Hellbent

Hellbent
Bab 137: Pertarungan Malam


__ADS_3

Ava menggenggam erat pistol barunya, memasukkan peluru ke dalam selongsong. Saatnya mencoba prototipe yang ia dapat.


Siwon dan Rose baru saja bangun, terkaget dengan alarm yang berdenging di telinga mereka. "Kalian sebaiknya tetap berada di dalam jika tidak bisa bertarung." Dengan kalimat tersebut, Ava meluncur cepat ke. dalam hutan, menuju sumber suara Ellijah.


Di antara kegelapan, lima monster berbadan kecil dan berkulit hijau tidak bergerak, goblin, membeku keras dari ujung kaki hingga ujung kepala akibat es yang melingkupi mereka.


Bam! Bam! Bam!


Tidak jauh dari tempat Ava berdiri, pertarungan sengit berlangsung.


"Bunuh! Makan!" Orc raksasa setinggi tujuh meter mengayunkan kapak besarnya, setiap ayunan memiliki kekuatan yang bahkan menyebabkan angin berhembus kencang.


Namun untungnya, Ellijah bertahan serta menyerang dengan ahli. Untuk pertama kalinya, Ava melihat keahlian tunangan (palsu)-nya dalam berpedang.


Bam!


Orc itu mengangkat kapaknya, lalu terayun ke bawah membelah tanah. Ellijah bukan hanya menghindar, pria tersebut membalas dengan sayatan dingin, menumpuk efek skill yang memperlambat kemampuan regenerasi alami yang monster itu miliki.


"Manusia! Menyebalkan!" Dalam kalimat rusak yang terbata-bata, tidak butuh seorang jenius untuk tahu kalau si orc marah. Akan tetapi, meskipun diberkahi dengan kekuatan serta tubuh yang besar, orc adalah humanoid monster yang tidak memilki kontrol. Hasilnya, setiap serangan hanya didasarkan pada insting serta emosi. Artinya, dia membabi buta sekarang.

__ADS_1


Kapak yang mungkin setinggi badan Ava terombat-ambit gila-gilaan, membelah angin, memangkas pohon, bahkan memecah batu. Ellijah melompat lincah agar tidak terkena.


Area pertarungan meluas dengan sekejap. Ava bahkan harus melompat mundur.


Sebaiknya, gadis itu mundur dan tidak ikut campur terlebih dahulu dalam perkelahian tersebut. Bukan hanya ia menghalangi, kehadiran Ava bisa saja menghambat. Karena bekerja sama dalam pertarungan tidak semudah yang terlihat.


"Krik!" "Krik!"


Lebih baik, Ava mengurusi para goblin yang belum teratasi.


Setelah sedikit menjauh, musuh remeh mulai bermunculan. Cahaya bulan yang menelisik dari daun-daun pohon menyinari sesosok makhluk yang perlahan keluar dari persembunyiannya. Dengan mata bulat kecil yang menyala merah, dipadukan tubuh serupa kerdil berwarna hijau, juga perut buncit yang dibasahi oleh tetesan liur dari mulutnya sendiri. Jika dibandingkan, monster itu mirip sekali dengan bayi sakit yang jelek, sangat jelek. Geretak gigi sosok berbadan hijau kecil tersebut menghantarkan jijik, rasa tidak percaya, dan muak, seolah dalam situasi ini mereka melihat Ava hanya sebagai seonggok daging.


Namun tentu, yang menjadi masalah adalah hal lain.


Goblin adalah makhluk yang terkenal lemah dalam kasta monster humanoid. Buktinya saja mereka baru berani menyerang ketika terdapat orc yang memimpin rombongan, tidak lupa juga pertarungan mereka selalu didukung dengan jumlah.


Benar, jumlah.


Bukan hal aneh sebenarnya, karena memang hukum alam. Memangsa atau dimangsa. Semuanya harus bisa beradaptasi untuk selamat. Bagi goblin, banyaknya populasi merekalah yang dimanfaatkan.

__ADS_1


Rombongan monster itu melangkah disertai oleh gemersak rerumputan. Darah kehitaman menetes dari sela geligi, malah membuat makhluk-makhluk itu terlihat lebih buas, lebih lapar. Mereka menggeram.


Baiklah, mari kita coba.


Syut!


Blar!


"Wow!" Peluru yang Ava tembakkan meledak layaknya granat. Kawanan musuh tercerai-berai setelah ledakan terjadi di tengah formasi mereka, kehilangan arah.


Keterkejutan Ava tidak bertahan lama. Syut! Satu lagi peluru meluncur.


Lalu seperti tahu yang dicincang, target-target Ava terburai, potongan daging dan darah hitam membaur sempurna di tanah.


Tapi goblin, meskipun kecil, mereka adalah makhluk yang gigih.


Salah satu monster yang berhasil lolos dari dua serangan tadi berhasil menggigit betis Ava. Gadis itu langsung meraih belakang kepala si goblin, mematahkah tulang leher monster tersebut hingga tertekuk aneh, murni dengan kekuatannya. 100% dari poin statusnya.


Tidak sampai satu menit, belasan monster itu telah mati, tercacah parah, tubuh-tubuh mereka tersebar di tanah yang rumputnya kini berubah hitam.

__ADS_1


Pertarungan itu terlalu cepat, seperti cerita dengan anti-*******.


__ADS_2