Hellbent

Hellbent
Bab 166: Putri Afrein


__ADS_3

Acara dadakan langsung dipersiapkan, duel spontan di tempat latihan prajurit istana. Tantangan yang dilontarkan oleh Putri Romula diterima dengan enteng oleh Ava sebagai tugas lanjutannya dalam menjaga nama baik Putri Eve serta kerajaan Edodale.


Romula sudah mengganti gaunnya dengan pakaian yang lebih praktis, di sampingnya terdapat wanita tua yang sedari tadi mengomel mengenai tata krama, ini-itu politik yang tidak ia tangkap, hingga memohon untuk membatalkan pertarungan yang sudah disaksikan oleh para tamu undangan yang hadir. Pelayan yang menemaninya cerewet sekali.


Romula tidak pernah mempertimbangkan konsekuensi jangka pendek maupun jauh mengenai apa yang ia lakukan. Ia memberikan kado pisau kepada Putri Eve karena Romula sendiri pikir pisau itu tidak buruk jika digunakan untuk melawan monster, tanpa ada maksud lain. Dia juga berani mengajak duel putri Edodale tersebut karena kesal dengan banyaknya orang di pesta itu yang terus saja membanding-bandingkan mereka. Jadi pertarungan ini akan membuktikan kepada mereka siapa yang lebih kuat.


Meskipun Putri Eve mendapat medali dalam serangan banderhobbs pada fenomena badai hitam, Eve Weinhamer masih tetap menjadi sosok putri culun yang selalu saja membaca buku di mata Romula. Eve pasti melakukan berbagai trik dan sihir untuk melawan monster, bukan? Dia memang genius, tapi dalam bidang akademik yang terlalu rumit untuk Romula pahami. Karena itu, Putri Romula dengan percaya diri dapat memenangkan duel ini.


Dia telah memegang pedang semenjak berumur 7 tahun. Meskipun ayah dan ibu sering memarahinya agar tidak menyentuh pedang yang katanya menurunkan minat para pria dalam menikahinya nanti, Romula tetap keras kepala, sebab ia yakin kalau dirinya dilahirkan untuk mengayun pedang. Dan dia benar. Romula menjadi salah satu perempuan yang terkenal akan keahlian pedangnya. Jika saja dia bukan anggota keluarga kerajaan Afrein, dirinya pasti telah diperebutkan oleh guild-guild terkenal.


"Kau yakin dengan ini? Bukankah jantungmu ...." Ellijah berbisik dekat sekali dari telinga Ava, gadis itu sampai menggigil karena napas dingin Ellijah yang mengenai tengkuknya.


Mungkin ia seharusnya menaikkan presentasi output indranya nanti saja.


Tidak lupa juga dengan kebohongan yang Ava lontarkan untuk menutupi kondisi status jendelanya yang sama sekali tidak memiliki mana, berbeda seratus delapan puluh derajat dari kemampuan utama sang putri yang ia gantikan. Jantung mana yang bocor.


"Kan sudah kubilang, aku belajar beberapa teknik pertarungan fisik. Kau sendiri melihatnya saat di Crimsonwood kemarin."


"Tapi Putri Romula bukan goblin yang hanya sekali kibas saja sudah terpenggal kepalanya. Dia terkenal karena teknik pedang yang ahli. Dan meskipun bukan termasuk dalam kategori ranker, kudengar levelnya juga tinggi."


Nama: Romula Akoiun


Ras: Manusia


Level: 58


Kecepatan: 18


Kekuatan: 23


Kelincahan: 14


Mana: 3


Koin: 7393738292772

__ADS_1


Skill: Flower Blossom (V)


Levelnya memang lumayan, tapi Ava sudah melihat level yang lebih impresif dari angka tersebut, pria di samping menjadi salah satu contohnya. Dia juga memperhatikan bahwa alokasi poin status Putri Romula sama sekali tidak berimbang. Walaupun dia memiliki status tambahan berupa mana, hal tersebut sama sekali tidak dikembangkan, tapi hasilnya status utama Romula rata-rata berada dia angka 18.


Hanya dengan 70% output, poin Ava kurang lebih menyamai Romula. Lagipula, ini duel persahabatan, bukan? Akan menjadi masalah internasional jika ada yang terluka parah di antara mereka, Ava juga tidak ingin menciptakan perang karena impulsivitasnya, jadi mungkin ia hanya akan mengeluarkan 50% saja?


Sayangnya Ellijah memiliki aura yang tidak sependapat dengan niat baik Ava. "Kalau Putri Romula berani membuatmu berdarah meskipun hanya setetes, akan kuserang Afrein. Pertahanan laut mereka lebih lemah daripada Edodale, dengan mengerahkan prajurit serta mage beratribut air dan angin, kesempatan menang kita besar, apalagi jika artifak militer yang selama ini kau buat digunakan."


Bagaimana pria itu sudah menyusun strategi dalam menjatuhkan kerajaan tetangga?


"Tenang saja, Elli." Sebab Ava juga ahli dalam pertarungan jarak dekat.


Namun bukan berarti dia hanya akan menerjang dengan ceroboh, mengingat jangkauan pisaunya pasti akan lebih pendek dari pedang yang dibawa Putri Romula.


Dua senjata kayu telah digenggam tangan masing-masing.


Puluhan orang menonton langsung di tepi arena, tentu saja tertarik, utamanya faksi bangsawan yang sepenuhnya mendukung kemenangan Romula daripada putri kerajaan mereka sendiri. Sedangkan, faksi royalti yakin kalau Putri Eve tidak akan menerima tantangan yang tidak bisa ia kalahkan, meskipun diam-diam menahan napas sebab mereka sebenarnya belum pernah melihat langsung bagaimana Putri Eve bertarung. Sisanya, netral. Karena siapapun yang menang, ini akan menjadi tontonan menarik.


"Mulai!"


Putri itu memiliki skill yang bernama [Flower Blossom]? Maksudnya, bunga mekar? Apakah nanti dia akan mengeluarkan setangkai bunga yang bisa dijadikan pedang begitu? Namun mereka sudah berjanji untuk tidak memakai senjata lain selain senjata kayu yang disediakan.


Lalu apa?


Saat Ava masih memikirkan taktiknya, Romula yang bergerak terlebih dahulu.


Tulisan skill dalam status jendela putri Afrein menyala. Dari pedang kayu tegak di tangan Romula, muncul cahaya merah muda dengan gemerlap kelopak-kelopak bunga yang disertai dengan aroma harum semerbak.


Swish!


Ava secara refleks menghindar, tapi ia tetap dapat merasakan angin yang terbelah dari pijakan awalnya.


Jadi begitu saja?


Tiga sayatan udara kemudian menyusul, Ava berhasil mengelak lincah, langkahnya ringan seolah sedang menari.

__ADS_1


Memanfaatkan kecepatannya, Ava berlari kencang. Dalam sekejap ia muncul di depan Romula, yang secara ahli menangkis dua pisau gadis itu.


Tak! Ayunan Putri Eve lebih berat dari yang Romula duga.


Ava sudah berpindah ke belakang targetnya, berusaha menusuk punggung Romula, sayangnya putri Afrein sempat berbalik menggunakan kaki kanan sebagai pivotnya. Ava melompat mundur.


Lima menit, dan Putri Eve sudah nampak menguasai arus pertandingan dengan solid.


Kali ini, Romula benar-benar melihat lawannya.


Tidak mungkin dia dikalahkan oleh seorang putri yang hobinya hanya membaca buku! Pertahanan Eve mirip dengan master bela diri, tanpa celah, tidak ada tanda-tanda kecerobohan yang sering diperlihatkan oleh newbie. ... Dia petarung berpengalaman.


Setelah sadar, Romula memperbaiki kuda-kudanya. Salah satu nilai kesatriaan yang ia hapalkan selama pembelajaran pedang di kerajaan Afrein adalah jangan meremehkan musuh.


Itu murni kesalahannya.


Romula seharusnya tidak menilai Putri Eve hanya dari rumor yang ia dengar.


Namun dia terlambat.


Putri Eve menerjang dengan serangan bertubi-tubi yang polanya sulit diprediksi, kalau saja mereka memakai senjata asli, pasti sudah ada belasan luka sayat di kulit Romula.


Meskipun telah memakai skill [Flower Blossom] guna meningkatkan status dasarnya, tidak menunggu lama untuk Romula merasa kewalahan. Dia bisa saja mengeluarkan skill ultimate-nya untuk berusaha membalikkan keadaan, tapi dia sendiri lah yang menyaratkan untuk tidak memakai sihir yang berlebihan.


Hasilnya, pinggang tertusuk oleh pisau kayu tumpul dalam genggaman Ava. Romula kalah.


Yang melihat pun hampir tidak percaya. Putri Afrein yang terkenal karena keahlian pedangnya, terpojokkan oleh Putri Eve dengan cepat.


Untungnya, Romula menerima semua ini lebih baik dari yang Ava duga.


"Kau belajar bertarung darimana? Gayamu liar sekali!"


Romula mengulurkan tangan, meminta jabatan ramah. "Mumpung umur kita sama, panggil saja aku Ro."


Tiba-tiba saja informal begini?

__ADS_1


__ADS_2