
Langkah besar dan panjang Ellijah nyaris tidak bisa diimbangi oleh prajurit kerajaan yang mengejarnya, pria itu dengan gusar melewati lorong-lorong remang istana.
"Duke Frost! Tuan!" Prajurit yang malang. "Tuan, tunggu dulu!"
Semua orang tahu bahwa Duke yang memerintah wilayah utara Edodale tersebut memiliki pengaruh yang luar biasa, entah itu berasal dari kekuatan mentah status jendelanya, level tinggi, skill yang turun-menurun diperoleh anggota keadiaptian Frost, atau strateginya dalam bertempur serta berpolitik. Namun mereka juga paham kalau temperamen Ellijah gampang sekali tersulut, dia hanya "jinak" di hadapan tunangannya, Putri Eve Weinhamer, yang sayangnya kini masih marah kepada Duke Frost.
"Maaf, Tuan, mohon tunggu sebentar!"
Baru ketika itulah Ellijah menghentikan langkahnya. Si prajurit malang akhirnya dapat menarik napas untuk sesaat, istana melayang yang mereka tempati tentu saja memiliki altitut yang tinggi, karena itulah oksigen juga tipis, agak menyulitkan bagi orang biasa dalam beraktivitas. Tiga detik mengumpulkan diri, si prajurit itu pun menyampaikan pesan yang dititipkan kepadanya. "Salam hormat, Tuan. Duke Frost, Anda dipanggil langsung oleh Raja--"
"Kenapa?"
"Eh, maaf?"
"Kenapa?!" Ledakan amarah yang tiba-tiba membuat prajurit malang tersebut langsung terpaku. Keringat dingin segera mengalir dari pelipisnya. Seluruh tubuhnya yang dilapisi armor ringan pun bergetar ketakutan. Apakah dia melakukan kesalahan? Apakah dia bertindak tidak sopan?
__ADS_1
"Kenapa kau selalu tidak mendengarkan apa yang kukatakan?!" Tangan besar Ellijah dengan ajaib terselip di antara pelindung yang prajurit istana itu pakai, mencekik leher karakter yang tidak signifikan tersebut. Dengan segala upaya, si prajurit malang meronta-ronta, akan tetapi usahanya tidak sebanding dengan amarah yang membutakan figur penguasa wilayah utara itu. Dia tidak tahu apa dari sikapnya yang membuat Duke Frost marah, yang penting sekarang adalah selamat. Jadi dia meminta ampun terlebih dahulu. "M-maafkan s-aya, T-tuan!".
Sayangnya Ellijah tidak dapat melihat kesengsaraan prajurit malang yang hampir pingsan tersebut. "Kenapa kau selalu menyela perkataanku?!"
"Am-ampun, Tuan." Kesadarannya nyaris lepas, iris matanya berputar ke belakang, mulutnya juga berbusa.
"Kau tidak tahu seberapa menderitanya aku selama empat bulan ini!"
Ellijah semenjak kecil sudah terbiasa dengan kepasifan yang ditunjukkan oleh Eve dalam hubungan pertunangan yang sudah belasan tahun mereka jalin, tapi sekarang setelah rumor bohong mengenai ketidaksetiaannya tersebar di kerajaan, Eve secara aktif menghindarinya, bahkan sampai kabur dari istana. Pihak keluarga kerajaan dengan enteng menganggap sikap pemberontakan Eve ini sebagai pelampiasan sementara, seolah mereka yakin kalau Eve akan segera kembali. Akan tetapi Ellijah tidak bisa setenang mereka, maka ia mati-matian mencari keberadaan putri yang hilang. Namun setelah ditemukan dan dibawa pulang ke istana, niatan Duke Frost untuk mempercepat proses pernikahan mereka masih ditolak.
"T-tu--" Tubuh dari leher yang ia cengkram pun melemas. Ellijah mendecak kesal, lalu membuang mayat tersebut ke lantai.
Dalam pertunangan ini, Ellijah selalu saja merasa seperti pihak yang dirugikan.
Namun apa daya ketika perasaannya sendiri yang mendikte kepatuhannya selama ini.
__ADS_1
Dan tetap saja masalah yang ia hadapi masih belum selesai. Dia masih harus berbaikan dengan Eve, membuat gadis itu agar tidak lagi marah.
Perhiasan? Bunga? Bukan, Ellijah telah mengirimkan lusinan benda tersebut tapi masih saja tidak ada efeknya. Eve sangat terkenal mendapatkan warisan sifat sang raja, perhitungan. Kalau begitu dia harus mencari hadiah yang menguntungkan posisi Eve dalam kerajaan ataupun membantu penelitian perempuan ahli alkemis tersebut.
Dari yang ia lihat tadi sore, tunangannya itu sedang meneliti mengenai keberadaan Game Master, dewa.
... Hm.
Ellijah sepertinya tahu apa yang Eve butuhkan.
Tanpa sadar, seringai puas muncul dalam wajah dinginnya. Ia kemudian melirik seonggok badan di kakinya.
Ah, benar, ia dipanggil oleh raja.
Duke Frost berbalik, meninggalkan lorong yang disinari bulan biru tersebut dengan hati yang lebih ringan.
__ADS_1