
Nama kakek direktur baru adalah Sven Damisky. Pensiunan tentara yang memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya untuk terjun dalam bidang kesejahteraan sosial, utamanya anak-anak. Sebuah perubahan karir yang sangat drastis.
Setelah penyambutan yang berakhir berantakan kemarin, Ava tidak memikirkan lebih lanjut apa arti dari tingkah aneh dari si direktur baru. Namun niatan gadis itu tidak sama dengan kakek tersebut.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Ava dengan sekejap berbalik, menghunus ranting pohon yang ia bawa sebagai senjata.
Sven mengangkat sebelah alisnya, terkejut dengan reaksi bocah itu yang terlalu sensitif dan waspada, tapi tetap tidak takut dengan wajahnya. Beberapa detik menunggu pun, si gadis cilik masih belum menjawab, jadi ia mengulangi pertanyaannya lagi, lebih pelan dan halus, "Apa yang kau lakukan di sini, hm?"
Apa ini? Kenapa kakek tua itu sok dekat dengannya? Apakah ini taktik baru untuk membuat Ava diperlakukan jahat nantinya? "Menggambar," dia akhirnya merespon dengan bergumam.
Sven melirik garis-garis berantakan di tanah yang gadis itu sebut sebagai "gambar", tanpa sadar ia mengeluarkan tawa, "Pfft!"
Dan Ava tidak menerima reaksi si direktur baru dengan baik. Wajah mungilnya seketika memerah, hidung mengerut, serta alisnya menukik tajam. "Apanya yang lucu?!" Ujung ranting Ava semakin terangkat, menunjuk ke arah wajah kakek tua tersebut.
Melihat kekesalan yang membuncah dari tubuh kecil itu, Sven mati-matian menahan tawanya. "A-ah, m-menggambar? Pfft, ehem, a-pa yang kau gambar?"
Ava tidak menjawab, tapi malah lari kabur. Dalam pikirannya, Lexa harus segera mendengar ini.
Direktur yang baru adalah orang aneh.
***
__ADS_1
Namun bukan hanya itu saja usaha kakek direktur dalam mendekati Ava.
"Kudengar kau memukuli anak-anak yang lain lagi bersama temanmu yang kembar."
Mata bulat Ava langsung menyipit curiga. Interogasi? Bukannya para staf sudah tahu apa yang sehari-hari anak-anak yang lebih tua lakukan kepada Ava, Alex, dan Lexa? Seharusnya kakek itu juga tahu, bukan? Karena dia adalah atasan mereka? Ava juga yakin kalau setiap perilaku anak-anak panti dicatat dalam sebuah dokumen sebagai jaga-jaga kalau ada yang mau mengadopsi dan menyelamatkan mereka dari tempat bobrok tersebut? Apakah direktur baru hanya mencari-cari alasan untuk memarahinya? Atau akan menghukumnya agar dijadikan contoh anak-anak nakal yang lain?
"Kenapa diam saja?"
Apakah dia akan dipukul? Dicambuk lagi? Tidak diberi makan malam? Apapun itu Ava sudah terbiasa dan akan ia terima. Namun kalau mereka masih mengira dia akan lebih menurut, mereka salah besar. Jadi Ava berterus terang, "Mereka merobek buku yang kami pinjam dari perpustakaan!
"Oh, benarkah?"
...
...
Saking bingungnya Ava sampai mundur selangkah, semakin was-was.
"Lalu?"
"Hm, lalu apa?"
"Kau tidak ... akan mengurungku di gudang?"
__ADS_1
Sunyi. Hanya angin yang berhembus lirih di antara mereka sore itu. Namun Ava dapat melihat ekspresi si kakek tua yang kini berubah datar dan kaku. Mengenali ketegangan yang familiar setiap kali ada staf yang ingin memarahinya, Ava berjalan mundur, menyambar batu kalau saja diperlukan. Namun direktur baru masih mengamatinya tanpa bergerak. Jadi gadis cilik itu memanfaatkannya untuk kabur, lagi.
***
Keesokan harinya saat pagi buta, ketika anak-anak panti masih terlelap, Lexa yang sudah terbiasa kesulitan tidur, membangunkan Alex dan Ava dengan terburu-buru. Dia lalu menunjuk ke luar jendela.
Seluruh staf panti asuhan berbaris di depan pintu utama, masih mengantuk dan jelas kebingungan. Direktur baru sudah rapi dengan jasnya, memandangi satu persatu orang di hadapannya layaknya jenderal kepada prajuritnya.
"Oh!"
"Woah!"
Ava dan Alex tidak dapat menahan kekagetan mereka ketika 30 staf serentak berguling di tanah, push-up, lalu lari mengelilingi gedung panti.
"Sepertinya suasana pantai asuhan akan segera berubah." Dengan jelas Ava mendengar prediksi Lexa.
Dan benar, suasana di panti asuhan berubah.
Tidak ada lagi staf yang berani memukuli mereka. Kalaupun ada staf yang marah, lebih seringnya mereka hanya dipelototi.
Mereka tidak lagi dianiaya.
Yah, setidaknya tidak secara terang-terangan.
__ADS_1