Hellbent

Hellbent
Bab 55: Truth or Dare


__ADS_3

Sebagai bentuk rasa syukur atau hanya aksi yang menjaga martabat dan muka mereka, pihak bangsawan mentraktir makan malam seluruh penumpang, regu bantuan, dan staf kapal. Mungkin langkah yang cerdas mengingat mereka merasa sangat perlu untuk dilindungi, dan dengan menjadikan makan malam ini sebagai salah satu bentuk sogokan, ketika ada lagi monster yang menyerang nyawa mereka akan diprioritaskan.


Karena mereka makhluk yang sederhana.


Dan bagi Rai, makan malam gratis yang disediakan oleh keluarga bangsawan ia anggap sebagai undangan berpesta. Dia pun menantang Ava dalam permainan "kebenaran atau tantangan".


"Peraturannya gampang saja, pihak yang ditunjuk akan memilih untuk menjawab secara jujur atau melakukan sebuah tantangan, jika tidak bisa maka mereka harus minum segelas alkohol," Rai dengan berapi-api menjelaskan.


Oh, truth or dare.


Mudah.


"Jadi, siapa yang mau ikut? Rina tidak boleh mengundurkan diri."


Jelas sekali kalau target Rai sebenarnya adalah gadis itu. Tapi Ava merasa tidak ada salahnya mengikuti arus permainan Rai untuk sesaat.


"Aku! Aku!" Hao otomatis masuk ketika Rina ikut.


"Aku." Dom tidak mau kalah ataupun disebut pengecut.


"Sepertinya seru," River terlihat bersemangat untuk bermain dengan orang-orang baru.


Ib sudah kembali ke kamarnya setelah makanannya habis, masih perlu mengurus dokumen-dokumen mengenai sponsornya. Sesi perkenalan pria itu dengan petinggi guild Canthan juga singkat dan padat. Sibuk.


Yong di sisi lain mengangguk meskipun memasang wajah curiga.


"Aku, biarkan aku ikut!" Semuanya setuju untuk mengikutkan Lorah hanya saja hukuman gadis cilik tersebut adalah meminum jus sayur.


"Biarkan aku memilih target dulu," Rai sudah memulai tanpa menunggu kesiapan orang lain.


"Rina." Benar, kan? Target pria itu adalah dirinya.


"Kebenaran." Walaupun Ava berbohong, tidak akan ada yang tahu.


"Ah, membosankan," walaupun Rai berusaha mendesah kecewa, senyum jahil yang ia sembunyikan membuat Ava was-was. "Tapi karena itulah aku memiliki ini!" Sebuah cincin ungu berkilat di bawah penerangan lampu. "Artifak kejujuran! Item ini akan mengetahui siapa yang jujur dan siapa yang berbohong, apabila kalian tertangkap berbohong, petir kecil akan mengenai tangan kalian."


... Apa itu benar?


Dalam dunia fantasi, benda seperti itu kemungkinannya memang ada. Tapi bagaimana kerjanya? Mengukur detak jantung, jumlah keringat, dan pergerakannya seperti yang pernah ia lihat di video online? Apakah item tersebut memiliki kekuatan untuk membaca pikiran ataupun memori untuk mengetahui kebenaran dari jawabannya? Atau bagaimana?


"Rina, apakah kau benar-benar tidak menyukai Hao?" Pertanyaan yang mudah, mungkin karena masih pembuka, pemanasan sebelum pertanyaan menarik yang lain, atau Rai hanya ingin menebar garam ke luka Hao yang sudah menatap Rai dengan tajam.


Kemungkinannya alasan yang terakhir.

__ADS_1


Ava memakai cincin ungu yang secara ajaib menyesuaikan diri dengan ukuran jarinya. "Aku tidak tertarik dengan Hao sebagai laki-laki." Tidak ada reaksi. Benar. Dia langsung melepaskan item tersebut.


"Giliranku. River? Apa yang akan kau pilih?"


"Kebenaran saja dulu." Cincin ungu sudah berpindah tangan.


"Baiklah, apa impianmu untuk sepuluh tahun yang akan mendatang?"


Pertanyaan Ava memang polos, tapi River dengan malu-malu menjawab, "Membangun peternakan monster yang tidak suka melukai makhluk hidup lainnya."


"Oh, aku selalu ingin menaiki pegasus!" Lorah berseru dari ujung meja. Semua orang mengangguk setuju, sepertinya juga terhibur dengan pemikiran itu.


Ava seharusnya sudah menduga kalau pegasus nyata ada di sini.


"Bagus, bagus. Sekarang pilih orang lain."


"Anu," jeda terseret agak lama, River bingung karena sebenarnya ia masih canggung dengan orang-orang di meja merek, mungkin teman sekamarnya saja, yang paling muda, "Lorah."


"Kebenaran!"


"Oke, cita-citamu saat besar jadi apa?"


"Ranker!"


"Kakak, pilih apa?"


"Tantangan." Tantangan pertama dalam permainan ini.


"Oh! Habiskan satu gelas jus sayur!" Dom langsung mengernyit jijik mendengar hal tersebut. Sepertinya bukan hanya Lorah yang tidak menyukai sayur.


" ... Baiklah, bawakan saja!"


Hao memanggil lantang pelayan yang lewat, "Satu gelas jus sayur!" Mereka masih saja bermusuhan.


Segelas cairan kental dingin berwarna hijau duduk mengancam di depan Dom, tapi dia harus menghabiskannya, atau ini akan menjadi sejarah hitam yang ingin ia lupakan. Dia pun minum meskipun bibirnya bergetar, setiap tegakan terasa lengket dan seolah menyangkut di tenggorokan. Dom tahu tubuhnya sendiri menolak, tapi ia paksakan.


Satu menit berlalu, isi gelas habis, hanya menyisakan Dom yang berkeringat meskipun cuaca dan minumannya dingin.


"Hao!" Meskipun yang membuat ia menegak hal menjijikan itu bukanlah Hao, Dom tetap kesal ketika berbicara dengannya.


"Tantangan!" Seperti yang diduga, permainan ini berubah menjadi adu kehormatan.


"Kutantang kau untuk melakukan argumen palsu dengan siapapun di meja ini sampai ada pelayan menghentikan kalian!"

__ADS_1


Itu ... tantangan yang tidak biasa.


Rai mengangkat tangan, menawarkan diri, "Lakukan saja denganku."


Dari pandangan pertama saja Ava sudah mengerti kalau Hao dan Rai tidak memiliki hubungan baik. Sisi positifnya akting mereka akan terasa natural, sedangkan sisi buruknya apa yang mereka bicarakan bisa dengan cepat merambat ke masalah personal. Tapi Ava tidak mau menggantikan Rai. Dom, River, ataupun Lorah tidak akan sadar seberapa cepat hal ini akan menjadi pertengkaran sungguhan. Hanya Yong terlihat khawatir, wakil kapten dan adik kandungnya akan segera membuat keributan, tentu dia akan cemas.


"Cara yang benar untuk memakan ayam goreng adalah mencoleknya dengan saus, bukan menuangkan saus ke wadah ayamnya!"


"Salah! Menuangkan saus akan menambah kaya rasa ayamnya!"


... Apa?


Topik macam apa ini?


"Menambah kayak rasa apaan?! Kalau dituang hanya ayam yang di atas yang penuh saus, yang bawah kering!"


"Itu karena kau payah saat menuangkan sausnya!"


Dom dan Lorah sudah cekikikan di kursi mereka. River dan Ava bereaksi sama, bingung. Yong masih menyaksikan adegan di hadapannya dengan seksama, jika saja ada tanda agresi yang berlebihan, dia akan langsung melerai.


"Payah?! Aku payah?! Cara makan sepeti itulah yang aneh! Selesai makan, saus di seluruh tangan!"


"Apa bedanya dengan mencolek saus kalau begitu? Telapak dilapisi minyak!"


"Setidaknya saat makan lebih rapi!"


"Kau mengataiku barbarian?!"


"Sudah tahu sendiri, begitu!"


"Hei, yang penting aku tidak mendesah setiap kali mengunyah!"


Urat Dom hampir meledak menahan tawa setelah pernyataan itu. Bahkan kini Yong ditambah sibuk dengan menyembunyikan senyum di balik tangannya.


"Aku tidak mendesah!"


""Ah, ini enak sekali,", "Hmm, nikmat,", "Lagi, tambah lagi"."


Ava paham kalau apa yang dilakukan Rai adalah hiperbola dari versi aslinya, tapi astaga, tadi itu menggelikan sekali, dia sampai mencubit keras paha hanya untuk mencoba tidak tersenyum. River melakukan hal yang benar dengan menutup telinga Lorah sebelum peragaan konyol tadi, gadis cilik itu pun hanya cemberut karena tidak mengerti tentang apa yang orang dewasa tertawakan.


Mereka bahkan tidak menyadari seorang pelayan yang dengan canggung berdiri di dekat mereka. "Anu, maaf, bisakah kalian tidak membuat keributan di dalam restoran?"


Tantangan untuk Hao pun sukses, tapi entah reputasi laki-laki itu malah naik atau turun dengan performa tersebut.

__ADS_1


__ADS_2