpi nya sama buruknya dengan kejadian yang hampir saja merenggut nyawa mereka berdua.


"Kau sudah bangun. Makanlah, kau juga harus menjaga kesehatan mu." Adam menyodorkan bubur yang sudah dia dinginkan ke mulut Malik.


Malik menolaknya, raganya benar-benar seperti orang yang tidak bernyawa. Jangan kan untuk makan, untuk bicara saja dia tidak mampu membuka mulutnya.


"Kalau kau begini terus sama saja dengan menyakiti Ayu. Kau tidak bisa berpikir jernih!" Adam gerah melihat Malik yang bersikap seperti anak kecil.

__ADS_1


Adam bingung harus bagaimana menghadapi Malik. Dia tidak bisa bersikap bijaksana kali ini. Dia kehilangan semangat hidupnya seperti bukan diri Malik yang sesungguhnya.


Biasanya Malik akan berbalik meneriakinya jika Adam berteriak begini. Tapi kali ini Malik tidak bergeming. Bibirnya terkunci rapat membuat semua orang merasa frustasi.


"Ayu baik-baik saja Nak. Kamu harus makan ya Nak. Jangan menyakiti diri kamu sendiri Nak." Mamih memeluk erat tubuh anaknya. Mamih tau bagaimana Malik mencintai Ayu. Pasti dia sangat sedih dan terguncang.


Mamih memandang Adam yang juga terlihat sedih. Adam tersenyum menyesal tidak bisa membujuk Malik seperti biasanya. Dia tetap seperti mayat hidup tidak merespon orang lain.


"Kenapa kamu bersikap seperti ini. Kamu ingin kami semua merasakan penderitaan mu? Kau menyakiti kami semua!." Rama mencoba menyadarkan Malik dari pikirannya yang kacau.


"Kita semua tau kamu menyesal ini semua harus terjadi. Tapi tidak ada yang bisa melawan Takdir Nak. Sadarlah, bersikap tegas dan kuat seperti biasanya Nak!" Rama menatap mata Malik yang kosong.


Semua orang membisu, usahanya untuk menyadarkan Malik masih belum berhasil. Semua orang mencoba memberi Malik waktu agar bisa membuka diri dan tidak membisu lagi.


Suasana hening, hanya ada bunyi alat kesehatan yang saat ini membuat suasana seolah sedang menghitung detik dan menit di dalam ruangan.


"Aku akan melepaskannya."


Semua orang menoleh menatap Malik yang baru saja membuka mulutnya.


"Apa yang kau katakan, jangan membuat keputusan tanpa berpikir panjang Nak." Mamih merasa kecewa, tapi saat ini putranya butuh dukungan.


"Jangan membuat keputusan saat kepalamu tidak bisa membedakan apa yang benar dan tidak. Pulanglah, pikirkan jalan keluar yang tidak akan kamu sesali." Rama geram Malik bicara tanpa berpikir panjang.


Malik keluar dari kamar perawatan. Adam mengikutinya takut Malik berbuat yang tidak-tidak. Bagaimanapun Malik butuh support.


"Jangan mengikuti ku. Aku tidak akan bunuh diri." Malik mendorong Adam agar meninggalkannya.


Adam tetap tidak bergeming. Dia merasa semakin yakin harus mengikuti kemana pun Malik melangkah.


Malik duduk di bangku taman di bawah pohon rindang. Memejamkan mata menikmati udara yang sejuk khas pegunungan.


Dia butuh berpikir jernih saat ini. Cinta nya banyak menyita air mata dan kesedihan. Sekarang banyak yang harus Malik pikirkan untuk mencari jalan keluar terbaik.


"Apa aku bisa bicara dengan mu?" Adam tidak mau Malik menyesali keputusannya.


Malik tidak menjawab, mulutnya masih saja terkunci rapat. Pikirannya masih sibuk menyalahkan dirinya sendiri.


"Aku tau keputusan mu pasti demi kebaikan Ayu. Tapi apa jadinya jika kamu melepaskannya!" Adam mengatur nafasnya terbawa emosi.


"Ingat kamu ingin melindunginya. Jangan malah membuka peluang Oji untuk mendekati Ayu dan mendapatkannya." Orang ini memang sekeras batu jika sudah punya keinginan.

__ADS_1


"Jika kau melakukan tindakan bodoh, aku orang pertama yang akan menghajar mu!" Merasa bicara dengan udara. Tidak di gubris oleh Malik.


Malik masih membisu, dia benar-benar mati rasa. Jiwanya melayang entah membawanya kemana. Adam mulai khawatir Malik akan mengalami depresi jika di biarkan diam begini.


Adam menarik Malik, membawanya kembali ke rumah sakit setelah terlihat sedikit lebih tenang. Malik menurut mengikuti kemana Adam membawanya.


Ayu sudah siuman, Mamih sedang menyuapkan buah yang sudah di kupas.


Ayu tersenyum melihat kedatangan Malik dan Adam. Ayu sangat bahagia masih di beri kesempatan hidup lebih lama.


Kak Malik tidak melihatku, apa dia tidak bahagia melihat aku selamat? Tidak mungkin, dia bahkan yang menyelamatkanku.


Ayu kalut melihat Malik tidak bersikap seperti biasanya. Senyumnya perlahan memudar, berulang kali matanya berkedip menahan air mata agar tidak tumpah.


Semua orang merasakan kesedihan sama seperti Ayu. Tapi mereka harus bungkam demi kesembuhan Ayu. Ayu tidak boleh tau apa yang Malik ucapkan.


"Jangan bicara yang tidak-tidak. Kau harus pikirkan kesembuhan Ayu!" Bisik Adam di telinga Malik.


Adam memeriksa denyut nadi Ayu. Memastikan Ayu sudah baik-baik saja agar bisa segera pulang.


Adam tau Ayu merasa tidak nyaman, Malik yang biasanya akan selalu merangkulnya tiba-tiba saja bersikap dingin. Bahkan dia sangat menakutkan dengan raut mukanya yang tidak bersahabat.


"Dokter, terimakasih banyak. Maaf selalu merepotkan kalian semua." Ayu menunduk merasa sedih selalu jadi beban.


"Apa yang kamu katakan, kamu putriku. Sudah kewajiban ku menjaga dan merawat mu." Rama memeluk Ayu. Mencium keningnya membuat Ayu terharu.


"Benar Yu, kamu keluarga kita. Selamanya!" Adam sedih mendengar ucapan terimakasih.


Dia semakin yakin bagaimana perasaan Ayu saat ini. Semua jadi asing dan menakutkan. Malik benar-benar tidak bisa memposisikan dirinya dengan baik saat ini. Dia harusnya tau Ayu butuh dukungan dan semangat.


Rama sendiri bingung. Satu-satunya cara adalah memperlihatkan betapa besar cinta dan kasih sayang yang mereka miliki untuk Ayu.


Rama sedang memperlihatkan bagaimana dirinya sangat mencintai Ayu. Merangkul dan memberikan kenyamanan agar Ayu tidak merasa sendiri. Rasanya ingin menarik Malik dan menyadarkan nya dari pikiran nya yang buntu.


Ayu ingin sekali bicara berdua dengan Kak Malik. Ingin tau apa yang membuat Kak Malik marah padanya. Apa yang membuatnya berubah dingin seolah tidak perduli lagi padanya.


"Jangan pedulikan perkataan dan sikap Malik saat ini ya Yu. Dia sedang tidak bisa berpikir dengan hatinya. Dia hanya mengikuti nafsunya saja saat ini." Mamih bicara lirih agar Malik tidak mendengar nya.


Ayu mengangguk, ternyata semua orang tau ada yang tidak beres dengan Kak Malik saat ini.


Ayu bersyukur banyak cinta yang membuatnya harus berjuang. Apapun yang akan jadi keputusan Kak Malik nantinya, Ayu tidak akan keberatan.

__ADS_1


Aku tetap tersenyum, menyatakan jika dirinya saat ini baik-baik saja. Mencoba memahami isi hati Kak Malik dan tidak ingin tau apa yang sebenarnya Kak Malik inginkan.


Biarkan saya dia bersikap dingin, aku akan tetap jadi Ayu apa adanya. Aku tidak akan berpaling.


__ADS_2