
Malik memacu mobil dengan kecepatan penuh. Tidak dihiraukan klakson mobil bersautan akibat ulah Malik yang ngebut dan melebihi batas kecepatan maksimal.
Beberapa kali menghubungi Aldo namun tidak ada jawaban. Malik semakin frustasi dan menambah laju mobilnya. Pikirannya kacau dan memikirkan berbagai hal mengerikan.
Tidak lama Malik mendapat pesan dari Aldo. Malik menepi, dia tersadar akan bahaya yang bisa menimpanya kapan saja. Dia harus menjaga dirinya sebelum menjaga orang lain.
Ayu saat ini pulang kerumah Mbak Murni. Kabarnya Ibu Ayu datang berkujung dari kampung halaman. Pesan dari Aldo
Malik tidak membalas pesan Aldo. Dia langsung menghubungi Aldo karena ingin mendengar langsung dari mulut Aldo.
“Al, apa hanya itu alasan Ayu pulang kerumah itu?” Ada perasaan lega, ternyata kekhawatirannya salah. Pasti saat ini Ayu sangat bahagia bertemu dengan Ibu yang sangat dirindukannya.
“Benar Bos, menurut orang suruhan kita seperti itu Bos” Jelas Aldo
“Baiklah, terus awasi. Jika ada hal yang mencurigakan dan berbahaya, segera laporkan” Malik memutar balik, dia mengurungkan niat untuk menemui Ayu dirumah Murni.
Sudah menguap rasa khawatirnya, sekarang berganti bahagia dihati Malik. Dia mengingat bagaimana tawa Ayu saat sedang bahagia. Dia akan menjadi gadis yang mampu menciptakan suasana bahagia sebagai pelipur lara. Bucin Kak Malik
***
“Kak, apa ada kabar?” Jofan menunggu balasan pesannya. Namun sampai dia direstaurant, Malik masih belum membalas pesannya.
“Belum ada, mereka berdua benar-benar ingin membunuhku secara perlahan. Lihat sekarang pukul berapa?” Rey marah pada dirinya sendiri, ada penyesalan membiarkan Ana pergi begitu saja ditemani Ayu yang masih anak ingusan.
Jofan melihat jam yang terpampang di dinding, sudah pukul 8 malam. Mereka sudah pergi dari jam 2 siang dan sampai sekarang belum juga kembali.
Rey awalnya meminta Ana untuk menunggunya beberapa jam lagi. Tapi Ana sudah tidak bisa menunggu lebih lama, rasa bosan menderu menunggu begitu lama. Rey begitu sibuk dengan berbagai laporan keuangan yag harus dia selesaikan. Ana terus saja merengek dan meminta Rey agar mengijinkannya pergi sendiri tanpa dirinya.
Akhirnya Rey luluh dan mengijinkan Ana pergi sendiri tanpa dirinya. Dan bodohnya Rey malah memilih Ayu sebagai teman jalannya. Biasanya Rey akan membiarkan Ana pergi bersama salah satu karyawan laki-lakinya yang cukup bisa diandalkan mengaja Ana.
Rey terduduk lemas, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Lapor ke kantor Polisi pun akan percuma, mereka hilang baru beberapa jam. Pasti laporan akan di proses setelah 24 jam.
Jofan mencoba menghubungi Sandra dan Melani, namun kedua sahabatnya sama-sama tidak tau dimana Ayu berada.
Kini Jofan ikut duduk di sofa ruangan Kak Rey. Dia sama khawatirnya dengan Kak Rey, mereka hanya saling terdiam dan sesekali memeriksa pesan di ponsel masing-masing.
***
“Kak Ana, aku antar ke restaurant ya Kak. Sudah malam, Kak Rey pati khawatir Kak” Ana terlihat terkejut. Dia tidak memberi kabar pada Rey, mereka begitu hanyut sampe melupakan orang-orang yang pasti sedang cemas menunggu kedatangan mereka berdua.
Ana merogoh saku celananya, mencari keberadaan ponselnya. Tapi tidak ditemukan, sekarang dia mencari didalam tas. Tapi sama saja, ponselnya tidak ada dimana-mana.
__ADS_1
“Yu, apa kamu menghubungi Kak Rey? Dia pasti akan marah besar” Kini mereka berdua berjalan cepat setelah menutup pintu dan memastikan Ibu dan Riyan tidak terbangun.
“Handpone ku mati Kak” Ayu belum sempat mengisi daya, panggilan telpon dari Rey yang berulang kali sampai 37 kali membuat HP Ayu drop kehabisan baterai.
“Ayo, kita harus bergegas” Ana melihat jam ditangannya. Mata Ana melotot saat melihat waktu menunjukkan pukul 9 malam.
Mereka berdua sedikit berlari, bergandengan tangan seperti kakak beradik. Paras Ayu jika disandingkan dengan orang-orang cantik tidak kalah cantik. Dia begitu imut dan menggemaskan. Paras Ayu membuat siapapun tidak bosan memandangnya.
Mereka berdua sampai diparkiran restaurant. Ayu menurunkan Box yang berisi seafood, entah lah seperti apa bentuk seafoodnya sekarang. Mereka dibiarkan terlalu lama di dalam box yang diisi bongkahan es batu.Pelan mereka melangkahkan kaki.
Tring....tring...tring.... ( Bunyi benturan kerincing yang terpasang diatas pintu masuk )
Deg....
Rey langsung melihat siapa orang yang baru saja masuk. Syukurkah, kalian berdua baik-baik saja. Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengan kalian berdua. Batin Rey
Terlihat saat ini Kak Rey sibuk membantu menghidangkan makanan. Ana mencoba tersenyum, padahal sudah tau pasti Rey akan marah besar pada dirinya. Dan akan bersikap kekanak-kanakan.
Terlihat mata Rey melirik sebentar, tidak membalas senyuman Ana. Dia kembali fokus melayani tamu VVIP nya.
Ana langsung saja pergi keruangan Rey, dan Ayu membenahi seafood kedalam lemari es yang digunakan khusus untuk menyimpan bahan makanan.
“Syukurlah, kalian masih segar. Jika tidak Kak Rey akan semakin marah padaku”. Ayu mengelus dadanya. Paling tidak kemarahan Kak Rey berkurang sedikit.
“Kak Ana? Apa Kak Ana dan Ayu baik-baik saja?” Jofan menghambur memeluk Ana. Dia lega saat ini mereka berdua kembali dalam keadaan baik-baik saja.
Perasaan Ana semakin tidak enak, bahkan sekarang Jofan ada disini karena khawatir padanya dan Ayu. Pasti Rey akan menghukumnya kali ini.
“Apa Kak Rey marah?” Ana menggenggam tangan Jofan
“Tidak, Kak Rey hanya khawatir. Kalian pergi begitu lama dan tidak ada satupun dari kalian yang bisa dihubungi”
Hahahahah....Rey akan berbeda saat khawatir, dia tidak akan bersikap normal seperti Jofan. Aku bahkan ngeri mengingat bagaiman dia menghukumku saat aku ketahuan jalan dengan teman SMA ku. Batin Ana
“Apa Kak Ana dan Ayu sudah makan?” Jofan khawatir melihat wajah Ana yang pucat pasi. Dia tidak tau saat ini Ana sedang membayangkan hukuman yang akan Rey berikan padanya.
Ayu sudah sibuk kembali membantu Nai membenahi piring dan gelas yang menumpuk. Mereka bekerja sama dengan baik. Tidak ada yang saling cemburu atau sirik, mereka bekerja kompak dan saling support.
“Kak An. Aku turun sebentar yah, aku ingin bertemu dengan Ayu” Jofan berlari meninggalkan Ana sendiri.
Sesampainya di dapur, Jofan yang sudah sumringah karena melihat Kak Ana baik-baik saja tiba-tiba berubah. Raut muka galak dan garang siap sedia, dia akan menegur Ayu karena berbuat seenaknya tanpa pertimbangan.
__ADS_1
“Hei gadis bodoh, kau tau seharian ini aku dan Kak Rey mencarimu dan Kak Ana?” Ayu menoleh mencari sumber suara. Dia meletakkan roti yang baru saja dia gigit ke atas piring.
Kali ini Ayu benar-benar pasrah, memang salah besar pergi begitu lama dan tidak memberikan kabar. Padahal itu hal yang sangat penting. Ayu menunduk, tidak berani menjawab atau sekedar membalas perkataan Jofan.
Jika aku membalas perkataan Mas Jofan sekarang, pasti hanya akan menambah masalah. Biarkan saja, Mas Jofan tidak akan marah lama. Biasanya hanya sehari dan besoknya sudah baik-baik saja. Ayu berbicara dalam hati
“Jangan mengulangi perbuatan seperti ini lagi. Kau mengerti?” Nai sudah meninggalkan Ayu dan Jofan, dia tidak mau terlibat. Masih membutuhkan pekerjaan untuk biaya hidupnya.
Ayu hanya mengangguk, dia tidak berani melihat sorot mata Jofan saat ini. Pasti Mas Jofan galak dan menakutkan, aku tidak boleh melihat raut wajahnya.
“Jangan hanya menunduk, kau tidak ingin meminta maaf?” Jofan berjongkok menyamakan tingginya dengan Ayu.
“Aku minta maaf” Ayu mengangkat kepalanya.
“Jangan mengulanginya” Jofan menyentil pelipis Ayu.
“Aw...” Ayu mengaduh karena merasa sedikit nyeri.
Setelah puas mengomel, Jofan kembali ke mode cool. Tidak banyak bicara, membuat Ayu salah tingkah karena Jofan menatapnya dengan tajam.
“Apa aku boleh kembali makan? Aku sangat lapar, heheheh” Ayu kelaparan setelah seharian ini belum mengisi perutnya.
“Makanlah, pulang nanti tunggu aku. Jangan hilang lagi!” Jofan berlalu. Ayu kembali melahap roti tawar yang sudah diolesi dengan selai kacang dan ditaburi seres.
Ceklek....
Rey masuk keruangan kerjanya, pandangannya lurus dan tidak menengok sedikitpun ke arah Ana yang saat ini duduk di sofa. Jika sudah begini Ana sendiri jadi tidak berani berkata-kata. Salah sedikit akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Cukup lama mereka berada diruangan yang sama namun hanya saling terdiam. Sesekali Ana melirik Rey yang masih saja sibuk dengan dokumen-dokumennya.
Sebenarnya lelah sekali tubuh Ana, tapi tidak bisa lolos begitu saja kali ini. Jika tidak diselesaikan, masalah yang hanya sepele ini akan menjadi masalah besar.
Ana menahan kantuknya, benerapa kali Ana menguap dan menggoyangkan kepalanya. Rasa kantuk mendera tanpa ampun. Mata Ana lama-lama sedikit demi sedikit terpejam, dia tidak menghiraukan lagi laki-laki yang ada di hadapannya.
Kali ini senyum tersungging dibibir Rey, dia sengaja membiarkan Ana dan tidak menegurnya. Dengan begitu Ana pasti akan introspeksi diri dan menyesali perbuatannya.
Sofa di ruangan Rey memang di design khusus, Rey sendiri kadang tidur direstaurant untuk meyelesaikan pekerjaannya.
Tidak ada manajer, Rey mengurus keuangan restaurant sendiri. Dia ingin mengembangkan usaha yang dibangun sendiri agar lebih memahami seluk –beluk kerajaan bisnisnya.
Rey mengambil selimut, diangkat tubuh Ana agar berbaring dengan sempurna, jika tidak dia akan sakit seluruh tubuhnya. Di tutupi semua tubuh Ana dengan selimut yang cukup tebal hingga hanya kepalanya saja yang nampak.
__ADS_1
“Dasar gadis nakal, kau hampir saja membunuhku. Jika kau tidak kembali, aku tidak tau apa yang akan aku lakukan. Jangan pergi tanpa kabar, aku akan sangat takut. Bahkan aku tidak bisa berpikir dengan jernih.” Rey berbicara dengan Ana yang saat ini sedang tertidur pulas. Tangannya merapihkan rambut Ana yang menutupi wajah cantiknya.