Hellbent

Hellbent
Bab 174: Tidak Stabil


__ADS_3

"Silahkan buka peti ini, Yang Mulia."


" Untuk dijadikan persediaan kita berdua?"


"Benar, keberuntungan Anda terbukti lebih banyak daripada saya."


Diam sesaat, Isabel akhirnya melontarkan pertanyaannya. "Kenapa kau terlihat marah?"


"Saya tidak marah, Yang Mulia."


"Aku sudah berurusan dengan para bangsawan yang kata hati dan ucapan bibirnya selalu berlainan selama puluhan tahun, kau tidak bisa menipuku."


Heh, benarkah?


"Saya hanya lelah, Yang Mulia. Kita semua terhisap ke dalam gate tanpa persiapan apa-apa, level direset, dan juga inventori dikunci."


Ava sendiri tidak mengerti kenapa dia kesal semenjak kemarin malam. Namun hal seperti ini tidak jarang ia alami. Ia kesal saat dirinya berkali-kali dilempar dari panti asuhan satu ke panti asuhan yang lain, ia juga kesal ketika panti asuhan yang akhirnya tidak menendangnya keluar sama sekali tak layak dijadikan tempat layanan sosial, ketika ia mulai dekat dengan direktur baru namun malah membuatnya meninggal, sewaktu ia dijerumuskan ke dalam skema misterius egotistik yang menjebaknya di dimensi lain, lalu saat River yang merupakan orang baik dengan cerobohnya hampir menjadi zombie karena terlalu keras kepala mengikuti Ava. Ia kesal kepada banyak hal!


... Wow, Ava baru sadar kalau ternyata dia memendam banyak masalah.


Ia mengingatkan diri untuk menarik napas dalam. Ava tidak membawa smartphone yang bisa memutar lagu guna mendistraksi pikirannya yang bising dan panas.


"Situasi ini jelas-jelas bukan keinginan kita semua. Jadi sebaiknya kita lekas-lekas mencari portal keluar, untuk kebaikan kerajaan Edodale juga. Istana yang kosong akan menjadi masalah besar, saya pun yakin rakyat sudah gelisah."


Gambaran gate besar yang muncul tiba-tiba di atas istana melayang saja pasti cukup untuk membuat penduduk di ibukota panik. Para bangsawan, penguasa tanah, serta tokoh-tokoh penting lainnya yang hadir menjadi tamu undangan dalam ulang tahun Eve, dipastikan absen dari posisi mereka karena bencana ini. Kalau mereka tidak cepat-cepat menata peraturan, bisa-bisa kerajaan Edodale akan goyah. Lebih bahaya lagi apabila kerajaan lain melihat kejadian naas ini sebagai kesempatan untuk menyerang, Edodale bisa habis dilahap.


" ... Kau berpikir layaknya seorang putri sejati."


"Saya berterima kasih atas buku-buku yang berkesempatan saya baca selama di istana."


"Bukan, maksudku bukan mengenai keahlian politikmu. Namun kau berpikir tentang keadaan rakyat."


Ah, jadi begitu. Sifat pemimpin idealnya memang seperti itu, akan tetapi banyak kalangan atas yang masa bodoh dengan orang-orang bawah. "Saya hanya bersimpati dengan rakyat karena asal saya memang dari kalangan biasa, Yang Mulia."


Isabel tersenyum, gaun mewahnya bergoyang seiring langkahnya yang semakin dekat dengan Ava. "Teruskan saja seperti itu." Pundak Ava dielus lembut.

__ADS_1


Namun kini, setiap perilaku Ratu Isabel hanya meningkatkan rasa kesalnya.


Wanita itu sama sekali tidak menanyakan keberadaan Eve. Ava tahu Isabel penasaran setengah mati. Kalau memang tujuannya mendekati Ava agar ia membocorkan lokasi Eve, usahanya percuma! Dia sendiri tidak tahu apa-apa!


Dari hari pertama, Ava sudah merasa jijik mengikuti setiap instruksi dari dopplegangger-nya itu! Namun ia tidak punya pilihan lain selain menurut karena lingkungan fantasi yang asing ini!


Dan sekarang, ia diperalat juga oleh Raja Dion, Marvin, dan Ratu Isabel!


Menjadi boneka pengganti tidak seenak yang orang lain kira.


Namun, Ava sendiri tahu, kalau keserakahannya lah yang membuatnya tersiksa.


Mendongak, yang dia lihat hanya dinding menjulang tertutupi awan kelabu.


Ah, hal ini malah membuat Ava depresi.


Jder!


Kilat menyambar entah dari mana, gemuruhnya kencang seolah langit sedang marah. Sekejap, hujan turun deras.


Wow, takdir bahkan mengejeknya.


Ava terpejam kesakitan, sebab telinganya terasa seperti tertonjok dengan petir yang menggelegar tadi, kilatnya pun seolah membakar retinanya. Dengung yang membisukan sekitarnya bertahan selama beberapa detik.


"Mama!"


"Rina!"


"Nak Rina!"


Hah, apa? Sadar-sadar, pandangan Ava dipenuhi oleh dua wajah familiar. Walaupun Isabel juga khawatir, ia tetap berada ditempatnya, berdiri tegak. Uh, mukan mereka terlalu dekat. Ava melangkah mundur.


Tunggu dulu, sejak kapan mereka ada di sini? "Kalian juga ikut terhisap ke dalam gate?" Ava bertanya, setengah tidak percaya.


Benar. Mereka adalah River dan Siwon. Berdasarkan susunan acara yang disusun sang ratu, Siwon dan River baru akan diperkenalkan setelah pertunjukan kembang api, menuruti perintah Raja Dion untuk membangun reputasi keduanya dengan mempertontonkan kekuatan Siwon sebagai naga dan kegunaan River sebagai penjinak monster. Sebenarnya Ava merasa buruk tentang hal ini, sebab ia merasa memperlakukan Siwon dan River sebagai atraksi sirkus. Jadi walaupun mereka menerima tugas tersebut dengan senang hati, Ava tersenyum pahit.

__ADS_1


Kembali lagi, mereka seharusnya masih di dalam kamar untuk bersiap-siap. Kamar istana, tempat yang seharusnya aman dari pengaruh pembukaan gate ini.


Saat itulah Siwon menunduk bersalah, akan tetapi River duluan yang menjawab, "Um, itu karena, anu, aku lapar dan ingin makanan pesta. Iya, begitu!"


River adalah pembohong yang buruk. Ava jelas sekali tidak percaya. "Siwon ingin menonton kembang api, ya?" Alasan itulah yang paling mungkin. Naga cilik itu pasti penasaran dengan kerlap-kerlip mempesona yang belum pernah ia lihat. Lalu River, menjadi orang baik seperti biasanya, menuruti kemauan Siwon dengan sukarela.


Bocah tersebut terus saja memandang kakinya yang kotor karena tidak memakai sepatu. "Aku tidak marah Siwon, hanya saja kalau kalian tidak keluar dari kamar sebelum waktunya, kalian tidak perlu terjebak di dalam labirin mengerikan ini." Ava menepuk pelan kepala Siwon yang akhirnya berani memandang matanya.


"Ehem!"


Batuk palsu langsung mengalihkan perhatian mereka bertiga. Ah, benar. Ratu Isabel masih berusaha keras menegakkan tata krama kelas atas meskipun keadaan krisis mereka, karena itulah Ava berbicara formal kepada sang ratu dari kemarin. Tapi, River dan Siwon langsung menghampiri Ava begitu mereka melihatnya mendongak dan kesakitan. Artinya, dua orang tersebut belum menyapa Isabel sebagai seorang ratu.


"Beri salam," Ava mengkodekan diam-diam.


"Ah, um, Yang Mulia Ratu Isabel, selamat ... Pagi?"


"Selamat pagi!" Siwon hanya mengulangi bagian terakhir dari kalimat canggung River. Walaupun pembelajaran kilat telah diberikan, keduanya tidak bisa langsung beradaptasi dengan perubahan drastis lingkungan mereka.


Dengan balasan yang sempurna, Isabel berucap, "Selamat pagi juga, Tuan Doyle dan Siwon Yang Agung."


... Yang Agung?


Ava tahu kalau naga ialah spesies yang dipuja-puja karena bakat alami mereka dalam sihir. Namun julukan "Yang Agung" bukankah berlebihan?


Tapi itu sepenuhnya urusan Ratu Isabel sendiri. Ava tidak peduli.


Tata krama yang membosankan sudah selesai, bukan?


"Omong-omong, kalian menemukan petunjuk tentang portal keluar?"


River dan Siwon saling bertatapan, terlihat ragu untuk membagi info yang mereka pegang. Ava pun mendesak, "Tugas gate ini hanyalah keluar melalui portal yang disediakan. Kalau kalian khawatir tentang poin kontribusi, aku bisa menunggu--"


"Bukan!" Keduanya hampir berbarengan membantah. Akhirnya, River angkat bicara. "Bukan hanya sekedar petunjuk, kami sudah menemukan portalnya."


... "Lalu kenapa kalian tidak segera keluar?"

__ADS_1


"Karena adha monster beshar jahat yang menjaganya!"


Ah, jadi mereka diharuskan untuk mengalahkan bos monsternya.


__ADS_2