
Setelah Ellijah berhasil menusuk dada gnoll yang ia hadapi, Raja Dion lah yang terburu-buru membuka peti yang diletakkan di atas altar kecil. Roti keras dan sebotol air. Namun tanpa bertanya terlebih dahulu, sang raja duluan mengunyah sobekan roti yang jelas sekali lebih besar, kemudian menegak rakus minuman yang ada. Sisanya, secuil roti tawar dan air yang bahkan tidak mencapai setengah botol, diberikan kepada Ellijah oleh Raja Dion yang tidak tahu malu.
Duke Frost sepenuhnya memprediksi hal ini, tapi bukan berarti ia tidak kesal.
Berjam-jam berjalan tanpa hasil, Ellijah sendiri lah yang selalu berusaha mempertahankan diri mereka. Walaupun tingkatan skill-nya tidak berubah dan ia bisa membunuh monster hanya dengan sekali serang, mana yang ia miliki terbatas hanya beberapa poin saja. Dan ketika mana-nya nyaris terkuras, ia harus beristirahat agar tidak pingsan nantinya. Tapi, "raja" yang seenaknya memerintah Ellijah layaknya anjing penjaga, yang terlalu sibuk berteriak ketakutan untuk menjaga dirinya sendiri, dan calon mertua yang ingin ia gantikan posisinya dengan Eve, berani-beraninya merampas jatah makanan yang seharusnya ia dapatkan! Setelah darah serta keringat ia tumpahkan, kerja kerasnya hanya dipandang sebelah mata oleh pria arogan itu.
Ellijah tidak bodoh, ia tahu sejarah. Raja Dion berhasil naik tahta bukan karena kemampuannya. Keluarga kerajaan generasi sebelumnya sebenarnya memiliki tiga putra, Dion menjadi anak pertama, dan dua pangeran lain yang secara "misterius" meninggal saat masih balita. Banyak rumor yang beredar dengan liar, ada yang bilang royalti terkena kutukan, permaisuri yang melahirkan memiliki penyakit keturunan sehingga bayi yang dilahirkan lemah, tapi yang paling terkenal tentu saja kabar burung bahwa pangeran Dion yang paranoid tentang kompetisi takhta di kemudian hari membunuh adik-adiknya. Permaisuri yang memprotes kepada raja dengan histeris tidak digubris karena bukti yang tidak cukup kuat. Pastilah, sang raja tidak dapat mengorbankan satu-satunya putra yang tersisa. Dengan begitu, Dion otomatis dinobatkan sebagai raja pada umur 25 tahun menggantikan ayahnya yang berpulang sebab "mendadak sakit". Dan sekarang, dia hidup makmur karena memanfaatkan bakat anak-anaknya.
Jadi Ellijah tidak pernah mengharapkan perlakuan baik dari pria licik itu, terlebih lagi ketika mereka berada di dalam gate tanpa pengawasan konstan para bangsawan.
"Apa?" bak tidak memiliki rasa bersalah, Dion bertanya polos kepada Ellijah.
"Tidak ada apa-apa, Yang Mulia," balas Ellijah setengah hati, berusaha keras tidak mengindahkan seringai kemenangan yang ditunjukan bangga oleh sang raja.
Melanjutkan perjalanan dengan pelan-pelan karena mana Ellijah yang cepat habis, mereka menemukan tiga peti lagi yang berisikan daging, alkohol, dan sebilah pedang. Sebagai tenaga utama, Duke Frost jelas mendapatkan pedang. Sedangkan daging dan alkohol yang ada dibagi dua sama rata, Ellijah berhasil mendahului Raja Dion, tapi sayang ia masih belum bisa membalas dendam, tidak untuk saat ini.
Akhirnya, malam datang.
Walaupun labirin itu awalnya sudah remang-remang ketika mereka masuk, saat malam tiba tidak ada cahaya sama sekali.
Kegelapan total.
Bergerak dengan situasi seperti hanya akan mengundang bahaya, karena itulah ia memutuskan untuk berkemah. Ellijah harus membuat sendiri api unggun dari peti-peti yang mereka hancurkan. Untung Raja Dion tidak menolak sugestinya, tapi pria itu masih memiliki komplain mengenai hal lain.
Berbeda dengan Ellijah yang diharuskan mengambil pelatihan militer karena tugas turun-temurun yang mengharuskannya menjaga daerah Utara dari serangan suku bar-bar, Dion lebih banyak dimanja sebab dialah satu-satunya yang bisa mewarisi kerajaan. Jadi walaupun dirinya malas membaca buku, kemampuan bela dirinya sangat minimal, dan tidak pernah mengerti kesusahan rakyatnya sendiri, Dion tetap dijunjung sebagai penguasa tertinggi Edodale. "Kau ingin aku tidur di tanah?" Tipikal anak kaya manja.
"Kalau ingin lebih hangat, saya bisa menggali dengan pedang ini." Sekalian saja enam meter di bawah tanah, tanpa saluran udara.
Dion jelas sekali tidak suka saat Ellijah pura-pura bodoh. Tidur di tanah akan mengotori bajunya! Apalagi tanah keras begini tidak mungkin tidurnya akan nyaman!
Namun ia sadar kalau dirinya sudah banyak mengetes batas kesabaran Duke Frost. Obsesi pria itu terhadap Eve lah yang menjadi satu-satunya alasan dia tidak ditinggalkan sendirian. Dion tahu itu.
__ADS_1
Jadi, untuk saat ini ia menutup mulut.
Tunggu dulu, apakah itu cacing yang ia lihat?
Tidak! Tidak mungkin ia bisa tidur di sini!
***
"Jadi, sebenarnya siapa kau?"
Ava terdiam karena pertanyaan itu. Dulu ia bersyukur Ratu Isabel tidak segera mengungkit identitas aslinya ketika penyamaran Ava sebagai Eve terbongkar.
Apa yang harus ia katakan?
"Um, saya seorang herbalis di desa terpencil kerajaan Meridianam."
"Herbalis, jadi sedikit bersinggungan dengan alkemi yang Eve kuasai?"
"Lalu, namamu siapa?"
"Ah, benar! Aku ingat! Kau tidak pernah memberitahukanku nama aslimu!" Adam seenaknya menyela.
"... Rina Hoffman, Yang Mulia."
"Omong kosong, sudah kubilang kau tidak berbau seperti Rina Hoffman!"
Diam saja kau hantu! Lagipula, Ava masih tidak mengerti apa maksud dari kalimat itu!
"Kemudian, kenapa kau setuju untuk menyamar sebagai Eve? Menirukan seorang royalti hukumnya dipenggal mati, kau tahu bukan? Apa hanya karena koin?"
... Ratu Isabel menyepelekan keberadaan uang ternyata. Jelas sekali kalau Isabel adalah bangsawan kaya berstatus tinggi dari lahir. Dia tidak tahu seberapa mengerikannya uang dapat mengubah seseorang.
__ADS_1
Tapi cukup tentang asumsinya, Ava harus segera merespon.
Yah, kontrak yang ia tanda tangani sebenarnya tidak pernah menyebutkan pasal yang melarang Ava untuk menyebarkan isi di dalamnya. Lagipula, bukan salahnya Ratu Isabel mengenal betul anak kandungnya dan membuat sandiwara Ava terungkap. "Saya dijanjikan dengan item yang Tuan Putri Eve miliki."
"Item."
"Elixir kehidupan." Tidak mungkin Ratu Isabel dapat menebak hal ini mengandalkan insting keibuannya, bukan?
" ... Kau ingin menghidupkan orang mati?"
Apa? Ada yang fungsinya seperti itu?
"Kurasa bukan, jadi kau ingin menjadi imortal? Hidup selamanya, begitu?"
Kok? Hebat sekali elixir ini.
"Bukan juga ternyata."
Omong-omong, Ava yakin sudah menjaga ekspresi datarnya. Kenapa Ratu Isabel lihai sekali membaca pikiran?
"Ada yang sakit parah?"
"Benar, Yang Mulia." Alasan yang ia gunakan untuk menipu River, Ava pakai lagi guna mengelabui Isabel.
"Kalau begitu Eve tidak salah. Setiap keluarga kerajaan hanya memiliki hak untuk memakai satu tetes elixir kehidupan sepanjang hidupnya. Untuk mengobati penyakit yang tidak dapat disembuhkan, satu tetes saja memang sudah cukup."
Tunggu ...
Jadi, Ratu Isabel menanyakan berbagai hal tentang dirinya ... hanya untuk mencari alasan agar ia bisa membenarkan perilaku putrinya?
Ava tanpa sadar menggigit ujung kukunya.
__ADS_1