Hellbent

Hellbent
Bab 45: Bulan Ungu


__ADS_3

Kapal besar mereka tentu saja harus melakukan pelabuhan darurat ke pulau terdekat setelah insiden kemarin, selain untuk menurunkan para penumpang yang mengalami trauma, masih banyak orang yang belum disembuhkan karena obat-obatan yang terbatas. Pelayaran kapal masih akan terus dilanjutkan walaupun harus ditunda untuk beberapa malam, akan tetapi kapten dan puluhan staf yang ada harus menunggu bala bantuan dari pihak kerajaan atau guild resmi di Igoceolon, menuntaskan kewajiban mereka menjaga para penumpang. Burung merpati pembawa pesan sudah terbang bersama dengan surat SOS dari kapten tadi malam setelah keadaan sedikit tenang. Akan tetapi setidaknya hal tersebut akan memakan sampai 3 hari hanya untuk balasannya, belum lagi waktu untuk para prajurit tersebut untuk sampai di tempat mereka.


Satu hari berangkat saja Ava dan kawan-kawan sudah tertimpa masalah di atas kapal. Gadis itu bahkan belum lupa insiden lain di kota Englerock, outbreak monster hiu, yang juga membuat perjalanannya tertunda sampai seminggu untuk perbaikan kapal. "Apakah memang sesering ini insiden yang melibatkan air?" Ava bergumam untuk dirinya sendiri, tapi Ib yang mendengar pun menjawab, "Meskipun secara teori daerah lautan dianggap berbahaya, kejadian yang membahayakan bisa dihitung jari tiap tahunnya, tapi entah kenapa banyak sekali fenomena aneh baru-baru ini."


Belum sempat memuaskan ingin tahunya, Ava diinterupsi. "Bagi para penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan, dimohon untuk mendaftarkan diri di sebelah kanan. Sedangkan untuk para penumpang yang ingin berhenti, silahkan mendaftarkan diri di sebelah kiri, sebuah kapal akan segera menjemput kalian tiga hari lagi untuk kembali ke kota Englerock."


Barisan panjang dalam sekejap terbentuk, sisi kiri dua kali lebih banyak dari sisi kanan. Banyak orang yang masih dihantui kejadian kemarin. "Saat kau mengatakan "fenomena aneh", apakah ada lagi selain penyerangan badai hitam?"


"Yah, dari artikel yang setiap hari kubaca, dalam sebulan ini frekuensi outbreak meningkat, ada wabah penyakit di desa pesisir Uflaria, di Edodale juga masih gempar dengan hilangnya putri kerajaan mereka." Setumpuk koran muncul dari udara kosong, berpindah ke tangan Ava. "Kau menyimpan koran bekas di inventori?" dia refleks bertanya heran. Pasalnya manajemen inventori sangatlah penting mengingat slot terbatas yang disediakan oleh [System].


"Baca saja," namun Ib tidak ingin berkomentar tentang kebiasaannya tersebut.


Fenomena outbreak memang dinyatakan sebagai fenomena acak yang tidak dapat terprediksi, namun peningkatan jumlah insiden yang meningkat sampai 6 gate pada bulan ini tentu saja meresahkan penduduk ....


Pada benua Uflaria, di sudut Kerajaan Gritis, desa kecil tak bernama telah menjadi pusat wabah yang dengan cepat menyebar ke daerah-daerah sekitar. Bagi yang terkena penyakit ini, kulit mereka akan membusuk dan disertai dengan perilaku ganas yang tidak terkontrol, mereka akan menyerang siapapun yang mendekat. Penularan sampai saat ini diketahui hanya melalui gigitan pasien ....


Tunggu dulu, penjelasan seperti itu tidaklah asing bagi Ava yang paham dengan berbagai konsep film urban.


... Zombie?


"Perubahan-perubahan seperti ini artinya akan ada hal besar yang datang," Dom tiba-tiba menyahut dari belakang punggung Ava.


"Kau tidak ikut mengantri untuk mendaftar? Jangan bilang kau menyuruh adikmu?" gadis itu langsung menyoroti tajam pria bertato lengan tersebut.


"Sembarangan, aku hanya menitipkan nama kami ke pelayanmu itu."

__ADS_1


Ava langsung membantah, "River bukan pelayanku."


""River bukan pelayanku"", kali ini imitasi jelek digunakan Dom untuk mengejeknya, "Tapi kau tidak bisa membuktikan yang sebaliknya, dasar gadis manja."


Yah, Dom tidak salah. Selalu kesakitan saat ingin bergerak menjadi alasan absolut River untuk melakukan apapun yang dibutuhkan Ava. Pria penurut itu langsung menjelma sebagai pembantunya.


"Meskipun begitu, kenapa kau tidak ikut berbaris, jangan menyuruh-nyuruh River seenaknya."


"Kau kan sama saja!"


"Apa kau tidak melihat balutan tebal ini, hah?"


"Kalian bertengkar karena apa lagi?" River, sang bintang utama, telah kembali ke kamar mereka.


"Kami tidak bertengkar," untuk kali itu saja Ava dan Dom kompak menjawab. River dan Ib yang melihat pun hanya menggeleng-geleng kepala. Anak muda seperti mereka gampang sekali akrab.


River tersenyum, berseri-seri ketika berkata, "Karena ini!" medali perak bergoyang di ujung jari. "Semua orang yang memiliki ini didahulukan!" Sepertinya River baru saja merasakan nikmatnya perlakuan istimewa.


Ib menyahut ringan, "Wajar saja, karena medali itu menjadi simbol penghargaan sekaligus harapan."


Ava langsung mengerti. "Insiden seperti ini tentu saja mencoreng nama baik kapten beserta afiliasi mereka. Tolak ukur yang digunakan kemungkinan besar adalah jumlah penumpang yang masih ingin berlayar."


"Dan dengan menunjukkan kalau pemilik medal, orang yang berjuang saat banderhobbs menyerang kemarin, masih memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan, rasa aman dalam diri mereka akan semakin besar dan lebih mudah untuk mendaftarkan diri di sisi kanan," Ib mengangguk setuju.


Dom mengerut, masih bingung. "Intinya, kita dijadikan promosi berjalan oleh staf kapal," Ava pun menjelaskan dengan lebih simpel.

__ADS_1


"Rumit sekali," tapi Dom tetap menggerutu.


***


Ava bosan. Kapal penjemput baru akan datang besok, artinya mereka akan lanjut berlayar lusa. Tapi Ava kehabisan cara untuk menghibur diri. Jelas sekali dia dilarang untuk berburu untuk sementara waktu. Buku yang secara kolektif Ava dan River bawa telah dibaca berulang-ulang oleh gadis itu sampai-sampai dirinya muak melihat huruf di atas kertas, begitupula Dom yang melihatnya sampai jijik, entah apa lagi masalah cheetah puber tersebut. Jadi sekarang River berada di tengah-tengah sesi belanja untuk menyibukkan Ava dengan eksperimen baru meskipun bulan dengan cincin ungu sudah menggantung di atas kepala.


Mungkin Ava tidak sepenuhnya membenci sifat River yang penurut.


Dirinya sudah bisa berjalan meskipun lajunya secepat siput, Ava pun memutuskan untuk menghirup udara malam di geladak kapal. Masih segar dalam memorinya puluhan tubuh yang tergeletak lemas di geladak ini, darah di mana-mana, monster berbahaya juga berkeliaran. Kini suasana yang senyap itu membawa Ava ke dalam pikiran terselubuknya.


Kapan dia bisa pulang?


Meskipun beberapa malam yang lalu Ava berlagak di depan Eve, dia sendiri juga tidak sabar untuk kembali ke dimensi asalnya.


Lexa sendirian menunggunya di ranjang rumah sakit.


Pembayaran sudah ia atur otomatis terhubung di rekening bank resminya, uang hasil dari berbagai tindakan kriminal yang ia lakukan akan bertahan maksimal 3 tahun. Namun Ava mempunyai perasaan buruk tentang jangka waktu yang akan ia habiskan di sini.


Dia pun mendesah panjang memandangi bulan ungu.


Ketika mendadak Ava merasakan kejang dari tangan kanannya.


... Apa ini?


Ada yang salah dengan telapaknya, kini kesalahan tersebut merambat lebih jauh dengan cepat.

__ADS_1


Dari ujung jari hingga siku Ava berubah menjadi hologram biru, yang glitch setiap kali jantungnya berdetak cemas.


__ADS_2