Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 99 ( Mencari Pelaku )


__ADS_3

Ayu menatap nanar soal ujian di depannya. Terbayang wajah Kak Malik yang tidak tersenyum seperti biasanya.


Ayu menyalahkan dirinya karena bersikeras pergi padahal dia sedang kurang sehat.


Bayangan kemarahan Kak Malik tidak mau pergi dari kepalanya. Rasanya sedih tidak di hiraukan dan di diamkan.


Air mata Ayu tidak bisa di bendung, menetes membasahi kertas soal yang ada di tangannya. Menangis dan terisak dalam diam. Ayu menarik panjang nafasnya, mengumpulkan energi positif agar tidak terbawa suasana.


Jofan menyadari air mata Ayu yang coba dia sembunyikan darinya. Terkadang Jofan merasa aneh karena dia sangat perduli pada Ayu. Tidak rela siapa pun menyakiti dirinya.


Jofan menimang perasaan apa yang ada dalam hatinya, bukan cinta. Ini kasih sayang seperti ikatan seorang Kaka yang menyayangi saudara kandungnya.


Jofan berjalan ke meja guru meminta kembali soal ujian yang baru. Tidak mungkin membiarkan Ayu berjalan sendiri menunjukkan wajah sendu nya pada semua orang.


Jofan meletakkan soal ujian perlahan di depan Ayu. Tidak ingin membuat Ayu terkejut karena dirinya tau Ayu saat ini sedang menangis dan menahannya agar tidak meledak.


Jofan tidak bicara apapun, memancing nya bicara saat ini akan membuat Ayu semakin sedih. Bukan waktu yang tepat mencari jawaban atas rasa penasarannya akan apa yang terjadi pada sahabatnya.


"Jangan pikirkan hal lain. Coba konsentrasi pada soal-soal ujian ini." Ayu hanya mengangguk tanpa menatap mata Jofan.


Dia takut tidak bisa menahan emosinya untuk tidak menangis kembali.


Tidak lama waktu ujian dua mata pelajaran selesai, anak-anak diberikan waktu untuk istirahat sebelum melanjutkan ujian mata pelajaran selanjutnya.


Jofan melihat sedih wajah ayu yang pucat dan tidak ada semangat. Masih tidak ada gairah sedikitpun, hanya ada kesedihan.


"Apa yang kamu pikirkan? Apa boleh aku tau alasan sahabatku ini bersedih?"Jofan mengunci Ayu di tempat duduk agar tidak menghindarinya. Menatapnya dengan tatapan tajam tanpa berkedip.


"Aku tidak papa, hanya sedikit pusing saja." Berkelit tanpa menatap mata Jofan. Ayu tau Jofan tidak akan percaya begitu saja.


"Jangan membohongi ku, tidak akan berhasil." Jofan melipat kedua tangannya. Memaksa Ayu agar tidak memikul bebannya sendiri.


"Tolong Mas." Ayu tidak mau membuat orang repot karena dirinya. Selama ini mereka semua sudah sangat berarti kehadirannya dalam hidup Ayu.


Ayu tidak mau Oji sampai nekat mencelakai orang-orang penting dalam hidup Ayu.


Bagi Ayu kebahagiaan semua orang yang mencintai Ayu lebih berharga dari apapun di dunia ini.


"Lalu kamu pikir dengan kamu diam saja aku akan tinggal diam?" Tersenyum kecut.


Jofan hanya berpikir Kak Malik lah sumber penderitaan Ayu saat ini. Dia pasti tidak di ijinkan untuk pergi camping Minggu depan. Tidak bisa di biarkan Laki-Laki itu membuatnya sedih.


Selama bersahabat dengannya, tidak pernah sekalipun Jofan melihat Ayu bersedih. Dia selalu bahagia, membuat semua sahabatnya ikut bahagia. Padahal kami semua tau bagaimana Ayu menjalani kehidupannya selama ini.


Dia harus berdiri di kaki sendiri untuk membiayai kebutuhannya selama ini. Tidak pernah mengeluh padahal sahabatnya selalu memancing Ayu agar mau berbagi kepedihannya.

__ADS_1


Menjadikan sahabat-sahabat nya tempat dia mengadukan segala kesulitannya. Tapi tidak satupun berhasil, dia terlalu teguh pendirian dan tidak pernah mau menyerah. Sifatnya membuat siapapun kagum dan tidak bisa tidak mencintainya.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Kak Malik!" Ayu mencoba menebak isi kepala Jofan.


Gadis ini, bisa-bisa nya dia tau apa yang aku pikirkan. Merasa aneh sendiri. Mereka selalu bisa membaca pikiran tanpa mengucapkan nya.


"Lalu apa? Apa ada hal lain yang membuatmu menderita? Ayu tau kan, aku paling tidak bisa melihat sahabatku sedih." Ayu menunduk, berpikir untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Tapi mengingat ancaman Kak Oji, hati Ayu melemah. Dia hanya takut Oji akan nekat dan mencelakai siapa saja yang berharga dalam hidup nya.


"Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana, aku takut." Jofan sangat mengenal baik Ayu, dia hanya pura-pura baik-baik saja.


Lihatlah, pasti ada sesuatu yang mengganggunya. Dia tidak mungkin terlihat sedih begini kalau tidak ada yang serius. Jofan bicara dalam hati. Mencoba menerka apa yang terjadi namun tidak menemukan jawaban apapun.


Satu-satunya jalan dia harus bicara dengan Kak Malik. Kesedihan Ayu sangat membuatnya khawatir, dia bukan gadis cengeng yang akan menunjukkan kesedihannya hanya untuk mendapat perhatian.


"Ayu mau cerita? Aku janji tidak akan mengatakan nya pada siapapun jika memang di perlukan." Masih berusaha, namun Ayu masih terlihat ragu.


"Beri aku waktu, aku benar-benar butuh orang yang bisa membuatku nyaman dan tidak merasa bersalah. Karena semua ini salahku." Ayu terisak, membuat Jofan menyudahi rasa penasarannya.


"Kalau belum siap jangan memaksakan diri. Aku akan sabar menunggunya." Melihat air matanya Jofan melemah. Menggenggam tangan Ayu yang gemetaran.


Sungguh pelik isi pikiran Ayu. Satu sisi dia tidak bisa menyimpan semuanya sendiri, tapi di sisi lain dia sangat khawatir kalau Kak Oji benar-benar akan menyakiti orang-orang yang dia cintai.


Ayu tidak bisa membiarkan hal mengerikan itu terjadi, apalagi semuanya karena dirinya. Kak Oji kecewa karena Ayu mungkin membuka ruang yang membuat Kak Oji memiliki harapan lebih dengan perasaanya.


***


Malik sudah sampai di depan restaurant Rey. Entah apa yang membuat Malik melangkah ke tempat ini untuk mencari jawaban dan pertolongan.


Malik memesan ruang VVIP seperti biasa agar bisa bicara secara leluasa. Dia sudah muak dan ingin segera menemukan titik terang masalah yang membuat wanita yang dia cintai menderita.


"Rey, duduklah Rey. Ada yang ingin aku bicarakan." Malik meminta layanan khusus dari pemilik restaurant.


Rey tidak bisa menolak, ini bagian dari pekerjaan nya sebagai pemilik restaurant.


Rey hanya tersenyum, Malik dan Ayu selalu mengingatkan dirinya akan kehancuran keluarganya di masa lalu. Sangat sulit memisahkan mereka dengan semua rentetan kejadian yang menghancurkan keluarga nya.


"Rey, kamu masih tidak bisa menerima kenyataan siapa Ayu?" Malik kecewa, Rey masih tidak bisa menerima kenyataan.


"Aku sudah berusaha, tapi tidak semudah itu." Menghembuskan nafasnya kasar.


Selama ini bukan Rey tidak berusaha, semakin dia memaksakan untuk menerima semuanya, semakin membuat Rey mengingatnya sebagai kebencian dan kegagalan dirinya di masa lalu.


"Baiklah, aku harap kamu bisa menyadari ada di mana posisi kita dan harus bagaimana menyikapi semua ini kedepannya." Malik menegakkan duduknya.

__ADS_1


Bukan saat yang tepat untuk bertele-tele membahas perasaaan satu sama lain seperti apa. Bukan itu tujuan Malik datang kali ini.


"Ada apa kamu datang kemari? Sepertinya bukan sekedar mampir untuk makan!" Rey bicara serius.


"Ada seseorang yang akhir-akhir ini mengganggu keluarga kami, khususnya Ayu." Malik melihat jelas perubahan raut wajah Rey yang menggambarkan perasaan khawatir.


Laki-laki ini tidak bisa menyembunyikan bagaimana dia sangat mencintai Ayuna. Malik merasa bicara dengan orang yang tepat saat ini. Rey pasti akan membantu dirinya menemukan pelaku sebenarnya.


Malik menceritakan rentetan kejadian yang mencelakai Ayu belakangan ini. Rey sangat terpukul tenggelam dengan rasa bencinya, dia bahkan tidak menghiraukan terakhir kali bertemu Ayu.


Bukan dari dirinya, Rey hanya merasa bersalah setiap kali melihat Ayu. Dia gadis kecil yang punya semangat besar untuk merubah jati dirinya.


Dia tidak pernah mengeluh dengan apapun yang Tuhan berikan dalam hidupnya. Dia harus bekerja lebih keras dari gadis seusianya sebelum bertemu dengan Malik.


"Apa tujuan orang ini mengganggu Ayu?" Rey masih bingung dengan cerita yang Malik sampaikan.


"Aku juga tidak mengerti, aku bingung. Sama sepertimu Rey. Ayu menutupi semuanya." Malik bicara secara terbuka. Belakangan Malik merasa Ayu sedikit aneh.


Dia hanya menangis tanpa mengatakan yah sebenernya terjadi. Malik jadi frustasi karenanya.


"Pasti ada sesuatu yang membuat Ayu bungkam, kita harus selidiki." Rey sangat geram gadis kecilnya di sakiti.


"Aku curiga dengan seseorang, apa mungkin kamu tau siapa pelaku sebenarnya? Coba perhatikan!" Malik menyodorkan handphone miliknya.


Melihat rekaman CCTV yang Malik ambil dari rumahnya.


"Kita harus awasi orang ini." Malik dan Rey saling pandang. Mereka meyakini satu orang yang menjadi dalang kejadian demi kejadian yang menimpa Ayu akhir-akhir ini.


Malik merasa lega sekarang, dia bahagia karena tau Rey tidak sepenuhnya membenci Ayu. Itu semua hanya proses untuk Rey menerima siapa Ayu sebenarnya. Dan pasti tidak semudah kita bicara. Ada hati yang terluka karena kehadiran Ayu.


Malik sudah kembali ke sekolah, tidak mau melewatkan sedetik pun memberi peluang Ayu dalam keadaan bahaya.


Dia menunggu di depan kelas dengan perasaan bahagia. Ayu sudah kembali tersenyum bersama sahabat-sahabatnya.


"Yu, Kak Malik sudah datang, dia menunggu di depan kelas." Bisik Jofan menghentikan tawa Ayu bersama sahabat satu kelasnya yang duduk berdekatan.


Mereka sudah selesai ujian dan masih menunggu jam pulang sekolah sebentar lagi.


Tidak lama bel sekolah berbunyi, menandakan semua siswa di perbolehkan meninggal kan kelas untuk pulang kerumahnya masing-masing.


Jofan dengan gagah berani mendatangi Malik yang masih berdiri di depan kelas. Dia tidak bisa pulang dengan perasaan nya saat ini.


"Apa kita bisa bicara? Ada yang harus kita bicarakan, penting." Malik tersenyum, dia tau Jofan marah padanya.


"Kita bicara di parkiran, Ayu bisa menunggu kita di mobil. Aku harus mengawasi nya." Malik tidak mau meninggalkan Ayu seorang diri.

__ADS_1


Kali ini Malik harus menghadapi kemarahan Kaka Laki-laki istrinya. Ikatan darah tidak bisa dihalangi oleh apapun. Meraka pasti pada akhirnya akan menemukan cara untuk saling mencintai.


__ADS_2