Hellbent

Hellbent
Bab 109: Teman Seperjalanan


__ADS_3

Seperti sarapan di hari-hari sebelumnya, suasana di restoran pagi itu sepi. Dom hanya bisa menggeram kesal, dan Lorah sudah terbiasa menepuk punggung kakaknya, memperingatkan.


"Kak River, aku yakin Kak Rina baik-baik saja." Gadis cilik itu jelas-jelas lebih memiliki sopan santun daripada kakak laki-lakinya.


River yang sedari tadi tidak menyentuh sup jagungnya menghela napas panjang. Sejak kepergian Rina yang tiba-tiba satu bulan yang lalu, dadanya terasa sesak, jantungnya pun berdebar khawatir tiap detiknya. Memang benar teman perjalanannya itu meninggalkan pesan di toko [System], jadi ia yakin Rina sendiri lah yang menulisnya, bukan penculik, pembunuh, atau orang jahat lain yang berpura-pura. Namun ia masih tidak bisa menyingkirkan kemungkinan kalau Rina dipaksa menulis pesan tersebut. Kalau begitu bagaimana?


Pikiran buruk terus menghantui hari-hari River.


Dom yang melihatnya berdecak kesal. Heran, kenapa pria penjinak handal tersebut cengeng sekali. "Kalau kau sebegitu khawatirnya, kirim saja pesan lagi, tanya sendiri kabarnya!"


River sendiri tahu kalau begitulah cara yang paling efektif. Tapi ... "Apakah boleh?"


"Apanya yang tidak boleh?!"


"Maksudku, aku dan Rina sebenarnya hanyalah orang asing, kami saling mengenal hanya beberapa bulan ini. Jika memang Rina baik-baik saja, bukannya pesanku akan menganggu? Tapi kalau memang dia tidak baik-baik saja, apa yang harus aku lakukan?" Sekali lagi, River tenggelam dalam keputusasaan.

__ADS_1


Tentu saja hal tersebut malah menaikkan tensi darah Dom. "Apa susahnya sih mengirim pesan?!" Jalan pikiran River yang penyegan dengan Dom yang berandalan memang berbeda.


Lorah pun menengahi, "Aku yakin Kak Rina tidak akan keberatan hanya dengan berkirim pesan. Kalaupun Kak Rina sedang sibuk, balasan yang Kak River terima akan memakan waktu lebih panjang. Begitu saja."


Untuk pertama kalinya River mengangkat wajahnya yang murung, tersenyum tipis ke arah gadis cilik tersebut.


"Nah, benar! Lagipula, di antara kita bertiga, Rina paling dekat denganmu!" Itulah kenapa Dom sukarela ikut campur, dibalik kalimat-kalimat kasarnya, ia masih memperhatikan dua manusia yang berbeda dengan manusia lain yang ia jumpai. Dan meskipun Dom mendesak River untuk mengirim pesan kepada Rina, dia sendiri tidak mau. Dia merasa kalah terhadap sesuatu jika dia mengirim pesan terlebih dahulu.


Dengan kata lain, egonya sendiri menahan Dom.


Sehingga meskipun ketiganya penasaran terhadap hal yang sama, River lah yang paling berpeluang berhasil menemukan jawaban.


River kemudian mengamati lagi kolom pesan yang tidak berubah dari sebulan lalu. Kalimat terakhir yang tertera adalah darinya.


Kalau kau baik-baik, syukurlah kalau begitu.

__ADS_1


Dan tidak ada balasan dari Rina.


... Benar, River harus memberanikan diri.


Tidak ada salahnya mengirim pesan. Meskipun setiap saat Rina terlihat dingin, sebenarnya dia adalah gadis yang baik, River yakin itu.


Akhirnya ia memutuskan.


River mulai mengetik di udara. Sayangnya semakin lama, jari-jarinya melambat, hingga lima detik selanjutnya ia berhenti.


... Apakah dia tidak bersikap sok dekat kalau begini?


Dom lagi-lagi menggeram kesal. Dia sudah familiar dengan wajah penuh keraguan dari River.


"Astaga! Lakukan saja!"

__ADS_1


Mereka kembali lagi ke posisi awal.


__ADS_2