
Rumah tua yang menyimpan sejuta kenangan pahit terlihat sangat usang. Langkah kaki Sarah terhenti mengingat semua yang sudah dia alamai. Mencoba tersenyum meski hatinya mengingat betapa hancur dan terlukanya saat itu.
Adam dan Malik selama ini menjadi tongkat yang selalu membantunya bangkit saat terpuruk. Selama mereka kuliah Sarah menyembunyikan semua rahasianya. Sampai pada satu saat Malik membaca diary Sarah yang begitu menyakitkan.
Sarah masih mengelak dan tidak begitu saja mengakui semuanya. Setelah beberapa bulan berjalan setelah pertimbangan yang panjang.
Sarah akhirnya membuka diri dan menceritakan asal usulnya. Bagaimana keluarganya dan bagaimana dia sampai ada di negeri orang membawa banyak luka.
Flash Back
Hari itu menjadi hari yang membahagiakan bagi Sarah dan para sahabatnya. Mereka sudah lulus dan kini sudah siap menjadi mahasiswa. Sarah bahkan sudah mendapat beasiswa kuliah di luar negeri dengan kerja keras sehingga mendapat nilai yang patut di perhitungkan pihak sekolah untuk memberinya beasiswa.
Sarah kecil sangat ingin menjadi dokter, apapun dia lakukan agar nilainya mampu menembus angka yang bisa membawanya mendapatkan beasiswa. Keinginannya sangat besar agar mampu membantu banyak orang dan bisa memberikan kehidupan yang layak juga untuk keluarganya.
Setiap hari Sarah harus melihat Adiknya Bintang menangis karena penyakit leukimia yang menyerang tubuh kecilnya. Sarah harus menahan tangis dan berpura-pura bahagia setiap melihat Bintang.
Hari ini Sarah pulang membawa segala macam perlengkapan yang sudah di urus pihak sekolah untuk keberangkatannya ke Jerman. Sarah bahagia, tapi dia juga sedih karena harus meninggalkan keluarga kecilnya yang selama ini selalu menyayanginya.
“Ibu, aku sudah pulang.” Sarah mencari keberadaan Ibu dan Ayah serta Bintang yang tidak ada di manapun.
Tapi ada koper pink milik Sarah yang sudah ada di depan pintu kamarnya, Sarah sedikit curiga dengan apa yang keluarganya perbuat. Selama ini Sarah tidak menceritakan beasiswanya pada mereka semua.
Karena keluarganya mau Sarah langsung kerja setelah lulus SMA. Entah apa yang sedang terjadi di sini. Sarah menunggu di bangku depan rumahnya, menunggu keluarganya yang entah ada dimana sekarang.
Sarah berdiri, Ibu tampak menuntun Bintang memasuki gerbang rumah. Sarah berlari ke arah mereka tersenyum bahagia membawa hasil ujian di tangannya.
“Ibu lihatlah, aku lulus dengan nilai terbaik.” Hanya sarah yang antusias.
Ibu hanya menatapnya dengan nanar dan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Bintang kecil berjalan lesu seperti biasanya.
Sarah sedikit kecewa dengan sikap Ibu yang tidak seperti biasanya. “Ibu baik-baik saja?” Sarah menggapai tangan Ibu.
“Tolong jangan terlihat semua baik-baik saja.” Ibu menghempaskan tangan Sarah dengan cukup keras.
“Apa yang sedang terjadi sebenarnya.” Sarah masih tidak menemukan jawaban. Sebelum pergi ke sekolah, semua baik-baik saja dan tidak ada yang mencurigkan.
“Ibu, aku bantu buatkan makan siang yah.” Sarah gadis yang sangat baik. Tidak perduli dengan kemarahan Ibu. Dia tetap jadi anak yang sangat baik.
Sarah sudah sibuk memotong sayuran membuat capcay, membuat dadar telor tanpa daun bawang kesukaan Bintang.
“Ibu makanan sudah siap. Bintang, ayo kita makan.” Bintang langsung berdiri meraih tangan Sarah yang menggapainya.
Ibu tidak bergeming, dia masih duduk dengan tatapan mata kosong. Pasti Ibu banyak pikiran karena pengobatan Bintang sangat mahal.
Selesai makan Sarah membantu Bintang berganti pakaian. Membacakan cerita membawa Bintang masuk dalam cerita yang Sarah dongengkan.
Tidak lama Bintang sudah terlelap. Wajahnya pucat, rambut tebalnya sudah sedikit tipis.
Sarah mencium tangan kecil yang selama ini mengajarkan kesabaran dengan kondisinya.
__ADS_1
“Sarah, Bintang sudah tidur? Ibu mau bicara.” Sarah langsung berdiri. Sepertinya ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan.
Sarah mengikuti langkah kaki Ibu. Duduk di sebelah Ibu dan tetap tersenyum dengan sangat manis. Ibu tidak marah, dia hanya sedang bingung dengan keadaan Bintang.
“Ibu tidak makan?”
“Ibu tidak lapar.” Matanya memandang koper pink yang ada di depan kamar Sarah.
“Sarah, selama ini Ibu tidak pernah meminta apapun padamu. Ibu menyayangimu dengan segenap hati seperti Ibu menyayangi Bintang.” Ibu berkaca-kaca.
“Iya Ibu, Sarah tau. Sarah juga menyayangi Ibu seperti. Ibu menyayangiku melebihi Ibu kandungku yang pergi meninggalkan aku.” Ibu meraih tangan Sarah.
“Kau tau kan, Bintang harus kita tolong. Jika tidak dia akan menderita selamanya. Aku tidak bisa hidup tanpa Bintang.” Ibu sudha terisak.
“Ada apa sebenarnya. Apa aku bisa membantu pengobatan Bintang?” Sarah juga menyayangi Bintang dengan sepenuh hatinya.
Ibu mengangguk, mengusap air mata dan mengatur nafasnya.
“ Kamu bisa membantu Bintang, dia akan sembuh. Tapi butuh sedikit pengorbanan dari Sarah.”
“Aku akan bekerja keras. Apapun akan aku lakukan.” Bibir nya mengukir senyum, meski ada rasa khawatir.
“Benarkah, nanti malam akan ada yang datang mejemputmu. Ibu sudah siapkan semua pakaian dan peralatan lain yang kamu butuhkan.”
“Apa yang akan aku lakukan?” Sarah takut.
“Kamu hanya melayani dia saja. Ikuti saja perintah dia dan buat dia bahagia. Dia berjanji akan membayar semua pengobatan Bintang.”
“Tidak, ini hanya pengorbanan untuk Bintang. Kita harus menyelamatkan Bintang, Ibu mohon.” Ibu bersimpuh di kaki Sarah.
“Aku bisa kerja keras Bu. Tapi jangan dengan cara ini. Aku tidak mau jadi wanita laki-laki yang aku tidak kenal Bu.” Sarah sangat terpukul.
“Tidak ada cara lain. Kita harus dapat uang dengan cepat.” Ibu masih bertahan dengan pilihannya.
“Aku tidak mau Ibu, aku menyayangi Ibu dan Bintang. Tapi aku tidak bisa melakukan ini.” Sarah berlari ke kamar. Mengunci diri dan meratapi nasibnya yang sangat malang.
“Sarah, tolong jangan menolak. Ibu juga terpaksa melakuan semua ini.” Ibu menangis dari balik pintu kamar Sarah.
“Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan Maghda.” Ibu terkejut mendengar suara Austin yang berdiri di belakangnya.
“Aku tidak ada pilihan. Kita harus selamatkan Bintang.” Maghda mencengkeram tangan Austin dengan keras.
“Kamu mau menyelamatkan Bintang? Lalu kamu mau mengorbankan putriku demi Bintang? Kita bisa cari jalan keluar lain.” Austin menghempas tangan Maghda.
Tok...tok...tok...
Mereka berdua terkejut. Austin berjalan membuka pintu. “Kalian siapa?” Tampak dua laki-laki berseragam hitam berdiri di depan pintu.
“Kami utusan dari Tuan Kala pemilik Dragon.” Bar yang cukup terkenal di Jakarta.
__ADS_1
Austin mengamati kartu nama yang dia terima. “Apa tujuan kalian? Aku tidak ada urusan dengan Tuan kalian.” Austin menutup pintu, tapi di tahan oleh mereka.
“Jangan pura-pura tidak tau Tuan. Istri anda sudah menjual putri anda pada Tuan kami !.” Nada bicaranya sudah mulai meninggi.
“Apa.” Austin terkejut.
“Dia sudah menerima bayaran. Dan sekarang kami ingin menjemput Nona Sarah.” Menerobos masuk dengan paksa.
“Keluar Nona, kami sudah siap membawamu menemui Tuan Kala.” Berteriak dengan penuh amarah.
“Jangan sentuh putriku. Aku akan kembalikan uang yang sudah kalian berikan.” Austin merampas tas yang ada di pelukan Maghda.
“Jangan, aku mohon jangan kembalikan pada mereka.” Maghda histeris mempertahankan.
“Jangan hancurkan Sarah. Dia tidak harus menanggung semua ini. Lepaskan !” Maghda kalah kuat dengan Austin.
“Kembalikan uang ini pada Tuan kalian. Aku tidak akan menyerahkan putriku pada kalian.” Austin melempar tas berisi uang.
“Tidak semudah itu Tuan. Transaksi kita sudah selesai, benar Ibu Maghda.” Kala duduk di ruang tamu.
“Aku tidak akan menjual putriku. Dia sama berharganya Maghda. Seperti kamu dan Bintang. Selama ini dia sudah banyak menderita. Jangan, aku tidak mau menyerahkannya.”
“Baiklah, aku tidak ada urusannya dengan kalian. Kalian selesaikan masalah kalian, aku tunggu gadis cantikku dua hari lagi. Aku akan kembali, siapkan dia untukku Ibu Maghda.” Kala berlalu meningggalkan kediaman Austin.
Sarah menagis ketakutan, bingung apa yang harus dia lakukan. Dia juga sangat mencintai Bintang, tapi dia tidak mau menjadi wanita malam untuk membantu Bintang.
Sarah tidak keluar kamar selama dua hari, dia harus menunggu tengah malam saat semua orang terlelap untuk mengambil makanan.
Sarah tidak mau menyerahkan masa depannya begitu saja pada orang yang salah.
“Ayah, cepat kesini.” Terdengar teriakan Ibu yang membuat Sarah terbangun. Sarah mengucek matanya, mendekati pintu dan menempelkan telinganya di daun pintu.
Masih terdengar teriakan Ayah dan Ibu tapi tidak begitu jelas. Sarah memutuskan untuk keluar dan melihat sendiri apa yang sedang terjadi.
Sarah terduduk lemas, dia melihat Bintang terkulai lemas di pangkuan Ibu. Ayah hanya menangis memeluk Ibu dengan sangat erat.
“Bintang....maafkan Ibu, bangun Nak. Bintang....” Teriakan Ibu tidak mereda. Dia meninggalkan tubuh Bintang di lantai menghampiri Sarah yang terduduk di depan pintu kamar.
“Kau lihat, Bintang tidak bisa aku selamatkan. Kamu jahat, kenapa kamu tidak memberikan tubuh kamu ini saja untuk menyelematkan Bintang!” Tangan Ibu mencabik-cabik tubuh Sarah dengan kasar.
Kukunya yang panjang melukai tangan dan wajah Sarah. Tapi Sarah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya pasrah menerima kemarahan Ibu.
Sarah juga sedih kehilangan Bintang, tapi perlakuan Ibu jauh lebih menyakitkan. Dia bahkan tidak mencintainya.
“Ibu, aku juga anakmu. Meskipun aku tidak lahir dari rahim Ibu, tapi aku menganggapmu Ibu kandungku.” Sarah tidak bisa menahan kesedihannya.
“Kau bukan anakku, kamu hanya sampah yang laki-laki itu bawa padaku.” Ibu berteriak mendorong tubuh Sarah sampai tersungkur.
“Maghda, jaga ucapanmu. Dia putriku.” Austin marah mendengar ucapan Maghda yang keterlaluan. Sarah bahkan bekerja keras membiayai sekolah dengan jerih payahnya sendiri.
__ADS_1
Sarah gelap mata, tidak mau lagi menjadi benalu di dalam keluarganya yang tidak mencintainya dengan tulus.
Sarah malam itu memutuskan pergi meninggalkan rumah setelah mengantarkan Bintang ke peristirahatannya yang terakhir.