
"Awas saja ya jika kalian ketahuan!"
Tentu saja kalau tubuh seorang anak kecil dipukul akan meninggalkan bekas. Jika dia sebegitu takutnya tidak mau menunjukkan memar baru di perut Ava, kenapa malah menghajarnya?
Ava tidak bisa mengikuti logika orang dewasa. Gadis itu lalu melirik sampingnya, menghiraukan anak-anak nakal yang suka mengerjai, Lexa tidak berani disentuhnoleh para staf karena tubuhnya yang memang sudah lemah sejak awal, akan tetapi balasannya Alex meringkuk kesakitan karena ditendang lebih banyak. Ava dan Alex saling menatap, kemudian mengangguk.
Makan malam nanti, mereka akan diam-diam mencampurkan pemutih diminuman para staf.
Bukan salah mereka jika seekor kucing liar memutuskan untuk buang air besar di halaman panti asuhan, tapi kenapa mereka yang dimarahi saat staf panti yang disuruh membersihkannya?
Orang dewasa memang tidak bisa diandalkan.
"Apa lihat-lihat?!" Jelas, tidak ada yang menyukai pancaran berontak dalam mata Ava.
Plak!
"Hei! Apa yang kau lakukan?!"
"Lihat dia, kelakuannya dibiarkan semakin kurang ajar!"
"Sudah kubilang jangan memukul di tempat yang terlihat jelas!"
"Cih!" Kaos gadis itu ditarik, wajah Ava dan staf yang baru saja menamparnya sangat dekat hingga pori-pori kulit terlihat jika saja Ava sedikit fokus. "Kalau ditanya, bilang saja kau jatuh dari tangg-- Akh!"
__ADS_1
Dia tidak bisa menahan diri untuk menggigit hidung di hadapannya. "Ang!"
"Hei, lepas!"
Badan Ava ditarik lagi, kali ini menjauh. Namun bocah yang masih kesal itu tidak mau melepaskan gigitannya. "Anguh! Lepasng!" teriakan sengau bersuara lantang.
"Jangan berisik!"
"Lepasngkan bocah ini!"
Ava dapat mencecap darah di lidahnya. "Aw! Aw! Aw!"
"Keributan apa ini?"
Hah? Apa mereka mengira dengan membawa orang berpangkat paling tinggi di sini akan membuat Ava menciut? Tidak!
Namun sebaliknya, ketiga staf yang menganggu mereka dari tadi lah yang malah berdiam diri, tidak berani bicara.
"Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku." Dengan kedua lengan dipinggul, Sven mengangkat dagunya pongah, mencermati dengan arogan siapa saja yang sembunyi-sembunyi membangkang.
Dagu Ava dicolek, Lexa mengkode dengan matanya untuk segera melepaskan diri. Begitu, kaki gadis itu menampak aman di tanah dengan sudut bibir yang berdarah, jelas bukan darahnya, Lexa memecah ketegangan hening di halaman belakang panti. "Mereka menganiaya kami, Pak." Ava ditunjuk.
Raut gadis itu mengerut, tidak suka dengan julukan hormat yang ditujukan kepada pimpinan dari staf-staf jahat tersebut.
__ADS_1
Namun Sven lekas percaya. Bekas tamparan di pipi serta seorang anak kecil yang masih meringkuk di tanah sudah menjadi bukti kuat.
"Kalian bertiga, ke kantorku!" Kakek direktur meninggalkan mereka dengan langkah lebar dan napas menggebu-gebu. Para staf yang ketahuan, saling mendorong dan menyalahkan, tapi pada akhirnya langkah mereka mengikuti si kakek tua, tentu setelah memelototi Ava, Alex, dan Lexa mati-matian.
"Wlek!"
***
Keesokan harinya, anak-anak panti diwawancara satu-persatu. Banyak yang menangis sebelum dipaksa masuk sendirian ke dalam kantor direktur baru.
Saat tiba gilirannya, Ava langsung menunjukkan lingkaran biru dan ungu pada perut serta punggungnya akibat kejadian kemarin, sesuai instruksi Lexa.
Tiga serangkai akhirnya bersorak girang ketika para staf jahat tidak diperbolehkan lagi mendekati gedung panti asuhan.
Kata Lexa, mereka dipecat.
"Akhirnya, ada orang dewasa yang cukup normal di sini."
"Maksudnya?"
"Si kakek direktur, dia mengasihani kita."
Rasa kasihan, ya? Ava pernah membacanya di buku. Nama lainnya "simpati", benar?
__ADS_1