Hellbent

Hellbent
Bab 34: Roomate


__ADS_3

"Berani-beraninya makhluk rendahan sepertimu!"


Sibuk menggoda River dengan kecerobohannya, Ava tiba-tiba dikejutkan dengan lolongan keras di lorong kapal.


Mereka berdua segera berdiri, perlahan mendekati pintu tertutup yang memisahkan mereka dari apapun yang membuat keributan tersebut. Akan tetapi Ava segera menarik tangan River, menyuruh pria itu untuk tetap duduk di tempat tidurnya, karena masih belum lama ia jelas-jelas direndahkan saat baru saja menaiki kapal.


Namun River menggeleng, sebagai laki-laki yang lebih dewasa, ia pantang membiarkan Ava menghadapi sendirian apa yang ada di balik pintu. Dia sudah terbiasa dicemooh, dihina, dan direndahkan. Bahkan, rumahnya terkadang dilempari telur busuk ataupun bangkai hewan. Jadi ia menyangka, kekacauan yang berlangsung tersebut adalah salah satu perbuatan keji lain yang seseorang lakukan karena tidak nyaman dengan kehadirannya.


Namun River meleset. Kali ini, dia tidak ada hubungannya.


"Matamu yang dikemanakan?!" Sesosok pria besar dengan tato yang hampir menutupi seluruh lengannya membalas lantang. Cukup berani mengingat lawannya adalah pria tua dengan pakaian mengkilap yang seolah orang buta yang baru pertama kali melihat warna, mencolok. Tipikal orang kaya baru.


Akan tetapi Ava berfokus pada hal lain, gadis kecil yang bersembunyi di balik pria tersebut, tepatnya telinga serta ekor kuning bertotol hitam yang ada pada gadis cilik itu.


Beastman?


Baru pertama kali ia melihat langsung spesies yang disebutkan berulang kali di buku-buku yang ia baca.


Sepertinya tidak hanya dia saja, orang-orang yang perlahan memenuhi koridor di depan kamarnya itu juga diam-diam melirik anak perempuan setengah cheetah tersebut.


"Apa kau siapa aku, hah?!"


"Aku tidak perlu tahu statusmu untuk menyimpulkan kalau kau adalah orang brengsek!"


Melihat argumen yang sedang panas-panasnya, Ava tidak berniat untuk menyela. Namun untuk mengetahui penyebab kejadian ini, ia pun diam-diam bergeser, berbisik dengan orang asing yang paling dekat dengannya.


"Ada apa ini?" bisik Ava pelan.


Wanita yang tiba-tiba diajak berbicara tersebut untung saja membeberkan tanpa jeda, "Karena jadwal yang sibuk, lorong ini pun padat dengan penumpang. Lalu kudengar kakek yang terlihat berduit itu dengan sengaja menabrak si gadis cheetah, kakaknya yang kekar pun tidak terima dan melabrak. Si kakek tidak ingin mengaku salah, yang akhirnya mengarahkan mereka dengan adu mulut seperti ini."

__ADS_1


"Seharusnya mereka diam saja, atau dikandang sekalian, kenapa menghambat di tengah jalan seperti ini, sih?!" orang asing lain menimpali sinis. Ava tidak menyambut komentar jahat sepeti itu.


Belum sempat ia mencari informasi lebih lanjut, tahu-tahu River sudah ada di antara dua pria yang berargumen tersebut. "Lebih baik kita diskusikan masalah ini dengan baik-baik, jadi kalian berdua lebih baik menenangkan diri terlebih dahulu."


"Tenang?! Dilihat dari manapun juga campuran hewan dan manusia seperti mereka yang harusnya minta maaf!"


"Mulut orang tua sepertimu lah yang kerjaannya cuma bikin masalah!"


Keduanya terlihat tidak ingin mengalah satu sama lain.


Ava lebih baik bertindak sebelum masalah ini menjadi lebih besar. Ia pun menyusup hingga berada di belakang badan besar River, mengeluarkan sebuah bola dari inventorinya, mencakup sedikit bubuk bius yang ada di dalamnya.


"Benar. Sebaiknya kalian menenangkan diri terlebih dahulu," Ava bediri sigap, tangannya diam-diam menghamburkan bubuk halus pada orang-orang di sekitarnya. Dosis yang kecil diharapkan akan membuat mereka tenang, paling maksimal mengantuk. Ketika seseorang sedang naik pitam, logika mereka akan terbuntu, mengakibatkan penilaian dengan bias negatif, atensi selektif, dan perspektif hitam-putih. Jadi emosi panas hanya akan memperparah masalah ini.


Ava sendiri sudah cukup pengalaman dengan hal tersebut.


Tidak menunggu lama, pria bertato sudah tidak lagi sibuk membentak, kakek tua berpakaian merak juga terantuk-antuk, sepenuhnya bersandar pada tongkat mengkilap berkepala burung. Apa itu emas asli? Kalau ada kesempatan, akan Ava curi.


Sedikit narsistik, ha.


Dalam sekejap saja, kapten dan rombongannya sudah membelah gerombolan orang-orang, berhenti tepat di depan mereka.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Suara bariton si kapten seketika membuat semua pasang mata tertuju pada pria itu, Ava dapat melihat sekilas ujung bibirnya yang terangkat, menikmati perhatian yang diberikan kerumunan. Namun alisnya menukik ketika bertemu pandangan dengan wujud si kakek merak.


Peraturan nomor satu ketika menghadapi orang narsistik, jangan berusaha untuk lebih menonjol dari mereka.


Jadi Ava mengambil langkah untuk berdiri di sebelah laki-laki bertato, ikut berusaha menyembunyikan gadis cilik yang karakteristik cheetah-nya amat mencolok. "Mereka bertabrakan. Mungkin karena cuaca yang panas dan ramai ini, saya rasa semua orang sedang sensitif," Ava sebagai pihak ketiga yang sebenarnya tidak tahu apa-apa bersuara. Namun dalam kejadian seperti ini, menyampaikan testimoni netral haruslah di prioritaskan agar masalah cepat selesai.


"Dia yang menabrak adikku dan tidak ingin meminta maaf," pria di samping Ava menggeram, untung saja tidak lagi berteriak.

__ADS_1


Mungkin karena obat bius yang disebarkan Ava, kakek tua itu bahkan sudah mati-matian berusaha berdiri tegak. Sepertinya usia juga mempengaruhi efeknya. "Minta maaf? Hah, memangnya apa kau tahu siapa aku?" Lagi dan lagi, dia ingin menyombongkan diri.


Sombong. "Kalau begitu, bukankah kamar Tuan berada di lantai atas? Lantai ini hanya untuk kelas ekonomi," Ava memasang senyum bisnisnya. Melihat si kakek merak yang segera sadar dan panik, Ava pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menggigit. "Tuan dengan status tinggi tidak mungkin mendapatkan kamar di lantai ini, bukan?"


"T-tentu saja tidak."


"Lalu kenapa Tuan ada lantai kelas ekonomi?"


"Ak-aku ter--"


"Padahal papan kayu bertuliskan petunjuk arah sudah sangat jelas di pasang di depan."


Ava sudah tahu kalau lantai atas tidak bisa disewa hanya dengan uang, mengingat kamar yang luas dibandingkan dengan ukuran kapal penumpang ini, slot yang ada pun terbatas. Untuk memesan kamar mewah tersebut, selain modal yang banyak, seseorang harus memiliki status tinggi setara dengan bangsawan.


Artinya, kakek di hadapannya ini termasuk dalam golongan orang berduit berstatus rendah atau bangsawan miskin.


Apapun dari keduanya, tentu saja tidak akan kakek tua itu beberkan di hadapan umum ketika ia terus saja merendahkan orang lain dengan pongah.


Yah, tentu saja ini cuma hipotesis.


Jadi Ava akan mengetes teorinya. "Kapten, melihat Tuan yang sepertinya salah lantai ini, sebaiknya ada staf yang mengantar beliau."


"Ah, Nona perhatian sekali," si kapten membalas girang. Setengah alasannya bisa karena ia merasa puas dengan si tua berkilauan itu dipermalukan, pakaian ataupun aksesoris yang dipakai mengganggunya.


"Tidak! Saya sudah tahu jalan," Kakek merak membelah jalan, untuk ukuran orang yang sudah tua, dia gesit juga.


Kerumunan pun tidak lama juga bubar. Si kapten dan rombongannya entah sudah kemana. Yang tertinggal hanya pria bertato dan adik cheetah-nya.


"Kamar kalian nomor berapa?" River bertanya ramah dari balik punggung Ava.

__ADS_1


Si gadis cilik dengan canggung mengulurkan dua kunci bernomor 34. Sekamar dengan Ava dan River.


__ADS_2