
"Kenapa dia mengikuti kita?!" Ellijah tidak malu-malu menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap River. Di sisi lain, River tidak berani membantah dan hanya menundukkan kepala sembari mengelus puncak rambut Siwon yang ada di pangkuannya. Siwon malah yang merespon, "Ih, jangan bertheriak ke papa!"
Ah, benar. Ava mengenalkan River kepada balita tersebut sebagai pengasuhnya, akan tetapi dalam otak mungil anak tersebut ia menyimpulkan sendiri kalau River adalah papa yang belum pernah ia temui.
Tentu saja, menambah panas ketegangan di antara tunangan (palsu)-nya itu dengan si penjinak monster.
"Kau mendengarkan persetujuan kemarin secara langsung, dia sekarang resmi menjadi pengasuh Siwon." Jawaban gadis itu nampak sekali tidak menenangkan Duke Frost.
"Dan juga, kalau kau mamanya, kenapa dia yang menjadi papa?!"
"Tanya saja sendiri untuk masalah itu." Namun Ava tahu Ellijah masih enggan untuk berbincang dengan Siwon, naga yang masih dikiranya sebagai anak simpanan Eve.
__ADS_1
Apakah pria kampungan ini memanglah ayah dari Siwon? Selingk-- Agh! Memikirkannya saja membuat ia muak.
Bukan, sepertinya bukan. Seekor naga harus dilahirkan oleh naga juga dari salah satu orang tuanya. Sehingga Eve yang memiliki ras manusia, tidak bisa menghasilkan telur naga jika memang River lah selingk-- Ehem, itu. Atau memang Siwon tidak ada hubungan darahnya dengan Eve? Kalau begitu lebih masuk akal. Lihat saja, bocah naga itu dengan mudahnya memanggil si penjinak monster dengan sebutan "papa" pada pertemuan pertama mereka, tidak menutup kemungkinan kalau hal yang sama terjadi pada Eve juga.
Sepertinya denial menjadi hobi Ellijah.
"Semoga perjalanan kalian diberikan keselamatan." Sepenuhnya mengabaikan argumen yang terjadi, Ezra mengucapkan salam perpisahannya dengan hormat.
"Cih, tidak tahu malu." Ah, kekesalan Adam masih belum mereda, karena pada dasarnya Ava mencuri hak cipta milik hantu itu. Namun Ava menarik batas moral. Setidaknya paten resep tersebut terdaftar atas dua nama, Eve dan Adam. Ava tidak perlu mendapatkan penganiayaan supernatural karena masalah ini, lagipula royaltinya hanya bisa mengalir ke dalam kantong Ava. Walaupun berisik, Ava masih bisa tahan dengan pelecehan verbal, ia merinding membayangkan tentang apa yang bisa dilakukan Adam jika Ava setidaknya tidak mengakui kontribusinya.
"Kapal akan berangkat!" Awak kapal sudah memperingati mereka.
__ADS_1
"Saya pamit terlebih dahulu." Rombongan Ava mengikuti gadis tersebut menaiki papan kayu yang berfungsi sebagai jalan penghubung antara kapal dengan dermaga.
Ezra dan ketiga pengikutnya menunduk hormat. Sedangkan agak kejauhan, Ava dapat melihat Dom yang melambai semangat serta Lorah yang masih menguap. Wajar, keberangkatan mereka dijadwalkan pada pagi buta agar tidak terlalu mengundang banyak perhatian. Karena reputasi Eve akhir-akhir ini membuat Ava dibanjiri dengan para penduduk yang ingin bersalaman mengucapkan terima kasih.
Omong-omong, River sudah belasan kali berterima kasih atas bantuan dari beastman bersaudara tersebut karena sudah menjaganya saat diisolasi dalam kandang, membuat kondisinya lebih baik daripada pasien zombie yang tidak terawat.
Hm, mungkin Ava juga seharusnya mengucapkan terima kasih?
Kalau saja keduanya bersikeras untuk mengikuti Ava seperti halnya River, ia akan kesulitan untuk menolak. Menjadi pendamping seorang putri akan membawa kehormatan serta bergaji tinggi, jadi ia tidak akan kaget apabila mereka berdua ingin memanfaatkannya. Akan tetapi sepertinya pendirian keduanya, terutama Dom, berbeda dari jalan hidup Eve. Mereka masih ingin mengembara bebas, bukannya terikat dengan aturan serta tata krama kelas atas yang otomatis dibebankan kepada keduanya akibat dari asosiasi mereka dengan Tuan Putri. Ava pun paham, ia masih bisa membayangkan wajah murung Ib setiap kali sponsor bangsawannya disinggung.
Ava tidak tahu saja sudah berapa kali Dom menjual nama Eve sebagai pendongkrak statusnya di Oranera.
__ADS_1
Dom tetap masih menginginkan ketenaran, tapi terlalu dengan dengan sang putri hanya akan menjadi beban.