Hellbent

Hellbent
Bab 101: Teror


__ADS_3

Lima ledakan terjadi tepat di hari festival perayaan berdirinya Edodale selama 1500 tahun, tentu saja hal tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Ava memandangi peta kota yang terpampang di meja, terdapat lingkaran merah besar yang menandai setiap lokasi terjadinya insiden.


Apa motifnya?


Penyerangan terhadap Putri Eve dan Duke Frost? Akan tetapi hanya Marvin yang mengetahui kalau ia keluar istana untuk berkencan dengan Ellijah. Ditambah lagi, mengunjungi toko dessert adalah keputusan impulsifnya setelah pencarian artifak yang mengecewakan dan tidak membuahkan hasil, jadi kemungkinannya kecil seseorang dapat menanam bom di toko tersebut apabila niatan mereka memanglah menyakitinya dan Ellijah. Selain itu, empat ledakan lain gunanya untuk apa?


Lalu, tujuan mereka adalah menebarkan teror? Tindakan dari grup radikal tersembunyi? Namun masih belum ada surat ancaman.


... Untuk lebih akuratnya ia harus menunggu laporan dari investigasi yang sedang dilakukan.


Gadis itu menghela napas panjang, lalu melirik ke sebelahnya, “Bagaimana menurutmu?” Ellijah adalah seorang pemimpin yang berpengalaman dalam menghadapi musuh, mungkin dia bisa menambahkan hipotesis yang belum Ava pikirkan. Namun respon pria itu melenceng dari pertanyaan Ava, “Menurutku, kita harus segera kembali ke istana.”


“Kau tahu bukan itu maksudku,” gumam gadis itu, mengeras.


“Penduduk sudah diamankan, api yang menyebar juga telah dipadamkan, persediaan makanan bagi yang mengungsi pun siap tersedia.”


“Tapi akan berbahaya jika kita tidak segera menangani akar masalahnya.”


“Hal-hal darurat sudah diurus, hanya perihal dokumen yang tersisa, dan kau bisa mengerjakannya di ruangan pribadimu di istana. Dan seperti yang kau katakan, si sini terlalu berbahaya, bisa saja akan ada serangan susulan. Jadi lebih baik kita kembali dulu ke istana.”


Apa yang dikatakan Ellijah ada benarnya, akan tetapi entah kenapa Ava tidak ingin kalah dalam berargumen. Namun sebelum ia membalas, kalimatnya terpotong. “Kakak?” Ketika itulah Marvin memasuki tenda darurat yang didirikan, manik matanya beralih dari Ava ke Ellijah secara bergantian, mengenali ketegangan di antara keduanya. Sepertinya dia muncul saat waktu yang buruk. Dari pengamatannya Ava memiliki karakteristik yang nyaris sama dengan kakaknya, keras kepala. Jadi sepertinya dua orang itu hampir saja bertengkar, lebih baik Marvin segera mengutarakan tujuan awalnya ke sini, tubuhnya menegap, formal. “Salam bagi Duke Frost dan Putri Eve, dari sini saya akan mengambil alih kasusnya.”


Ah, benar, Ava lebih baik tidak menyentuh topik-topik sensitif yang dapat merepotkannya di kemudian hari. Lagipula Marvin lah yang sebenarnya berhak mengatasi hal ini mengingat Ava hanyalah seorang putri palsu. Pangeran itu juga terlihat berambisi sekali menunjukkan kemampuannya guna menarik perhatian sang raja, sukses menangani masalah ini akan menjadi dorongan yang Marvin butuhkan.


Win-win situasion.


... Adrenalin membuat Ava cepat emosi.


Benar, dia sebaiknya kembali ke istana. Lagipula Ellijah yang bersikeras terus menemaninya pun masih belum mendapatkan perawatan yang benar dari dokter, priest, ataupun healer.


Ava akhirnya menurut. “Baiklah.”


Keduanya langsung diberi penjagaan ketat saat mereka berjalan menuju kereta kuda, lima mage sudah berjaga untuk segera membuat transportasi mereka terbang menuju istana melayang.

__ADS_1


Akan tetapi rasa pahit menghambat Ava. Belum lagi dadanya yang berdebar cemas membuat langkahnya makin berat. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau perasaannya kini hanyalah sisa-sisa dari emosinya tadi. Jadi untuk mengalihkan fokus, ia mengaktifkan skill observasinya.


Lima prajurit penjaga dengan rata-rata level 40.


Ellijah masih saja memiliki jendela status yang impresif.


Dan kelima mage yang ada, tingkatan kemampuan mereka di atas 5.


Namun salah satu informasi yang ada membuatnya refleks berhenti, terpaku.


HP: 245/300


Kusir kereta kudanya memiliki bar HP.


Dan hanya orang-orang yang berniat menyakiti Ava lah yang memiliki bar HP.


Gadis itu mengambil bola biusnya, melempar benda tersebut tepat ke wajah kaget si kusir yang tidak menyangka perilaku tersebut.


“Eve!”


Yang melihatnya juga langsung bingung, akan tetapi karena suasana yang sejatinya sudah tegang akibat terorisme satu jam lalu, mereka otomatis was-was.


Si kusir yang levelnya menandingi prajurit istana tersebut turun dari kursinya dengan lemas, matanya yang memerah karena kantuk memandangi Ava dan Ellijah dengan panas. Tangan si kusir merogoh jaketnya. Untung saja salah satu penjaga dengan sigap menghentikan pergerakan yang lambat karena bius itu.


Baru setelah si kusir telungkup tanpa bergerak, Ellijah di sebelahnya mendesis dengan rahang yang mengetat, “Dia membawa bom.”


Item yang berhasil disita oleh penjaga tadi ialah sebuah artifak peledak.


Mungkin si kusir mengira kalau Ava melemparinya dengan racun, sehingga dengan radikal ia memutuskan untuk menjadikan misinya diakhiri dengan bom bunuh diri.


“Tahan dia,” Duke Frost memerintah dingin, nada datar yang ia gunakan seolah terdengar seperti hukuman mati bagi siapapun yang membangkang. Dua prajurit lain langsung mencekal pria yang tidak sadarkan diri di tanah.


Kali ini Ellijah yang mengeluarkan benda dari dari inventorinya, lembaran kertas panjang yang pernah Ava lihat, skrol teleportasi yang mahal dan langka.

__ADS_1


“Tunggu dulu, sudah tidak ada lagi—“


Srek!


Terlambat. Item tersebut telah dirobek, membawa Ellijah dan Ava dalam pelukannya langsung ke rumah kaca istana yang disertai dengan cahaya menyilaukan.


“Padahal kita sudah bisa menaiki kereta kuda dengan aman.”


“Kau tidak tahu itu.”


Ava tahu, dari skill observasinya. “Sudah tidak ada lagi orang mencurigakan di sana.”


“Tapi mereka bisa saja sudah menyabotase kereta kuda kita.”


Untuk itu ... masih ada kemungkinannya.


Namun tetap saja, Ellijah dengan enteng membuang-buang skrol teleportasi yang berharga. “Padahal kita bisa saja menunggu pengecekan selama beberapa menit.”


“Prioritasku adalah keamananmu.”


Mereka berargumen lagi.


Agh, terserah. Mental dan fisik Ava sudah berada di ambang batas. Ia lelah. Ia buru-buru mengakhiri dialog menyebalkan mereka. “Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu.” Tanpa menoleh ke belakang, Ava pergi. Untungnya Ellijah tidak mengikuti gadis itu layaknya penguntit seperti hari-hari sebelumnya. Akan tetapi Ava tidak akan mensyukuri perhatian kecil yang ditunjukkan pria itu saat ia tengah kesal.


Ava segera disambut oleh tiga pelayan yang dikagetkan oleh kehadiran tuan mereka. “Selamat sore, Tuan Putri. Bagaimana dengan—“


Salam hormat mereka disela, “Siapkan bak mandi.” Mungkin setelah membersihkan diri dari debu dan asap karena insiden tadi, Ava akan bisa mendinginkan kepalanya.


Tidak ada yang berjalan beres hari itu. Usahanya melihat jajakan artifak buatan yang mungkin saja berguna berakhir sia-sia, sesi makan kue manis pun tamat dengan tragis—Ava tidak akan menyebutnya kencan lagi, ia nyaris menjadi korban ledakan, kemudian hampir mati karena bom bunuh diri.


Perannya sebagai seorang putri merepotkan.


Marvin terus saja menghalanginya bertindak apapun.

__ADS_1


Dan Elliah ... Agh! Pria itu sangat menyebalkan.


Malam itu Ava tidak bisa tidur karena terlalu kesal.


__ADS_2