Hellbent

Hellbent
Bab 181: Foreign Being


__ADS_3

Setelah kesadarannya ditenggelamkan oleh sensasi glitching yang seakan mencabik-cabik tubuhnya, Ava sepenuhnya menyangka akan disambut oleh area hitam kosong yang hanya dihuni oleh dopplegangger-nya seperti biasa. Akan tetapi, yang ia lihat malah kebalikannya. Lukisan klasik terpampang indah pada langit-langit yang yang bahkan Ava kesulitan untuk melihat saking tingginya, pilar marmer raksasa menyangga ruangan kolosal tersebut.


Tentu saja, yang paling mencolok ialah kehadiran sesosok orang asing, pria atau wanita Ava tidak tahu karena wajahnya memiliki kerupawanan androgini, badannya sebesar titan. Barulah Ava sadar kalo proporsional ruangan itu dengan si titan sangatlah wajar, dia lah yang terlalu kecil.


"Jadi kau yang menyebabkan error tadi." Suara titan tersebut menggema pada lantai marmer yang licin, bernada datar, bosan.


... Siapa dia?


Monster kah?


Skill observasinya-- "Agh!" Kedua bola mata Ava berdenyut pedih, kepalanya langsung diserang pening yang membuat ia terhuyung. Jari-jari yang menutupi wajahnya basah. Air mata? Atau darah? Ava masih belum tahu, kelopak matanya terlalu berat untuk dibuka.


"Jangan coba-coba, Anakku. Kelakuanmu sangat tidak sopan," Si titan memperingatkan. Memang intonasinya masih datar, tapi setidaknya setitik emosi terdeteksi dari kalimatnya.


"Omong-omong bagaimana bisa kau ada di situ?"


Butuh beberapa detik usaha keras hanya untuk membuka mata, pandangan Ava masih buram, tapi setidaknya ia sudah bisa melihat siluet dan warna. Gadis itu masih belum tahu siapakah titan di hadapannya, tapi yang jelas Ava tidak bisa macam-macam. Mencoba mengintip status jendelanya saja membuat bola mata Ava ingin meledak, jadi untuk saat ini dia menyahut dengan kalem. "Gate tiba-tiba terbuka di atas kepala--"


"Bukan, bukan itu maksudku." Jawaban Ava terpotong oleh ketidaksabaran yang mengendap dalam suara yang semakin tajam. "Nomor eksistensimu berasal dari dimensi lain, dimensi yang belum waktunya merasakan kehadiran [System]. Tapi bagaimana bisa kau ada di sini? Di dalam dimensi yang hampir habis masanya?"


... Jadi dia tahu.


Dari kesan pertama Ava sudah mendapat firasat kalau titan di hadapannya bukanlah orang, ralat, makhluk yang sembarangan. Selain tubuh besar menjulang yang membuat Ava merasa seperti seekor semut, tingkahnya tidak kalah membebani. Selama ini hanya Adam, hantu yang memiliki kemampuan membedakan "aroma jiwa". Namun si titan jauh lebih banyak tahu tentang apa yang terjadi, bahkan fakta yang sama sekali Ava tidak sangka.


Nomor eksistensi?


Dimensi yang habis masa? ... Maksudnya, kiamat begitu?

__ADS_1


Mungkin dia tahu caranya agar Ava bisa pulang? Atau setidaknya bagaimana memakai artifak mistik yang diberikan oleh Eve? Harapan yang tidak disangkanya menyebabkan Ava menjawab impulsif, "Aku diculik!"


"Diculik?"


"Oleh orang yang mirip sekali dengan wajahku."


"... Teruskan."


"Katanya aku bisa pulang kalau menggunakan set item yang bernama Genesis."


Sayangnya, keantusiasan Ava tidak berjalan dua arah.


Penglihatan gadis itu sudah kembali normal. Ia pun memandangi tegang wajah serius yang sebesar rumah. Terlambat sadar kalau suhu dalam ruangan tersebut jatuh beberapa angka, dingin.


... Apa dia membocorkan informasi yang tidak seharusnya?


Hah? Apa dia tidak mendengar saat Ava mengatakan kalau dia diculik?


"Bukan aku yang--"


"Hukuman untuk makhluk mortal sepertimu akan sangat berat!"


"Tapi aku--"


"Astaga! Apa kau yang mencuri set Genesis itu?!"


"Hei, dengar--"

__ADS_1


"Aku harus segera menghubungi yang lain!"


Ava bahkan tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Si titan pergi dengan langkah yang bagi gadis itu terasa seperti gempa kecil. "Hei! Hei! Dengar!"


Percuma.


Perut Ava terasa berat dan terpilin, tulang punggungnya pun beku.


Ia mendapat firasat buruk. Benar-benar buruk.


Ava harus kabur.


Tapi bagaimana?


Sejauh mata memandang, ia tidak melihat pintu keluar.


Ding!


Eror sudah tidak terdeteksi, permainan akan dilanjutkan kembali


Notifikasi singkat yang menarik Ava kembali ke dalam gate, di dalam pelukan Ellijah yang memandangnya dengan mata hampa.


Ketika bergerak, ia sadar kalau gaunnya basah dengan darah.


Ah, Ava sempat lupa. Benar, glitching.


Apapun yang Ellijah lihat, pasti membuat pria itu trauma hingga tidak bisa bicara ketika Ava melambaikan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2